Halo Arvin!

Halo Arvin!
Lost in Stereo


__ADS_3

Hujan mulai reda, menyisakan titik-titik air di kaca jendela mobil Arvin yang terparkir di dekat Groove Bar. Hari ini Arvin mengajaknya menonton acara musiknya disana. Terakhir kali kesini, Nara dalam keadaan patah hati.


Dengan bodohnya mencari Arvin dan berharap setelah mendengarkannya bernyanyi, akan ada keberuntungan yang datang. Namun hanya kesialan yang mengikuti Nara setelahnya. Memang seharusnya dia pulang kemudian berdoa saja hingga menangis agar beruntung. Bukan malah mencari Arvin.


Nara masih enggan turun, sebenarnya benci harus datang kesini lagi. Tempat ini hanya menyisakan kenangan buruk untuknya. Tapi Arvin sudah membukakan pintu mobil, menunggu Nara beranjak dari tempat duduk dan ikut turun bersamanya. Akhirnya dia melangkahkan kaki keluar. Berjalan menuju Groove Bar bersama Arvin.


Ghofar yang berjaga diluar mengangguk dan tersenyum pada Arvin, kemudian pada Nara. Di dalam penonton masih belum datang. Seperti biasa hanya ada anggota band Fortunata dan karyawan yang sudah ada disana. Persiapan untuk tampil dan membuka tempat itu.


“Wuiiddiiih.. Ada yang bawa istri nih.” Goda Gege. Dia memang paling sigap dan ahli menggoda Arvin.


Arvin menggeser kursi ke depan stage, menyuruh Nara duduk disana. Teman-temannya yang lain langsung berhenti dari aktivitasnya yang tadi sibuk dengan alat music yang mereka mainkan.


Mereka memperhatikan Nara, dan nara melihat mereka dengan canggung. Dia tidak biasa berada di tempat seperti ini. Dikelilingi laki-laki asing. Rasanya ingin pulang saja.


“Kenalin temen-temen gue, yang pegang drum, Aldi. Keyboard, Eka. Bass Gege, dan Gitar, Restu.” Kata Arvin menunjuk satu persatu teman-temannya.


“Gimana nikah sama Arvin?” Tanya Restu.


“Tekanan batin.” Jawab Nara sambil tersenyum. Mereka tertawa serempak. Kemudian mengejek Arvin. Mendengar hal itu Arvin hanya bisa cemberut.


“Gue harusnya yang bilang gitu.” Balas Arvin.


“Lo kesini mau ngajak istri lo sparring apa gimana sih? Santai cuy.” Kata Gege.


“Ada apa sih ribut-ribut?” Kata Ganjar yang tiba-tiba bergabung. Memegang sapu ditangannya.


“Nah makhluk baj* ngan ini Ganjar, yang ngasih lo minum kan?” Kata Arvin menunjuk Ganjar.


“Lo tetep aja ya sama gue bilang gitu, yang salah kan lo. Kok masih dendam sama gue sih?” Kata Ganjar tidak terima, “Lo tau dia marahin gue berapa lama? 2 jam. Ngoceeeeh terus gara-gara gue kasih lo minum. Padahal aja yang ga bisa nahan diri.” Lanjut Ganjar mengadu pada Nara.


Nara hanya tersenyum sekilas. Mengingat rasa minuman berwarna pink yang pahit dimulutnya. Seandainya dia tidak mencoba meminum itu, semua kekacauan yang dialaminya sekarang tidak akan terjadi. Nara dengan refleks memegang perutnya, merasakan ketegangan tiba-tiba.


Penonton mulai berdatangan. Kini Nara duduk disalah satu kursi dekat bartender. Acara belum dimulai tapi penonton sudah cukup ramai menempati tempat-tempat kosong dan memesan minuman. Arvin juga sedang bersiap dan berkumpul dengan teman band-nya.


“Ini jus beneran.” Kata Ganjar menaruh gelas berisi jus strawberry depan Nara. Kemudian pergi ke balik bar lagi, menerima pesanan.


Nara beranjak dari kursinya dan pergi ke toilet. Dia harus mengosongkan tangki sebelum acara di mulai. Saat Nara sedang berada di bilik toilet.

__ADS_1


Beberapa orang terdengar masuk, sambil tertawa dan mengobrol. Entah 3 atau 4 orang yang datang. Nara tak mengetahuinya. Mereka lanjut mengobrol sambil berdandan di dekat wastafel.


“Lo tau kan Arvin udah kawin?” Kata salah satunya.


“Serius lo? Kata siapa?” Temannya menanggapi.


“Ada deh. Rahasia. Info dari anak sini deh pokoknya. Katanya sih ceweknya hamil duluan, terus minta si Arvin buat tanggung jawab.”


“Anjir gak tau malu. Emang beneran itu anaknya si Arvin?”


“Gak tau deh. Kayaknya dulu juga ada yang ngaku-ngaku juga deh dihamilin si Arvin, tapi gak dikawin tuh.”


“Si Nadia? Tapi itu kan bukan anaknya si Arvin kali. Udah di tes segala macem, gak kebukti. Dan tol*lnya dia ngaku pas si Arvin baru 1 bulan balik ke Indo. Ya mana orang percaya juga sih.”


“Terus yang sekarang anaknya beneran dong?”


“Beneran kok. Katanya dia mabok terus di ajak ke apartemennya si Arvin. Ya taulah abis itu ngapain.”


“Anjir murah.”


“Ya coba bayangin deh lo yang ngajaknya orang kayak Arvin, gue juga mau banting harga kali. Diskon.” Mereka tergelak bersama.


“Gue udah liat tadi ceweknya yang mana.”


“Terus? Cakep gak?”


“Dih. Cakepan Keysa ah. Kebanting jauh. Kayak apa yaa.. Gak banget deh gayanya. Masa ke acara kayak gini pake kaosan, jeans dan jaket gitu sih. Emang mau nonton bola.”


“Kok mau sih Arvin sama yang kayak gitu? Mantan dia kan spec-nya tinggi banget.”


“Ya kan kayaknya Arvin juga kepaksa. Dia pasti godain Arvin sampe mau gituan sama dia. Manfaatin banget ga sih?”


“Iya, jir. Gatel banget sumpah. Gak sesuai gayanya yang culun.”


“Hati-hati sih biasanya yang culun dan pendiem gitu tuh sebenernya licik dan gatel.”


“Kasian ih Arvin harus nikahin cewek kaya gitu.”

__ADS_1


“Terus dia putus dong dari si Keysa?”


“Kayaknya sih, atau mungkin masih pacaran dibelakang hahaha”


“Ih udah ah, bentar lagi mulai nih. Pingin cepetan liat Bang Arvin yang ganteng.”


“Suami orang, anjir.”


“Biarin. Gue jadi selingkuhannya aja mau.”


Mereka keluar sambil tertawa. Acara sepertinya sudah dimulai. Terdengar suara MC yang menyambut penonton. Tapi Nara masih berada di toilet. Lututnya lemas. Merasa sangat terluka dengan semua tuduhan padanya.


Kenapa hanya Nara yang dicap jelek atas semua insiden ini? Padahal Nara lah yang paling dirugikan. Dia yang paling terluka dan terdampak dari perbuatan Arvin. Kenapa orang-orang malah menuduhnya yang menggoda Arvin? Air mata berderai turun tak terkendali. Dia benci. Semakin benci pada Arvin. Semakin benci pada nasibnya.


Arvin bohong. Dia tidak bisa melindunginya dari ucapan dan tuduhan jahat orang-orang padanya. Dia tidak bisa melindunginya sama sekali. Karena selalu saja, dan pasti saja pihak perempuan yang dianggap bersalah.


Selama 10 menit Nara tidak keluar dari toilet. Dia mencoba mengendalikan tangisnya, namun tak bisa berhenti. Susah payah dia mencoba meredam semua rasa marah, malu, terluka, dan kecewa yang menariknya terjatuh.


Nara menguatkan diri, keluar dari bilik toilet akhirnya. Melihat bayangannya di cermin besar dekat wastafel. Matanya merah dan bengkak, rambut cepolnya berantakan.


 Iya benar. Dia sama sekali tidak menarik untuk dilihat. Hanya menggunakan kaos dilapisi jaket kebesaran milik Arvin, yang Arvin paksa kenakan padanya karena takut Nara kedinginan oleh udara malam dan celana jeans yang gombrong.


Berbeda dengan sosok menawan yang pernah dilihatnya di ponsel Arvin. Sekarang bertambah lagi objek kebencian Nara di dunia ini. Dirinya sendiri.


Kepalanya begitu pusing saat kembali ke acara musik. Suara riuh penonton yang ikut bernyanyi dan lampu warna-warni yang menyorot kesana kemari. Nara duduk ditempatnya tadi. Merasa linglung dan bingung. Mencerna semua hinaan dan tuduhan yang dialamatkan untuknya.


Lagu berhenti, seseorang berbicara di depan mic. Mungkin salah satu teman band Arvin. Nara tidak mengangkat wajahnya, hanya menatap meja penuh kekosongan. Dia juga tidak mau melihat kepanggung, kearah Arvin.


“Hari ini spesial nih. Soalnya Arvin mau mempersembahkan lagu buat seseorang. Lo udah tau belum kalau Arvin udah nikah? Hari ini dia bawa istrinya buat nonton. Kasih tepuk tangan dong buat istrinya Arvin yang lagi duduk disana.” Kata Eka dengan semangat menunjuk Nara yang sedang duduk.


Nara yang mendengar itu langsung menatap ke panggung. Sementara penonton yang lain langsung menatap kearahnya. Semua mata menuju kearahnya. Nara benar-benar membenci semua tatapan itu. Tepuk tangan terdengar. Gitar akustik mulai dimainkan oleh Arvin, terdengar lagu Ever Enough dari A Rocket to The Moon dinyanyikan olehnya.


Semua suara yang Nara dengar bukanlah nyanyian dari Arvin, melainkan suara-suara berbisik dibalik punggungnya dari orang-orang yang sedang menuduhnya. Nara yakin semua orang juga mengatakan hal yang sama tentang dirinya seperti perempuan tadi di toilet. Menganggapnya penggoda, murahan, gatal dan satu-satunya yang bersalah disini. Musik terus berlanjut ke lagu lain yang tak pernah Nara dengarkan.


Nara merasa tersesat diantara musik dan tatapan orang-orang. Tersesat dalam perasaannya sendiri yang penuh dengan luka. Dimanapun, hanya Nara yang akan merasa malu seperti ini. Hanya perempuan yang akan menanggung pembicaraan tidak baik seperti ini.


“Bilangin sama Arvin gue pulang duluan.” Kata Nara pada Ganjar yang sedang sibuk membuat pesanan.

__ADS_1


“Hah? Mau kemana lo? Nara!” Panggil Ganjar. Namun Nara telah menghilang ke kerumunan, “Mampus dah gue dimarahin si Arvin lagi.” Lanjutnya sambil terus melayani pelanggan.


__ADS_2