
Sepulang kerja Arvin menyempatkan waktunya untuk menemani Nara berbelanja. Walaupun sekarang dia cukup sibuk dengan beberapa projek di kantor. Arvin hanya ingin membuat istrinya senang. Apalagi Nara tidak punya banyak kegiatan diluar sekarang. Pasti membosankan terus berada di penthouse sepanjang hari. Makanya Arvin tidak pernah keberatan jika diajak sekadar menemani berbelanja seperti ini.
Nara berdiri menimbang-nimbang produk lotion untuk dibelinya. Berdiri lama di depan ratusan produk serupa. Arvin hanya mengikutinya dibelakang dengan sabar.
“Mending yang ini atau yang ini?” Tanya pada Arvin.
“Aku gak tau fungsinya buat apa.”
“Biar perutku gak ada stretchmark.”
Arvin menautkan alisnya bingung.
“Kamu mau kulitku gak mulus lagi ada stretchmark karena perutnya makin gede?”
“Aku gak keberatan kok. Kamu tetep cantik.”
“Gombal. Pokoknya aku mau perawatan biar badanku tetep bagus dan cantik selama hamil dan setelah melahirkan. Biar kamu gak selingkuh sama cewek yang lebih mulus!”
“Aku gak akan selingkuh sama yang lebih mulus kok. Mana tega aku selingkuhin istri yang udah ngandung anakku. Apalagi istriku cantik banget.” Kata Arvin memeluk Nara dari belakang. Mencium puncak kepalanya lembut.
“Hoax. Susah percaya sama omongan cowok biasa, yang bisa dipercaya cuma Nabi, Rasul, dan Sahabatnya.”
Arvin tertawa, “Aku bukan cowok biasa kok. Cowok keren dan langka.”
“Yang langka cuma Badak Jawa. Cowok kayak kamu banyak. Bisa buy 1 get 1 di Kalcit.”
“Oh My God. Nara mulutnya jahat banget. Kayaknya pas pulang harus dibersihkan sama si bos nih.” Arvin menyentuhkan ibu jarinya di mulut Nara. Lekas saja ditepis dari sana.
“Kamu kenapa sih bawaannya sensi mulu? Aku salah apa lagi?”
“Gak tau. Aku bawaannya pingin marah-marah aja sama kamu.”
“Jangan bilang dedek nih yang suruh mama jadi galak kayak gini, hmm?” Arvin mengelus-elus perut Nara dan terus memeluknya dari belakang.
Nara menyadari beberapa pelayan di mothercare shop diam-diam melirik dan memperhatikan mereka. Cepat saja Nara melepaskan rangkulan Arvin yang membelitnya.
“Malu diliatin orang.”
“Masa? Pas di Bandung kamu gak malu duduk dipangkuanku depan banyak orang.” Goda Arvin.
“Udah jangan diingetin!”
Nara merasa malu harus mengingat kejadian itu lagi. Dengan beraninya dia tiba-tiba duduk dipangkuan Arvin saat sarapan pagi di restoran hotel. Membuat banyak orang langsung memperhatikan mereka.
Saat itu Nara benar-benar cemburu karena melihat perempuan cantik menghampiri dan berbicara sangat akrab dengan Arvin. Perempuan itu mengenalkan diri sebagai adik kelas Arvin sewaktu SMA, berada dalam satu organisasi dengannya. Bahkan mengatakan bahwa dia pernah menyatakan cintanya kala itu, tapi Arvin tidak menerimanya karena masih berpacaran dengan Keysa.
Jelas saja hal itu membuat Nara kesal dan cemburu. Apalagi perempuan itu terus memperhatikan Arvin saat sarapan. Nara benci melihat Arvin menjadi incaran banyak perempuan. Apalagi mereka semua cantik, bisa saja suatu saat Arvin akan tergoda.
Mulai sejak itu Nara menjadi sangat terobsesi untuk merawat dirinya lebih baik. Meskipun sedang hamil, dia harus tetap terlihat menarik. Agar Arvin tidak bermain mata dengan perempuan lain.
__ADS_1
Mereka terus berkeliling di toko tersebut sambil mendorong keranjang belanja. Memasukkan banyak produk perawatan untuk ibu hamil.
Arvin tiba-tiba menunjukkan sepasang sepatu bayi berwarna pink, dengan pita berenda yang menghiasinya. Nara menatap Arvin dengan sejenak dengan bingung.
“Lucu. Aku pingin lihat dedek pake ini nanti. Sekarang udah boleh beli perlengkapan bayi belum sih?” Tanya Arvin sambil tersenyum. Tatapannya terlihat hangat pada sepasang sepatu yang disimpannya di keranjang. Perasaan Nara juga ikut menjadi hangat dan senang. Arvin sepertinya sangat menantikan kelahiran bayi mereka.
“Kayaknya boleh.” Kata Nara tidak yakin.
Kehamilannya sudah menginjak 20 minggu. Memang terlalu dini membeli perlengkapan bayi dari sekarang. Tapi tidak ada salahnya. Lagipula semua pemeriksaan juga menyatakan bayinya sehat dan tak ada kelainan.
Meskipun berat bayinya masih dibawah target. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bayinya akan baik-baik saja dan lahir dengan normal. Dia tidak akan mengalami keguguran diusia kehamilan sekarang, kan? Begitu pikiran Nara menenangkan diri.
Mendengar persetujuan Nara, membuat Arvin senang. Dia memilih topi berwarna cokelat berbentuk beruang dan sebuah jaket berwarna hijau, kemudian memasukkannya ke keranjang.
“Kenapa harus jaket dinosaurus sih?” Tanya Nara bingung dengan selera Arvin.
“Emang kenapa? Kan lucu.”
“Anak kita cewek, Vin!”
“Emang anak cewek gak boleh pake jaket dino? Arkeolog juga banyak yang cewek. Anakku cewek tapi harus kuat kayak dinosaurus dan rock n roll kayak papanya.”
Nara memutar bola mata sebal menanggapi ocehan Arvin. Baru saja dia merasa tersentuh dengan perilaku hangatnya sekarang berubah menjadi kesal. Entah seperti apa anak gadisnya nanti kalau punya ayah seaneh Arvin.
Setelah perdebatan cukup panjang akhirnya mereka hanya membeli sepatu yang tadi Arvin pilihkan. Menyimpan kembali jaket dinosaurus, kostum pisang, topi beruang, baju lebah dan banyak baju aneh yang Arvin masukkan ke keranjang.
Untuk sementara mereka hanya akan membeli sepasang sepatu cantik itu saja. Sebagai hadiah dan penyemangat agar bayi yang tumbuh dalam perut Nara terus sehat dan kuat hingga lahir kedunia untuk mengenakannya.
“Dedek jangan marah ya, sekarang beli sepatu dulu. Nanti kalau udah lahir, dedek minta kaos Metallica atau gitar Gibson Cat Stevens buat dibanting juga papa beliin. Sekarang papa harus nurut sama mama yang seleranya gak seru.” Ucap Arvin mengelus perut Nara yang bebas. Kemudian baru memasang seat belt-nya.
“Awas ya kamu ajarin anak kita yang aneh-aneh.”
“Gak aneh. Tapi diajarin biar jadi keren kayak papanya.”
Mobil mulai keluar parkiran menuju jalanan yang penuh dengan lautan kendaraan. Mata Arvin lurus menatap kedepan. Nara terus memperhatikan suaminya tersebut. Terlihat keren. Memang Arvin sangat keren dan Nara sangat menyukainya.
...****************...
Arvin duduk bersandar di sofa, merebahkan tubuhnya yang lelah karena bekerja hingga cukup malam. Jam menunjukkan pukul 22.00 saat dia tiba. Padahal biasanya dia sampai pukul 19.00 di rumah. Sekarang masalah dikantor menyita waktunya.
Nara berdiri di dekat Arvin yang sekarang matanya mulai terpejam. Sepertinya dia benar-benar kelelahan. Sangat jarang melihatnya seperti sekarang terutama karena urusan kantor.
“Arvin, kamu mau langsung tidur atau makan dulu? Kamu belum makan malam, kan?” Bisik Nara. Dia enggan membangunkan suaminya itu tapi tidak bisa melewatkan pertanyaannya.
Arvin menarik tangan Nara mendekat, dan menuntun untuk duduk di pangkuannya.
“Aku mau makan. Tapi pingin disuapin sama kamu.” Balas Arvin ikut berbisik.
“Bayi besar ini manja banget sih.”
__ADS_1
Nara mengecup singkat bibir Arvin kemudian beranjak ke dapur. Membawa sup iga dan sepiring nasi yang dia simpan di meja dekat sofa. Satu persatu suapan masuk ke mulut Arvin.
“Enak, kan? Meskipun gak seenak masakan kamu sih.” Kata Nara merendah.
“Enak kok.”
“Kok tumben gak ngehina masakanku?”
“Sebenernya rasanya biasa aja. Cuma aku bucin aja sama kamu jadi bilang enak—Aaw” Kata Arvin berjengit kesakitan saat Nara mencubit tangannya.
“Nyebelin!”
“Bohong. Enak kok beneran.” Arvin mencium punggung tangan Nara, dan meminta maaf.
Ponsel Arvin yang berada di meja berdering kencang. Nara menatap kemudian mengambilnya, memperhatikan nama yang tertera di layar. Audrey. Segera dia serahkan benda tersebut pada suaminya.
“Halo, Vin. Gue cuma mau ngabarin kalau ayah masuk rumah sakit. Dia gak sadarkan diri.” Ucap Audrey ditelepon.
“Terus sekarang kondisinya gimana?”
“Udah stabil sih sekarang. Meskipun belum sadar. Lo kesini kan nanti?”
“Ga tau.”
“Vin!”
“....”
“Ayah udah telepon lo berhari-hari tapi gak lo angkat. Dia mau ketemu sama lo, Vin.”
“....”
“Arvin!”
“Gimana besok aja. Gue gak janji.”
Telepon ditutup begitu saja oleh Arvin. Tiba-tiba suasana hatinya menjadi tidak bagus ketika membicarakan tentang ayahnya.
“Kak Audrey bilang apa?”
“Si kumis gak sadar, masuk rumah sakit.”
“Terus sekarang gimana? Kita jenguk Pak Candra kan sekarang.”
Arvin berdiri dari sofa, “Udah stabil. Ngga, aku mau tidur.”
“Tapi, Vin. Ayah kam—“
“Nara, aku capek banget mau tidur.” Potong Arvin kesal.
__ADS_1
Dia berjalan menuju kamar mandi. Menghentikan pembicaraan mengenai ayahnya yang masuk rumah sakit. Dia tidak ingin membahas apapun tentang ayahnya saat ini. Tubuh dan pikirannya lelah.