Halo Arvin!

Halo Arvin!
Wangi


__ADS_3

Tubuh Nara gemetar saat tiba di hotel. Dia segera membersihkan tubuh dan memakai pakaian kering juga hangat. Kemudian bergulung dikasur dibalik selimut.


Hujan di luar masih belum reda. Malah bertambah deras seiring bertambahnya waktu. Segera saja Nara mengeluarkan ponselnya, menanyakan keadaan Arvin yang menunggu hujan berhenti ditempat tadi dia meninggalkannya.


Pasti Arvin juga merasa kedinginan. Bajunya juga basah sama seperti Nara tadi. Apalagi jaket yang dikenakannya dia m berikan pada Nara. Arvin menolak mengambilnya kembali saat Nara naik ke taksi. Tiba-tiba Nara khawatir laki-laki itu merasa kedinginan disana.


[Arvin: Aku gak apa-apa. Disini masih hujan. Kamu udah ganti baju, kan? Pake baju yang anget.]


Nara mendengus membaca jawaban pesan dari Arvin. Dia malah mengkhawatirkan Nara, bukannya dirinya sendiri. Tak ada pesan apapun lagi setelah itu. Nara menyalakan TV dikamar. Memfokuskan diri untuk menonton sambil sesekali melihat ponselnya. Tapi tidak ada pesan lanjutan apapun dari Arvin.


Jam di dinding kamar hotel sudah menunjukkan pukul 16.00. Arvin masih belum juga pulang. Perasaannya makin tak karuan karena khawatir.


Jangan-jangan terjadi apa-apa dengan Arvin. Area pertokoan tempat mereka berhenti itu cukup sepi. Bagaimana kalau dia dibegal atau dirampok?


Arvin memang tidak mengenakan baju mahal, hanya kaos putih, celana jeans, dan sendal jelek milik sepupunya. Tapi Arvin mengenakan jam tangan Rolex yang cukup mahal, dia juga punya motor yang bisa jadi sasaran empuk pembegalan. Nara segera mengambil ponselnya kembali untuk mengirimkan pesan.


[Nara: Lo masih nunggu disana? Masih hujan ya? Lo sendirian? Gak ada begal kan?]


[Arvin: Masih hujan. Gak ada begal kok, adanya tukang ketan bakar. Aku sekarang punya temen ngobrol.]


Arvin mengirimkan foto pada Nara. Terlihat seorang bapak-bapak dengan baju hampir basah, duduk diantara gerobak jualannya. Tersenyum sambil mengipas ketan bakar. Arvin berjongkok disebelahnya, menggigit ketan bakar dan bergaya dikamera.


Nara tidak bisa menahan tawanya melihat foto yang dikirimkan Arvin. Dia aneh. Sangat aneh tapi lucu. Nara bisa membayangkan sekarang Arvin sedang berbicang santai dengan pedagang ketan bakar ditengah hujan.


Hatinya sedikit tenang saat Arvin mengabarinya. Nara melanjutkan menonton film di televisi. Tapi hingga sore berlalu Arvin belum juga pulang ke hotel.


Diluar memang masih terlihat hujan. Tapi tak sederas tadi siang. Kekhawatirannya tiba-tiba datang kembali. Tanpa sadar Nara berjalan bolak-balik dikamar dengan gelisah. Memeriksa jendela dan melihat hujan turun mengguyur tempatnya berada. Segera saja dia menekan tombol telepon menghubungi Arvin.


‘Lo dimana? Masih nungguin ditempat tadi?’


‘Ngga. Di rumah Enin. Tadi reda sebentar, terus diem dirumah Enin ngobrol sama si Galih.’


‘Kok lo malah ngobrol dulu sih disana? Gue tungguin lo gak balik-balik!’


‘Kamu nungguin?’ Tanya Arvin kaget.

__ADS_1


‘Ya menurut lo? Gue kirain lo masih disana kena begal. Lama banget ga dateng. Mana gak nge-chat gue lagi udah dimana.’ Omel Nara kesal.


‘Ya udah sekarang aku pulang.’ Balas Arvin dengan cepat. ‘Kamu kangen ya sama aku?’ Lanjut Arvin dengan suara lembut setengah berbisik.


‘Najis!’ Ucap Nara setengah berteriak karena kaget. Kemudian menutup telepon dengan cepat.


Perasaannya  jadi aneh setelah mendengar nada rendah dalam bisikan suara Arvin yang bisa membuat perempuan mana saja tersipu seketika. Arvin memang sangat tidak ramah untuk jantungnya. Denyutnya menjadi tak terkendali seperti ini.


Nara membaringkan diri dikasur kembali. Mau seperti apapun Nara memang merasa khawatir dan kehilangan saat harus tinggal sendirian di hotel. Apalagi karena Arvin mengatakan akan segera pulang setelah menukar kendaraan di rumah Enin. Membuatnya menunggu berjam-jam dengan penuh harapan.


Apakah Nara kangen? Tidak. Sepertinya bukan. Tapi dia terus menantikan Arvin pulang dengan segera.


Tiba-tiba di dalam perutnya terasa desiran aneh, seperti ada sesuatu yang merambat di antara kulitnya. Membuatnya geli dan tak karuan. Nara mengelus perutnya berulangkali. Menenangkan rambatan aneh yang meliuk didalam tubuhnya.


“Bentar lagi ayah pulang kok, dek. Kamu kan yang kangen?” Bisiknya sambil terus mengelus perut dan tersenyum simpul.


...****************...


Arvin pulang menjelang malam. Saat muncul dia sudah mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana yang berbeda dari yang tadi siang dia kenakan. Arvin meminjam baju Galih karena miliknya basah dan dia sangat kedinginan.


“Belum.”


“Kok belum sih? Kamu nungguin aku?”


“Dih siapa bilang? Gue udah ngemil kok makanya gak mau makan. Gak lapar.” Jawab Nara ketus, tak mau mengakui dia berjam-jam khawatir dan menunggu Arvin pulang hingga tak ingat makan.


“Nih. Aku tambahin makan cemilannya.”


Arvin menyerahkan kotak dalam kantong plastik. Tercium aroma wangi dari bungkusan tersebut yang membuat Nara tiba-tiba menjadi lapar.


“Tadi lewat tukang martabak telor pas pulang.” Lanjut Arvin dengan ceria.


Nara segera memakannya dengan lahap. Sejak tadi siang tak ada makanan yang masuk ke perutnya. Nara berbohong pada Arvin sudah memakan cemilan sebelum ini. Bagaimana bisa dia makan saat perasaannya was-was suaminya tak kunjung pulang dan menghubunginya.


“Katanya gak lapar. Kok habis?” Goda Arvin saat keluar dari toilet setelah selesai mandi.

__ADS_1


Sebungkus martabat telor sudah tandas tak bersisa. Nara cemberut mendengar perkataan Arvin tersebut.


“Ya emang kenapa? Lo gak ikhlas gue makanin semua?”


“Gak apa-apa kok. Aku bawain kan buat kamu.” Kata


Arvin sambil tertawa. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Arvin! Lo tuh kebiasaan kalau habis keramas gak keringin rambut dulu. Tuh liat bantalnya jadi basah kena rambut lo!” Gerutu Nara sebal melihat kebiasaan Arvin yang tidak pernah berubah.


“Nanti juga kering sendiri kok.” Balas Arvin santai.


“Gak! Buruan keringin!”


“Aku capek dari tadi siang berdiri mulu nunggu hujan berhenti. Sekarang pingin rebahan aja.”


Nara mengambil hair dryer di meja rias. Menyuruh Arvin duduk dikasur membelakanginya, kemudian mengeringkan rambut Arvin dengan telaten.


Salah satu kebiasaan menyebalkan Arvin ini benar-benar membuat Nara sering mengomelinya. Tapi Arvin selalu saja mengulangi. Sepertinya kebiasaan ini sudah berlangsung lama dan sulit diubah. Bahkan saat pertama kali bertemu Arvin pun, Nara mengingat rambut gondrong Arvin yang dibiarkan basah setelah mandi. Air menetes ke leher dan tubuhnya.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara lembut hair dryer yang bergerak kesana kemari di kepala Arvin. Aroma sabun dan shampo menguar dari tubuh Arvin. Membuat hidung Nara tergelitik dan perasaan aneh mencul diperutnya.


Padahal mereka menggunakan sabun dan shampo yang sama. Tapi kenapa aromanya sangat kuat dan menyenangkan menempel di tubuh Arvin? Nara tidak bisa menahan dirinya sendiri ketika mencium wangi tubuh Arvin.


Pasti menyenangkan mencium wangi Arvin dari dekat.


Nara pasti sudah tidak waras!


Suara hair dryer berhenti. Nara meletakkannya di samping tubuhnya yang masih duduk dibelakang Arvin. Tiba-tiba Nara memeluk Arvin dari belakang. Mencium leher Arvin yang bebas. Menenggelamkan dirinya pada wangi segar laki-laki itu sehabis mandi.


Arvin terlonjak kaget, merasakan ciuman tak terduga dari Nara pada salah satu bagian tubuhnya yang sensitif. Membuat tubuhnya bereaksi aneh tapi menyenangkan. Arvin menangkap kedua tangan Nara mengalungkannya diperut. Sementara bibir dan hidung Nara masih menempel di leher belakangnya.


“Lanjutin sampe kamu puas. Nanti giliran aku.” Kata Arvin sambil tersenyum.


 

__ADS_1


__ADS_2