
Sepanjang malam itu Arvin terus memeluk Nara hingga terlelap karena kelelahan setelah menangis. Dan sekarang Nara merasa sangat canggung menghadapi Arvin. Mungkin karena perasaannya juga masih tak karuan karena ucapan Arvin kemarin.
Dia bimbang dengan hatinya sendiri. Hal yang aneh bermunculan disana. Namun tak sekonyong-konyong Nara mengatakan perasaan tersebut adalah cinta. Terlalu jauh untuk mengarah kesana.
Sulit sekali hatinya menerima orang baru, apalagi itu adalah Arvin. Salah satu tokoh utama yang membuat perasaannya hilang bentuk karena luka. Tapi Nara merasa begitu aman dan nyaman berada dipelukan Arvin seperti tadi malam. Seakan harapan pertama kali tumbuh setelah sekian lama.
Untuk pertama kalinya juga semenjak semua kejadian buruk ini menimpanya, Nara punya teman untuk bersandar. Karena Arvin juga berada dikapal yang sama. Terombang-ambing ketakutan tentang masa depan, tentang anak mereka, tentang perasaan antara keduanya.
Arvin bersikap biasa saja pagi ini, seperti tidak ada hal yang terjadi diantara mereka tadi malam. Sekarang dia malah sok sibuk memeriksa dokumen sambil duduk di sofa sebelum berangkat kerja. Sementara Nara salah tingkah sendiri menghadapi Arvin.
“Hari ini ada tamu yang dateng kesini. Kamu jangan kemana-mana.” Ucap Arvin kemudian berdiri dan bersiap pergi.
“Siapa?”
“Nanti juga kamu tau.” Balasnya sambil tersenyum.
Tangan Arvin menarik pinggang Nara, hingga dia mendekat padanya. Membuat kedua tubuh mereka saling berpelukan. Arvin mendekatkan wajahnya, namun dengan segera Nara menahan niat Arvin untuk mendaratkan kecupan di bibirnya.
Nara belum siap melakukan hal seperti itu dengan Arvin. Tapi kali ini Arvin tetap menganggapnya kemajuan. Nara tidak menjambak atau mencubitnya dengan emosi karena tidak mau Arvin sentuh. Dia sekarang diam saja. Apakah strateginya kemarin berhasil? Arvin masih akan menunggu.
“Aku berangkat dulu.” Bisiknya ditelinga Nara, kemudian mengecup singkat pipinya.
__ADS_1
Setelah Arvin pergi, Nara menjatuhkan diri ke sofa. Hatinya tak karuan. Jantungnya melonjak dan berdetak kencang. Hanya dengan sentuhan kecil dari Arvin membuatnya merasa aneh. Sangat aneh.
...****************...
Sekitar pukul 11.00 bel berbunyi. Nara yang sedang menonton film di ruang tengah kaget mendengarnya. Kemudian teringat pesan Arvin tadi pagi tentang tamu yang akan datang hari ini. Mungkin Audrey yang datang mengunjunginya lagi. Atau mungkin Lena? Jelas tidak mungkin, untuk apa dia mengunjunginya? Mereka tak punya urusan atau hal yang harus dibicarakan sama sekali.
Nara melihat layar interkom sebelum membuka pintu. Hanya butuh waktu satu detik saat dia melihat sosok tersebut dilayar sebelum berlari membukakan pintu. Menghambur keluar dan memeluknya sambil menangis.
“Assalamualaikum, cantik.” Katanya lembut. Namun Nara tak bisa membalas salamnya. Hanya air mata dan tangis yang menyambutnya.
Entah berapa lama Nara memeluknya, yang jelas begitu lama hingga kerudung ibunya sekarang basah oleh air matanya. Namun ibunya membiarkan saja anak perempuan satu-satunya itu meluruhkan semua perasaan rindu dan kesedihannya. Karena hal yang sama juga dia rasakan.
Nara masih belum cukup melihatnya, memeluknua, menyentuhnya, mencium aroma khas ibunya. Hampir setiap hari hidupnya diisi oleh perempuan lembut didepannya. Tanpa jeda. Kehilangannya membuat hidupnya yang tak baik-baik saja menjadi lebih gulita.
“Kamu sehat, dek?” Tanya ibu, menyeka air mata yang masih terus saja berlarian turun dipipi Nara. Hanya anggukan saja yang bisa Nara berikan. Dia tidak tahu harus memulai dari mana, dia tidak bisa berkata-kata. “Kandungan kamu juga sehat, kan?” Lanjutnya terlihat tenang saat Nara mengangguk mengisyaratkan dia baik-baik saja.
“Ibu.. maafin..Nara..” Ucap Nara terbata. Rasanya lidah telah bersatu dengan langit-langit mulutnya. Hingga sulit mengucap satu kalimat penuh tanpa tangis yang histeris.
Ibu menghela napas. Lega, pilu, rindu, kecewa dan semua perasaan bertumpuk dihatinya.
“Ibu udah maafin kamu. Jangan menyiksa diri sendiri dengan perasaan bersalah. Semuanya udah kejadian. Semua orang pernah ngelakuin kesalahan. Ada yang kesalahannya ditutup sama Allah, biar manusia lain gak tau. Ada yang kesalahannya diperlihatkan, biar dia lebih kuat dan biar orang lain belajar. Yang penting Nara sekarang bertanggungjawab dan memperbaiki diri. Jangan jadi putus asa, jangan lari dari masalah, dan jangan menghukum diri berlebihan dengan terus-terusan sedih. Setelah ini hidup masih terus berlanjut. Ibu mau Nara bahagia sama hal-hal yang dipunya sekarang. Calon bayi, suami, tempat tinggal, dan ga hidup kekurangan...”
__ADS_1
“Ibu jangan kemana-mana..”
“Ibu gak akan kemana-mana. Maafin ibu juga ya, dek. Ibu gak ada pas kamu butuh bimbingan. Ibu malah sibuk sendiri sama perasaan ibu, karena ternyata setelah puluhan tahun jadi orang tua, ibu masih harus belajar buat ikhlas dan menerima. Ibu ngebesarin manusia biasa, yang bisa aja ga sesuai ekspektasi dan kamu juga punya ibu seorang manusia biasa yang kadang bikin kamu kecewa. Nara mau kan maafin ibu juga?”
Nara mengangguk. Dia tidak tahu kapan air matanya akan berhenti keluar. Menangis seperti ini membuatnya sangat pusing.
Lama mereka saling menatap tanpa bicara. Menyandarkan kepala di sofa. Melepas rindu. Mencoba saling memahami dan memaafkan kesalahan yang lama berlalu.
“Sekarang kamu juga udah jadi ibu. Meskipun bayi kamu belum lahir, tapi kamu udah jadi seorang ibu. Kamu pasti nanti paham. Kasih sayang kita itu lebih besar dibanding kekecewaan. Ibu bakal sayang terus sama Nara. Kamu bakal baik-baik aja.”
Tangan ibu membelai kepala Nara, membuatnya nyaman dan tenang. Selama ini dia sangat membutuhkan ini saja. Ibunya, mengatakan semua akan baik-baik saja. Nara begitu kehilangan arah, sedih dan marah. Kepada dirinya sendiri dan juga pada Arvin, yang selama ini terus mengetuk perasaannya dan mengajaknya untuk terus berjalan kedepan.
Ibunya benar. Hal yang pertama Nara rasakan ketika pertama kali mendengar detak jantung janinnya adalah kasih sayang. Membuat hatinya yakin untuk mempertahankannya hingga lahir. Namun ketakutannya masih terlalu besar dari kasih sayang saat itu, sehingga dengan mudah saja dia mengatakan akan meninggalkan bayinya ketika lahir dan menyerahkan semua tanggung jawab membesarkan pada Arvin.
Nara begitu tersesat tanpa ibunya. Sekarang dia malah dengan bodohnya berpikir untuk meninggalkan bayinya nanti tanpa dirinya. Apa yang akan dia rasakan nanti? Apakah terluka dan hilang arah seperti Nara kemarin?
Perutnya terasa kencang. Mungkin bayinya mengerti apa yang sedang Nara rasakan. Apa yang sedang Nara khawatirkan. Dia mengelus perutnya lembut. Meminta maaf pada bayinya yang sedang tumbuh di dalam dirinya itu, dia belum menjadi ibu yang baik. Perjalanannya untuk menjadi seorang ibu masih panjang dan akan berlangsung seumur hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Padahal cuma 1000 kata. Tapi ini salah satu bab yang paling sulit aku tulis. Entah kenapa 🥲
__ADS_1