
Bunyi dering telepon terdengar nyaring. Mengganggu Nara yang sedang menikmati waktunya mengikuti kelas online dari salah satu dokter anak yang cukup terkenal di Jakarta, tentang tumbuh kembang anak. Nara sangat menyukai kegiatan seperti ini sekarang. Mencari ilmu tentang kehamilan dan tumbuh kembang anak untuk diterapkannya nanti
Nara berdecak sebal. Masalahnya itu bukan ponselnya. Melainkan milik Arvin yang tergeletak begitu saja di meja makan. Sementara si pemilik sedang berada di kamar mandi, bersiap untuk berangkat bekerja.
Deringnya semakin lama semakin mengganggu, sepertinya si penelpon tak menyerah saat sambungan pertama tidak ada jawaban. Dia terus menekan tombol panggilan. Memaksa Arvin untuk mengangkatnya.
Mungkin telepon penting dari kantor, itu pikir Nara. Saat menghampiri dan menjawabnya. Nara terhenti. Terlihat nama “KEYSA” tampil dilayar ponsel Arvin. Nara ragu ini adalah perasaan cemburu. Tapi jelas Nara tidak menyukainya.
Dibiarkan saja panggilan tersebut terus terdengar. Tak ingin berurusan apapun dengan mantan pacar Arvin. Nara kembali ke sofa, mengahadap laptopnya yang sedang menampilkan slide mengenai perkembangan kognitif anak. Beberapa kali mencoba berkonsentrasi, tapi Nara kehilangan fokus.
“Mantan lo teleponin terus. Berisik!” Kata Nara ketus, saat melihat Arvin sudah selesai bersiap. Mengenakan jas Armani-nya yang terlihat pas dan cocok dibadan.
Alis Arvin bertaut, mengambil ponselnya dari atas meja makan. “Kenapa gak kamu matiin aja?” Katanya menolak panggilan tersebut.
“Ngapain? Kan dia ngehubungin lo? Siapa tau penting.”
Arvin menghampiri Nara yang sedang duduk. Ikut duduk disofa disebelahnya. Menatap Nara lekat. Tapi Nara masih terfokus pada laptopnya. Setidaknya yang dilihat Arvin seperti itu. Meskipun sebenarnya Nara sama sekali tidak memperhatikan kelas online-nya.
“Kamu cemburu?” Tanya Arvin. Takut Nara salah paham dengan telepon tersebut.
“Dih. Ngapain cemburu? Gue kan gak suka sama lo. Udah gue bilang kalau lo masih mau pacaran sama dia juga gak peduli.”
“Kamu kelihatan kesel.”
“Gue selalu kesel kalau ngadepin lo. Cepetan berangkat kerja ah! Ganggu kelas online gue aja.”
__ADS_1
Arvin beranjak dari sofa, kemudian berangkat bekerja. Nara tidak ingin protes apapun jika Arvin memang masih berhubungan dengan Keysa. Karena dirinya sendiri pun masih sering bertukar pesan dengan Reza. Entah untuk alasan apa Nara terus mempertahankan komunikasi dengan laki-laki itu, yang jelas sebagian dari dirinya belum rela melepas. Meskipun ada bagian kecil dihatinya kini diisi oleh Arvin yang terus saja masih asing untuk perasaannya.
Kalau Arvin memang masih memiliki rasa untuk Keysa, Nara tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu yang dia kira, tapi hatinya bergemuruh tiba-tiba.
...****************...
“Kapan Arvin kesini?”
Keysa terdiam mendengar pertanyaan ibunya yang sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah hampir seminggu kondisinya memburuk. Keysa sangat takut dia akan kehilangan ibunya tiba-tiba. Meninggalkannya seorang diri di dunia. Hanya ibunya yang dia punya saat ini.
“Aku udah ngehubungin dia kok, Bu. Mungkin masih sibuk sama kerjaannya. Arvin kan harus gantiin ayahnya diperusahaan.” Jelas Keysa. Tak sanggup mengatakan kebenaran pada ibunya bahwa Arvin sekarang sibuk dengan kehidupan baru bersama istrinya.
“Ooh. Bagus kalau dia udah kerja. Daripada nge-band terus gak jelas. Gimana nanti dia bisa ngehidupin kamu kalau udah nikah kalau masih kekanakan gitu?”
Hatinya terasa sakit mendengarnya. Arvin dan dirinya sangat jauh dari hubungan seperti itu. Tapi ibunya tetap mempercayai bahwa Arvin akan menikahinya. Laki-laki itu terus menghindar jika mereka membicarakan pernikahan, hingga berakhir putus karena Arvin tidak tahan dengan semua desakannya.
Apalagi hal yang paling menakutkan terdengar beberapa bulan yang lalu. Arvin menikah dengan sekretarisnya, yang dia hamili. Semudah itu Arvin melakukannya dengan orang lain. Jika dengan cara seperti itu, terkadang Keysa berpikir untuk menjebak Arvin agar menikahinya juga dengan mengatakan bahwa dia hamil. Tapi Arvin tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Pintu ruangan terbuka. Sosok yang sudah lama dinantikan akhirnya tiba. Terlihat keren menggunakan jasnya yang mahal sambil menenteng buah-buahan segar ditangannya. Wajah cerianya dia pasang, kemudian menghampiri ibu Keysa yang terlihat gembira bertemu dengannya.
“Kok ibu masuk rumah sakit lagi sih? Jangan betah-betah nginep disini dong!" Kata Arvin sambil bercanda.
“Kok kamu udah lama gak ke rumah sih, Vin? Ibu kangen lihat kamu.” Kata Ibu Keysa dengan mata berbinar bahagia.
“Sibuk. Sekarang aku jadi orang penting.” Balas Arvin sambil tersenyum.
__ADS_1
“Iya. Kelihatan kok kayak orang penting. Ganteng banget pake jas gitu. Ibu jadi gak sabar liat kamu pake jas pernikahan sama Keysa nanti.”
Arvin terdiam tak menanggapi, matanya kemudian teralih pada Keysa. Semenjak pernikahannya dengan Nara. Dia tidak pernah bertemu lagi dengannya. Keysa pasti sudah mendengar mengenai hal itu dari anak Fortunata. Mereka juga sangat dekat dengan Keysa karena sudah berteman akrab semenjak sekolah.
“Aku mau ngobrol berdua sebentar sama Arvin ya, Bu.” Kata Keysa kemudian bangkit dari kursi. Berjalan pergi keluar ruangan. Arvin mengikuti dari belakang.
“Kamu bisa-bisanya nikah sama orang lain, sementara ngasih kepastian sama aku aja gak bisa.” Kata Keysa getir. Amarah, kekecewaan dan kesedihan berkumpul membuat perasaannya semakin pilu.
Arvin bersandar di dinding disebelah Keysa. Memejamkan matanya, bingung harus menanggapi apa. Arvin tahu Keysa sangat kecewa padanya. Arvin memang bodoh. Dia menjaga Keysa sedari remaja. Memberikan seluruh hidup dan rahasia padanya. Tapi tak sanggup untuk membawanya ke pernikahan. Dia malah membuat kesalahan dengan Nara malam itu. Membuat hidupnya kian rumit sekarang.
“Dia hamil anakku, Key.”
“Harusnya aku ngelakuin itu juga biar kamu nikahin, Vin.”
“Keysa! Jangan ngomong sembarangan kayak gitu.”
“Aku tau kamu pacaran sama cewe lain buat ngehindarin aku biar gak bahas soal pernikahan. Bukan karena kamu gak sayang aku kan, Vin? Tapi yang kemarin di bar apa? Kamu dengan gampangnya move on, cium dia di depan semua orang, bilang kalau kamu sayang sama dia. Tapi kamu sekarang masih kesini dan ngasih harapan sama ibu aku kalau kamu bakal jadi menantunya. Sakit kamu, Vin.”
“Aku minta maaf. Semuanya diluar kendaliku.”
Arvin tidak tahu harus berkata apa lagi selain permintaan maaf. Semuanya memang sekarang berada diluar kendali. Entah itu keadaannya dan juga perasaannya pada Nara. Arvin sudah mengecewakan banyak orang karena perbuatan bodohnya itu.
“Aku bakal ada buat kamu dan ibu kamu, kalau kalian butuh bantuan.”
“Sampai kapan, Vin? Kamu bohongin ibu aku sampai kapan?”
__ADS_1
“Aku gak pernah janji bakal nikahin kamu sama ibu.”
“Tapi ibu aku selalu mikir kayak gitu, Vin. Keinginan terakhirnya cuma liat kamu sama aku nikah. Dia gak akan lama lagi. Aku bahkan gak bisa mewujudkan keinginan ibu.” Air mata Keysa sekarang turun tak terkendali. Kesedihan dan rasa tak berdaya melingkupinya. Arvin memeluk Keysa. Mencoba menenangkannya. Tak ada cara apapun yang bisa dia lakukan untuk membantunya.