
Arvin segera mengurus semua keperluan liburan mereka ke Jepang. Dia selalu mengatakan setelah pindah ke Australia, rasanya setiap hari adalah bulan madu. Tapi sepertinya bagi Nara tidak, karena Arvin sepanjang tahun juga sibuk bekerja seperti biasanya. Bulan madu untuk Nara adalah liburan berdua tanpa memikirkan pekerjaan. Makanya perjalanan kali ini baru bisa dikatakan sebagai bulan madu.
Mereka akan menginap selama beberapa hari di Panorama Niseko, salah satu villa terbaik di wilayah ski terkenal di Niseko, Hokkaido. Mereka datang bertepatan musim dingin sehingga kawasan ski disana cukup ramai. Mereka juga mencoba kegiatan tersebut.
Arvin sudah sangat ahli bermain snowboarding, namun ini pertama kalinya Nara melakukannya. Untunglah Arvin menyewa pelatih khusus yang membantu Nara berlatih snowboarding.
Selama 3 jam lebih Nara berlatih keras menyeimbangkan luncurannya di lereng sekitar Niseko. Setelah cukup mahir, barulah Nara bisa melakukan luncuran menuruni lereng dengan cukup percaya diri. Meskipun tidak ahli, dia cukup berbangga dengan kemampuannya ini.
Menjelang malam, mereka berkendara ke sebuah restoran disekitar vila yang menjual salah satu menu suppon nabe, yaitu sup penyu. Selain penyu, beberapa sayuran seperti jamur dan kol.
Meskipun makanan ini bukanlah khas daerah Hakkaido, namun Arvin berkeras untuk mencobanya. Bahkan melakukan reservasi sebelum berangkat ke Jepang untuk makanan aneh ini, karena harganya yang mahal dan ketersediaannya yang terbatas.
“Aku gak mau makan ini, aku takut,” kata Nara saat suppon sudah disajikan di meja. Dia memilih memakan nabe kepiting yang sangat khas di sekitar Hokkaido.
“Kenapa? Makanan ini langka dan susah banget dapetnya loh. Dari dulu kalau aku ke Jepang pingin banget makan ini.” Arvin mulai memakan suppon pesanannya, kemudian bereaksi dengan sangat gembira setelah mencicipinya. “Enak. Dagingnya lembut.” Lanjutnya mengomentari.
Nara hanya memperhatikan Arvin dengan tatapan aneh, antara geli dan jijik. Meskipun bentuknya secara kasat mata seperti sup ikan biasa, tapi Nara tahu bahwa bahan yang digunakan tidaklah biasa untuknya.
“Jijik. Kenapa sih kamu ngotot banget pingin makan ini? Aku maunya ke tempat makan ramen gitu tau gak?”
“Ini makanan yang baik banget dikonsumsi sama cowok. Menurut orang Jepang, makanan ini bisa meningkatkan stamina cowok di di ranjang.” Jawab Arvin santai.
Nara langsung terbatuk karena kaget, dengan cepat Arvin menyodorkan segelas air untuk Nara yang sepertinya salah tingkah karena ucapan Arvin.
__ADS_1
“Kok sampai tersedak gitu sih? Kaget ya? Kan aku harus persiapan buat bertempur nanti.” Arvin terkekeh melihat ekspresi Nara yang terlihat aneh memandanginya. “Kamu yang mau honeymoon kayak begini, kok malah gak seneng?” Lanjutnya menyuap kembali makanan ke mulut.
“Giliran kayak gini aja persiapannya banyak.”
“Ya jelas dong. Si bos udah lama gak ngamuk. Waktunya kamu manjain dia.”
Nara langsung bergidik mendengarkan permintaan Arvin tersebut. Laki-laki ini jika diberi kesempatan sedikit saja yang berhubungan dengan masalah ranjang akan sangat bersemangat. Dari dulu perilakunya tidak berubah, malah semakin menjadi-jadi.
...****************...
Nara masuk ke ruangan khusus di vila, tempat indoor dan outdoor onsen pribadi mereka berada. Dia hanya mengenakan selembar handuk yang dia lilitkan disekitar ketiak. Arvin sudah berendam di dalam bak pemandian air panas yang berada di luar ruangan, menatap pemandangan gunung yang sudah terlihat gelap.
“Aku gak mau di luar. Dingin.” Nara berbicara lewat celah pintu yang sedikit dia buka.
Mereka pernah melakukan hal seperti ini juga dulu saat Nara sedang hamil, anehnya selama hampir 2 tahun terakhir ini mereka tidak pernah mencobanya kembali. Padahal lebih banyak kesempatan untuk berendam berdua dan melakukan hal nakal seperti yang dulu mereka lakukan di bathtub apartemen lama.
Semua hal-hal yang pernah mereka lakukan dulu rasanya menyakitkan jika diulang kembali sekarang. Nara membenci kenangannya tentang akuarium, padahal di Sydney mereka tinggal dekat dengan SEA LIFE Aquarium. Nara akan membenci hari-hari hujan, karena mengingatkan kenangannya berlibur bertiga di Bandung. Nara benci museum, mandi bersama Arvin, menonton acara musik, dan melihat Arvin bermain musik. Nara membenci dunia dan semua hal yang mengingatkannya tentang momen yang dia lalui saat hamil. Begitu pikirnya dulu.
Kali ini Nara sudah menetapkan hati untuk melepaskan semua kebenciannya. Semua momen mereka bertiga harusnya dia rawat di dalam pikirannya, sebagai kenangan yang tidak terlupakan. Saat-saat dimana Alyosha mempersatukan hatinya dengan Arvin, dan mungkin semua kenangan itu adalah bagian dari tugas besar keberadaannya di dunia. Membuat Arvin dan Nara saling menemukan.
“Lukanya jelek banget ya?” Ucap Nara saat menanggalkan handuknya dan bergabung di onsen bersama Arvin. Luka melintang bekas operasi yang sekarang sudah mengering, namun membuat guratan aneh diperutnya selalu membuat hatinya seakan ditusuk sembilu. Nara juga menjadi kurang percaya diri setiap kali berhadapan dengan Arvin tanpa busana.
Arvin menarik lengan Nara agar dia mendekat. Dia menyentuh luka tesebut dengan ibu jarinya sebelum mendekap Nara.
__ADS_1
“Kamu udah ribuan kali bilang kayak gitu depan aku. Tapi aku gak akan bosen bilang kalau luka kamu itu gak jelek, semua hal tentang kamu kelihatan cantik buatku.”
“Aku bakal bilang ini berulang-ulang dan kamu jangan bosen terus ngegombal seumur hidup.”
“Semua luka yang perempuan dapatkan pas berjuang buat jadi ibu menurutku cantik, semacam tanda kalau mereka orang-orang hebat. Luka yang kelihatan kayak gini ataupun yang mereka simpan dihati. Jadi aku gak akan bosen gombalin kamu dan bilang kalau kamu cantik.”
Arvin meraup wajah Nara dan menciumnya, merasakan setiap inci tubuh dalam dekapannya. Air hangat tempat mereka berada membuat suhu tubuh semakin meningkat, termasuk membuat keinginan untuk saling menautkan diri dan mempersatukan tubuh mereka.
Semua sentuhan dan kecupan hangat membuat ruangan sempit itu ramai dengan erangan maupun suara air yang berjatuhan dari bak pemandian. Kedua orang yang kini saling melepaskan endorfin lewat sebuah penyatuan.
Permainan terus berlanjut di sofa, di ruang tengah, di kamar, bahkan di atas meja makan di pantry kecil vila sewaan mereka. Selama seminggu penuh, mereka menikmati waktu berdua. Menautkan diri seakan tidak pernah bosan untuk saling menyatu.
Mereka bahkan bukanlah pengantin baru. Tapi setiap kali mereka bertemu tatap, keinginan untuk meleburkan tubuh mereka tidak bisa tertahan. Perjalanan kali ini mereka tujukan untuk saling menikmati kebersamaan berdua saja, sebelum muncul penghuni baru yang mengisi hari-hari mereka nanti.
“Vin, kamu tahu gak semenjak kita beresin barang-barang yang kita beli buat anak kita ada barang yang gak pernah aku rela kasih ke orang dan barang yang aku simpan terus sampai sekarang?” Ucap Nara saat malam terakhir mereka di Hokkaido.
Arvin menautkan alisnya bingung.
“Aku masih nyimpen jurnal kehamilanku dan sepatu yang kita beli di mall waktu itu. Aku terus bawa itu di tas setiap hari selama 2 tahun ini, mungkin ini juga alasan kenapa aku selama ini gak bisa ikhlas dan terus bersalah. Aku benci sama semua momen yang ngingetin aku soal kehamilanku dulu, karena aku ibu yang jahat. Tapi anehnya aku malah terus simpen benda-benda yang ngingetin aku soal itu.”
Nara kini berurai air mata, tapi hatinya entah kenapa sangat lega setelah mengatakannya. Arvin menyeka air mata Nara dan mendekapnya.
“Maafin aku sampai sekarang masih gak bisa melepaskan banyak hal, meskipun aku bilang mau memulai kembali.”
__ADS_1
“Gak apa-apa, simpen aja. Sepatu itu hadiah pertama kita buat Alyosha dan jurnal kamu adalah rekam jejak yang ngingetin kita kalau dia pernah ada. Memulai yang baru bukan berarti selalu buang kenangan lama. Aku juga mau Alyosha selalu punya tempat yang istimewa dihidup kita. Tapi nanti simpen di rumah ya, jangan dibawa kemana-mana.”