
Arvin telah menyelesaikan penampilannya yang memukau selama hampir 1 jam. Set list lagu hari ini spesial dipilihkan oleh teman-teman Arvin agar Nara mendengarkannya bernyanyi.
Gila memang kalau dipikirkan, sekarang Arvin sedang mencoba mencari perhatian seorang perempuan. Padahal mereka biasanya datang, hinggap sendiri dan nyaris tak mau pergi. Tapi kali ini pun pasti berhasil, kan? Nara juga pasti terpesona dengan suara dan persembahan lagunya yang super romantis.
Dulu, dia juga mengatakan kalau penampilan Arvin keren setelah menonton acara musiknya. Arvin tersenyum sendiri mengenangnya. Dengan membawa gitarnya, Arvin turun dari panggung. Namun tidak menemukan Nara ditempat duduknya.
“Nara kemana, Jar?” Tanya Arvin pada Ganjar yang masih melayani pesanan minuman.
“Balik duluan.”
“Hah?”
“Balik duluan udah dari tadi, Vin. Langsung pergi gitu aja. Gue panggil juga ngeloyor aja.”
Arvin bingung sebenarnya apa yang terjadi hingga Nara pergi begitu saja. Jangan-jangan dia sakit. Dia pergi sepertinya sudah cukup lama, jadi selama dia dipanggung, mungkin Nara tidak mendengarkan lagu yang dibawakannya.
Ah sial! Apalagi sih yang salah?
Rasanya hari ini Arvin tidak melakukan kesalahan apapun yang bisa membuat Nara badmood. Apa dia tidak suka dengan penampilannya diatas panggung?
Segera saja Arvin keluar dari bar. Terus menelepon ke ponsel Nara, tapi tidak ada jawaban. Hujan deras turun diluar. Arvin sangat khawatir dengan Nara dan keberadaannya.
“Ghofar, tadi lo liat istri gue?”
“Pulang. Naik Grab.” Jawab pria berotot penjaga pintu tersebut.
Arvin berlari menuju tempat mobilnya diparkiran. Bajunya nyaris basah semua karena menembus hujan yang lebat. Tapi dia tidak peduli, ingin sekali cepat pulang. Dia ingin memastikan kondisi Nara. Telepon terus Arvin pencet berulang-ulang. Sama sekali tak ada jawaban apapun dari Nara. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya.
...****************...
Semua hal tidak sesuai rencana kalau itu berhubungan dengan Nara. Dia bisa tiba-tiba badmood, tiba-tiba tidak bisa diajak kerjasama, dan sekarang dia tiba-tiba pulang tanpa memberitahu Arvin. Membuatnya jadi emosi. Kenapa susah sekali untuk mereka berkomunikasi dengan baik. Arvin kesal sekali dengan tingkah Nara yang seperti ini.
“Nara!” Teriak Arvin saat masuk ke penthouse. Tak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Arvin mengitari ruang tengah, walk in closet, dapur, dan kamar tapi tidak menemukan Nara. Satu-satunya yang belum Arvin lihat adalah toilet. Benar saja, Nara berada disana. Tidur sambil terduduk dilantai, kepalanya terkulai bersandar di kloset duduk.
Wajahnya terlihat lelah, keringat membasahi rambutnya yang tergerai tak beraturan menutupi muka. Semua amarah Arvin hilang seketika melihat kondisi Nara yang tak berdaya seperti itu. Mana mungkin dia memarahi Nara sekarang. Benar-benar gila. Naik turun emosinya begitu cepat hanya dengan melihat wajah Nara saja. Sebelumnya kepalanya nyaris meledak karena marah, sedetik berikutnya semuanya redam beralih kekhawatiran.
“Lo kenapa pulang duluan? Sakit?” Kata Arvin lembut, ikut duduk di lantai. Menyingkirkan helaian rambut basah yang menutupi wajah Nara.
“Gue pingin mati aja.” Kata Nara lemah.
Alis Arvin bertaut bingung, “Lo kenapa?”
“Gue ga mau lanjutin hamil. Gue mau mati aja.” Nara menegakkan tubuhnya kemudian mulai terisak. Kedua tangannya kini menutupi wajah. Tubuhnya gemetar seiring isakan yang semakin keras.
Sumpah! Arvin tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Nara yang seperti itu. Selama hampir semenit, Arvin hanya melihat perempuan di depannya meluruh bersama kesedihan yang tak Arvin mengerti.
Ada apa lagi? Kenapa dia seperti ini? Apakah terjadi sesuatu tadi?
Meskipun Nara selalu menolak dan sangat membenci sentuhannya, tapi kali ini Arvin tak punya pilihan selain memeluk Nara. Tubuh kurusnya yang rapuh tersebut dia rengkuh sepenuh hati. Berharap dia tidak berontak melepaskan diri.
Arvin hanya bisa merasakan kakinya yang kesemutan dan kaosnya basah dengan air mata Nara. Tangisnya berhenti, berganti menjadi suara napas pelan dan tenang. Nara tertidur diperlukannya. Untuk pertama kalinya.
...****************...
Pukul 02.30 biasanya Arvin mulai bangun. Sekarang dijam tersebut dia sudah membuka mata, seperti telah di set alarm alami ditubuhnya.
Bagaimana tidak, hampir tepat jam tersebut setiap hari Nara akan menganggunya. Menyuruhnya memasakkan sesuatu karena kelaparan, atau membangunkannya dengan ribut karena kram perut atau ingin muntah-muntah.
Tapi kali ini tidak, Nara tidur dengan tenang disebelahnya. Masih memeluk Arvin, tidak melepasnya sejak dia dibaringkan dikasur.
Arvin memperhatikan wajah Nara yang sedang tertidur. Damai dan cantik. Harusnya seperti ini saja setiap hari. Semua akan lebih mudah untuk mereka, jika tak ada drama dan perdebatan sampai saatnya nanti mereka berpisah.
Memikirkan tentang perpisahan yang akan berlangsung beberapa bulan dari sekarang, membuat Arvin sedikit tak rela. Entahlah.
Jauh didalam hatinya dia ingin membesarkan anak mereka berdua. Mungkin memang bukan karena dipersatukan cinta, tapi setidaknya bertahan untuk anak mereka. Arvin sangat tahu bagaimana Nara membencinya. Tak mungkin gadis ini punya perasaan padanya.
__ADS_1
Arvin mendekatkan wajahnya, mengecup pelan bibir Nara dengan singkat. Sulit untuk mengabaikan bibir merah muda yang indah itu. Nara tidak terbangun sama sekali. Arvin lega dan menyunggingkan senyum nakalnya.
Sekali lagi mungkin tidak apa-apa.
Arvin menciumnya lagi. Agak lama. Kemudian memperhatikan takut Nara terbangun. Tapi dia masih tidur. Tumben. Padahal dia mudah sekali terbangun bahkan karena gerakan kecil Arvin sekalipun, kemudian marah-marah padanya.
Sekali lagi. Arvin masih penasaran.
Ciuman kali ini lebih panjang dan lebih intens. Lidahnya mulai bergerilya liar menyapu bibir Nara. Lama. Lembut. Seketika Arvin sudah kehilangan kendalinya.
Dia merengkuh wajah Nara dan melanjutkan ciumannya dengan agresif. Tangannya mulai bergerak ke pinggang, menyelip kedalam kaos yang dikenakan Nara.
Arvin bisa merasakan kulit punggung Nara yang lembut dan hangat. Mengelusnya berkali-kali. Arvin sangat menyukai sensasi yang muncul saat menyentuh kukit Nara. Seperti sengatan listrik yang membuatnya terkejut sekaligus merasa nyaman.
Sial!
Arvin! Kendalikan diri!
Seketika Arvin melepaskan semua sentuhannya. Menjauhkan diri dari Nara yang sekarang menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Tapi dia tertidur kembali.
Hampir saja Arvin melakukan hal yang berbahaya. Segera saja dia mengguyur air dingin ke kepala. Menenangkan pikirannya yang berlarian kemana-mana. Dia tidak ingin memanfaatkan momen menyedihkan Nara demi keinginannya.
Arvin memilih membaringkan diri di sofa. Menghindarkan dirinya sendiri dari hasratnya yang tiba-tiba tak terkendali. Sial! Tapi kenapa rasanya sulit sekali kembali tertidur.
Kalau seperti ini terus. Arvin yakin, suatu saat akan kehilangan kewarasannya.
__ADS_1