Halo Arvin!

Halo Arvin!
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Kotak perhiasan berwarna merah terbuka sembarangan di meja. Bertuliskan Cartier terukir disana. Sebuah kalung model juste un clou berwarna rose gold dengan liontin lingkaran ditaburi hiasan diamond teronggok lesu di kotak tersebut. Merek perhiasan yang sama, yang Arvin berikan kepada Nara sebagai cincin pernikahan.


Arvin menatap kalung tersebut bingung, kemudian beralih pada Nara yang duduk di sofa dengan wajah yang merengut kesal, memeluk lututnya sendiri, bergulung seperti seekor landak. Dia melihat Arvin yang baru saja pulang dengan ekspresi tak senang.


“Dari siapa ini?” Tanya Arvin yang kemudian duduk di sebelah Nara.


“Ibu lo.” Jawab Nara sebal.


“Hah?”


“Bu Lena. Dia ngirim hadiah pernikahan buat gue dan undangan buat makan malam keluarga. Lo tau ada acara itu?”


Arvin mengangguk, “Tadi siang si kumis telepon gue nyuruh dateng nanti sabtu buat acara makan malam.”


“Terus lo jawab apa?”


“Ya datenglah.”


“Gue gak mau dateng!” Teriak Nara “Pokoknya gue gak mau dateng ke acara itu!” Nara semakin merengut kesal.


“Kan itu acara khusus buat lo.”


“Buat gue apaan? Maksud lo, gue harus dateng dan ngenalin diri ke keluarga lo gitu?”


“Hmm..”


“Ga mau. Ogah! Kok tumben sih lo setuju sama kemauan orang tua lo? Biasanya lo susah dibilangin. Lo kan anak durhaka, Vin?”


Arvin menatap Nara, ekspresinya kesal. “Maksud lo?”

__ADS_1


“Ya lo tolak kek, kayak biasanya lo tolak permintaan Pak Candra.”


“Gak bisa kalau yang ini. Kita harus dateng.”


“Kenapa? Kalau gitu lo aja yang dateng sendirian.”


“Kan udah gue bilang ini acara buat lo. Masa gue doang yang dateng.”


“Gue gak perlu dikenalin sama keluarga besar lo. Lagian kita bakalan cerai abis anak ini lahir. Gue ga perlu publikasi kayak gini. Gua gak mau!”


“Ck.. Lo jangan bikin gue emosi ya! Kalau gue bilang dateng ya dateng. Kenapa sih lo harus nolak?”


“Lo sendiri kenapa setuju? Pingin banget gitu liat gue dihujat sama keluarga lo?”


“Maksudnya?”


“Menurut lo mereka bakal menerima gue dengan ramah, gitu? Setelah tau kalau gue hamil di luar nikah sama lo? Bikin keluarga besar lo malu. Gue pasti dikata-katain, dihina, dihujat kayak yang gue rasain pas lo manggung.”


“Siapa yang ngata-ngatain lo?”


“Ya menurut lo? Fans-fans garis keras lo, yang ngira kalau lo itu Santo padahal cowok br*ngsek!”


“Mereka bilang apa?” Tanya Arvin, alisnya tertaut bingung.


“Mereka ngatain gue penggoda, murahan, cewek gatel, karena gue hamil anak lo. Padahal mereka gak tau yang br*ngsek itu lo! Yang bikin semua kejadian jelek ini terjadi itu lo! Terus lo ngarep gue mau ketemu orang-orang lagi setelah mereka ngatain gue kayak gitu? Menurut lo gue bakal mau ketemu keluarga lo yang jelas bakal berpikiran sama kayak mereka dan pasti ngehujat gue?” Nara kini berbicara sangat cepat dengan penuh emosi. Nyaris saja dia menangis saking kesalnya mengingat semua kata-kata yang terlontar untuknya dulu.


Arvin terdiam. Melihat Nara yang begitu emosi dan berapi-api menceritakan keengganannya untuk hadir diacara keluarganya, dan tentang insiden di acara musik yang tak pernah Arvin ketahui sebelumnya. Nara mengatur napasnya dengan susah payah, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya menatap galak kearahnya. Arvin tahu Nara sangat terluka, sialnya Arvin baru mengetahuinya sekarang.


“Gue ga bakal biarin lo dihina diacara keluarga gue.” Kata Arvin meyakinkan Nara.

__ADS_1


“Terus lo pikir gue percaya sama lo gitu? Lo ga bisa ngelindungin gue dari apapun. Yang salah selalu gue, mereka ga akan mau tau kejadiannya kayak gimana. Selalu gue yang disalahin, Vin.” Amarahnya sudah berada dipuncak kepala.


“Gue janji.”


Arvin menggenggam tangan Nara, namun dengan segera ditepis. Gadis itu tak butuh janji Arvin. Percuma mempercayai Arvin. Dia tidak bisa melindungi Nara dari perasaan takut, terluka, terhina, dan malu yang dia rasakan saat menerima semua kata-kata buruk terhadapnya.


Nara sibuk menyeka air matanya yang bercucuran tak terkendali. Perasaan bersalah seakan memakan hati Arvin. Setiap hari dia selalu merasa sangat bersalah pada Nara. Setiap kali Nara terlihat sakit dan muntah-muntah tak terkendali, Arvin selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia yang menbuat Nara harus melalui momen paling tidak nyaman dihidupnya seperti itu. Kini dia juga merasakan amarahnya tiba-tiba tersulut, mendengar bahwa ada orang-orang yang menghina dan menyebut Nara dengan julukan-julukan kurang ajar.


F*ck!


Kalau saja Arvin tahu kejadian sebenarnya saat itu. Dia tidak akan membiarkan orang yang menghina Nara lolos begitu saja.


...****************...


Arvin memarkir mobil di tempat parkir rumahnya. Nyaris tak mendapatkan tempat untuk parkir karena banyak sekali mobil yang telah berada disana. Hingga halaman rumput depan sekarang beralih fungsi menjadi lahan parkir dadakan.


Disebelah Arvin, Nara sejak tadi diam mematung. Matanya tampak gelisah. Dia juga tidak banyak bicara hari ini. Sudah jelas dia tidak ingin hadir diacara makan malam yang diadakan ibunya. Bahkan sejak berhari-hari yang lalu Nara terus saja merengek pada Arvin untuk membatalkan kehadiran mereka.


Namun Arvin tidak bisa. Dia memang selalu sulit diatur dan tidak mematuhi kata-kata orang tuanya. Tapi untuk kali ini Arvin tidak bisa menolak. Semenjak mengatakan dia akan menikahi Nara di depan keluarganya. Ayahnya selalu memberikan peringatan pada Arvin agar bertanggung jawab terhadap Nara dan perannya sebagai suami.


Dia sekarang tidak bisa mangkir begitu saja dari acara keluarga dan bertindak sesukanya apalagi tanpa bekerja. Nara dan calon bayinya butuh dihidupi. Ayahnya berulang kali mengatakan agar Arvin mengambil alih posisinya di keluarga dan perusahaan sekarang. Jika tidak, semua posisi dan support untuknya akan diputus. Arvin tidak bisa membiarkan Nara hidup terlunta-lunta dengan suami penganggguran.


Meskipun dia bisa mendapatkan pekerjaan diluar perusahaan. Tapi mungkin tak sebaik dan secepat itu mengembalikan kemakmuran dan gaya hidup yang dia rasakan sekarang. Maka dari itu Arvin tidak menolak saat dihubungin untuk mengikuti acara ini, dengan adanya Nara dan bayinya dunianya benar-benar berubah. Dia tidak akan menjadi laki-laki bermasa depan suram dan manja lagi.


“Ayo turun.” Kata Arvin membukakan pintu mobil. Namun Nara bergeming, mengindahkan kata-kata Arvin dan tetap duduk di kursinya.


“Gue takut.” Kata Nara dengan suara bergetar.


Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya harus berurusan dengan keluarga orang terpandang. Mengikuti acara makan malam mewah seperti ini. Hidupnya nyaris seperti Cinderella. Namun bukan jenis Cinderella yang bahagia. Dia penuh skandal dan penuh cela. Momen ini seperti sebuah penghakiman untuknya. Padahal impiannya hanya hidup sederhana dan bahagia, dengan suami yang dicintainya.

__ADS_1


“Jangan jauh-jauh dari gue.” Tangan Arvin terulur, menggenggam tangan Nara yang sedingin es. Dia benar-benar ketakutan hingga seperti itu.


Akhirnya Nara turun sambil terus berpegangan dan menggenggam tangan Arvin yang besar dan hangat. Mungkin untuk pertama kalinya dia merasakan genggaman tangan tersebut. Biasanya Nara sangat benci bersentuhan dengan Arvin. Kali ini Nara tak ingin melepaskannya. Merasa aman berada didekat Arvin dan genggamannya yang kuat, meyakinkan Nara bahwa berada disampingnya semua akan baik-baik saja.


__ADS_2