
Nara mempersiapkan makanan dan barang yang akan dia bawa ke acara piknik dadakan, yang tentu saja diprakarsai oleh ide aneh Arvin. Tapi Nara menyukainya. Hal-hal tentang laki-laki itu selalu diluar dugaan.
Padahal beberapa jam yang lalu hatinya sangat berat ketika mendengarkan keputusannya keluar perusahaan dan ciumannya dengan Keysa. Namun saat ini Nara sedang senyum-senyum sendiri membuat sandwich buah, membayangkan piknik di taman yang luas sore hari sambil melihat pemandangan dan orang-orang berlalu lalang, seperti yang sering dia lihat di sosial media akhir-akhir ini.
Arvin memang sangat jago membuat perasaannya berubah-ubah dan tidak karuan. Sebenarnya memang sejak dulu Nara mengakuinya. Mungkin itulah salah satu alasannya bisa jatuh cinta dengan Arvin. Benar. Jatuh cinta dengan Arvin seperti menemukan dunia baru yang eksentrik dan berbeda dari kebiasaannya.
Perhatian-perhatian kecil, gombalan-gombalan receh, kencan-kencan yang tidak terduga dan semua hal yang ada dalam laki-laki itu sangat baru bagi Nara. Tidak perah dia temui pada laki-laki lain yang dikenalnya, begitupun mantan-mantannya.
Nara meletakan keranjang rotan di meja makan. Mengisinya dengan air minum, jus kemasan, beberapa sandwich buah, sandwich daging, dan juga cemilan. Dia juga tidak lupa membawa alas kain berwarna kuning putih motif kotak-kotak.
Persiapan makanan sudah dilakukan. Nara mulai sibuk memilih dress yang cocok digunakannya untuk piknik sore ini. Dia menjatuhkan pilihan pada dress baby doll berwana biru langit yang sangat manis. Dia menyimpannya untuk dikenakan nanti saat akan berangkat.
Nara melihat jam digital di nakas yang menunjukkan pukul 13.30, tapi Arvin belum juga pulang. Padahal dia mengatakan akan pulang saat jam makan siang. Jangan-jangan dia tertahan karena bertemu dengan Keysa. Nara seketika memberengut kesal, mencari ponselnya yang dia letakkan sembarangan di kamar untuk menghubungi Arvin.
Saat dia membuka ponsel tersebut, ratusan chat muncul dari grup teman-teman kantornya. Dia duduk dan membacanya satu persatu pesan tersebut. Semuanya menanyakan tentang hubungan Arvin dan Keysa serta kabar tentang skandalnya yang mengudara. Sampai akhirnya jempolnya terhenti pada foto yang begitu dibencinya. Foto Arvin dan Keysa sedang berciuman.
Nara sudah tahu tentang itu lebih dulu dari Arvin. Namun saat melihatnya langsung bagaimana kedua orang itu saling menautkan bibir, perasaannya bergolak kembali. Malah semakin panas dan cemburu. Tiba-tiba saja Nara tersedu. Harusnya tidak seperti ini. Padahal dia sudah tahu, kenapa masih saja sakit saat melihatnya.
“Nara! Aku tadi abis beli bunga buat hiasan kayak yang di insta—” Kata Arvin kemudian terhenti saat melihat Nara duduk dipinggir ranjang sambil menangis. “Kamu kenapa?” Lanjutnya bingung.
Arvin duduk disamping Nara, kemudian menatap ponsel yang dipegang oleh istrinya. Ternyata Nara menangisi foto yang disebarkan Rivanno. Arvin merebut ponsel dari tangan Nara. Dia mengamati sejenak group chat yang mengirimkan foto tersebut, rekan kerja Nara dulu yang sempat merundungnya di toilet. Kenapa Nara masih berhubungan dengan mereka? Lekas saja dia menekan tombol untuk keluar dari group chat tidak jelas itu dan menghapus foto yang sudah terunduh.
“Kenapa ya, padahal aku udah tahu dari kamu tapi tetep aja aku sakit hati pas lihatnya?” Ucap Nara diantara tangisnya.
__ADS_1
Arvin mendorong lembut tubuh Nara hingga punggung dan kepalanya jatuh menyentuh kasur. Kemudian dia mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan pada bibir Nara tiba-tiba. Membuat tangisnya berhenti seketika. Arvin memagutnya lembut, bermain diantara lidahnya. Hingga dia akhirnya berhenti sejenak. Menatap mata Nara lekat.
“Aku bakal kasih kamu yang banyak. Jangan pedulikan yang kamu lihat tadi.” Ucap Arvin.
Dia kemudian menautkan bibir mereka kembali, memainkannya, dan memberikan Nara perasaan yang membuatnya terasa nyaman seketika. Wangi parfum dari tubuh Arvin seketika menyeruak memberinya ketenangan.
“Ciuman aku punya kamu. Aku milik kamu.” Bisik Arvin diantara kecupannya.
Dia melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Seakan tidak pernah cukup melakukannya sekali. Hingga Napas keduanya memburu dan pikirannya berlarian tak menentu. Nara tanpa sadar mencengkram seprai karena tangan Arvin mulai begerak nakal ditubuhnya. Jika dibiarkan, mereka akan berakhir melakukan aktivitas lain selain ini.
“Arvin stop!” Kata Nara setelah mendorong tubuh Arvin menjauh. “Kita mau piknik nanti sore, kan?” Lanjutnya mengingatkan.
Arvin mengangguk, “Kalau gitu kamu jangan nangis lagi dan mikirin soal foto itu.” Ucapnya memeringatkan.
...****************...
Seseorang mendekat dan duduk di hadapannya. Keysa menatap laki-laki tersebut tanpa selera. Memalingkan pandangan ke arah panggung yang kosong tanpa pemain band yang biasa meramaikannya.
“Udah malem, jangan minum terus. Lo harus pulang.” Kata Eka melihat gadis didepannya yang tampak tidak fokus. “Lo pasti kayak gini karena Arvin, kan?” Lanjutnya.
Mendengar nama Arvin disebut, Keysa kemudian menatap Eka.
“Kenapa ya Ka, dia bisa setega itu sama gue? Kenapa dia ninggalin gue buat cewek itu? Cuma karena dia hamil anaknya doang, Arvin bisa sebucin itu sama dia? Apa gue harus hamil anak dia dulu, Ka?” Racau Keysa.
__ADS_1
Eka mengembuskan napas, “Key, sorry ya gue harus bilang ini pada akhirnya sama lo. Sebagai cowok, gue gak pernah ngerasa Arvin itu sesayang itu sama lo. Dia mungkin punya perasaan. Tapi itu gue gak yakin itu cinta. Maybe, simpati kali ya. Kasihan doang.”
Keysa menatap Eka dengan tatapan kesal. Tidak terima dengan perkataannya.
“Gini. Lo dari dulu selalu datang sama Arvin ngejual cerita sedih lo, ketidakmampuan lo melakukan sesuatu, kelemahan lo dan lo kayaknya juga tahu, Arvin itu temen yang baik. walaupun omongannya kadang gak bisa di filter, but he is a total sweetheart yang bakal simpati sama siapa aja, bukan lo doang. Tapi lo nganggap itu cinta. Terus yang paling lo gak sadari adalah dia gak pernah ngejar lo, Key.”
Eka memainkan gelas-gelas kosong didepannya. Menyusunnya hingga berbaris. Suara musik jazz terputar pelan dilatar belakang.
“Dia gak sekalipun maju duluan buat menyatakan perasaannya sama lo, kan? Kalau lo gak nanya sama dia, pasti dia gak akan bilang apa-apa. Sama kayak semua mantannya yang sering lo ajak ribut itu. Dia cuma menerima semua yang dateng. Tanpa mikir sebenernya dia beneran suka atau ngga sama orang itu. Kemudian dijalani gitu aja, dan semua cewek nganggapnya itu cinta dari Arvin. Padahal nggak.”
“Kalau gitu kenapa dia nerima semua perasaan orang termasuk gue? Harusnya dia nolak kalau gak mau. Biar gue ataupun cewek lain gak berharap dan nganggap perhatian dia itu beneran cinta.”
“Ya… itu bodohnya si Arvin sih. He’s so thirsty of love. Dia selalu pingin ngerasa dicintai karena berasal dari keluarga yang hancur. Dia butuh divalidasi. Gue juga gak suka bagian itu dari si Arvin. He is a terrible lover.”
“Tapi kenapa Arvin malah suka sama cewek itu? Padahal dia gak ada istimewanya sama sekali.”
Eka terkekeh, “Mungkin karena cewek itu menarik perhatiannya. Cewek yang dipilihin bokapnya buat nyeret dia masuk perusahaan, cewek yang judes dan galak kayak Bu Lena, dan cewe yang sedikit mirip ibu kandungnya. Kombinasi langka yang bikin Arvin langsung ngasih perhatian lebih sama keberadaan dia. Mungkin itu tipe cewek yang Arvin mau. Teori gue doang sih itu.”
“Terus hal yang paling penting. Dia sama sekali gak ngejar Arvin. Aneh sih, tapi cowok tuh suka tantangan. Lebih seneng mengejar. Ngerasa excited kalau harus taklukin cewek yang tipe dia banget. Lo gak tahu kan seberapa sering Arvin ngomongin cewek itu semenjak pertama kali ketemu bahkan sampe mereka kawin? Then this is the first time he’s falling for someone. Lo gak akan bisa sampe level itu, Key. Makanya stop. Lo nyiksa diri lo sendiri ngejar Arvin. Cinta yang lo kira Arvin kasih itu cuma ada dalam bayangan lo doang. You love the idea of him.”
Keysa terisak. Dia mengerti apa yang Eka katakan. Selama ini juga dia paham akan hal itu. Tapi perasaannya pada Arvin begitu besar hingga dia menyangkal dan tetap berusaha mengejar cinta laki-laki yang telah jauh darinya. Beralasan bahwa semua itu adalah harapan dari ibunya.
“Keysa, ada yang bilang cewek itu bakal lebih bahagia kalau ketemu cowok yang cintanya lebih besar sama dia. Bukan sebaliknya. Lo bakalan ngerasa cukup. Gak perlu nyari validasi dan ngemis perasaan lagi. Move on. Lo berharga dan pantes dicintai sama laki-laki yang memperlakukan lo dengan baik.”
__ADS_1
Diantara tangisnya, Keysa mengendapkan kata-kata yang diucapkan itu dalam di hatinya. Perlakuan Arvin kemarin dan semua penolakannya selama ini memang tanda, seharusnya Keysa berhenti. Dia pantas menemukan orang yang mencintai dirinya tanpa harus mengemis lagi.