Halo Arvin!

Halo Arvin!
Pesan Ibu


__ADS_3

Seminggu berlalu semenjak kepergian Candra, semua orang masih merasa berduka. Kerabat, rekan kerja, dan karyawan yang sangat mengenal sosoknya merasa kehilangan.


Saudara-saudara yang menginap di rumah pun satu persatu pulang. Kini tempat itu hanya dihuni oleh Lena, Audrey, dan Angga yang kemungkinan dalam waktu dekat akan berpindah juga setelah pernikahannya dengan Sophie.


Lena kian disergap perasaan sepi. Meskipun hubungannya tak lagi sama setelah perselingkuhan dan kepergian Arvin dari rumah, Candra tetaplah pasangannya. Setiap hari mereka berbincang, bercerita, dan menghabiskan waktu bersama. Terutama setelah Candra pensiun dari pekerjaannya di kantor selepas operasi.


Lena pikir akan siap kapan saja ketika Candra pergi dari sisinya. Dia juga pernah meninggalkannya selama 8 tahun, kepergian seperti ini akan mudah juga dijalaninya. Ternyata tidak.


Meskipun dulu mereka bertahun-tahun tidak tinggal serumah, Candra selalu menghubunginya. Paling tidak sekali setiap hari dia bisa mendengarkan suaranya. Sekarang sudah tidak ada. Hening rasanya tidak pernah semenakutkan ini.


Selama hampir setahun kebelakang, Candra selalu duduk di ruang kerjanya beberapa jam. Membaca buku dan juga berbicara dengan Yanuar yang selalu melaporkan kinerja Arvin di perusahaan.


Lena akan menemaninya juga disana, membaca buku sambil meminum teh juga sesekali berbincang. Ruangan itu kini diam, begitupun Lena yang duduk sendiri disana. Mengenang semua yang mereka lakukan bersama.


Pintu ruang kerja terbuka, membuyarkan lamunan Lena. Saat sosok itu masuk kedalam ruangan, Lena nyaris terperanjat. Mengira orang itu adalah Candra yang kembali muda. Dia tersenyum pahit, ternyata yang datang adalah Arvin. Mereka berdua terlalu mirip. Seperti sebuah salinan yang tidak memiliki pembeda. Namun jelas kepribadian mereka sangat bersebrangan.


“Audrey bilang ibu gak mau makan. Aku bawa cemilan yang sering kita beli pas aku pulang sekolah.” Kata Arvin, menaruh piring berisi risoles ayam dari Suisse Bakery.


Dulu Lena akan menyetir jauh setelah menjemput Arvin dari sekolah hanya untuk menikmati risoles ayam dan roti-roti enak di toko legendaris tersebut. Berdua saja. Saling berbincang dan tertawa sepanjang jalan. Menceritakan kegiatan yang Arvin lakukan di sekolah. Baru setelah itu, Lena akan menjemput Angga dan Audrey yang pulang lebih sore.


Mereka duduk saling berhadapan, terpisah oleh meja kerja Candra, yang berisi buku-buku dan alat tulis yang tidak sempat dibereskannya. Saling diam untuk beberapa waktu. Bingung harus memulai pembicaaan dari mana. Sudah lama mereka tidak duduk berdua seperti ini lagi. setelah hari dimana Lena mengantarkan Arvin ke rumah sakit menemui ibu kandungnya.


“Aku minta maaf.” Ucap Arvin memecah hening, “Aku minta maaf udah bikin keluarga kita jadi saling menjauh kayak gini, udah bikin ibu sedih, udah bikin ayah sedih. Karena aku terus menghindar dan lari. Harusnya aku mau nyoba dengerin dan ngertiin kalian juga.”


Suasana kemudian hening kembali. Lena tidak merespon kata-kata Arvin. Hanya menatapnya lama dengan sendu.


“Kamu tahu—”


“Dari Angga.”


“Anak nakal.” Ucap Lena sambil tersenyum.

__ADS_1


“Bisa gak kita gak usah pura-pura lagi, gak usah bohong dan menyembunyikan perasaan kita lagi?”


Lena menyandarkan punggungnya di kursi milik Candra. Memejamkan matanya sebelum berbicara lagi pada Arvin.


“Kamu benci sama ibu, Vin?”


“Dulu. Bukan karena ibu merahasiakan soal mama. Tapi karena ibu pergi bertahun-tahun dan gak pernah ngehubungin aku.”


“Ibu benci diri sendiri karena ninggalin kamu. Ibu minta maaf karena terlalu egois dan mikirin diri sendiri. Waktu itu ibu kira hal yang paling menyakitkan adalah pas tahu kebenaran soal Kartika, atau pas nenek kamu maki-maki ibu karena nganggap ibu yang ngerebut kamu. Tapi ternyata bukan.” Lena menghela napas berat. Mengingat semua kenangan pahit yang coba dilupakannya.


“Hal yang lebih menyakitkan dan bikin ibu melarikan diri adalah karena ayah kamu bilang masih sayang sama Kartika. Selama lebih dari 10 tahun, ibu dibohongi dan diselingkuhi. Kirain semuanya udah selesai pas kamu lahir.” Lena memainkan jarinya dengan gusar. Masih terasa sakit hingga sekarang.


“Ibu pulang ke rumah ini lagi karena ibu pikir kamu juga bakal pulang setelah nenekmu meninggal. Ibu cuma punya kamu. Ibu bisa lupain semua kebohongan Candra asal kamu pulang. Ibu bisa bertahan sama Candra asal bisa terus jadi ibu kamu.” Lanjutnya sedih.


Arvin berjalan kearah lena. Dia berlutut dan memeluk ibunya yang duduk dikursi. Entah sejak kapan tubuh Lena menyusut, menjadi kecil dan ringkih seperti sekarang. Atau bahunya kah yang semakin lebar, agar perempuan malang ini bisa bersandar?


Lena tersedu. Mengatakan hal yang disimpannya rapi bertahun-tahun. Mengorek kembali lukanya.Dibalik senyuman dan baktinya sebagai istri kepada Candra.


“Kenapa ibu nyimpen ini sendirian? Kalau ibu datang lagi waktu itu. Aku pasti pilih ibu. Bakal selalu pilih ibu dibandingkan mama. Aku gak kenal sama mama. Biarpun ayah pilih orang lain. Aku akan selalu pilih ibu.”


Harusnya Lena tahu tentang perasaan anak laki-laki kecilnya itu. Dia akan selalu memilihnya. Bukan Candra, tapi Arvin yang akan memilihnya. Disisi lain, Arvin juga ingin dipilih sama sepertinya. Semua prasangkanya mengenai Arvin semakin menjauhkan mereka. Berpikir dia membencinya karena kebohongan tentang ibu kandungnya.


Setelah melepas Arvin hari itu di rumah sakit. Lena mencari kebenarannya sendiri lewat Candra. Mendengarnya mengatakan masih memiliki perasaan pada Kartika, bersalah dan bersimpati. Membuat seketika dunianya gelap kembali. Hari itu juga dia memutuskan untuk pergi. Menjauh dan menenangkan diri.


Sekarang hatinya lebih tenang. Dia mungkin bukan istri dan perempuan beruntung yang memiliki suami setia dan anak kandung. Tapi dia punya Arvin, Angga dan Audrey yang lebih menyayanginya dibandingkan siapapun.


Arvin duduk dilantai. Merebahkan kepalanya di kedua paha ibunya. Dengan lembut Lena mengusap kepala anak laki-laki kecil yang sekarang sudah menjadi dewasa. Aneh melihatnya sudah sebesar ini.


“Ibu jangan sedih lagi. Makan yang banyak. Jangan kelihatan kayak janda menyedihkan.” Ucap Arvin mendongak.


“Kamu berani banget ngata-ngatain ibu janda.”

__ADS_1


“Ya kan emang janda. Terus mau disebut apa dong?”


Seketika Lena mencuping hidung Arvin hingga mengaduh.


“Ibu jangan bohong lagi sama aku, ya? Kalau ada sesuatu yang mengganggu perasaan ibu, cepetan kasih tahu aku.”


“Abis itu kamu mau ngapain?”


“Ya dateng lah kesini, atraksi biar ibu gak sedih lagi. Ibu mau aku nyanyiin lagu gak? Aku vokalis paling keren dan digilai banyak cewek.”


“Kamu udah punya istri. Jangan suka tebar pesona.”


“Aku cuma tebar pesona sama Nara dan ibu doang kok.”


Lena tertawa kecil. “Kamu sayang sama Nara?”


“Banget. Bucin parah.”


“Ibu pikir kalian bakal bubar satu atau dua bulan setelah nikah. Kamu yakin sayang sama dia karena orangnya? Bukan karena anak yang ada dalam perutnya?”


“Aku yakin sayang sama Nara, ya karena itu Nara. Bukan karena hal yang lain. Aku ngalamin banyak hal buruk, tapi setiap pulang dan lihat Nara. Rasanya aku jadi tenang dan bisa menghadapi hal-hal buruk itu.”


“Candra juga bilang itu dulu. Pas kita awal menikah.” Kenang Lena, “Kamu pasti bilang kayak gitu karena masih jatuh cinta. Setelah bertahun-tahun, Nara gak akan sesuai ekspektasi kamu lagi. Cinta kamu juga bakal berubah. Entah jadi bosan, amarah, kesal atau benci. Hampir semua pasangan ngalamin itu. Yang gak boleh kamu lakukan adalah masukin orang lain ke pernikahan kamu. Kalau suatu saat perasaan kalian berubah dan keadaan kalian bikin sulit buat bertahan, selesaikan berdua. Jangan lari nyari cinta dan pelampiasan ke orang lain.”


Lena mengelus pipi Arvin dengan ibu jarinya. Merindukan pipi gembulnya yang dulu. Sekarang hilang berganti menjadi lekukan ramping dan rahang yang tegas mempesona.


“Sebaik apapun orang ketiga. Dia masuk ke pernikahan dengan cara yang buruk. Ibu cuma berpesan, jangan ngambil hati perempuan lain sebelum kamu selesai beresin urusanmu dengan pasangan sahmu, Vin. Gak ada satupun istri yang pantas diselingkuhi, apapun alasannya. Cuma laki-laki pengecut yang menjadikan kekurangan istri sebagai tameng dan pembelaan untuk ketidaksetiaannya. Selesaikan hubungan pertama kamu, kemudian boleh memulai yang baru.”


Arvin mengangguk. Merasa terpantik sekaligus tersindir dengan ucapan ibunya. Dia pernah berada dalam kegamangan  dengan hubungannya antara Keysa dan Nara. Jika ibunya tahu tentang hal itu. Tamatlah riwayatnya. Arvin sangat mengenal ibunya itu, ceramah dan omelannya bisa membuat siapa saja mati karena bosan.


Arvin akan selalu memilih Nara. Tidak ingin ada perempuan dan istri malang lain seperti ibunya. Berbagi cinta dan seumur hidupnya merasa tidak dicintai. Mempertanyakan nilai dirinya sebagai istri, dibandingkan perempuan baru yang hadir dihati suaminya.

__ADS_1


Ibunya yang malang ini sudah kehilangan banyak hal dihidupnya karena sifat pengecut dan kebohongan ayahnya. Mungkin juga salah satu penyebab kehilangan bayi yang dikandungnya dulu. Melihat kembali rumitnya hidup karena perselingkuhan ayahnya. Dia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama seperti dirinya.


__ADS_2