Halo Arvin!

Halo Arvin!
Rencana Sempurna


__ADS_3

Nara menggeliat malas, merasakan tubuhnya hangat, dan aroma parfum woody yang menyenangkan masuk ke hidungnya. Membuatnya terasa sangat nyaman. Nara sangat menyukai aroma ini, dan menenggelamkan dirinya semakin dalam. Namun tiba-tiba Nara tersadar sesuatu, membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan Arvin di atas kasur. Segera saja Nara berteriak, mengecek dirinya sendiri apakah sekarang dia sudah telanjang bulat. Tapi semua pakaiannya lengkap.


Karena teriakan Nara yang berisik, Arvin ikut terbangun. Menggeliat dan membuka matanya yang masih setengah tertidur. Kemudian melihat Nara yang sekarang terduduk disebelah, menatapnya dengan sebal.


“Ngapain lo disini? Kenapa lo bisa masuk? Semalam udah gue kunci kamarnya!” Bentak Nara.


“Apa sih pagi-pagi ribut?”


“Lo ngapain gue semalem? Kenapa lo bisa masuk ke kamar?”


“Nemenin lo makan. Ya gue bisa masuk karena punya kunci cadangan lah. Gue gak suka tidur disofa, punggung gue sakit.”


“Udah gue bilang gue ga mau sekamar sama lo?”


Arvin mencengkram lengan Nara, menjatuhkannya ke tempat tidur dan menautkan kedua lengan Nara di atas kepalanya. Kini Arvin berada diatas tubuh Nara mendominasinya. Ketakutan tiba-tiba dirasakan oleh Nara saat melihat ekspresi tidak senang diwajah Arvin. Sudah jelas, Arvin benar-benar kesal dengan tingkah laku Nara sejak kemarin. Dia benar-benar tidak bisa diajak kompromi demi kedamaian bersama dihubungan ini.


“ARVIN! LEPASIN GUE!” Teriak Nara dengan panik.


“Lo bisa diem ga? Jangan ngeributin hal-hal yang gak perlu kayak gini! Gue mau tidur dimana aja terserah gue, ga usah ngatur-ngatur gue.”


Tenggorokan Nara rasanya tercekat, dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Baru kali ini Nara melihat Arvin marah. Bukan kemarahannya yang seperti biasa saat dia masih menjadi bosnya,  sekarang rasanya berbeda. Arvin terlihat sangat berbahaya, seperti sedang bersiap menerkam mangsanya.


“Kenapa? Lo takut gue apa-apain kayak dulu? Lo pikir gue sa nge setiap waktu, gitu? Bisa gak sih lo berdamai sama keadaan dan ga usah banyak drama kayak gini?”


Air mata Nara meluruh, ditengah ketakutannya dia mencoba memberanikan diri berbicara. “Gue ga bisa. Soalnya gue ga akan pernah mau jadi istri lo dan  ga mau ngelahirin anak lo!” Kata Nara menguatkan hatinya, tangan Arvin semakin erat mencengkramnya. Dia ingin protes karena kesakitan tapi Nara tak mau kalah dari Arvin, berpura-pura bahwa kunciannya yang menyakitkan itu tak ada apa-apanya.


Arvin melepaskan cengkaramannya dari Nara. Mengusap kasar wajahnya. Tidak mengerti bagaimana harus menghadapi sikap Nara yang sangat membencinya. Iya, dia tahu dia salah. Makanya sekarang Arvin berusaha menebusnya. Dia ingin memberikan kehidupan yang baik untuk Nara dan calon anaknya. Kenapa semuanya menjadi sulit seperti ini sih?

__ADS_1


“Gue bakalan tidur dikamar. Bodo amat sama ocehan lo! Gue nikahin lo karena ada anak gue dalam perut lo. Ga usah ngerasa istimewa.” Kata Arvin kesal. Dia tidak ingin memperdebatkan hal-hal tidak berguna yang berpotensi melebar kemana-mana. Arvin akan menebus dosanya pada Nara, tak peduli bagaimana perilaku gadis itu padanya.


***


Setelah Arvin berangkat bekerja, seorang perempuan datang untuk membersihkan penthouse Arvin. Mengisi makanan di lemari es, dan rak-rak di dapur. Dia juga memasakkan sarapan untuk Nara dan pergi setelah itu. Nara sebenarnya enggan menerima semua kebaikan yang Arvin lakukan. Dia merasa ketika menerima semua itu, dia telah mengkhianati perasaannya sendiri. Menerima orang yang telah membuat hidupnya sehancur sekarang.


Nara terus berbaring di kasur, bingung kemana arah hidupnya sekarang. Kata-kata Arvin tadi pagi malah makin menyakitinya. Dia sudah tahu bahwa tujuan Arvin menikahinya memang untuk bertanggung jawab terhadap kehamilannya. Tak ada apapun selain itu dipernikahan ini. Andai saja dia bisa mengugurkan janinnya. Dia akan dengan senang hati melakukannya.


Perut Nara menjerit kelaparan, akhirnya dia menyerah dan bangkit dari kasur. Menyantap makanan yang disediakan oleh Bi Marni tadi pagi. Selain itu Nara juga memakan camilan-camilan yang disimpan di rak dan lemari es. Seharian itu rasa laparnya tak kunjung hilang.


Nara pernah membacanya pada artikel di internet dan melihatnya sendiri saat Amelia mengandung. Nafsu makannya tiba-tiba menjadi tinggi, tapi terkadang Amelia menolak makanan sama sekali. Membuatnya muntah-muntah dan lemas sepanjang hari. Awas saja kalau bayi ini menyusahkannya. Hingga sekarang keberadaannya saja sudah membuat hidup Nara tak karuan. Dia tak ingin menambah beban hidupnya dengan merasakan semua ketidaknyamanan itu.


Bayi Sialan!


***


Kata-katanya tadi pagi sangat berlebihan. Padahal bukan itu yang dipikirkan Arvin tentang Nara sebenarnya. Sejak kejadian malam itu, dihatinya ada tempat khusus untuk Nara yang sama sekali tidak bisa dijelaskan. Mungkin memang bukan perasaan cinta, tapi peduli. Dia sangat peduli pada Nara setelah semua itu. Dia ingin melihat Nara baik-baik saja.


Pikirannya rumit dan runyam, langkahnya terasa berat untuk pulang ke rumah. Menemui Nara dan menghadapi semua kebencian dan amarahnya. Dia takut akan kehilangan kesabaran lagi seperti tadi pagi. Mengatakan hal-hal yang mungkin menyakiti Nara.


Saat tiba di rumah, Arvin melihat Nara sedang duduk di meja makan bersama dengan makanan yang tersaji disana. Spaghetti dan beberapa potong buah melon dan semangka.


“Lo belum makan malem kan, Vin? Nih makan dulu.”


Arvin hanya mengangguk bingung. Kenapa Nara tiba-tiba memasakkannya makanan. Padahal tadi pagi dia masih sangat menolaknya. Apakah Nara berubah pikiran? Ataukah karena kata-katanya yang mengatakan bahwa dia tak istimewa untuk Arvin sehingga Nara perlu membuat keadaan jadi membaik? Meskipun banyak pertanyaan dibenak Arvin saat ini, dia tetap duduk di meja makan.


“Oh gue beli ini.” Kata Arvin menyerahkan kotak berisi Iphone untuk Nara, “Biar gue bisa hubungin lo, dan kalau lo butuh hubungin orang tua lo. Udah tinggal pake kok.” Lanjutnya.

__ADS_1


“Gue gak apa-apa tanpa handphone kok, ga ada yang bakal gue hubungi juga.”


“Gue yang butuh hubungin lo. Gue gak bisa telepati. Kalau ada apa-apa sama lo gimana?”


Sial!


Kenapa sih saat berbicara dengan Nara selalu saja dia terbawa emosi. Padahal niatnya baik dan ingin berbicara lembut. Tapi rasanya gadis ini membuatnya ingin terus berdebat. Mereka terdiam sesaat. Arvin juga belum menyentuh makanannya.


“Makasih udah masakin gue makanan dan gue mau minta maaf.” Kata Arvin memecah rasa canggung diantara keduanya.


“Buat apa?”


“Yang tadi gue omongin ke lo. Gue ngerasa lo istimewa kok. Sejak kejadian itu entah kenapa gue terus mikirin lo. Mungkin awalnya karena gue ngerasa bersalah, tapi lama-lama gue ngerasa peduli sama lo. Gue pingin hidup lo baik-baik aja setelah kejadian itu. Meskipun sampai sekarang gue gak tau caranya gimana biar lo ngerasa kayak gitu. Setelah nikahin lo, gue kira semuanya bakal baik-baik aja dan lo bisa berdamai sama keadaan. Tapi ternyata ngga,”


Arvin menatap Nara yang duduk terdiam dihadapannya. Tiba-tiba gadis tersebut menangis. Bingung apa yang terjadi. Apa kata-katanya salah lagi? Apakah sekarang Arvin menyakiti perasaan Nara lagi?


“Nara, gue beneran minta maa—“


Nara berdiri dari kursinya, mengambil piring berisi spaghetti yang belum Arvin sentuh sama sekali. Kemudian berjalan dengan cepat menuju tong sampah, membuang makanan tersebut kesana. Dia berlari menuju kamar menangis sejadinya.


“Nara, lo kenapa sih? Gue belum makan makanan tadi, kenapa lo buang?” Teriak Arvin.


“Gue gak mau ngomong sama lo! Tinggalin gue sendiri!” Teriak Nara dari balik selimut.


Menyebalkan! Arvin menyebalkan!


Kenapa dia berkata seperti itu dengan sangat enteng, membuat perasaannya bersalah? Padahal biarkan saja Nara berpikir bahwa Arvin memang orang yang jahat. Tak perlu meminta maaf, tak perlu merasa peduli, tak perlu membuatnya seperti istimewa dihidupnya. Karena bagi Nara Arvin juga tidak istimewa.

__ADS_1


Setelah Arvin mengatakan omong kosongnya itu, nara sekarang yang merasa menjadi penjahat karena berencana membunuh laki-laki itu dengan membuat alergi kacangnya kambuh hingga dia tidak sanggup bernapas seperti terakhir kali Nara melihatnya pingsan.


Padahal rencananya sempurna. Membunuh Arvin dan setelahnya Nara akan mengambil nyawanya sendiri bersama bayinya. Tak ada diantara mereka yang boleh bahagia.


__ADS_2