Halo Arvin!

Halo Arvin!
Diluar Dugaan


__ADS_3

“Pak Arvin gak apa-apa?” Tanya Adam khawatir saat Arvin menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya. Menutup mata dengan tangan kanannya.


Sedari meeting tadi atasannya itu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Membuat karyawannya heran. Padahal dia biasanya sangat profesional dalam keadaan apapun. Apalagi hari ini dia juga datang terlambat, dengan bibir bernoda darah.


“Hmmm..” Jawab Arvin singkat. “Simpan aja dokumennya. Nanti saya periksa.” Lanjutnya tanpa melihat ke arah Adam.


Kini dia sendirian diruangannya. Memikirkan kembali kebodohan yang sudah dilakukan tadi.


Sial! Kenapa bisa begitu sulit mengendalikan diri?


Sekarang semua hancur. Arvin harus mendapatkan kepercayaan Nara dari awal lagi. Sudah pasti Nara pasti tidak ingin berbicara dengannya, apalagi disentuh olehnya. Sama ketika mereka awal menikah.


Arvin menjambak rambutnya dengan kesal. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan nanti pada Nara. Jelas Nara tidak akan menggubrisnya. Arvin sudah mencoba berteriak dan meminta maaf lebih dari satu jam, hingga tenggorokannya kering. Tapi Nara tidak membukakan pintu kamar untuknya.


Adam terus menghubungi agar segera datang ke kantor untuk meeting. Terpaksa Arvin meninggalkan Nara dalam keadaan masih penuh emosi. Pesan yang sudah dia kirimkan pun tidak pernah Nara baca.


Imannya setipis kain saat dihadapkan pada Nara. Entah kenapa dia begitu terobsesi untuk memuaskan hasratnya pada perempuan itu. Apakah Arvin sudah gila?


Rasanya dia tidak pernah seperti ini seumur hidupnya. Dengan perempuan manapun, Arvin tidak akan bertindak sejauh ini.


Ponselnya berdering keras di saku celananya. Membuat Arvin sedikit terlonjak kaget. Baru kemudian dia melihat layar untuk mengetahui si penelepon.


“Halo Pak Arvin.” Kata Bi Marni dari sambungan telepon.


“Iya. Kenapa, Bi?”


“Ini Neng Nara katanya perutnya sakit. Bibi harus ngapain ya, Pak? Bawa ke dokter gitu?”


“Hah? Sakit gimana maksudnya?”


“Apa ya katanya tuh. Kenceng gitu perutnya.”


“Ya udah aku pulang ya, Bi. Tunggu sebentar.”


Arvin bergegas pulang. Meninggalkan semua pekerjaan dan meeting yang tersisa hari itu. Pikirannya kalut. Apakah gara-gara kelakuannya tadi pagi yang membuat Nara sakit? Arvin tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada kandungan Nara.


Sial! Benar-benar bodoh!


Harusnya tidak jadi seperti ini. Pasti Nara sangat shock hingga menjadi sakit seperti sekarang. Sepanjang perjalanan hanya pikiran buruk yang ada dalam benak Arvin.


...****************...


“Udah gak apa-apa, Neng? Kalau perutnya masih sakit tiduran aja di kamar.” Kata Bi Marni khawatir saat Nara tiba-tiba muncul di dapur dan duduk di meja makan. Hanya anggukan dan senyuman yang bisa Nara berikan sebagai respon.


Nara hanya mengangguk. Dia sudah merasa lebih baik sekarang. Bi Marni pasti sangat panik melihatnya menangis sambil mengatakan perutnya sakit. Perutnya memang terasa tidak nyaman, tapi dia menangis karena alasan lain. Tentu saja karena kelakuan Arvin yang sangat keterlaluan tadi pagi.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kompres hangat dan beristirahat beberapa waktu Nara lebih tenang. Dia juga memikirkan banyak hal ketika emosinya sudah mulai turun.


“Bi Marni, aku boleh nanya gak?” Kata Nara ragu.


“Apa tuh, Neng?” Bi Marni duduk di sebelah Nara menyajikan buah dan makanan kecil, kemudian menyeruput teh panas tawar favoritnya. Bergabung bersama Nara untuk cemilan kecil sebelum makan siang seperti biasa.


“Kalau cowok.. ga dapet jatah.. emang bakal kayak gimana?” Tanya Nara terbata. Malu sekaligus aneh.


Bukan berarti Nara mau melakukan itu dengan Arvin. Hanya saja dia penasaran. Setelah memikirkan kembali perilaku Arvin tadi pagi dan kemarin yang sangat agresif meminta kontak fisik dengannya membuat Nara merasa terganggu. Beberapa hal tersebut pernah dibahas dikelas online-nya. Tapi Nara mengabaikannya, karena berpikir Arvin tidak pernah menunjukkan hal semacam itu sebelumnya.


Bi Marni yang sedang minum langsung terbatuk mendengar pertanyaan atasannya. Aneh tapi lucu. Mungkin karena Nara masih baru menjadi istri jadi dia sangat kebingungan.


“Pak Arvin sering minta?” Kata Bi Marni sambil berbisik. Padahal tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua. Nara hanya menggaruk leher dengan canggung.


“Biasanya jadi emosian. Kalau kata istilah Sunda-nya mah rungsing. Apa ya.. emm.. rewel gitu lah.” Jawab Bi Marni sulit menjelaskan.


“Emang harus diturutin ya?”


“Yaa.. harusnya sih iya, sebagai istri buat menyenangkan suami. Tapi kan Neng mah lagi hamil. Kalau kata bidan atau dokter gak apa-apa, ya boleh. Ya kan?”


Nara mengangguk setuju. Mereka tidak pernah menanyakan apapun tentang ini kepada Dokter Yustia saat kontrol. Tidak pernah terpikirkan juga oleh Nara. Dia hanya sempat membaca di internet beberapa waktu lalu. Mengkonfirmasi keinginan tahuannya.


“Kalau kata guru ngaji mah, kalau suami minta terus ditolak tuh dosa. Tapi ya balik lagi kondisi kitanya gimana. Kalau sakit atau hamil kayak Neng Nara bisa diobrolin baik-baik sama Pak Arvin, atau dibantu main sendiri?”


“Hah? Main sendiri gimana maksudnya?”


Mereka terlonjak kaget saat melihat Arvin masuk ke penthouse dengan napas masih terengah-engah karena setengah berlari dilorong, takut sakit Nara bertambah parah. Dia masih mengingat saat menemukan Nara ditoilet dalam keadaan yang lemah hampir keguguran.


Namun saat sampai, Arvin melihat Nara duduk santai di meja makan sambil mengunyah buah yang dikupas oleh Bi Marni dan mengobrol. Nara kaget melihat kedatangan Arvin yang terlihat sangat panik. Tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi malu seakan baru saja tertangkap melakukan kejahatan. Dia memalingkan pandangannya dari Arvin.


“Kamu gak apa-apa? Katanya perut kamu sakit?” Tanya Arvin yang kebingungan.


“Udah Bibi kompres pake kain anget. Katanya sekarang udah gak apa-apa. Tadi Bibi panik soalnya Neng Nara nangis-nangis.” Jawab Bi Marni.


Nara diam saja. Pura-pura tidak peduli keberadaan Arvin yang sekarang duduk dihadapannya. Kemudian sibuk memakan satu persatu buat melon di piring.


“Bi Marni, boleh pulang aja sekarang.” Kata Arvin mengalihkan pandangan pada Bi Marni.


“Tapi sekarang masih jam setengah dua belas, Pak.” Katanya bingung saat melihat jam dinding.


“Gak apa-apa. Pulang cepet aja.” Balas Arvin sambil mengangguk dan tersenyum memberi kode ingin ditinggal berdua hanya dengan Nara.


“Oh ya udah. Bibi pulang kalau gitu.” Balasnya lagi sambil tersenyum pada Arvin.


Sepeninggal Bi Marni, suasana menjadi sepi. Nara sibuk memainkan buah potong dengan garpu, tanpa sepatah katapun terdengar dan tak menatap laki-laki di depannya. Arvin terus memperhatikan Nara yang membisu, menyilangkan tangannya di dada, punggungnya bersandar pada kursi.

__ADS_1


“Lo.. kenapa pulang cepet?” Tanya Nara memecah keheningan.


“Bi Marni tadi telepon katanya perut kamu sakit. Kamu beneran udah gak apa-apa? Kita ke dokter sekarang kalau kamu masih sakit.” Balas Arvin khawatir.


Nara mengangguk, “Gue gak apa-apa kok. Kram dikit.”


Arvin menghela napas lega. Tangannya mengusap wajahnya menghilangkan ketegangan yang dia rasakan saat menerima kabar Nara tiba-tiba sakit.


Dia sekarang bingung harus menghadapi Nara, karena perilakunya yang sangat tidak baik tadi pagi.


“Aku minta maaf buat yang tadi pagi. Aku salah gak bisa ngontrol diri. Selalu gak bisa kalau ngadepin kamu.” Kata Arvin jujur. Memalukan memang. Tapi begitulah kenyataannya. Dia tiba-tiba saja sangat bergairah ketika menyentuh Nara.


Sial!


Otaknya benar-benar kotor.


Nara diam sejenak. Mengedarkan pandangan ke sekeliling tanpa mau menatap mata Arvin. Ini pembicaraan yang tidak pernah Nara duga. Sangat canggung dan aneh.


“Gue ngerti kalau lo lagi high tension. Tapi gue gak siap dan gak mau ngelakuin itu sekarang. Gue gak janji juga bakal mau ngelakuin itu sama lo atau ngga.” Kata Nara canggung.


Arvin terperanjat dengan balasan Nara yang lebih tenang dibandingkan dugaannya. Mengingat bagaimana shock-nya dia tadi pagi. Dia mengira bahwa Nara akan berteriak dan memakinya seperti biasa. Kenapa Nara tiba-tiba menjadi sangat pengertian? Apakah dia benar-benar mencoba pelan-pelan membangun hubungan juga sepertinya?


F*ck!


Sekarang Arvin benar-benar sangat menyesal karena hasratnya mendahului kewarasannya. Padahal dia sudah mengatakan akan memulainya pelan-pelan.


“Gak apa-apa. Aku yang salah. Kita pelan-pelan aja. Aku gak akan maksa kok.” Balas Arvin sambil tersenyum.


“Jangan main sama sembarangan orang. Nanti lo kena penyakit. Lo main sendiri aja kalau lo lagi pingin banget. Gue gak mau bantuin. Gak tau caranya.”


Arvin tidak bisa menahan tawanya. Dia menutup wajahnya dengan satu tangan. Aneh, lucu, dan menggelikan mendengar hal itu dari Nara.


Arvin seakan diingatkan kalau dia berhadapan dengan Nara. Perempuan paling aneh yang pernah dia temui. Yang akan berkata jangan memarahinya karena dia sedang banyak masalah, yang datang kepadanya karena percaya mendengarkan Arvin bernyanyi akan membawa keberuntungan, dan sekarang menyuruhnya untuk bermain sendiri untuk melampiaskan hasratnya.


Aneh.


Lucu.


Arvin tidak akan bosan dengan Nara.


“Kenapa sih lo ketawa?” Tanya Nara sebal dengan reaksi Arvin.


Arvin mencoba menghentikan tawanya tapi sangat sulit, “Oke nanti aku sendiri aja. Nanti aku ajarin caranya kalau kamu mau tau.”


“Siapa juga yang bilang mau? Jijik gue sama lo. Udah gak usah ketawa! Cowok mesum!”

__ADS_1


Nara meninggalkan Arvin dan masuk ke kamar. Sementara Arvin masih terpingkal sendirian di dapur.


 


__ADS_2