
Katanya anak itu membawa rezeki dan takdirnya sendiri. Mungkin keberadaan makhluk kecil diperutnya ini, sudah membawa dan menautkan takdir Nara pada Arvin. Sosok yang sekarang sibuk memilih ikan, cumi, dan kepiting segar untuk mereka makan malam ini di salah satu rumah makan di sekitar Ancol.
Takdir yang aneh.
Padahal hampir 8 bulan yang lalu semenjak pertama kali bertemu dengan Arvin. Tak sedetikpun terpikir akan berakhir bersamanya. Laki-laki dengan penampilan berantakan yang ditemuinya masih tertidur hingga siang di penthouse, saat Ayahnya bertaruh nyawa dimeja operasi. Kini berjanji akan menjadi suami dan orang tua yang baik.
Tentu saja Nara tidak serta merta percaya. Meskipun ingin. Manusia tidak semudah itu berubah, kan? Perilaku-perilaku buruk tidak mungkin hilang begitu saja. Nara juga belum siap memberikan hatinya pada Arvin. Terlalu cepat, terlalu gegabah. Arvin dengan semua rumor jelek dan kesalahannya seakan menahan Nara. Dia tidak akan mudah terjun bebas dan jatuh cinta pada laki-laki lagi.
Setelah berbicara dengan ibunya, Nara juga mempertanyakan banyak hal mengenai perasaannya. Bukan hanya pada Arvin, melainkan pada Reza. Hubungan yang mereka bangun hampir 5 tahun, bagi laki-laki tak ada artinya ketika dihadapkan pada kesulitan yang tidak bisa dia kontrol. Menyeretnya pada keputusan paling tolol dengan memutuskan hubungan dengannya.
Meskipun masih ada tempat yang luas dihati Nara untuk laki-laki itu. Nara ragu bentuk perasaan itu adalah cinta, atau hanya perasaan familiar yang nyaman. Karena dengan Arvin segalanya sangat asing.
“Kamu capek?” Tanya Arvin saat kembali duduk dihadapannya. Mereka menunggu seafood segar selesai dimasak oleh penjual.
“Ya menurut lo? Jalan-jalan seharian kayak tadi buat ibu hamil bakal bikin sehat, gitu?”
“Kamu gak enak badan?”
“Iya. Pinggang gue sakit. Kaki gue pegel. Gue pingin cepet tiduran dikasur.”
“Ya udah abis ini kita pulang. Makan dulu ya?” Kata Arvin merasa bersalah.
Hari ini memang cukup menyenangkan untuk Nara. Dia sudah lama tidak berjalan-jalan seperti tadi. Tapi dia tidak mau berbohong, kalau sekarang kondisi tubuhnya tak lagi sama. Hanya berjalan berkeliling, melihat atraksi lumba-lumba, dan para penyelam di mermaid show sudah membuatnya seperti habis lari marathon 1000 meter.
“Ikan bakar, cumi tepung, sama kepiting saus padang. Ini saya kasih bonus kerang rebus, kata Masnya istrinya lagi hamil.” Kata bapak penjual menyajikan makanan dengan ramah.
“Lo kenapa bilang gue lagi hamil sih?” Kata Nara saat penjual telah pergi dari meja mereka. Perut buncitnya memang belum kentara. Apalagi Nara menggunakan kemeja oversize yang menyembunyikan lekukan tubuhnya. Hamil 13 Minggu belum terlalu mengubah penampilan Nara. Meskipun dia merasa baju-bajunya tambah sempit dan lemaknya mulai mengisi dimana-mana.
“Lah emang kenapa? Bapak tadi nanyain kamu, dikira kamu adekku. Anaknya yang lagi bakar ikan naksir.” Kata Arvin merengut sebal.
Nara seketika langsung melirik ke arah orang yang sedang sibuk membakar ikan. Laki-laki muda, yang menurut taksiran Nara berumur sekitar 20an akhir, memakai kaos seragam berwarna hijau, kulit coklat yang seksi. Dia terlihat manis.
“Ngapain diliatin?” Lanjut Arvin galak.
“Manis juga abangnya.” Bisik Nara sambil tersenyum.
“Gak usah centil ke cowok lain. Liatin aku aja. Aku kurang ganteng gitu?”
__ADS_1
“Kalau lo sih kurang waras.”
Arvin mendengus sebal. Dia mulai membuka cangkang kepiting saus padang yang sangat menggoda di depan mereka.
“Tunggu!” Kata Nara saat Arvin akan menyendokan makanan kemulut, “Lo gak alergi seafood, kan? Kalau lo ada alergi makanan lain selain kacang, cepetan bilang. Nanti gue yang repot bawa lo ke rumah sakit.” Lanjutnya.
“Aku gak alergi seafood.”
Arvin melanjutkan makannya. Terus menatap Nara, takut kalau diam-diam dia melirik anak si penjual ikan bakar. Namun Nara ternyata sibuk dengan makanannya. Mencoba melepaskan daging dari capit kepiting. Arvin tersenyum. Kemudian membantunya.
“Kalau lo ada alergi-alergi gak jelas gitu nanti anak gue kena juga. Nurun dari bapaknya." Ucap Nara yang khawatir nanti anaknya akan menderita alergi yang sama seperti Arvin.
Arvin tersenyum, “Ada kemungkinan sih gitu. Coba di tes aja alergi makanan apa pas udah lahir.”
“Awas aja yang jelek-jelek dari lo diturunin ke anak gue.”
“Salahin si kumis. Dia nurunin hal-hal jelek juga sama aku.”
“Tapi Pak Candra baik kok. Kelakuannya gak jelek kayak lo. Lo kan skandalnya dimana-mana.”
“Kata siapa? Si kumis juga banyak skandalnya. Tapi seengaknya aku gak pernah selingkuh kayak si kumis. Udah aku bilang kalau aku ga pernah punya hubungan sama beberapa cewek dalam satu waktu. Biarpun aku punya banyak pacar.”
“Gue denger gosip, lo gak pernah liat ibu kandung lo seumur hidup lo, ya?” Kata Nara hati-hati.
“Kata siapa? Aku pernah tinggal kok sama ibu kandungku. Makanya jangan gampang percaya gosip soal aku.”
“Serius?”
Arvin mengangguk, “Aku nemenin mama di bulan-bulan terakhirnya sebelum meninggal. Abis itu aku disuruh tinggal aja bareng nenek, gak usah balik sama ibu. Si kumis iya-in aja, nurutin istrinya.” Katanya tersenyum getir.
Whoaa. Nara tidak pernah berekspektasi Arvin akan menceritakannya sesantai itu di depannya. Teman-teman kerjanya dulu selalu punya satu sesi khusus saat makan siang untuk menguak informasi tentang kehidupan Arvin yang simpang siur. Tentang dia dan ibu kandungnya. Tentu saja sulit untuk mendapatkannya. Tapi kini Nara mendengar langsung dari orangnya.
“Kamu makannya udah? Ayo pulang katanya mau istirahat.” Kata Arvin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan. Padahal Nara sudah siap membuka mulutnya, memberedel dengan pertanyaan-pertanyaaan yang mengganggunya.
Tapi Arvin sepertinya belum siap berbagi mengenai kehidupannya dengan Nara. Dia juga sedang berhati-hati memilin hubungan dengannya. Tak serta merta mengatakan semua hal-hal rahasia yang disimpan rapi, apalagi tentang hubungannya yang rumit dengan orangtua.
Meskipun Arvin mengatakan akan melakukan apa saja untuk Nara dan bayinya. Bukan berarti dia juga otomatis membuka diri mengenai masa lalunya. Nara mengerti. Dia juga bertanya karena penasaran saja. Tidak ada maksud lain apalagi menaruh simpati padanya. Terlalu jauh. Terlalu mengada-ada.
__ADS_1
...****************...
Sepanjang perjalanan pulang Arvin menyesali karena belum bisa jujur tentang dirinya pada Nara. Dia bisa melihat Nara siap melemparkan banyak pertanyaan dan penasarannya mengenai hubungan dengan orang tuanya, terutama ibu kandungnya.
Arvin belum bisa. Kalau perlu dia tidak ingin membagi cerita tentang masa-masa menyebalkan dalam hidupnya dengan siapapun. Tentu saja selain Keysa, yang dulu sangat dekat dan mengisi hari-harinya semenjak SMA. Cukup dia saja. Arvin akan mengubur semua kenangan dan cerita tentang ibu kandungnya hanya untuk dirinya sendiri.
Arvin menyayangi Nara. Ingin hidup dengannya membesarkan anak-anak mereka. Tapi dia ingin hidup dimasa depan. Bukan masa lalu yang pantasnya dilupakan saja.
“Kamu mau dipijat? Katanya pinggang dan kaki kamu sakit.” Kata Arvin saat mereka bersiap untuk tidur.
Nara memang saat ini sangat lelah. Tubuhnya seakan rontok tak karuan. Menerima pijatan tak ada ruginya. Akhirnya dia mengiyakan.
Arvin duduk dibelakang Nara dan mulai memijat lembut punggungnya. Kemudian melebar ke arah pinggang. Sebenarnya bukan pijatan, lebih tepat mengelus tubuh belakang Nara. Dia tidak ingin Nara kesakitan karena pijatan tangannya yang kuat.
Makin lama Arvin merasa senang melakukannya. Menyentuh Nara seperti mengaktifkan pikiran-pikiran nakal yang selam ini dipendamnya. Rasanya ingin mencabik baju tidur tipis yang dikenakan Nara. Menelusuri punggungnya yang seputih pualan dan halus. Mengabsen tiap incinya dengan kecupan.
Sialan!
Dia semakin sulit bertahan akhir-akhir ini. Apalagi setelah Nara tidak begitu keberatan disentuh. Membuat Arvin menginginkan kebutuhannya dipenuhi.
Nara benar-benar berbahaya untuk kewarasannya!
“Buka bajunya, biar aku olesin minyak angin.” Bisik Arvin pada Nara dari belakang.
Nara langsung terlonjak kaget. Menjauhi Arvin. Merinding sekujur tubuhnya mendengar kata-kata tersebut dari Arvin. Jelas dia tidak mau. Hal seperti itu adalah cara terbaik mengumpankan diri pada laki-laki tak punya kontrol seperti Arvin. Dia ingin membesarkan anak mereka bersama. Tapi tak satupun rencana melakukan tugasnya sebagai istri untuk Arvin.
Nara tidak mau. Tidak akan membiarkan Arvin melakukan perbuatan itu padanya, ataupun memberikannya celah.
“Gak usah ambil kesempatan ya lo!”
“Kesempatan apa?” Arvin bertanya seakan tidak punya motif tersembunyi.
“Gak usah sok polos. Nyuruh gue buka baju. Gue bakal jadi ibu buat anak kita. Tapi gak akan mau jadi istri lo!”
“Kamu mikir apa sih? Aku cuma mau mijit kamu doang kok.”
“Jangan modus. Gue tau pikiran lo kotor. Udah gak usah dilanjutin. Gue mau tidur aja.”
__ADS_1
Nara segera berbaring, menutupi tubuhnya dengan selimut, memejamkan mata dan membelakangi Arvin. Seharusnya dia tidak membiarkan Arvin menyentuh tubuhnya. Laki-laki itu tidak bisa dipercaya. Nara tidak pernah ingat dengan jelas apa yang terjadi malam itu. Tapi Nara tahu dia tidak ingin melakukan hal itu lagi dengan Arvin.