
“Ngapain sih ke museum? Lo tuh suka ngajakin ke tempat aneh-aneh. Dulu SeaWorld sekarang museum. Kalau mau ngajak kencan ke tempat yang asik kek.” Gerutu Nara tapi tetap mengikuti langkah Arvin menuju ke museum.
“Oh jadi sekarang kita kencan ya? Udah kayak pacaran dong?” Balas Arvin sambil tersenyum.
“Gak. Bukan.. maksudnya.. jalan-jalan.” Ucap Nara terbata. Malu sendiri karena salah berucap.
Saat masuk mereka disambut oleh diorama Ir Soekarno dan beberapa pemimpin negara yang menghadiri Konferensi Asia-Afrika. Beberapa bendera perwakilan negara pun di pajang dibelakangnya.
Suasana tidak terlalu ramai. Malah terasa sangat sepi. Hanya ada beberapa orang, sepertinya anak-anak usia sekolah dan mahasiswa yang sedang melihat-lihat berbagai foto yang terpajang disana. Menampilkan setiap momen bersejarah tersebut.
Setelah mendaftarkan diri di bagian informasi, Arvin mengajak Nara berkeliling. Nara sebenarnya agak kecewa, Arvin tidak mengajaknya ke tempat-tempat wisata yang indah di Bandung. Padahal dia sudah membayangkan pemandangan indah di Lembang, ke Kawah Putih, Ranca Upas, Situ Patenggang, atau mungkin Gunung Tangkuban Parahu. Semua wisata alam yang membuat Nara melupakan padat dan bisingnya kota Jakarta.
Tapi dia malah berakhir berjalan-jalan dan jajan sembarangan di sekitar Braga dan Gasibu. Sekarang dia melihat-lihat foto para tokoh sejarah di Museum KAA. Nara merengut sebal. Arvin memang punya selera yang buruk memilih tempat kencan. Bukan. Ini bukan kencan. Hanya jalan-jalan.
Siapa juga yang menganggap ini kencan? Cuih.
“Aku kesini hampir tiap tahun pas nenek masih ada.” Kata Arvin, matanya terpaku pada foto dan tulisan yang tertempel di museum.
“Ngapain tiap tahun kesini? Seneng banget lo sama museum?” Tanya Nara heran.
“Bukan aku. Tapi nenek yang suka. Kakek sama nenek ketemu pas diadain Konferensi Asia-Afrika. Makanya kalau berkunjung ke Enin, nenek selalu nyempetin berkunjung kesini. Dia bilang keinget pertama kali ketemu sama cinta pertamanya.”
“Nenek lo ikut jadi panitianya?”
Arvin tertawa mendengar celotehan Nara. Arvin menceritakan tentang kisah cinta nenek dan kakeknya yang bertemu saat perhelatan besar tersebut.
Seorang gadis berusia 13 tahun, warga lokal yang sedang nonton iring-iringan The Bandung Walks, jatuh cinta dengan laki-laki berusia 18 tahun, asisten fotografer yang bercita-cita menjadi wartawan.
Neneknya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia datang setiap hari dan menunggu kakeknya hanya untuk berkata ‘Halo’ dan melambai saking gugupnya. Anehnya mereka memang selalu bertemu, diantara ribuan manusia yang menonton.
Hari terakhir Konferensi tersebut, kakeknya dengan berani mengajak neneknya berkenalan dan membeli es krim plombières dan sebuah moorkeppen di Het Snoephuis yang sekarang berganti nama menjadi Toko Roti Sumber Hidangan yang terkenal.
__ADS_1
Sayangnya mereka tidak bisa bersama, karena neneknya dijodohkan dengan orang lain 2 tahun kemudian. Kemudian meninggalkan Bandung. Hidup bersama suaminya di Subang.
“Nenek punya 3 anak dari suami pertama. Tapi yang 2 meninggal, 1 lagi diambil mertuanya pas cerai sama suaminya. Sampai sekarang gak pernah tahu kabarnya.”
“Terus ibu lo dari siapa?”
Arvin tersenyum melihat Nara yang tertarik mendengarkan ceritanya. “Setelah 7 tahun nikah dan harus cerai, nenek balik ke Bandung. Numpang di rumah Enin dan kerja jadi tukang jahit. Tiap Minggu nenek selalu jalan-jalan di daerah Braga dan Asia-Afrika. Siapa tau ketemu kakek. Ternyata beneran ketemu 4 tahun kemudian. Ga lama kemudian nikah dan mama lahir.”
“Serius? Kok so sweet? Kok bisa ketemu lagi?” Tanya Nara yang semakin tertarik.
“Kakek kerja di Jakarta jadi wartawan lokal. Pulang 2 tahun sekali. Kebetulan aja ketemu lagi. Lucunya nenek masih sama aja, gugup ketemu kakek dan cuma bisa bilang ‘Halo’. Aku suka tiap nenek cerita soal ini. Meskipun tiap tahun denger hal yang sama.” Kata Arvin sambil tersenyum.
Tanpa sadar mereka mengelilingi museum sambil bergandengan tangan. Nara mendengarkan cerita Arvin dengan antusias. Ruangan yang sejuk dan sepi. Arvin bercerita dengan suara pelan. Foto-foto lama yang dipajang sepanjang aula. Entah kenapa Nara menyukainya. Sepertinya ide kencan di museum tak buruk juga.
“Kayaknya kebiasaan gugupnya nurun sama mama. Sebelum mama dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, selalu ada telepon buatku sepulang sekolah selama 1 bulan penuh. Setelah aku angkat cuma ada suara perempuan yang bilang ‘Halo Arvin!’ terus teleponnya ditutup. Gak nyangka ternyata itu mama.” Kata Arvin. Cerita itu meluncur sendiri dari mulutnya tanpa diduga.
Matanya menjadi sendu. Arvin diam sejenak. Memandang sedih pajangan kamera Leica F3 yang digunakan oleh salah satu fotografer untuk memotret Konferensi Asia-Afrika.
“Ngga. Bahkan aku gak tahu kalau ibu bukan ibu kandungku atau Angga dan Audrey bukan kakakku. Mama dicerai seminggu setelah melahirkan, dia juga gak pernah sekalipun ketemu aku pas bayi karena langsung diambil sama si kumis. Mama depresi bertahun-tahun. Si kumis baru ngasih tau 9 tahun kemudian, setelah nenek nangis-nangis depan dia karena mama udah sakit parah dan minta ketemu anaknya.”
Untuk pertama kalinya dia bisa menceritakan ini dengan santai pada orang lain. Arvin pernah menceritakannya pada Keysa bertahun-tahun yang lalu karena gadis itu memaksanya menjelaskan mengenai hubungannya dengan ayahnya yang rumit kala itu.
Tapi hari ini Arvin menceritakan pada Nara dengan hati yang lega. Tanpa paksaan apapun. Malah Arvin tidak menduga bisa setenang ini membicarakan mengenai ibu kandungnya pada Nara.
Mungkin karena Arvin hanya ingin bercerita pada Nara. Sedari lama ingin menceritakan hubungan membingungkan dengan ibunya. Memperlihatkan sisi dirinya yang rumit dan menyedihkan. Mungkin dengan ini Nara bisa mengerti obsesinya memiliki keluarga yang utuh.
Arvin kaget saat mendengar suara isakan tertahan disebelahnya. Nara sudah bercucuran air mata dan sibuk menyekanya dengan salah satu tangannya. Sementara tangan yang lain masih menggenggam erat Arvin.
“Kok kamu yang nangis sih?”
“Emang lo gak sedih?”
__ADS_1
“Ngga. Sekarang udah gak terlalu sedih. Kan sekarang aku punya kamu.”
“Jangan ngegombal dulu. Gue lagi mau nangis.”
“Oke. Oke.” Jawab Arvin sambil tertawa kecil.
Beberapa orang sepertinya menengok dengan aneh kearah mereka. Tentu saja, mana mungkin orang tidak penasaran dengan dua orang yang berdiri di depan foto-foto gedung Societeit Concordia, dan salah satunya sedang sibuk menangis. Apakah orang ini sedih melihat foto gedung lama?
“Kamu tau gak? Mama jago Bahasa Belanda loh. Nenek bilang tiap malam mama muterin lagu-lagu Belanda dari piringan hitam punya kakek. Tapi mama paling sering dengerin lagu ini.”
Arvin memasangkan sebelah airpods ke telinga Nara. Kemudian suara piano terdengar dari sana. Disusul suara lembut perempuan bersenandung dengan Bahasa Belanda yang tidak Nara pahami. Tapi dia bisa merasakan kesedihan dalam lagu tersebut. Membuat Nara semakin ingin menangis. Mengasihani hidup Arvin.
“Ini lagu sebelum kemerdekaan. Tapi dinyanyiin lagi akhir tahun 70an sama Wieteke Van Dort. Nyeritain soal ibu di Belanda yang rindu sama anaknya yang tinggal di Indonesia. Bertahun-tahun gak pernah ketemu. Waktu telepon pertama kali beroperasi tahun 1929, akhirnya si ibu bisa denger suara anak laki-lakinya buat pertama kali. Mirip kayak aku dan mama ceritanya, kan?”
Menurut beberapa sumber, dari tokoh ibu dalam lagu tersebut tak sadarkan diri dan meninggal karena kesedihan dan rasa haru tak lama setelah menghubungi putranya. Entah kenapa ibunya sangat senang mendengarkan lagu ini. Apakah dia juga merasa setelah mendengar suaranya di telepon, dia tidak bisa bertahan hidup lebih lama?
Arvin menyesali waktunya selama 3 bulan bersama ibu kandungnya. Dia tidak bisa mendengar apapun terucap dari dari mulut ibunya itu, karena dia sudah kehilangan kesadaran. Kalimat yang terdengar hanya ‘Halo Arvin!’ dalam sambungan telepon selama sebulan penuh. Sepanjang hidupnya, hanya kalimat itu saja yang diucapkan oleh ibunya.
Nara memeluk Arvin dan masih terisak pelan. Suara Wieteke Van Dort menyanyikan lagu Hallo Bandoeng masih terdengar dari airpods yang mereka pasang sebelah di telinga masing-masing.
Dia tidak tahu harus bersedih untuk Arvin atau ibunya. Pasti menyakitkan tidak tahu apa-apa tentang ibu kandungnya selama itu, bahkan saat bertemu pun rasanya sudah terlambat. Ibunya sakit dan Arvin tidak memiliki banyak memori dengannya.
Nara menepuk-nepuk punggung Arvin, meskipun sebenarnya dia yang menangis. Menyebalkan harus menangisi nasib tidak beruntung laki-laki ini. Tapi air matanya tidak bisa berhenti turun mendengar cerita Arvin. Pasti ini semua karena hormon kehamilan yang membuatnya mudah tersentuh.
“Huil alsjeblieft niet mijn liefste. Het gaat goed. Niets is erger dan jezelf verliezen.” Bisik Arvin.
(Jangan menangis, sayang. Aku tidak apa-apa. Sekarang tidak ada yang lebih sedih dibandingkan kehilangan kamu)
“Gue gak ngerti.”
“Nanti cari di google translate.” Balas Arvin sambil tertawa.
__ADS_1