Halo Arvin!

Halo Arvin!
Bonus Chapter -1


__ADS_3

“Aku… Salah apa, ya? Kok dipelototin terus?” tanya Arvin bingung saat Nara memasang wajah kesal dan memelototinya terus menerus.


Rasanya dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia pulang ke rumah, membersihkan diri, dan makan malam. Sedari tadi juga Nara tidak membuka mulutnya, hanya diam saat Arvin bertanya. Rangkulan manjanya juga Nara enyahkan. Arvin tiba-tiba tidak nyaman dan khawatir. Bertanya-tanya apakah dia melakukan sebuah kesalahan sepanjang hari ini?


“Aku mau kita tidurnya pisah kamar,” jawab Nara.


“Kenapa? Aku ngapain sih sampai kamu mau tidur pisah kamar gini?”


“Gak tahu! Pokoknya kalau lihat muka kamu tuh bawaannya emosi!” Nara menghentakkan kakinya saat berjalan keluar kamar utama menuju kamar tamu.


“Ra! Kok gitu sih?” panggil Arvin menyusul langkah Nara, menggapai tangannya kemudian memeluknya.


“Gak mau! Gak usah pegang-pegang! Aku lagi gak suka deketan sama kamu!” Nara menolak Arvin dengan sekuat tenaga.


Aneh sekali memang dia hari ini. Dia terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman serta emosi yang menggelegak hebat saat melihat wajah Arvin. Padahal suaminya itu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Malah setiap hari selalu berlaku manis padanya yang sedang dalam kondisi tidak nyaman karena mual-mual.


“Jangan-jangan bawaan dedek, ya? Dulu juga kamu benci banget sama aku kayak gini.”


“Gak tahu. Pokoknya kamu bikin kesel aja hidupnya.”


“Aku gak mau tidur sendirian pokoknya,” ucap Arvin manja yang terus memeluk Nara.


Nara mendorong tubuh Arvin menjauh. “Bodo amat! Aku mau tidur sendiri. Jangan pernah ganggu!”


Nara mengunci kamar tamu dan lekas berbaring dikasur. Arvin masih terdengar berteriak dari balik pintu selama beberapa saat, kemudian menjadi hening tanda dia menyerah membujuk Nara. Baru saat itu Nara mencoba mengistirahatkan diri dan memejamkan matanya.


15 menit berlalu, Nara masih berguling-guling di kasur besar itu dengan tidak nyaman. Entah kenapa perasaannya aneh. Dia tidak mengerti kenapa. Apakah benar ini hanya pengaruh dari hormon akibat kehamilannya?


Nara turun dari tempat tidurnya, kemudian menyusuri tangga dan masuk ke dapur. Dia menyeduh susu hangat agar tubuhnya nyaman dan lekas mengantuk.


Sayangnya, bahkan setelah menghangatkan diri dengan susu panas, Nara masih belum mengantuk juga. Saat akan kembalo ke kamar, langkahnya berbelok ke satu ruangan yang jarang dia buka.


Bi Yayah jelas selalu membersihkannya setiap hari, tapi Nara hanya masuk kesini sekali saat pertama kali pulang kembali. Ruangan itu tetap sama seperti terakhir kali dia tinggalkan. Masih bercat pink dengan satu sisi bergambar mural hasil karya Nara.


Ruangan kosong yang ditinggalkan oleh calon penghuninya, masih menyisakan banyak keinginan Nara yang tidak tercapai. Tapi untung saja makhluk kecil yang sedang tumbuh diperutnya seakan menyelamatkan Nara dari semua pengharapan itu. Kini dia kembali memiliki mimpi yang akan dituangkan untuk menyambut kedatangan penghuni baru di ruangan ini.


Nara mengambil buku bersampul merah dari dalam lemari yang isinya nyaris kosong. Membuka setiap halamannya yang dipenuhi tulisannya sendiri, foto-foto perut, hasil USG, dan banyak catatan lain tentang kehamilannya.


Hingga dia membuka halaman terakhir, saat mencatat suhu tubuh harian dan jam pergerakan janinnya dalam perut. Mungkin saat dia melakukannya, bayinya sudah kembali ke surga. Tapi Nara tidak pernah menyadari kepergiannya. Hanya lewat mimpi yang menyesakkan dada mereka sempat berpamitan.

__ADS_1


Nara menangis sendirian di ruangan itu. Meskipun tidak ingin bersedih lagi, tapi setiap melihat hal yang mengingatkannya tentang kehamilan pertamanya, Nara tidak bisa menahan air mata.


Tidak boleh! Nara tidak boleh larut dalam kesedihan seperti ini. Bayi dalam perutnya akan merasakannya juga. Dia harus terus berusaha untuk membuat hatinya ringan dan cerah. Bukannya kelabu seperti sekarang.


Nara beringsut dari tempatnya, keluar dari ruangan itu dan menuju kamar utama. Arvin sudah terlelap disana. Tidur dengan damai sendirian. Nara lekas bergabung dikasur, memeluk tubuh hangat suaminya. Seketika Arvin langsung terbangun.


“Arviiiin... Aku gak bisa tidur,” rengek Nara manja.


Dia membenamkan diri dalam pelukan Arvin, menghirup wangi laki-laki itu yang hingga kini masih sangat disukai Nara. Meskipun tadi dia sempat sebal tentang keberadaannya, tapi ternyata hatinya lebih tenang jika bersama Arvin.


“Kamu gak bisa tidur karena ga bisa peluk aku, ya?” goda Arvin, melekatkan pelukannya makin erat.


Nara mengangguk. Dia mengakuinya kalau bendekap Arvin seperti ini membuatnya nyaman dan mudah untuk terlelap. Hatinya pun menjadi lebih tenang karena sempat membuka kenangan lama yang menyakitkan tadi.


“Iya lah. Sekali dapat pelukan dari aku, gak ada cewek yang mau lepas,” ungkap Arvin berbangga diri.


“Oh jadi kamu sering pelukan sama mantan-mantan kamu? Peluk sambil tiduran dikasur kayak gini?” Serang Nara marah, dia mendorong tubuh Arvin menjauh. Kemudian memelototinya.


“Nggak kok. Bukan pelukan dikasur kayak gini.”


“Terus kamu sering minta cium-cium juga sama mereka?”


“Aku pacaran gak pernah ciuman. Kamu tuh dari dulu mesum!” Nara memukul Arvin dengan bantal.


“Ya salah siapa gak pernah ciuman pas pacaran? Kok jadi marah sama aku sih karena aku sering gitu?”


“Ya harusnya kamu juga gak boleh. Pasti bibir ini nih udah banyak memakan korban.” Nara dengan kesal mencubit bibir Arvin. “Padahal aku kasih ciuman pertama aku buat kamu! Dasar buaya!” Lanjutnya marah.


Arvin menangkap kedua tangan Nara, membuatnya diam sejenak. Dia menatap lekat ke matanya dan tersenyum.


“Makasih ya udah ngasih aku segala hal yang pertama kalinya dihidup kamu. Meskipun aku gak bisa ngasih itu, kamu bakal jadi yang terakhir buatku.” Arvin tersenyum menatap Nara.


“Mulai lagi gombalnya. Bikin mual. Uweek.”


Nara mendorong wajah Arvin, kemudian lekas membaringkan diri kembali. Meskipun terlihat tidak peduli dengan semua gombalan dan kata-kata sok romantis yang Arvin ucapkan, di dalam hatinya Nara merasa sangat berbunga-bunga. Persis seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Arvin memang berbahaya. Selain karena pelukan dan kecupan saja, kata-katanya juga bisa membuat wanita sulit lepas dari pesonanya. Dasar pemain wanita!


...****************...

__ADS_1


“Astaghfurullah!” ucap Bi Yayah yang masuk ke dapur selepas sholat tahajud. Melihat Arvin sedang berdiri disana memasak sesuatu. “Kaget saya. Kirain hantu.”


“Masa hantu ganteng kayak gini sih, Bi?” balas Arvin bercanda.


“Kok masak subuh-subuh gini sih, Pak? Kenapa gak bangunin saya aja kalau lapar?”


“Bu Bos lagi kelaparan. Gak apa-apa, aku udah biasa kok masakin Nara jam segini dari dulu. Bi Yayah istirahat lagi aja.”


“Baik banget loh Pak Arvin nih, mau mau masakin istri subuh-subuh gini,” puji Bi Yayah.


Arvin tertawa, “Iya nih. Kalau udah bucin jadinya begini.”


“Bisa aja si Bapak mah!” Ikut tertawa mendengarnya.


Arvin membawakan Nara roti isi daging asap dan keju. Setelah muntah-muntah pukul 02.00 tadi, Nara merengek kelaparan.


Kejadian seperti ini mengingatkannya tentang awal pernikahan mereka. Nara juga melakukan hal yang sama, membangunkannya pagi buta dan menemaninya melewati masa-masa hamil muda yang penuh drama.


Hanya saja sekarang Nara seratus kali lebih manis dibandingkan dulu. Tidak ada acara memukul, menjambak, atau mencubit Arvin karena kesal dan tidak mau disentuh. Arvin lebih suka Nara yang sekarang.


“Nih, makan dulu. Isi tangki abis tadi dibongkar.”


“Ih kok rotinya gosong sih, Vin. Aku gak suka ada yang gosongnya.”


“Ini gak gosong, tapi golden brown.”


“Gak mau! Kan aku bilang kan jangan terlalu kering dan gosong gini panggang rotinya.”


“Ini gak ada bagian gosongnya loh, Ra. Kalau gosong tuh ada item-itemnya kayak sate.”


“Gak mau yang ini. Pokoknya bikinin lagi!”


Arvin menggeram kesal. Tapi tetap beranjak dari sana untuk memasak kembali di dapur.


Ralat. Ternyata Nara yang dulu dan sekarang sama saja.


 


 

__ADS_1


__ADS_2