Halo Arvin!

Halo Arvin!
Terburu-buru


__ADS_3

Arvin benar-benar menyukai perasaan ini. Membuatnya merasa sangat bersemangat dan ingin melompat-lompat kegirangan. Dia yakin Nara juga menyukainya. Meskipun dia masih berusaha melepaskan diri darinya.


Saat ini Arvin dengan sabar menelusuri bibir Nara dengan lidahnya. Pelan dan lembut. Agar Nara bisa merasakan kenikmatan ini pelan-pelan.


Entah berapa lama Arvin memegut bibirnya sebelum melepaskan, yang jelas cukup lama hingga bibir Nara memerah. Dia masih terlihat kaget dengan ciuman tersebut. Arvin bisa melihat matanya yang cokelat membukat menatapnya bingung. Tak sampai sedetik kemudian dia tersadar, dan menatap galak ke dalam mata Arvin.


“Ar—“ Protes Nara.


Sayangnya kalimat tersebut terpotong oleh ciuman kedua Arvin. Siapa yang bisa menahannya? Arvin benar-benar dalam posisi bebas melakukan apa saja. Tubuh Nara masih bersandar di dinding, dengan tangan terkunci di kedua sisi kepalanya.


Arvin akan melakukannya lagi, dan lagi. Kerena dia menyukainya. Karena ingin mengambil kesempatan yang jarang terjadi ini. Karena ingin melihat Nara juga menikmati dan jatuh seperti yang dirasakannya.


Bibirnya masih menciumnya dengan ritme yang sama. Pelan, lembut, penuh perasaan. Sekarang perutnya terasa geli, seperti dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan.


Arvin melepaskan bibirnya lagi. Menatap wajah Nara yang sekali lagi terlihat kaget. Kenapa wajah Nara bisa secantik itu saat kaget? Kenapa dia manis sekali? Arvin tidak bisa menghentikan senyumnya saat melihat reaksi lucu dari Nara tersebut.


“Uda—“ Protes Nara lagi.


Apa tadi dia bilang?


Tidak. Arvin tidak mau mendengar kata-kata penolakannya. Saat ini dia masih ingin melakukannya. Meskipun sekarang sudah waktunya dia berangkat ke kantor dan harus datang tepat waktu karena meeting. Arvin tidak peduli.


Hal yang lebih penting sekarang adalah Nara. Bibirnya yang manis. Kulitnya yang halus. Tubuhnya yang hangat. Kapan terakhir kali Arvin merasakan dorongan seperti ini? Ciuman yang memabukkan seperti ini?


Oh.


Ya. Ya. Malam itu.

__ADS_1


Saat Arvin tiba-tiba tidak bisa mengendalikan dirinya saat menyentuh kulit punggung seputih pualam milik Nara. Saat Arvin merenggut kesucian Nara di sofa ruang tengahnya.


Pasti Nara hingga saat ini tidak pernah tahu ataupun mengingat kejadian itu. Arvin memang jahat. Dia menikmati setiap detiknya. Jika waktu bisa diputar kembali, Arvin akan tetap melakukannya.


Siapa yang bisa menahannya?


Gadis secantik ini dalam keadaan tidak sadar dan setengah telanjang. Arvin yakin, mantan pacarnya yang jelek itu akan melakukan hal yang sama jika dihadapkan pada situasi seperti itu.


Untung saja dia tidak pernah berada dalam situasi seperti itu bersama mantannya yang jelek. Arvin tidak rela. Ada orang lain yang menyentuh Nara selain dirinya.


Arvin jadi ingin mencobanya lagi. Sial! Karena ciuman ini saja bisa membuatnya panas. Apa sekarang Arvin sangat lemah? Dia juga sering melakukan hal seperti ini dengan mantan-mantannya. Tapi dia sampai ingin melakukan perbuatan lebih jauh dari ini.


Nara benar-benar makhluk berbahaya!


Hanya karena ciumannya saja, bisa membuatnya lepas kendali.


Arvin melepaskan cengkramannya dari kedua lengan Nara. Sekarang tangannya dengan bebas menyusup ke dalam kaos Nara. Merasakan kulit Nara yang lembut, mengelusnya dari pinggang hingga keatas. Arvin dengan mudah melepaskan kaitan bra dengan kedua tangannya. Menelusuri punggung lembut yang rasanya seperti awan. Sementara bibirnya terus menciumi Nara, dengan agresif.


Nara ingin berteriak. Tapi bibirnya masih terkunci oleh ciuman Arvin yang semakin menggila. Nara takut. Dia belum siap melakukan hal seperti ini dengan Arvin. Tak pernah terpikirkan sekalipun ingin melakukan semua ini dengannya.


Nara sangat putus asa ingin melepaskan semua sentuhan Arvin dari tubuhnya. Kenapa laki-laki ini begitu kuat? Kenapa Nara sangat lemah seperti sekarang? Dia hanya bisa memukuli Arvin dengan sia-sia dan menendangi udara dengan percuma.


Sementara Arvin terus bergerilya. Mencengkram dan memainkannya. Dia memilin salah satu puncaknya dengan kedua jarinya. Membuat Nara menggeliat tak terkontrol.


Sial! Menyebalkan! Arvin brengs*k!


Lutut Nara lemas. Nyaris tidak mampu berdiri karena serangan-serangan Arvin padanya. Sulit sekali  mempertahankan kewarasannya. Ditengah perasaan takut yang berkumpul dikepala dan rasa nikmat aneh yang membuat area sensitif diantara kedua kakinya berdenyut tiba-tiba.

__ADS_1


Sekuat tenaga Nara menggigit bibir Arvin. Dia sangat putus asa ingin melepaskan diri. Rasa asin memenuhi mulut Nara, tertelan bercampur dengan air liurnya. Setelah itu Arvin melepaskan bibirnya termasuk semua sentuhan tangannya pada Nara.


Cairan merah keluar dari mulut Arvin, begitu pun tersisa dan mengotori mulut Nara. Mereka saling menatap tanpa kata selama beberapa detik. Arvin kaget dengan yang dilakukan oleh Nara. Sementara Nara begitu marah karena perbuatan Arvin.


“Lo cowok jahat! Br*ngsek! Lo beneran keterlaluan!” Teriak Nara histeris. Air matanya turun tak terkendali.


“Gue gak pernah ngejanjiin apa-apa sama lo! Hanya karena kesalahan gue kemarin, lo berani banget manfaatin keadaan kayak gini. Cowok jahat! Gue gak mau liat lo! Pergi! Cepetan pergi!”


Nara mendorong tubuh Arvin menjauh darinya. Terus mendorongnya hingga keluar dari kamar dan mengunci pintu. Arvin hanya bisa pasrah menerima kemarahan dan pengusiran yang dilakukan oleh Nara.


Sial! Kenapa semuanya jadi kacau sih?


Arvin berdiri mematung di depan pintu kamar. Bingung dan merasa bersalah dengan perbuatannya pada Nara tadi. Sungguh dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Selalu seperti itu jika berhadapan dengan Nara.


Padahal dia sudah sangat berhati-hati selama ini. Menjaga Nara agar tidak ketakutan dan mencoba menjalani hubungan ini pelan-pelan. Tapi Arvin terlalu terburu-buru dan terlalu rakus.


"Nara! Maafin aku, Ra!" Teriak Arvin sambil mengetuk pintu kamar. Tak ada jawaban sama sekali. Tentu saja. Mana mungkin Nara akan membukakan pintu dan memaafkannya sekarang. Dia pasti butuh waktu untuk sendiri terlebih dahulu.


Nara berbaring di kasur. Tubuhnya gemetar karena rasa marah dan ketakutan yang dia rasakan karena perbuatan Arvin tadi. Dia tidak pernah mengira perasaan lembut yang membuatnya berbunga-bunga tadi berubah dengan cepat menjadi hal-hal buruk yang tak terduga.


Dalam mulutnya Nara masih bisa merasakan aroma besi dan amis serta rasa asin yang aneh dari darah Arvin. Dia juga masih merasakan tangan Arvin yang panas menelusuri kulitnya. Memainkan bagian berharganya dengan santainya. Tak peduli bagaimana ketakutan Nara.


Menjijikkan!


Nara tidak bisa membayangkan apa yang sudah dilakukan Arvin dulu padanya dalam keadaan tidak sadar. Apalagi Arvin sampai menanamkan benihnya dalam tubuh Nara. Sekarang saja sudah separah ini, semenjijikan ini.


Tangis histeris tak bisa Nara hentikan. Dia bergulung dikasur memeluk tubuhnya. Menghilangkan ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi dan menghilangkan perasaan campur aduk yang membebani hatinya. Nara meras kotor dan menjijikkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 bab aja, author-nya lagi gak enak badan. Migrain 😭😭😭


__ADS_2