
“Enak banget sotonya, makin pinter anak bapak bikin makanan.” Ahmad mencicipi Soto Betawi yang dihidangkan di hadapannya. Sangat creamy dan gurih, mengingatkannya dengan rasa Soto Betawi H. Ma’ruf di Gondangdia Lama yang sangat terkenal itu.
“Emm… Itu Arvin yang masak. Aku jarang masak kalau di rumah.” Nara malu mengatakan hal seperti ini pada ayahnya. Pasti ayahnya akan berpikir kalau Nara bukan istri yang baik.
Ahmad sedikit terperanjat kemudian terkekeh. “Maafin anak bapak ya, Vin. Dari dulu emang Nara males bantu ibunya, jadi pas nikah gak bisa masak. Terlalu sibuk belajar dan nyari uang biar gak hidup susah,” katanya sambil tersenyum. “Tapi ini enak banget loh, jago banget kamu masaknya. Belajar dimana? Biasanya kan anak gedongan pada manja gak bisa apa-apa.” Ahmad memuji menantunya.
Arvin mengembangkan senyumnya, merasa sangat senang mendapatkan pujian dari ayah mertuanya tersebut. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kebaikan dari orang yang sudah dia buat terluka.
Momen seperti ini tidak pernah Arvin rasakan sebelumnya. Duduk bersama dengan sosok ayah dan mendapatkan pujian. Bahkan Candra sekalipun tidak pernah melakukannya. Mungkin juga tidak pernah tahu kalau Arvin punya hobi-hobi kecil seperti memasak.
“Belajar sama nenek yang buka usaha catering. Dulu aku gak tinggal sama ibu dan ayah, jadi gak banyak ngerasain kayak anak gedongan,” ucap Arvin menjelaskan singkat mengenai masa lalunya.
“Walah… Tak kira kamu tinggal sama almarhum ayah kamu yang dulu datang ke rumah. Tapi gak apa-apa, jadinya kan sekarang belajar skill berguna. Bapak sih boro-boro masak, goreng telor ceplok aja suka gosong.” Ahmad terkekeh.
“Iya, makanya kalau ditinggalin ibu kayak sekarang jadinya repot, gak bisa makan. Mana tukang pilih-pilih lagi kalau beli makan di luar,” ejek Nara.
“Kalau ditinggal berdua di rumah sama kamu, ya jadinya sama aja. Sama-sama gak bisa masak.”
__ADS_1
“Aku bisa masak kok. Cuma… gak terlalu enak aja.” Ucap Nara sambil cemberut. Arvin tergelak mendengarnya.
“Untung kamu dapet suami yang jago kayak gini, bisa-bisa kamu tiap hari beli di warteg atau pesen online.”
Suasana di ruang makan menjadi hangat seiring pembicaraan yang mengalir dengan santai. Hati mereka kini lega. Sudah saling melepaskan perasaan bersalah, amarah, dan juga kerinduan.
Ahmad mendapatkan kembali waktu bersama putrinya, juga senyumannya yang menghilang berbulan-bulan. Nara mendapatkan kembali kehangatan ayahnya, keberadaannya membuat hatinya menjadi nyaman. Arvin untuk pertama kalinya mendapatkan waktu menyenangkan dengan sosok ayah, yang tidak pernah dia dapatkan seumur hidupnya karena begitu rumit hubungan antara dia dengan Candra.
Momen kecil ini akan mereka kenang bersama, sebagai satu waktu dihidup mereka dimana akhirnya saling menyadari bahwa yang terpenting dari semua peristiwa menyakitkan adalah memaafkan dan belajar menerima. Pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Meskipun banyak hal tidak bisa begitu saja dimaafkan, dan luka menganga tak bisa cepat disembuhkan. Selama ada jalan untuk bisa diperbaiki, menghukum diri sendiri dengan rasa bersalah dan amarah tidak akan berakhir baik.
“Aku udah siapin kamar buat bapak. Perdana loh ada yang nginep di rumah baruku. Di ujung lorong ada kamar mandi, bapak bisa man—” Kata Nara terus berbicara, kemudian terhenti saat melihat kebelakang dan ayahnya tidak mengikutinya. Ahmad terpaku pada satu kamar gelap yang pintunya terbuka.
“Kamu udah persiapan buat lahiran ya?” Katanya saat Nara menghampiri.
Ahmad melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut dan menyalakan lampu. Kamar yang cukup luas—lebih luas daripada ruang tengah rumahnya. Bercat pink cerah, dengan salah satu dinding bergambar. Pasti Nara yang menggambarnya, Ahmad tersenyum sekilas. Terdapat lemari kecil, tempat tidur bayi dengan kasur yang belum terpasang, dan sofa nyaman. Ruangan tersebut masih cukup berantakan.
__ADS_1
“Dulu pas masih SMP kamu suka ngambek sama bapak karena gak punya kamar sendiri. Padahal anak gadis harusnya gak tidur bareng abangnya. Tapi bapak gak punya uang buat cicil rumah, gak bisa juga soalnya bukan pegawai. Pas Naufal cicil rumah, kamu suka bantuin bayar karena abangmu lagi kumpulin persiapan nikah. Relain gaji kamu sendiri padahal kamu juga lagi nabung buat nikah sama Reza. Sekarang anak kamu belum lahir aja udah punya kamar sendiri. Bapak seneng lihatnya,” ucap Ahmad dengan mata berkaca-kaca. “Bapak jadi lebih tenang sekarang lihat kamu hidup baik kayak gini. Punya rumah, gak kekurangan, dan suami kamu juga baik.” Lanjutnya.
“Tapi kita tetap ngelakuin kesalahan dimasa lalu, Pak.” Nara memandang sendu pada ayahnya. Semua hal baik yang dia dapatkan tidak mengubah apapun tentang masa lalu mereka yang tidak baik.
Ahmad mengangguk, lantas tersenyum. “Kita gak pernah tahu, jalan kayak gimana yang bakal mengantarkan hidup kita jadi seperti apa. Bisa jadi lewat kesalahan, perjuangan, atau keberuntungan. Paling penting sekarang, tanggung jawab sama yang kalian lakuin dan berusaha jadi orang tua yang lebih baik. Bapak yakin, karena kalian tau sendiri gimana rasanya mengalami hal kayak sekarang. Kalian bakal jadi orang tua yang lebih bijaksana dibanding kita, orang tua kalian. Belajar terus, dek. Jadi orang tua itu pekerjaan seumur hidup.” Ahmad menatap lekat mata anaknya.
Nara tidak sanggup menahan tangisnya, dia menangkupkan kedua tangannya diwajah. Perjalanannya menemukan jati dirinya sebagai orang tua sangat sulit. Nara pernah ada dimasa penuh penolakan hingga hampir menggugurkan bayinya. Tapi makhluk kecil di dalam perutnya memberinya kesempatan untuk kedua kali, agar Nara menjadi manusia yang lebih baik dan bertanggung jawab.
Nara juga pernah dalam kondisi saat dia rela melepaskan pengasuhan anaknya hanya pada Arvin seorang. Kemudian menghilang seakan dia tidak pernah melahirkan. Sampai pada akhirnya Nara benar-benar menerima keberadaannya, menyayangi sepenuh hati, khawatir dengan konsidinya, merindukan meskipun mereka belum pernah bertemu. Nara pelan-pelan belajar menjadi orang tua. Sama halnya seperti ayahnya.
“Maafin… Aku… Pak…” ucap Nara diantara isakannya.
Ahmad memeluk Nara, mengusap kepalanya. Hal yang jarang dan mungkin memang tidak pernah dia lakukan ketika anaknya tersebut beranjak dewasa. Seharusnya dia lah laki-laki yang melindungi Nara sebelum diambil oleh suaminya.
Begitu banyak hal yang tidak Nara dapatkan darinya. Bahkan putri kesayangannya ini harus berjuang sendiri untuk bisa mendapatkan gelar yang diinginkannya, semata karena Admad tidak sanggup melakukannya. Kemudian mengabaikannya, membencinya, dan melepaskan tanggung jawabnya ketika hidup Nara dihadang masalah. Dia yang harusnya meminta maaf pada anaknya, atas kurangnya ilmu dan kesabaran menjadi orang tua.
“Jadi orang tua yang lebih baik dari bapak ya, dek! Yang deket sama anak, yang bisa membangun hubungan, yang selalu belajar memaafkan, dan ngajarin anak untuk beragama dan bermoral. Supaya anak kalian gak salah langkah.”
__ADS_1
Nara mengendapkan semua petuah ayahnya di dalam hati, berjanji akan menjadi orang tua yang baik. Belajar banyak hal karena dari dirinya lah kelak anak-anaknya akan mengerti bagaimana harusnya hidup.
“Harusnya bapak bilang ini pas acara sungkeman pernikahan adek. Bapak udah maafin adek, udah ngasih restu dan merelakan adek supaya bahagia sama Arvin. Meskipun dari jauh bapak bakal doain adek terus.”