
Arvin terlihat sedang bermain dengan kucing milik Audrey di halaman depan saat Nara sudah selesai berbicara dengan Candra. Melihat Arvin yang kekanakan seperti itu, Nara jadi khawatir tentang masa depan keluarga Aditama. Bisa-bisanya orang seperti Arvin menjadi penerus keluarga kaya raya seperti ini. Dalam hati, Nara lebih mempercayai Angga.
Meskipun pernah dimarahi dan melihatnya sangat emosi. Tapi Angga memiliki karakter yang lebih matang untuk memimpin keluarga dibandingkan Arvin. Semua hal tentang Arvin terlihat seperti kehidupan anak muda yang tidak jelas bagi Nara.
“Udah beres?” Kata Arvin saat melihat Nara keluar rumah. Nara mengangguk. “Ya udah. Ayo pulang.” Lanjutnya yang masih sibuk menggendong dan menciumi kucing Anggora berwarna orange dalam pangkuannya.
Selama perjalanan pulang berulang kali Nara ingin mendengar cerita tentang Arvin. Tapi berulangkali pula dia urungkan. Nara tidak ingin dianggap terlalu peduli dengan kehidupan Arvin. Tidak ada untungnya juga untuknya. Hanya menambah beban pikiran. Arvin juga tidak peduli dengan kehidupannya seperti apa. Mereka masih asing dengan dunianya masing-masing.
“Tadi ngobrolin apa sama si kumis?” Tanya Arvin tiba-tiba.
“Ngobrolin soal lo.” Jawab Nara jujur.
“Ngapain ngobrolin soal gue? Lo mulai kepo ya sama gue?”
“Dih. Males. Mau gue tau atau ngga soal hidup lo juga ga ngaruh apa-apa. Gue tetep benci sama lo.”
Arvin tersenyum. Matanya masih fokus ke jalanan di depannya. “Iya, iya. Terserah lo aja.”
“Pak Candra bilang, lo nanti bakal jadi penerus keluarga Aditama, kan? Dia ngira gue bakal jadi pendamping lo sampai lo beneran jadi penerus keluarga nanti, tapi kita ga akan sejauh itu. Semoga lo ketemu cewe yang baik, biar bisa nemenin lo nanti. Atau mungkin lo nikah aja sama Key.”
Arvin mengerjap kaget. Melihat Nara sekilas, kemudian memalingkan pandangan kembali ke jalanan di depannya. Nara bisa melihat Arvin yang gelagapan saat nama tersebut dia sebut. Key yang dimaksud Rivanno pasti Keysa. Pacar Arvin yang sering disebutkan oleh penggemarnya. Orang yang pernah Nara lihat diacara musik bersama Arvin.
“Lo tau Key darimana?” Tanya Arvin, nadanya berubah hati-hati dan penuh selidik.
“Fans lo. Gue juga pernah lihat kok pas dateng ke acara musik lo dulu. Dia pacar lo, kan?”
“Bukan. Mantan gue.”
“Kalau masih pacar lo juga gak apa-apa. Gue ga keberatan atau cemburu kok. Lagian gosip soal lo udah terkenal banget dikantor. Pacar lo banyak dan lo playboy kelas kakap. Hanya karena lo nikah sama gue ga mungkin bikin lo tobat, kan?” Kata Nara santai.
__ADS_1
“Gue gak kayak yang dituduhin orang-orang.”
“Dih pembelaan lo basi banget. Ga perlu ngeyakinin gue kalau lo cowok baik dan bukan playboy. Lagian ga akan ngubah apapun pandangan gue ke lo kok. Lo tetep cowok jahat buat gue dan gue ga akan pernah percaya sama lo.”
Arvin tak menjawab. Sepanjang perjalanan dia membisu, memasang wajah serius ketika menyetir. Nara mungkin tak menyadarinya, tapi perubahan kentara terlihat pada sikap Arvin. Sisa hari itu juga Arvin tidak banyak berbicara. Nara hanya merasa hari itu lebih damai dari biasanya.
...****************...
Malam ini Nara sangat ingin makan di Gyu-Kaku. Mungkin lebih tepatnya ngidam. Arvin menemaninya sepulang kerja. Meskipun Nara bersikeras untuk pergi sendiri. Tapi akhirnya mereka datang berdua kesana.
Mereka memesan premium buffet untuk berdua. Arvin mulai memanggangkan daging tipis-tipis tersebut di atas pemanggang. Menunggu dan membolak-balik dengan sabar. Potongan daging langsung Arvin serahkan ke piring Nara yang duduk di depannya.
Arvin tidak banyak makan. Hanya memanggang dan memperhatikan Nara dengan lahap memakan makanannya. Dia terlihat senang saat mengunyah daging yang lezat tersebut.
“Lo beneran mikir gue kayak yang orang-orang gosipin?” Tanya Arvin tiba-tiba, sambil melihat Nara yang masih sibuk mengunyah makanannya.
“Lo gak percaya sama gue?”
“Kita ngomongin soal apa sih?” Nara sedikit bingung, tidak bisa mengikuti arah pembicaraan Arvin.
“Lo bilang kemarin kalau lo ga percaya gue karena gue playboy?”
“Ya emang. Iya, kan?”
“Ngga. Gue emang punya banyak mantan. Tapi gue ga pernah pacaran sama dua orang sekaligus dalam satu waktu.”
“Terus?”
“Gue ga mainin perasaan cewe. Gue selalu beresin hubungan sebelum mulai lagi yang baru.”
__ADS_1
“Hmm... Terus lo putus gitu sama pacar lo karena nikahin gue?”
“Gue udah putus sama dia udah dari lama.”
Nara menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Arvin. “Tujuan lo bahas ini apa sih, Vin? Gue udah bilang kalau gue sama sekali gak keberatan kalau lo masih pacaran sama cewek lo sekarang.”
“Lo terus-terusan bersikap kayak gini ke gue karena lo kira gue masih punya hubungan diluar, kan?”
“Sikap gue kayak gimana maksud lo?”
“Musuhin gue, kesel sama gue, benci banget sama gue. Lo nganggep gue cowok yang suka mainin cewek bahkan setelah nikah dan punya banyak pacar diluar. Makanya lo gak mau perbaiki sikap lo ke gue kan?” Kata Arvin mulai tersulut emosi.
“Gue benci sama lo, karena dasarnya aja gue emang ga suka sama semua hal tentang lo. Ditambah lo emang doyan mainin cewe dan pacar lo banyak. Bikin gue makin illfeel sama lo.”
Arvin tidak membalas perkataan Nara. Hanya menatapnya dengan tajam. Merasa sangat tersinggung dengan kata-kata tersebut. Selama ini semua perlakuan baiknya kalah dengan dugaan-dugaan yang tidak jelas yang dipikirkan Nara. Tak pernah dia melihat ketulusannya sama sekali.
“Gue tau lo nikahin gue karena lo ga mau ngerasa bersalah seumur hidup karena perbuatan jahat lo. Sekarang gue ga ngerti kenapa lo tiba-tiba ngerasa perlu ngejelasin diri lo ke gue.”
“Karena gue mau besarin anak itu bareng lo!” Bentak Arvin kesal.
Selama beberapa detik mereka saling menatap. Mengerjap kaget. Arvin bingung dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Dia sendiri tidak yakin apa yang sudah dia ucapkan. Memang mungkin terkadang terlintas dipikirannya untuk mempertahankan Nara. Memintanya terus berada disisinya, membesarkan anak mereka bersama. Tapi dia paham bagaimana enggannya Nara hidup dengannya.
“Gue mau besarin dia bareng sama lo. Makanya gue perlu ngejelasin sama lo kalau semua tuduhan lo ke gue ga bener. Gue ga pernah mainin cewe dan gue ga pernah punya hubungan lain selama kita nikah. Gue pingin lo jadi istri gue, bukan cuma karena gue harus tanggung jawab sama perbuatan gue dulu. Tapi beneran hidup sebagai pasangan.”
Sial!
Sekarang semua perkataan itu Arvin keluarkan tanpa kontrol. Padahal dia juga belum yakin. Hatinya masih bimbang. Ingin hidup bersama Nara? Dia pasti sudah gila. Ini semua gara-gara Nara mengatakan ucapan ayahnya kemarin. Membuat Arvin sangat ketakutan harus menghadapi semua hal di depannya sendirian. Selain Nara, dia tidak punya opsi lain lagi.
“Gue gak mau.” Balas Nara singkat dan tegas. Menolak semua ide gila dan perasaan Arvin yang tidak jelas itu.
__ADS_1