
Arvin memberengut kesal karena penolakan Nara. Dia cemberut sepanjang perjalanan pulang. Melihatnya seperti itu malah membuat Nara merasa lucu. Tidak menyangka Arvin punya sisi seperti itu juga.
Laki-laki menyebalkan, pemarah, yang terkadang terlihat keren, jahil, bermulut manis dan digilai perempuan sepertinya berubah manja dan mudah merajuk didepan Nara. Semua perilakunya itu malah membuat Nara semakin ingin menggodanya. Memberikan penolakan-penolakan yang membuatnya semakin merajuk.
Sejak tiba di penthouse, Arvin sibuk menerima telepon. Beberapa hari kebelakang dia cukup sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang dia sedang duduk dimeja komputer dan berbicara dengan Adam lewat ponselnya. Membelakangi Nara yang duduk bersandar dikasur.
Arvin yang tadi bertingkah manja, berubah menjadi serius dan terlihat keren. Kenapa dia bisa sekeren itu? Nara jadi kagum melihat suaminya seperti itu. Sebenarnya Nara diam-diam memang mengagumi Arvin dan bagaimana caranya bekerja.
Diluar sikapnya yang sukut dimengerti dan banyak maunya sebagai atasan. Arvin selalu profesional, berpikiran tajam, dan brilian.
Nara tiba-tiba merasakan perasaan aneh diperutnya. Sesuatu bergerak dengan bersemangat dibawah kulitnya. Begitu kentara hingga terlihat perut buncit tersebut bergerak menyembul.
“Vin, liat nih anak kamu.” Kata Nara ingin memperlihatkan gerakan diperutnya. Menyuruh Arvin mendekat.
Arvin berdiri menghampiri Nara. Melihat pergerakan tersebut membuat Arvin takjub sekaligus senang. Dia kemudian mengelua perut Nara dan merasakan gerakan bayinya semakin kencang.
“Dedek lagi ngapain sih heboh bener?” Tanya Arvin keperut buncit tersebut.
“Lagi protes minta liburan. Soalnya papanya sibuk terus sekarang, lembur tiap hari. Iya kan, dek?” Balas Nara.
“Bohong ya? Itu akal-akalan mamanya aja. Padahal dulu paling ogah papa ajak jalan-jalan.”
“Bener kok. Bukan aku yang minta.”
“Ya udah nanti Sabtu aja kita nginep di Bandung.”
Perut Nara mulai bergerak lagi dengan kencang. Sepertinya bayi dalam perutnya juga senang mendengarkan rencana mereka untuk berlibur akhir pekan ini.
“Tuh kan bukan aku, tapi dedeknya yang mau.” Kata Nara bangga.
__ADS_1
“Dek, mau papa tengok gak?” Ucap Arvin menggoda.
Nara langsung mengerucutkan mulut karena kesal, “Jangan dijawab ya, dek. Kamu lagi gak mau diganggu, kan? Kasian kan mama perutnya udah gede dan engap. Pinggangnya sering sakit.”
“Taruhan ya. Kalau bayinya gerak berarti dia mau.”
Mereka memegang perut dan mengelusnya bersama-sama. Tapi tidak ada gerakan yang muncul disana setelah beberapa saat mereka tunggu.
“Pengkhianat! Awas ya dek. Kalau udah lahir gak akan papa beliin boneka Barbie!” Ucap Arvin kesal kemudian berjalan pergi meninggalkan Nara di kamar.
“Dia gak suka Barbie kali, sukanya cowok K-Pop.”
“Itu emaknya!”
Arvin menutup pintu sambil melotot emosi. Membuat Nara tergeletak. Disetiap kesempatan laki-laki mesum itu selalu punya cara untuk merayunya untuk mendapatkan waktu melepaskan hasratnya.
...****************...
Padahal mereka baru sampai ke hotel, tapi Arvin sudah mulai menyerangnya. Membaringkan tubuh Nara diatas kasur dan menyentuh leher dengan bibrinya. Meninggalkan bekas-bekas kemerahan disana.
“Arvin, istirahat dulu. Kamu emang gak capek abis nyetir dari Jakarta?” Ucap Nara diantara kecupan membabi buta dari suaminya.
“Buat yang kayak gini aku gak pernah capek.” Balas Arvin tersenyum melihat Nara berada pasrah dibawahnya.
“Tapi aku yang capek.”
“Kamu gak usah ngapa-ngapain. Tinggal ikutin aku aja.”
Arvin bersandar di antara tumpukan bantal yang sudah disusunnya. Menarik Nara bangun dan menggendongnya di kedua pahanya. Dengan keadaan perut Nara seperti sekarang, menyulitkannya untuk melakukan aktivitas tersebut saat berbaring. Dia tidak ingin Nara merasa tidak nyaman. Mereka harus sama-sama senang.
__ADS_1
Tangan Arvin dengan cekatan melepas resleting belakang dress, dia sudah mahir dan hapal apa yang harus dikerjakannya. Baju tersebut sekarang sudah melayang jatuh ke sisi ranjang. Bersama dengan kain penutup lain yang melindungi tubuh Nara.
Dengan rakus Arvin mulai meraup aset menggoda didepan wajahnya. Memainkan lidahnya disalah satu puncaknya.
Nara menjerit saat sensasi geli dan aneh menyerangnya. Tidak mungkin untuk tidak bereaksi pada hal tersebut. Tangannya menjambak rambut Arvin, protes karena laki-laki itu menggigit benda itu pelan. Bukannya melepaskannya, Arvin malah memperdalam dan semakin liar bergerak.
Arvin sangat menyukai menelusuri punggung Nara. Menyentuhkan tangannya pada kulit halus istrinya itu berulang-ulang. Setiap inci tubuh Nara adalah petualangan untuknya. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukan ini, tapi perasaan menyenangkan menyentuh Nara tidak pernah membuat bosan.
Malahan setiap kali dia melakukannya. Semakin ingin dia mengulanginya kembali. Memang benar Arvin tidak akan puas dan tidak akan cukup menyentuh Nara. Setiap hari rasanya pikiran kotornya makin bertumbuh subur.
Apalagi ketika perubahan tubuh Nara membuatnya terlihat berbeda semakin menggoda. Perut buncit Nara malah semakin membangkitkan keinginannya untuk melampiaskan hasratnya. Dia terlihat seksi untuk Arvin dan akan seperti itu dalam bentuk apapun.
“Bangunin si bos.” Bisik Arvin menuntun tangan Nara menyentuh benda diantara kedua pahanya yang sekarang sudah menegang. Nara mengernyit takut saat benda tersebut mengeras dalam genggamannya.
Tak begitu lama setelah semua sentuhan yang dilakukan oleh Arvin untuk membuat Nara siap menerima serangannya, Arvin mulai menyatukan tubuh mereka. Nara menahan diri untuk tidak mengerang, mengatupkan bibirnya dan menutupnya dengan salah satu telapak tangan.
Tapi semua itu percuma, suara itu lolos dari mulutnya. Membuat Arvin tersenyum dan mendaratkan ciuman pada bibir indah yang melepaskan suara tadi. Sementara dibawah sana, Arvin terus menghentakkan-hentak. Membuat tubuh Nara bergerak tak terkendali.
Hal seperti ini sudah mereka lakukan berkali-kali, tapi tetap saja Nara selalu merasa menjadi tidak waras ketika Arvin menyerangnya seperti sekarang. Tubuhnya hanya mengikuti keinginan laki-laki itu dan menerima setiap penjelajahan di tiap inci tubuhnya.
Arvin mengakhiri permainan mereka dengan semburan hangat dalam tubuh istrinya. Melepaskan bibirnya yang bertaut dengan Nara. Merasakan kenikmatan dan perasaan senang membanjirinya. Termasuk peluh yang bercucuran pada keduanya.
Mereka saling berhadapan dikasur. Menatap satu sama lain sambil mengumpulkan energi yang mereka habiskan setelah permainan pertama usai.
“Kamu mau makan dulu sebelum lanjut?” Tanya Arvin mengelus pipi Nara dengan ibu jarinya.
Hanya anggukan yang diberikan oleh Nara. Arvin mencium keningnya, kemudian bangkit untuk menelepon room service dan memesan makanan untuk mereka berdua.
Nara terpejam sejenak. Mengisi energi dan mempersiapkan dirinya lagi, karena Arvin setelah ini akan menaklukkannya lagi. Dia tidak pernah cukup melakukannya sekali.
__ADS_1