Halo Arvin!

Halo Arvin!
First Day


__ADS_3

Seminggu Sebelumnya..


“Lo jangan bilang sama ibu.” Ucap Arvin menatap Angga yang sedang menyesap rokoknya dalam-dalam di rooftop.


“Gue gak bocor. Tapi lo tau kan Pak Yanuar masih ngawasin? Sekarang dia jadi PA-nya ibu.” Balas Angga, mengembuskan asap putih dari mulutnya. Dari kantongnya dia mengeluarkan rokok dan menawari Arvin.


“Gue gak ngerokok sekarang. Takut nempel dibaju kalau gue pulang ke rumah, Nara lagi hamil.”


Angga terkekeh, “Edyaan. Sejak kapan lo jadi dewasa gini?”


“Lo juga harus mulai berhenti, Ga. Bentar lagi lo kawin.”


“Iye, gue berhenti kalau Sophie dah hamil.” Angga membuang puntung rokoknya dan menginjaknya hingga padam. “Gue yang ngomong sama Pak Yanuar, buat sekarang ibu gak usah tau dulu. Lagian dia sekarang lagi panik banget Om Arief masuk RS. Katanya dia bakal balik dari Malaysia pas deket hari tunangan gue.” Lanjutnya, berdiri merapikan dasinya.


“Gue gak mau ini jadi gede dulu, kalau yang bawahnya pada bergerak semua bisa berabe. Hampir setahunan ini licin banget, ternyata udah segede ini.”


“Makanya lo kalau mau ambil keputusan atau ngasih statement tuh hati-hati. Tapi sekarang sih gertak aja dulu. Kepalanya pasti keluar dalam waktu deket.”


...****************...


Ruangan sudah dipenuhi oleh orang-orang penting diperusahaan. Internal meeting hari ini sepertinya akan berjalan cukup alot karena beberapa petinggi yang sekarang terang-terangan menolak keberadaan Arvin sebagai atasannya. Terlepas dari perintah Candra yang menginginkan anaknya itu melanjutkan bisnisnya, para rekan Candra rupanya sangat tidak setuju dengan ide tersebut.


Masalah skandal dan image jelek tentang Arvin yang bahkan muncul sebelum dia masuk ke perusahaan menjadi alasan mereka. Padahal jika merunut kembali kejadian Candra berpuluh tahun lalu tentang isu perselingkuhannya, orang-orang ini menutup mata dan menjilat di depan pemimpin perusahaan tersebut. Menyembunyikan fakta kepada Lena dan Haris, ayah dari Candra.


Arvin tidak bisa berbuat banyak akan hal itu, orang-orang ini kolot dan cukup lama berada diposisinya di perusahaan. Mereka ikut membangun perusahaan ini hingga besar. Meskipun demikian Arvin akan mengambil langkah paling ekstrem sekarang. Melepaskan semua C-Level yang berada dibawahnya, beserta beberapa orang Manager dan Assistant Manager yang semakin nyaring bergaung tentang penolakan terhadap dirinya.

__ADS_1


“Maaf saya telat 5 menit, tadi dijalan kejebak macet.” Ucap Rivanno ceria saat memasuki ruang meeting yang sudah dipenuhi oleh orang.


Semua orang menatap kearahnya termasuk Arvin yang mendengus kesal melihat wajah sepupunya tersebut. Terlihat dari belakang Rivanno, seorang perempuan mengikutinya. Tampang cantik dan elegan dengan blus berwarna dark brown, dengan rok span abu-abu yang pas dibadannya. Memperlihatkan siluet indah tubuhnya yang ramping. Arvin terperanjat sedetik melihat sosok itu, kemudian mengatur ekspresinya kembali.


Keysa? Kenapa dia disini?


“Oh ini personal assistant saya yang baru, namanya Keysa. Dia mulai kerja hari ini. Dia PA sekaligus sekretaris saya di kantor. Jadi kalau bapak dan ibu ada urusan soal pekerjaan dan tidak dapat menghubungi saya. Tolong sampaikan pada Keysa mulai hari ini.” Jelas Rivanno sambil duduk disebelah Arvin. Dia tersenyum melihat sepupunya yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Keysa.


Meeting berjalan cukup lancar, membicarakan keuangan perusahaan quartal kedua tahun ini dan isu-isu yang mereka temukan dibulan kemarin. Arvin juga sudah mengemukakan keinginannya untuk merekonstruksi posisi orang-orang penting dalam waktu dekat. Mutasi, rotasi, dan promosi jabatan mungkin akan dilakukan dalam beberapa bulan kedepan. Membuat orang-orang yang hadir disana saling menatap ngeri terhadap keputusan Arvin tersebut.


Beberapa diantaranya yang cukup berani mendebat hal tersebut berakhir mendapat tawaran untuk meninggalkan posisinya dan perusahaan. Arvin tidak ingin bawahannya terdiri atas para pembangkang dan orang yang akan menusuknya dari belakang. Meskipun hingga sekarang Arvin masih memikirkan cara untuk menyingkirkan satu-satunya batu sandungan besar didepannya, sepupunya sendiri.


“Lo jangan kemana-mana dulu. Duduk!” Ucap Arvin pada Rivanno yang hendak berdiri dari kursinya, meninggalkan ruangan seperti yang lain.


Mendengar hal tersebut membuat Rivanno terkekeh dan duduk kembali ditempatnya. Keysa dengan setia duduk di dekat atasannya itu. Sepanjang meeting, Keysa tidak bisa berhenti menatap Arvin. Dia sangat keren ketika serius seperti itu. Dulu ketika masih sekolah, saat Arvin menjabat sebagai ketua OSIS dan ketua pensi, Keysa selalu terkagum-kagum melihat sosoknya yang seperti itu.


“Maksud kalian apa kayak gini?” Tanya Arvin menatap Rivanno dan Keysa secara bersamaan.


“Kayak gini gimana?” Rivanno bertanya kembali berpura-pura bingung.


“Key, kenapa kamu bisa kerja sama Ivan?”


“Kontrak dia habis sama perusahaan lamanya, dia butuh duit dan kerjaan. Gue kebetulan punya lowongan sebagai PA karena sekretaris gue mau resign akhir bulan ini. Terus apa salahnya?” Jawab Rivanno santai.


“Aku cuma butuh kerjaan, Vin. Aku butuh uang buat hidup. Kamu tahu pengobatan ibu bikin tabunganku terkuras, kan? Meskipun kamu udah bantuin sekalipun, tapi tetep aja masih banyak yang aku keluarkan sendiri. Kontrak aku ternyata gak diperpanjang sama perusahaan lama karena aku gak perform, banyak absen pas temenin ibu berobat. Aku mau minta tolong sama kamu awalnya. Tapi kamu cut off semua komunikasi kita karena istri kamu cemburu. Makanya aku minta tolong sama Ivan.”

__ADS_1


“Tuh kan, gue bukan orang jahat. Gue bantuin orang yang susah nyari kerja. Lo sih kayaknya punya sentimen pribadi makanya sensi banget gue ambil Keysa jadi PA gue, iya kan?”


Arvin hanya diam mendengar penjelasan dari kedua orang dihadapannya. Entah apa yang harus dia katakan, bingung dengan hal seperti ini. Dia memang tahu tentang kondisi ekonomi Keysa yang kurang baik pasca ibunya sakit. Tawaran membiayai ibunya pun seringkali Keysa tolak, meskipun pada akhirnya dia bersedia juga. Namun Arvin harus tetap berhati-hati terhadap maksud tersembunyi Rivanno mempekerjakan Keysa.


“Kamu gak mau ya aku kerja disini? Kamu bisa pecat aku, Vin.”


“Hey hey.. Si Arvin gak bisa pecat kamu gitu aja tanpa sebab. Aku atasan langsung kamu, Key.”


Arvin tidak menjawab atau mengeluarkan satu patah katapun. Dia tetap membisu memandang keduanya.


“Harusnya yang bantuin aku dalam keadaan sulit itu kamu, Vin. Gak cukup gitu ya ninggalin aku pas ibu baru aja gak ada? Kamu malah mutusin hubungan sama aku karena istri kamu yang cemburuan itu. Aku ngerti kamu gak bisa sama aku lagi, tapi sampe block kontak aku tuh berlebihan tau gak, sih? Sekarang kamu marah karena aku tiba-tiba muncul dan kerja sama sepupu kamu, gitu?”


“Gue keluar aja apa gimana nih? Kalian kalau mau ngomongin masa lalu jangan ada guenya dong.”


“Ngga. Pembicaraannya udah selesai.” Arvin berdiri dari kursinya, “Hubungan aku sama kamu juga selesai. Apapun itu hubungannya, temenan kek atau pacaran. We’re done.” Lanjutnya meninggalkan mereka.


“Arvin!” Teriak Keysa tidak terima.


“Saya atasan kamu disini. Ngomong yang sopan sama saya.” Katanya berbalik sekilas menatap Keysa, kemudian melanjutkan langkahnya keluar ruangan meeting.


Keysa terduduk lemas dikursinya mendengar kata-kata dingin dari Arvin. Sejak tadi laki-laki itu tidak menunjukan simpati apapun terhadapnya. Padahal biasanya Arvin selalu luluh ketika Keysa menceritakan semua kesulitannya. Apakah benar hati Arvin sudah sejauh itu darinya?


Rivanno menjentikkan jari di depan wajah Keysa, menarik perhatiannya yang tenggelam dalam lamunan.


“Key.. Halooo..” Ucap Rivanno, Keysa kemudian memfokuskan tatapan padanya. “Relax, okay? It’s your first day, masih banyak waktu buat kamu meluluhkan si Arvin. Jangan patah semangat. I’m here to help you.”

__ADS_1


Keysa mengangguk. Dia percaya Arvin bisa diluluhkan kembali, seperti yang sering terjadi selama ini. Tidak akan lama. Hubungan dengan perempuan manapun tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya Arvin akan kembali padanya lagi. Selalu seperti itu.


__ADS_2