Halo Arvin!

Halo Arvin!
Pemandangan Pagi


__ADS_3

Pingsannya Nara diacara makan malam keluarga Aditama jelas menimbulkan keributan. Semua tamu langsung merongrong untuk melihat tubuh kecil Nara yang jatuh ke lantai. Penasaran dengan apa yang terjadi pada menantu baru keluarga tersebut.


Untung saja Arvin dengan cepat menggendong dan membawanya ke tempat aman. Salah satu tamu yang berprofesi dokter segera memberikan bantuan. Nara sekarang sudah sadar dan tertidur di kamar yang digunakan Arvin saat tinggal di rumah ini.


“Tenang. Gak apa-apa cuma pingsan aja. Perempuan hamil kadang-kadang bisa tiba-tiba pingsan gini. Mungkin karena perubahan hormon jadi sering pusing dan lemas, sampe pingsan. Bisa juga karena stress, kurang oksigen atau tekanan daranya rendah. Acara kayak tadi banyak orangnya bikin sesak.” Kata Indra menjelaskan.


“Ga perlu dirawat kan, Dra?” Tanya Lena khawatir.


“Ga usah. Udah sadar kok sekarang. Kasih waktu istirahat aja. Tapi kalau masih khawatir, nanti dikonsultasikan aja sama dokter kandungannya.”


Acara hari itu berakhir dengan cepat karena insiden yang menimpa Nara. Lena tidak ingin melanjutkan acara tersebut hingga malam, dia mengantar setiap tamu undangan untuk pulang. Tak lupa meminta maaf karena harus mengakhiri acara dengan cepat.


“Kamu nginep disini aja, Vin. Kasihan Nara kalau harus pulang masih sakit kayak gitu.” Kata Ayahnya saat Arvin hendak masuk ke kamarnya.


Arvin juga tidak berencana pulang cepat melihat kondisi Nara yang seperti itu. Meskipun saat ini dia sangat enggan berada di rumah tersebut.


Dia melihat tubuh Nara dikasur, tidur membelakanginya. Pelan-pelan dia membaringkan diri disebelahnya. Menatap sosoknya yang damai terlelap, terdengar suara napasnya yang lembut. Arvin merasa lega Nara sudah baik-baik saja.


Tak seharusnya Arvin memaksa Nara ke acara ini. Dia benar-benar gelisah dan ketakutan sejak awal. Hingga sepanjang acara dia hampir tak bisa melepaskan gengamannya dari Arvin.


Keluarganya memang aneh, rumit, dan menakutkan. Arvin mengakui sendiri hal tersebut dan membanci jika harus menghadiri acara-acara seperti ini. Apalagi semua ini sangat jauh dari kebiasaan dan gaya hidup Nara.


Rasa bersalah Arvin setiap hari tumbuh tak terkendali. Semua tindakan dan keputusannya selalu saja berakhir salah dan tidak baik untuk Nara. Pertama saat membawanya keacara musik, yang berakhir dengan kurang menyenangkan karena ternyata Nara mendapat banyak tuduhan jelek dari orang lain.


Sekarang Arvin membawanya ke acara keluarga, membuat Nara ketakutan dan gugup hingga pingsan seperti ini. Selain itu dia juga menyaksikan potret ketidakharmonisan didalam keluarga Aditama. Dan mungkin saja Nara juga mendengar Rivanno membahas tentang Key.


Sialan!


Arvin dengan cepat bangkit dari tidurnya. Terduduk dengan tangan memjiat kening. Dia sangat gusar. Apakah Nara mendengar Rivanno membahas tentang Keysa? Sepupunya yang kurang ajar itu memang tidak pernah bisa menjaga perkataannya. Semoga saja Nara melupakannya atau bahkan tak memperdulikan bahasan itu sama sekali.

__ADS_1


Saat ini fokusnya hanya untuk Nara. Arvin ingin dia baik-baik saja hingga waktunya melahirkan nanti. Dia tidak ingin membahas yang lain. Perasaan bersalahnya sudah sangat menyiksa karena perbuatannya pada Nara. Memikirkan hal lain akan membuatnya semakin tak karuan.


Kecupan ringan Arvin daratkan pada punggung indah Nara yang terbuka. Hari ini Nara sangat cantik mengenakan dress midi A-line dengan half lower back berwarna coral. Arvin sangat menyukai penampilan Nara yang terlihat sederhana dan manis.


Tubuhnya dia baringkan lagi disebelah Nara, sekarang Arvin memeluknya dari belakang. Nara pasti protes kalau terbangun dan mendapati Arvin sedang memeluknya seperti ini. Tapi dia tidak peduli.


Arvin hanya ingin merasakan kehangatan tubuh Nara dalam dekapannya, wangi shampoo-nya saat Arvin menenggelamkan wajah ke rambutnya, dan merasakan kulit halus Nara yang sangat menyenangkan untuk indera perasaanya.


...****************...


Pagi itu Nara terbangun, dengan wangi khas Arvin yang memenuhi penciumannya. Nyaman dan menenangkan. Pelukannya juga sangat hangat, melingkupi tubuh Nara yang kedinginan karena suhu AC yang rendah. Saat membuka mata, wajah Arvin begitu dekat. Nara bisa merasakan embusan napasnya. Wajahnya yang tampan menyambutnya seperti pemandangan pagi yang indah.


Namun Nara tersadar dengan keadaannya sekarang yang terlelap dalam dekapan Arvin, dia langsung mendorong tubuh itu menjauhinya. Membuat Arvin terbangun karena pukulan Nara.


“Ngapain sih lo? Manfaatin keadaan banget.” Seru Nara marah.


Arvin menggeliat malas, “Jangan ribut pagi-pagi. Ini bukan rumah kita.” Suara serak Arvin saat bangun tidur terdengar sangat seksi.


Hah?


“Udah baikan?” Lanjut Arvin sambil mengelus pipi Nara dengan ibu jarinya. Langsung saja tangan tersebut Nara tepis.


Pemandangan ruangan ini asing untuk Nara. Kamar luas dengan dekorasi minimalis, cat berwarna putih, furniture didominasi warna hitam dan abu-abu. Bahkan bed cover yang sedang Nara tiduri pun berwarna kelabu. Tak ada pajangan, foto, atau hiasan apapun yang mendekorasi tempat ini.


Nara tidak begitu mengingat apa yang terjadi semalam sebelum kesadarannya hilang dan kakinya yang lemas tak terkendali. Dia hanya secara samar melihat Arvin hendak memukul seseorang karena berbicara tentang Key.


Hah? Siapa Key?


“Ini dimana?”

__ADS_1


“Rumah si kumis. Kamar yang gue tempatin pas tinggal disini, dulu pas masih kecil.” Kata Arvin santai. Masih berbaring dengan kepala berumpu pada sebelah tangan, memperhatikan Nara yang bingung dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


“Emang setelah remaja lo ga tinggal disini?”


“Ngga. Gue cuma tinggal disini sampe umur gue 9 tahun.”


“Abis itu lo tinggal dimana? Pesantren?”


Arvin tertawa terbahak, “Lo emang liat gue modelan anak keluaran pesantren?”


“Ngga sih. Lo lebih kayak anak berandalan. Tapi siapa tahu, Pak Candra pernah masukin lo ke pesantren biar lo tobat.”


Arvin masih tertawa mendengar dugaan Nara tentang dirinya, “Gue gak masuk pesantren. Gue dibuang. Disuruh tinggal di rumah nenek.” Kata Arvin masih dengan derai tawa.


“Kenapa?” Tanya Nara serius.


“Penasaran?” Senyum jahil tersungging dari bibir Arvin.


“Ngga. Lo aja yang ngasih tau ga sampe beres.” Kata Nara kesal.


“Ngapain gue harus cerita sampe beres?” Arvin masih terus menggoda Nara dengan jahil. Membuat gadis itu kesal karena penasaran dengan lanjutan cerita Arvin.


“Udah ah bodo amat!”


Nara turun dari tempat tidur. Saat menjejakkan kakinya kelantai, dia tidak mampu menopang tubunya kemudian terjatuh karena lemas. Arvin kaget mendengar suara gedebuk akibat Nara terjatuh. Cepat saja dia terbangun dan membantu Nara agar bisa berdiri.


“Lo beneran udah baikan?” Kata Arvin khawatir. “Kalau lo masih lemes dan pusing, gue gendong aja. Lo mau kemana?”


“Apaan sih, Vin? Udah lepasin. Gue mau mandi.” Kata Nara melepas belitan tangan Arvin.

__ADS_1


Namun Arvin malah menggendong Nara. Jelas saja semakin kencang protesnya. Menjambak dan mencubit Arvin dengan sekuat tenaga. Semua itu percuma, Arvin malah tertawa, semakin jahil dengan memutar-mutar tubuh Nara yang berada dipangkuannya sebelum dia turunkan di depan kamar mandi.


“Cowok ngeselin!” Kata Nara sambil menutup pintu kamar mandi, tepat di wajah Arvin.


__ADS_2