
“Ngapain sih ada acara sarapan bareng segala?”
“Biar keliatan kayak keluarga beneran.”
Biasanya banyak hal yang Nara tidak cocok atau tidak dia sepakati dengan Arvin. Tapi kali ini mereka berdua satu suara. Ingin cepat pergi dari rumah ini dan berhenti berpura-pura bahwa semua orang ini adalah keluarga.
Meskipun begitu, mereka tetap melangkahkan kaki ke ruang makan. Disana sudah ada Candra, Lena, Angga, Audrey, Widia, sepupu Arvin yang semalam Nara temui dan 2 orang lain yang tak Nara ketahui. Mereka bergabung di meja makan yang sudah tersedia berbagai makanan mahal dan enak.
“Pengantin baru pagi-pagi ribut banget. Seneng yaa.” Goda Audrey mencairkan suasana. Pasti mereka semua mendengar keributan yang dibuat Arvin dan Nara tadi dikamar karena kelakuan jahil Arvin.
“Ya dong. Daripada lo, jomblo!” Jawab Arvin sekenanya.
Audrey langsung menoyor kepala Arvin yang duduk disebelahnya. “Gue ga jomblo ya. Enak aja.” Balasnya.
“Kamu udah enakan, Ra?” Tanya Lena yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Nara. “Makan yang banyak. Tuh nasinya belum ngambil.” Lanjutnya.
“Nara ga makan nasi. Bikin dia mual.” Jawab Arvin.
“Hapal banget lo, Vin. Suami idaman ya.” Sindir Rivanno. Arvin langsung menatap tajam kearahnya, yang dibalas dengan cengiran menyebalkan.
“Kamu kayaknya belum kenalan sama sepupu-sepupu Arvin. Mereka dateng telat kemarin. Ini Rivanno, Rania, dan suami Widia, Tio.” Kata Lena menunjuk orang-orang itu satu persatu. Nara hanya mengangguk dan tersenyum membalas tatapan ketiga orang itu.
“Kemarin aku udah ketemu Nara kok, sebelum dia pingsan.” Kata Rivanno ceria. “Inget, kan?” Lanjutnya tersenyum. Nara hanya mengangguk. Sementara Arvin memasang wajah sebal pada sepupunya.
“Kalian pacaran berapa lama sih?” Tanya Rivanno menatap Nara.
“Penting buat lo?” Serang Arvin tak senang.
“Ya gue penasaran aja. Kok bisa sampe lo ngelakuin..” Rivanno tersenyum tak menuntaskan kalimatnya. Semua orang sudah tahu apa kelanjutannya.
Nara bisa melihat dari sudut matanya kalau Arvin sangat kesal hingga menggenggam sendok ditangannya dengan kuat. Mungkin jika tidak sedang berada ditengah keluarga, sendok tersebut sudah melayang mencungkil mata Rivanno.
“Ivan, udah.” Kata Lena tegas. “Lagi makan. Jangan terlalu banyak ngomong.”
__ADS_1
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi di meja makan. Hanya suara denting ringan saat alat makan saling beradu. Mereka sibuk menikmati makanan. Mungkin. Atau sebenarnya saling mencaci di dalam hati dan ingin segera mengakhiri sarapan bersama yang penuh kepura-puraan ini.
“Kalian kapan pulangnya?” Tanya Candra setelah selesai makan. Mereka kini menikmati dessert. Pie buah yang manis untuk mengakhiri sarapan yang canggung.
“Abis ini kita pulang.” Jawab Arvin.
“Kok cepet banget? Hari ini kan libur, Vin.”
“Aku ada latihan band nanti siang.” Jawab Arvin berbohong. Sebenarnya dia jarang latihan, hanya sekadar kumpul bersama teman-temannya saja. Itupun tidak sering, hanya kalau Nara sudah marah-marah dan kesal melihat mukanya di penthouse, kemudian mengusir Arvin.
“Kok masih latihan band sih? Kamu tuh udah nikah, Vin. Masih kekanakan gitu, masih nge-band segala.” Protes Lena.
“Ya emang kenapa udah nikah masih nge-band? Kan ga bikin lepas tanggung jawab jadi suami juga.”
“Kalau libur tuh ajak istri kamu jalan-jalan, cari hiburan. Bukan sibuk sendiri kayak gitu.”
“Iyaa.” Arvin cuma menjawab singkat dan merengut kesal karena diceramahi oleh Lena.
Nara sebenarnya tidak keberatan Arvin sibuk bermain band dengan teman-temannya. Dia tidak terlalu suka kalau Arvin terus di rumah. Arvin berisik dan selalu membuatnya emosi. Setiap libur dia hanya bermain game di komputernya sambil berteriak-teriak dengan kata-kata kasar. Atau menggenjreng gitarnya, membuat Nara tidak bisa tidur siang. Lebih baik dia menghilang saja setiap hari libur.
...****************...
Ruangan ini sangat familiar untuk Nara. Pada saat kunjungan kemari, dia selalu diterima disini. Berjam-jam menunggu atasannya memeriksa dokumen dan menjelaskan beberapa masalah perihal perusahaan yang harus segera diselesaikan.
Ruangan yang sama. Orang yang sama. Tetapi sekarang mereka duduk berdua dengan hubungan yang berbeda. Ayah mertua dan menantu. Lidah Nara juga belum terbiasa memanggil orang di depannya dengan sebutan ayah. Nara masih menganggapnya sebagai atasan.
Selama menjadi atasannya, Candra dikenal sebagai pribadi yang baik, hangat, dan cerdas. Nara selalu mengagumi kepiawaiannya dalam berbisnis. Sebenarnya Arvin dibeberapa sisi sangat mirip ayahnya. Namun keputusan bisnisnya lebih liberal dan segar dibandingkan Candra.
“Gimana Arvin, baik sama kamu?” Tanya Candra memulai pembicaraan mereka.
Pertanyaan yang sama juga diajukan Audrey padanya. Entah seperti apa Arvin yang dikenal oleh keluarganya hingga pertanyaan sejenis itu muncul berulang. Mungkin sebenarnya Arvin memang anak badung, berandalan, dan menyebalkan. Hingga keluarganya saja perlu menanyakan bagaimana dia bersikap pada orang lain.
“Baik kok.” Jawab Nara enggan. Tentu saja Nara tidak pernah menganggapnya begitu.
__ADS_1
“Ga usah bohong. Arvin emang... susah buat ditangani.” Kata Candra sambil tertawa. “Paling ngeyel dan susah dibilangin. Kamu juga sendiri tau kan pas ngehubungin Arvin dulu biar dia bisa gantiin posisi ayah.”
Nara mengengguk dan tersenyum canggung. Makhluk sialan itu memang cobaan berat bagi Nara saat bekerja. Sekarang statusnya malah meningkat menjadi cobaan hidup.
“Ayah mau minta maaf sama kamu. Secara ga langsung, semuanya salah ayah. Ga didik Arvin dengan baik, sampai bisa jadi laki-laki jahat kayak gitu sama kamu.”
“Tapi semuanya udah kejadian. Sekarang yang penting kamu sama Arvin hidup yang baik, biar anak kalian juga bisa jadi orang baik. Ga ngelakuin kesalahan kayak orang tuanya.”
Nara tidak pernah memikirkan sebelumnya, akan jadi apa dan seperti apa anak yang dikandungnya ketika lahir. Dia tidak punya harapan apapun untuknya. Mempertahankannya untuk terus hidup saja bagi Nara adalah keputusan besar dan sulit. Membesarkannya? Nara tak punya bayangan sama sekali. Itu urusan Arvin. Dia yang akan membesarkannya setelah ini.
“Sebenarnya ayah juga mau minta tolong sama kamu, buat jagain Arvin. Seandainya suatu saat ayah udah ga ada. Arvin nanti yang bakal jadi pemimpin perusahaan dan kepala keluarga, akan berat kalau dia harus ngejalaninnya sendiri tanpa pendamping. Tapi untungnya dia udah punya kamu sekarang. Ayah ga khawatir lagi.”
Tunggu. Tunggu.
Nara tidak pernah berniat mendampingi Arvin selama itu. Dia hanya akan menikah dengan Arvin sampai anak mereka lahir. Nara tidak ingin ada beban apapun selain itu. Apalagi mendampingi Arvin untuk jadi kepala keluarga dengan orang-orang yang terlihat saling memusuhi seperti ini. Pantas Arvin tidak mau.
“Kenapa ga Pak Angga aja yang jadi penerus?” Tanya Nara bingung. Ya. Harusnya dia, bukan Arvin. Jangan Arvin, dia hanya akan membuat masalah saja.
Candra kaget mendengar pertanyaan Nara, “Loh? Emang Arvin ga bilang sama kamu kalau Angga sama Audrey itu bukan ayah ya?” Katanya menyelidik. Nara hanya menggeleng bingung “Mereka diadopsi pas masih kecil. Soalnya Lena ga bisa punya anak.” Lanjutnya sambil tersenyum pahit.
Nara sangat terkejut dengan informasi yang baru saja dia dengar. Selama ini tidak ada satu orangpun dikantor yang pernah membahas tentang status kedua anak tertua Candra. Apa mungkin karena tidak ada yang tahu? Tapi kenapa cerita tentang Arvin sangat banyak bertebaran dengan berbagai versi?
Banyak pertanyaan muncul dibenak Nara sekarang. Kenapa Arvin tidak tinggal disini selama remaja? Kenapa dia dibuang dan tinggal di rumah neneknya? Bagaimana dengan ibu kandungnya? Kenapa Arvin sangat membenci ayahnya?
Sial!
Sekarang Nara jadi penasaran dengan kehidupan laki-laki menyebalkan itu. Satu lagi hal yang harus menjadi catatan untuk Nara, keluarga ini sangat aneh dan rumit.
Bisa saja Nara bertanya langsung pada Candra. Tapi melihatnya dalam keadaan seperti sekarang, rasanya kurang bijak mengorek informasi masa lalu.
Arvin juga pasti tidak akan menceritakan apa-apa padanya. Dia hanya akan menggodanya seperti tadi pagi saat Nara mulai penasaran dengan cerita hidupnya. Lagipula ini semua tidak penting. Dalam hitungan bulan, Nara akan meninggalkan keluarga ini.
Pembicaraan berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan yang menyenangkan. Candra memang baik dan dekat dengan Nara. Tapi kali ini rasanya berbeda. Nara merasa Candra sekarang adalah sosok ayah, yang Nara rindukan. Karena sekarang ayah Nara tidak mengakuinya, bahkan tidak ingin berbicara dengannya lagi.
__ADS_1