Halo Arvin!

Halo Arvin!
Resemble


__ADS_3

Nara berdiri canggung melihat kedua laki-laki di depannya yang sedang sibuk bersenda gurau. Arvin tidak terlihat masam dan kaku seperti saat diacara keluarga Candra. Malahan sekarang dia terlihat sangat nyaman, terus tersenyum dan tertawa. Mungkin keluarga dari sisi ibu kandungnya tidak terlalu buruk. Tapi tetap saja ada ketakutan dihati Nara.


Dia tidak mempersiapkan apapun. Buah tangan atau sesuatu untuk dibawa. Membuatnya semakin khawatir. Dia mengingat kembali bagaimana Widia menginterogasinya, serta menuduhnya bukan perempuan baik-baik karena hamil diluar nikah.


“Ini sepupu aku. Sepupu jauh kayaknya.” Kata Arvin memperkenalkan laki-laki yang sedari tadi mengajaknya berbincang.


“Dilan.” Katanya sambil tersenyum menjabat tangan. Nara sedikit terperanjat mendengar nama tokoh fiksi terkenal ternyata ada versi nyatanya. “Bohong deh, Galih.” Lanjutnya lagi usil. Nara langsung bisa melihat kemiripan antara Galih dan Arvin dari selera humornya yang garing.


Mereka memasuki rumah. Suasana nyaman dan sejuk langsung terasa saat duduk di ruang tamu yang tak begitu luas. Berbeda dengan kediaman Aditama yang kuar biasa mewah. Rumah ini sederhana tapi membuat hati Nara nyaman. Seperti kembali ke rumah.


“Mah, Enin, ada Shaka nih.” Teriak Galih kemudian berjalan ke arah dapur.


Nara menatap bingung pada Arvin, “Shaka?”


“Arshaka.”


“Ah. Kok dipanggil itu?” Balas Nara. Aneh mendengar Arvin dipanggil dengan nama tengahnya tersebut.


“Orang Sunda dulu gak bisa nyebut ‘V’ semuanya jadi 'P'. Jadinya Arpin. Aku nangis-nangis waktu SD karena Enin  manggilnya begitu. Jadi jelek.”


Nara tidak bisa menahan tawanya. Arvin memang aneh. Dua tidak suka terlihat jelek, meskipun hanya alergi biasa yang membuat kulitnya memerah. Sekarang dia tidak ingin dipanggil dengan nama yang jelek. Orang aneh sok kegantengan!


Dua orang perempuan keluar dari dapur didampingi oleh Galih. Satu orang perempuan paruh baya berkaca mata mendorong nenek-nenek yang terlihat rapuh dan renta. Arvin segera mencium tangan keduanya. Nara mengikuti apa yang Arvin sebelum akhirnya duduk di sofa kembali.


“Budak iyeu meni tara kadieu. Gak ngabarin juga pas nikah. Parah.” Kata Perempuan berkacamata. (Anak ini ga pernah datang kesini)


“Maaf ya, Wa. Aku sibuk. Nikahnya juga sederhana aja kok.”

__ADS_1


Arvin mempekenalkan perempuan tersebut adalah tantenya, Arifah. Sementara nenek yang berada di kursi roda adalah adik dari nenek Arvin. Mereka menyambut Nara dengan ramah. Tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh dan interogasi yang membuat Nara takut.


“Enin kok makin cantik sih?” Tanya Arvin menggoda sambil duduk dilantai menghadap neneknya yang berada dikursi roda.


“Euh. Kebiasaan si Shaka mah gombal.” Protes Arifah.


Neneknya hanya tersenyum, menampilkan gigi yang nyaris ompong.


“Enin, Shaka udah punya istri loh. Bentar lagi punya anak.” Lanjut Arvin ceria, mendongak dan menatap lembut neneknya. Persis seperti anak kecil yang sedang mengadu. Nara baru pertama kali melihat Arvin seperti itu.


“Saha?” Tanya neneknya parau. (Siapa?)


Arvin menggenggam tangan Nara dan menyuruhnya mendekat. Nara ikut duduk di lantai bersama Arvin. Menatap wajah neneknya yang berkerut karena keriput. Tapi wajah tersebut terlihat ramah dan senang saat melihat Nara.


“Meni geulis. Jiga Neng Kartika.” (Cantik banget. Mirip Kartika.) Kata neneknya mengelus kepala Nara “Nuju hamil sabaraha bulan?” (Lagi hamil berapa bulan?) Lanjutnya.


“4 bulan, Nin.” Jawab Arvin.


Mereka berlima terus mengobrol dengan santai. Nara merasa lebih nyaman dan diterima dengan baik disini. Arifah me membawakan album-album foto lama dan menceritakan tentang masa kecil Arvin yang sering berkunjung kesana ketika kecil.


Foto-fotonya juga ikut dipajang dibingkai kayu pada dinding rumah. Menandakan keberadaan Arvin hidup ditengah mereka. Nara teringat kamar lama Arvin di rumah ayahnya, kosong tanpa foto-fotonya menggantung dan menghiasi rumah. Tak ada satupun jejak tentang dirinya disana. Seperti keberadaannya tak pernah ada sejak awal ditengah keluarga tersebut.


Arifah membawa nenek ke kamarnya untuk meminumkannya obat stroke-nya. Sementara Galih menyiapkan motor yang akan dipinjam Arvin untuk mengajak Nara jalan-jalan. Tinggalan mereka berdua di ruang tamu.


Nara masih sibuk membuka tumpukan album foto lama. Menarik melihat Arvin ketika masih kecil. Sejak dulu dia terlihat ganteng, lebih ganteng dibandingkan sepupunya yang lain. Nara jadi penasaran, apakah anaknya akan mirip dengan Arvin juga?


“Ini siapa?” Tanya Nara menunjuk salah satu foto perempuan di dalam album. Terlihat manis menggunakan jaket jeans. Bergaya seperti remaja di tahun 80-an. Dibawahnya tertulis Kartika Indrina (17 Tahun) menggunakan tinta biru. Kemudian teringat nama yang tadi disebut oleh nenek Arvin.

__ADS_1


“Mama.” Jawab Arvin cepat. “Waktu masih muda.”


Nara menatap lekat foto tersebut. Terasa aneh dan tak asing. Lengkungan bibir membentuk senyumnya, gayanya, dan perawakannya mengingatkan pada seseorang. Dirinya sendiri. Meskipun Nara tidak mengatakan mereka sangat mirip. Tapi Nara seperti melihat dirinya sendiri di foto tersebut.


Nara tidak berani menatap Arvin. Dia melanjutkan membalik halaman album foto tersebut, yang menampilkan lebih banyak foto ibu kandung Arvin. Semakin dilihat. Rasanya Nara semakin yakin, bahwa mereka berdua memiliki kemiripan. Entah pada bagian mana.


...****************...


Arvin meminjam motor Galih untuk berkeliling dan mengajak Nara jalan-jalan. Kemacetan membuat Arvin malas menggunakan mobilnya. Dia menitipkannya di rumah Galih.


Setelah membeli dua tangkup roti Gempol rasa cokelat dan keju, mereka duduk disalah satu bangku dibawah pohon rindang dekat Gasibu. Melihat anak-anak berkejaran, bermain, beberapa orang masih berolahraga meskipun matahari mulai meninggi. Arvin juga memesan es doger untuk berdua.


Arvin mengatakan dia malas pergi ke tempat-tempat wisata yang dipenuhi orang dan kemacetan. Dia hanya ingin berjalan-jalan ditengah kota tak tentu arah dan duduk ketika lelah. Nara hanya mengikuti saja, meskipun agak kecewa karena tujuannya untuk berlibur disana. Tapi dia tidak mau protes dan hanya mengikuti kemauan Arvin. Lagipula Nara juga tidak terlalu mengenal Bandung.


“Ngapain lo ngajakin ke rumah keluarga lo disini?” Tanya Nara menggigit roti bakar gandum yang wangi berisi cokelat keju.


“Biar kamu bisa kenalan sama mereka.” Kata Arvin ikut menggigit rotinya. “Keluargaku gak semuanya rumit dan menakutkan kok. Aku mau liatin sama kamu orang-orang yang tumbuh bareng aku.”


“Biar apa?”


“Biar kamu cepet sayang sama aku.”


“Dih hubungannya apa?”


“Aku mau liatin aja hal-hal yang gak aku liatin ke orang lain. Cuma kamu doang yang aku kenalin ke keluarga mama, jalan-jalan naik motor pake sendal jelek punya si Galih, duduk di Gasibu jajan sembarangan. Terus nanti ngunjungin tempat yang sering didatengin tiap datang ke Bandung sama nenek.”


“Kemana emang?”

__ADS_1


“Museum.”


Arvin berdiri dari tempat duduknya. Mengibaskan remahan roti yang mengotori baju serta celananya. Menunggu Nara ikut bangkit dari tempat duduk, kemudian mengikutinya ke tempat parkir.


__ADS_2