
Keysa menatap tajam Nara, tidak terima dengan kata-kata merendahkan yang keluar dari mulut perempuan tidak tahu diri itu. Padahal dia yang menggoda Arvin hingga terjerumus kedalam pernikahan yang tidak diinginkannya.
“Gak salah tuh lo bilang murahan? Yang ngegoda Arvin dan hamil duluan siapa ya?” Ucap Keysa tak bisa menyembunyikan lagi emosinya.
“Key, udah Key—” Lerai Aldi.
“Kalau lo sahabat lama Arvin, pasti lo tau kejadiannya kayak gimana. Gue? Ngegoda dia duluan? Najis!” Ucap Nara sambil tersenyum mencoba tenang. “Oh atau lo bukan sahabat beneran, sampe Arvin gak ngasih tau detailnya kayak gimana? Aldi sama Eka tau. Kok lo nggak? Bukan sahabatnya ya? Dibuang sama Arvin sampe ngemis-ngemis perhatian?” Lanjutnya.
“Lo kurang aj—” Keysa meraih lengan hoodie yang dikenakan Nara. Membuatnya tersentak kedepan dan menabrak meja.
“Hey hey stop stop!” Kata Eka panik melerai. Melepaskan cengkraman Keysa pada nara.
“Cewek murahan! Lo pasti ngejebak Arvin biar dia kawin sama lo kan? Ngejebak bos lo sendiri biar dapetin duitnya! Pake tubuh lo biar Arvin tunduk sama lo!” Teriak Keysa. Eka menahannya agar tidak menyerang Nara.
“Keysa!” Bentak Arvin yang baru turun dari lantai 2, mendengar suara keributan dibawah. Segera saja dia menghampiri sumber keributan tersebut dan mendapati Keysa sedang berteriak emosi pada Nara.
Gawat!
Kenapa harus ada masalah seperti ini segala sih?
“Jangan ngomong sembarangan kayak gitu. Kita udah bahas ini berulang kali, kan? Yang salah aku, jangan hujat Nara dengan tuduhan yang dia gak lakuin.” Kata Arvin emosi.
“Kamu tuh kenapa sih, Vin? Udah dicuci otaknya kan sama dia? Karena dia hamil anak kamu? Sampe kamu gak mau lepas sama dia?” Keysa merasa sangat tersakiti melihat Arvin malah membela Nara. Kenapa Arvin tidak membelanya seperti yang sering dia lakukan ketika bermasalah dengan mantan-mantan pacar Arvin yang lain?
“Ya makanya stop! Aku gak bisa lepas sama Nara karena aku sayang sama dia. Udah stop! Jangan rendahin diri kamu kayak gini! Kita udah lama putus, dan kamu selalu kayak gini tiap kali mau balikan, insult cewek yang deket sama aku. It’s different now, Key. Because I love her dan kita udah gak ada hubungan apa-apa.” Ucap Arvin tegas.
Seumur hidupnya Arvin pikir tidak akan bisa mengatakan semua itu pada Keysa, tapi ternyata bisa. Mendengar langsung hinaan pada Nara membuat emosinya naik ke kepala. Entah Keysa atau siapa saja tidak ada yang boleh mengatakan hal tersebut pada istrinya. Arvin yang salah, dia tahu itu dengan baik. Tapi orang terus-terusan berpikir Nara yang menggodanya. Membuat posisi Nara sangat sulit selama ini.
Mungkin memang benar, ketika hati dan pikirannya sudah menentukan pilihan. Semua pintu menuju hati yang lain tertutup begitu saja. Arvin untuk pertama kalinya semenjak mengenal Keysa, tidak merasakan simpati dan keharusan untuk melindunginya. Saat ini dia hanya fokus memikirkan perasaan Nara saja. Ingin istrinya itu baik-baik saja.
“Ayo pulang!” Arvin setengah menyeret Nara. Menggenggam lengannya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Emosinya belum mereda. Begitupun kecemburuan dan perasaan marah yang berkilat-kilat dihati Nara. Sepanjang perjalanan Nara hanya diam. Mengulang kembali pertemuan tanpa sengaja yang menyebalkan dan membuatnya kehilangan kesabarannya.
...****************...
__ADS_1
“Kamu masih marah?” Tanya Arvin sambil menjatuhkan diri di sofa.
Nara masuk ke dapur mengambil sebotol air minum dingin dari lemari es, dan kembali ke ruang tengah masih bermuka masam. Meminum air dingin tersebut cepat, menghilangkan dahaga yang membakar kerongkongannya dan panas dihatinya yang berkobar. Kemudian menatap Arvin dengan kesal. Dia berdiri di depan Arvin sambil merengut sebal.
“Kok marahnya jadi ke aku sih?”
“Kan dia mantan kamu!”
“Terus marahnya jadinya sama aku, gitu?” Arvin tersenyum kemudian menarik tangan Nara agar tubuhnya mendekat. Nara terlalu emosi hingga tak sadar sudah berada di pangkuan Arvin. Saling berhadapan.
“Kamu tuh masa marahin dia gitu doang? Gak serem sama sekali. Masih lemah kan kamu kalau dihadapan dia?”
“Harusnya aku kayak gimana?” Arvin menggenggam rambut Nara, memeganginya kebelakang hingga terlihat leher putihnya yang indah. Dia beberapa kali mendaratkan kecupan disana. Nara tidak bereaksi dan tetap mengomel.
“Hajar kek atau gimana gitu? Sebel aku liat kamu gak tegas kayak tadi.”
Arvin tertawa singkat, “Nanti aku dilaporin kepolisi, kena pasal penganiayaan dong?” Arvin mengangkat hoodie yang dikenakan Nara hingga terlepas. Menarik resleting dibelakang dress hamil Nara hingga kebawah. Nara tidak bereaksi, masih tetap mengomel.
“Tapi dia narik tangan aku sampe aku kepentok meja, Vin.”
“Terus ada yang sakit?” Arvin menarik kebawah dress Nara, melepaskan lengan-lengannya dari pakaian tersebut hingga yang terlihat hanya bra menutupi dada Nara. Tapi Nara juga tetap tidak bereaksi, dia masih mengadu pada Arvin dengan sedih.
Arvin memeluk Nara, sedikit mendongak menatap wajah Nara yang masih emosi. “Ya udah, sekarang aku bakal bikin kamu gak bad mood lagi.” Ucap Arvin sambil tersenyum. Mengecup singkat bibir Nara.
Arvin menjatuhkan tubuh Nara ke bagian sofa yang kosong disampingnya. Kemudian mencium Nara yang terlentang pasrah disana, bibir mereka bertemu dengan penuh kelembutan, Arvin memagutnya, menelusuri dan membelit dengan lidahnya dalam mulut Nara.
Seketika Nara baru tersadar sudah dalam posisi paling tidak menguntungkan dan membahayakan hidupnya. Bibirnya sudah dipagut dengan ganas. Dia juga baru menyadari rasa dingin dari AC yang menembus kulitnya karena pakaian yang dia kenakan setengah melorot dari tempatnya. Membiarkan salah satu tangan Arvin menangkup dadanya dan memilin puncaknya. Membuat seketika emosi Nara luruh berganti dengan perasaan geli dan nikmat yang aneh.
“Emmmp..” Erang Nara yang sulit berteriak diantara permainan bibir Arvin.
Setelah puas dengan kecupan intensnya, bibir Arvin mulai menyapu leher jenjang Nara. mengecup dan menggigitnya singkat hingga muncul berkas kemerahan disana. Berpola karena kecupan tersebut terus turun kebawah. Melahap salah satu aset Nara yang terbebas dari jarahan tangannya yang nakal.
“Uhh..” Lenguhan lepas dari mulut Nara, yang dengan cepat dia tutup dengan salah satu tangannya.
Ini salah Arvin!
__ADS_1
Lidahnya yang hangat dan menggelikan itu mulai bermain dipuncak aset rahasianya. Membuat Nara hilang kewarasan dan ketenangannya. Sekarang yang dia inginkan hanya terisak dan mengerang serta mengeluarkan suara paling tidak senonoh dari mulutnya. Sekuat tenaga Nara menahan dengan telapak tangannya. Sedangkan tangan yang lain sibuk menjambak rambut Arvin yang sekarang sedang menikmati gumpalan lemak paling indah ditubuh perempuan, keduanya secara bergantian.
Menyadari Nara terus menahan suaranya, Arvin menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Nara yang berada dibawahnya dengan kesal sambil menyingkirkan tangan dari mulutnya.
“Jangan ditahan. Teriak aja.” Bisik Arvin ditelinga Nara.
“Gak.. mau..” Jawab Nara diantara isakan dan napas yang terengah-engah.
“Kenapa?”
“Malu.” Nara menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Arvin tertawa kecil. Tangannya kemudian menggapai remote yang berada diatas meja dekat sofa. Menyalakan Smart TV tersebut, memilih menu spotify. Secara random Arvin memutarkan playlist yang berada paling atas dan sering dia dengarkan. 10s Rock Anthems.
Suara mulai terdengar nyaring mengisi kekosongan dan hening disekitar. Lagu Can You Feel My Heart dari Bring Me The Horizon bermain pada daftar pertama. Seharusnya Arvin memilih kumpulan lagu Jazz atau RnB yang membuat suasana menjadi romantis, tapi dia tidak peduli dan ingin melakukan ini dengan cepat. Lagipula Nara butuh musik keras untuk menenggelamkan suaranya saat Arvin menyerang.
“Teriak aja. Aku gak akan bisa denger, aku dengerin musik kok.” Ucap Arvin.
Dia mulai melucuti kembali pakaian Nara hingga tak bersisa sehelai benangpun menutupinya. Entah untuk kebarapa kali, Arvin terus terpesona pada keindahan Nara. membuatnya begitu bersemangat seketika. Ingin menjelajah disetiap inci kulit putih dan halus seperti pualam tersebut.
Kedua paha Nara yang berada dipinggang Arvin diangkat seketika, kemudian wajahnya dia tenggelamkan diantara kedua paha tersebut. Menelusuri bagian inti yang sekarang membuat Nara menegang dan berteriak tiba-tiba.
“Ahh.. Ar.. vin.. Jangan..” Erang Nara putus asa, sambil menjambak rambut Arvin dengan kedua tangannya. Berharap laki-laki itu segera mengangkat kepalanya yang berada diantara pahanya, dan berhenti menggerakkan lidahnya disana. Nara terisak, menangis, dan menjerit. Melepaskan perasaan aneh, hingga sekujur tubuhnya menggeliat hebat hingga berakhir lemas seperti makhluk tak bertulang. Beriringan dengan suara lagu We Own The Night dari Dance Gavin Dance.
Arvin merasa bangga sudah membuat Nara mencapai puncak pertamanya seperti tadi. Tanpa membuang waktu, Arvin mulai memasuki inti Nara yang terasa hangat dan basah. Dia mengingat perasaan ini sebelumnya, menantikannya kembali setelah berbulan-bulan menahannya.
“Uuhh Ahhh.. ar.. vin..” Hanya itu yang bisa Nara ucapkan seiring gerakan Arvin yang cepat. Menembus petahanannya. Menghabisi kewarasannya hingga dia tidak bisa berpikir apapun dan hanya meneriakan nama Arvin setiap membuka mulutnya. Nara menyerah. Dia tidak akan melawan lagi. Membiarkan Arvin memandunya menuju perasaan sakit, aneh, dan paling nikmat yang bisa dia rasakan seumur hidup.
Suara lagu Do I Wanna Know? Dari Arctic Monkeys seperti menuntun setiap gerakan teratur yang dibuat Arvin ditubuh Nara. Suara tersebut terdengar sangat seksi, mungkin karena diantara lagu tersebut ada suara Nara yang terus memanggil namanya dengan putus asa. Membuatnya semakin menggila. Nara salah jika mengira suaranya tenggelam ditengah musik, karena yang Arvin dengarkan hanya erangan dan desa han Nara saja diruangan ini.
Diantara remang-remang ruangan tengah dan musik yang menyala keras. Arvin menuntaskan pengalaman keduanya mengambil sesuatu yang berharga dari Nara, melambungkannya hingga ke puncak. Ditempat yang sama, dimana dia merenggut kesucian Nara. Di sofa ruang tengah penthouse-nya.
Oknum yang suka minta jatah 😆
__ADS_1