
Nara sekarang mulai rajin mencari barang-barang kebutuhan bayinya di internet. Sedikit demi sedikit persiapan untuk si penghuni baru rumah mereka akan segera selesai. Meskipun masih banyak peralatan lain yang masih belum dibelinya dan dipilih secara hati-hati, berdasarkan saran dari Amelia dan juga ibu-ibu di forum kehamilan yang Nara ikuti.
Menjelang kehamilannya yang hampir 8 bulan, tidak terlalu banyak aktivitas yang Nara lakukan. Hanya olahraga dan berjalan-jalan sore di dampingi oleh Arvin. Sesekali dia juga berenang. Awalnya Nara akan mengikuti kelas renang khusus untuk ibu hamil, setelah mengetahui coach-nya seorang laki-laki, Arvin dengan tegas melarang Nara mengikutinya.
Arvin sendiri yang menemaninya berenang, menyewa private pool untuk berdua dan mengajarinya berenang untuk ibu hamil seperti yang dipelajari di internet. Kelas yoga juga Nara ikuti, dan Arvin selalu menemaninya.
Rasanya kebahagiaannya tak habis-habis akhir-akhir ini. Nara terus bersyukur dengan semua hal baik yang terjadi padanya. Apalagi bersama Arvin, semua hal sangat menyenangkan.
Hari itu Nara sedang sibuk dan fokus menatap layar iPad di tangannya, sambil bersandar dengan nyaman di sofa ruang tengah, meluruskan kakinya, dan sesekali tangannya mengambil camilan yang terserak di sampingnya. Sore yang sangat damai dan indah.
Arvin keluar dari ruang kerjanya, duduk disamping Nara kemudian memeluknya dan mengusap lembut perut buncit Nara, yang semakin hari semakin besar. Kecupan singkat Arvin daratkan di perut tersebut.
“Dedek lagi ngapain sih? Main sini sama Papa,” ucap Arvin sambil terus mengelus.
“Lagi males main. Dedek udah gak banyak tingkah kayak dulu, di dalem udah sempit kayaknya. Kasihan ruang geraknya jadi sedikit,” Balas Nara.
“Yah… Padahal Papa kangen loh lihat kaki Dedek yang muncul tiba-tiba di perut.” Arvin sedikit kecewa mendengarnya.
“Sebentar lagi juga ketemu. Nanti kakinya nendang langsung ke muka ngeselin kamu. Ya kan, Dek?”
“Jangan di dengerin ya, De! Ada cewek yang iri nanti cinta Papa terbagi sama kamu.”
Nara mencibir, memutar bola matanya dengan sebal.
“Kamu lagi ngapain sih?” Tanya Arvin melihat Nara yang sudah sibuk kembali menatap layar iPad.
“Aku lagi nyari nama buat anak kita.”
“Emang harus sekarang ya?”
__ADS_1
“Ya harusnya kapan dong? Pas baru lahir gitu nyari namanya? Semuanya harus persiapan dari sekarang. Gimana sih, yang begini aja sampe gak ngerti. Papa macam apa?”
“Ya kirain seminggu sebelum HPL gitu nyarinya.” Arvin menegakkan tubuh dan ikut menyandarkan punggungnya di sofa. “Terus kamu udah ketemu nama yang bagus?”
Nara mengangguk dan tersenyum cerah. “Kamu setuju gak kalau nanti anak kita dikasih nama Alyosha? Manis, kan?”
Arvin menimbang-nimbang. “Alyosha? Hmmm… Tapi kayak nama cowok gak sih?”
“Emang kenapa kalau mirip cowok? Kamu gak suka ya?”
Arvin tersenyum, mengecup puncak kepala Nara. “Gak apa-apa. Aku setuju aja sama pilihan kamu.”
“Emang kamu sendiri gak punya ide nama anak apa? Siapa tahu lebih bagus.”
“Aku gak masalah apa aja namanya, yang penting nanti harus mirip aku.”
“Capek banget ya harus tinggal sama Arvin mini versi cewek dan Arvin gede yang manjanya bikin pusing. Tiap hari aku emosi kayaknya.”
Arvin menyelipkan tangannya kebalik pakaian Nara dan meraup benda kenyal dibaliknya. Membuat Nara tersentak kaget. Segera saja Nara menjambak rambut Arvin, tapi tangannya itu tidak mau lepas. Arvin hanya tertawa dan tidak menggubris jambakan dirambutnya.
...****************...
Nara memandang ragu pada jurnalnya, sebuah buku yang berisi semua hal tentang kehamilannya yang dia tulis sendiri semenjak Nara memutuskan untuk menjadi ibu untuk anak di dalam perutnya. Semua informasi mengenai kehamilannya ada disana, jadwal periksa dokter, hasil pemeriksaannya, obat dan vitamin yang di minumnya, dan juga kondisi bayinya yang sempat kurang baik beberapa waktu lalu karena berat taksirannya yang dibawah normal.
Sekarang catatan tersebut banyak berisi mengenai kapan waktu pergerakan bayi didalam perutnya, kapan dia mengalami kontraksi palsu, dan suhu tubuhnya. Baru saja dia mengecek suhu tubuhnya yang saat ini cukup tinggi, sekitar 38°C. Padahal tadi pagi Nara tidak merasakan demam sama sekali.
Dia juga memandang catatan mengenai pergerakan bayinya, semakin hari semakin berkurang jumlahnya. Nara tiba-tiba menjadi sangat khawatir, karena selama ini dia mendapatkan informasi bahwa gerakan bayinya akan semakin aktif saat menjelang persalinan.
Apalagi hari ini banyinya hanya bergerak saat pagi saja. Sudah hampir lebih dari 12 jam tidak ada aktivitas apapun di dalam perutnya. Nara mengelus perut tersebut pelan-pelan dan memanggilnya. Biasanya dengan mengelus dan memanggilnya saja, penghuni perutnya akan dengan heboh bergerak kesana kemari. Menendang dan meninju untuk mengajaknya berkomunikasi.
__ADS_1
“Kamu lagi ngapain?” Tanya Arvin yang masuk ke kamar. Tercium aroma sabun yang wangi menguar dari tubuhnya yang baru selesai mandi.
“Vin, kok dia jarang gerak ya sekarang?” Kata Nara dengan suara pelan dan ragu. Entah kenapa hatinya sangat tidak nyaman, seperti ada yang mengganjal.
“Mungkin udah tidur kali. Kan udah malam.” Kata Arvin yang ikut merebahkan diri di kasur, mengelus perut Nara dan mengecupnya.
Padahal selama beberapa bulan ini semuanya lancar. Masalah berat badan janinnya pun sudah tidak lagi menjadi permasalahan, semua berjalan normal seperti yang diinginkan. Apa mungkin saat ini Nara hanya terlalu khawatir? Mungkin bayinya sedang tertidur seperti kata Arvin.
“Kenapa? Kamu khawatir ya?”
Nara mengangguk. “Besok kita periksa ya, Vin. Aku takut kenapa-kenapa.”
“Oke. Udah jangan terlalu khawatir, nanti kamu stres sendiri. Sekarang tidur dulu, istirahat. Besok pagi kita periksa dan cari tahu kenapa di dedek ogah banget gerak.”
Nara mengikuti saran Arvin, dia membaringkan dirinya dan mencoba untuk terlelap. Tapi hatinya bergemuruh kencang dan tidak tenang. Sepanjang tidurnya yang dia mimpikan hanya hal-hal yang menyeramkan. Penuh kegelapan dan kesedihan.
Tiba-tiba Nara tersentak hingga terbangun karena rasa nyeri yang hebat di perut dan punggungnya. Dia memang sering mengalami kontraksi juga beberapa minggu terakhir, namun kali ini rasanya berbeda. Dengan segera Nara mengguncang tubuh Arvin hingga terbangun. Dia tidak bisa menahan tangisnya lagi karena rasa sakit yang dialaminya. Cairan merah merembes keluar tanpa bisa ditahannya, mengingatkan Nara pada kejadian beberapa bulan lalu tentang kegugurannya.
Arvin terjaga dengan wajah yang kaget, melihat Nara tiba-tiba membangunkannya sambil menangis. Dia mengatakan perutnya sangat sakit. Apakah sekarang waktunya melahirkan? Bukannya mereka masih punya sekitar 5 minggu lagi berdasarkan prediksi dokter?
Tanpa pikir panjang, Arvin segera membawanya ke rumah sakit. Nara segera ditangani oleh dokter, namun dokter jaga tersebut sekarang sedang sibuk menghubungi seseorang di telepon. Berbicara cepat dan memintanya untuk datang.
“CITO… Solusio Plasenta,” ucap dokter jaga yang sekilas Arvin dengar.
Nara sudah lebih tenang setelah diberikan penanganan, wajahnya terlihat pucat pasi. Tidak lama Dokter Yustia datang dengan wajah panik dan langkah yang terburu-buru, memerintahkan beberapa perawat dan dokter untuk membantunya. Dokter Yustia mulai memeriksa dan melakukan USG di perut Nara.
“Dari kapan sakit perutnya?” Kata Dokter Yustia sambil terus memeriksa.
“Sejam yang lalu, tiba-tiba kebangun dan bilang sakit terus pendarrahan.”
__ADS_1
Dokter Yustia mengerutkan keningnya, menatap dokter jaga yang berada disebelahnya. Saling berkomunikasi lewat tatap. Helaan napas berat dia ambil sebelum berbicara.
“Bapak, saya minta maaf bayinya udah gak ada detak jantungnya. Udah meninggal dalam kandungan,” ucap Dokter Yustia dengan berat hati.