Halo Arvin!

Halo Arvin!
Kemenangan


__ADS_3

Nara mengatur napas dan mengendalikan perasaannya yang berkecamuk. Arvin sudah berkata jujur tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Keysa, juga mengenai semua keputusannya meninggalkan perusahaan.


Meskipun hatinya masih menyimpan amarah yang bergolak tiba-tiba, Nara ingin melihat masalah ini dengan pikiran yang lebih tenang. Dia mampu melakukannya, dia harus belajar menjadi istri yang baik untuk Arvin dengan mendengarkan penjelasannya.


“Aku tahu kamu marah dan terluka dengernya. Maafin aku, Ra.” Arvin menyeka air mata Nara yang meluncur ke pipi.


“Aku hargai kamu udah ngomong jujur sama aku, Vin. Meskipun aku masih gak enak hati dengernya. Aku gak suka kalau kamu sama cewek lain sampe ciuman kayak gitu.” Nara tersedu kembali saat mengucapkannya.


“I know. Maafin aku. Udah yaa, jangan nangis lagi. Sekarang aku sama sekali gak akan ketemu dia. Aku bakal ada sama kamu terus.” Bujuk Arvin.


Meskipun hatinya tak rela dan terus menyimpan perasaan marah. Sekarang tangisnya mulai mereda dan keadaan menjadi tenang. Mereka duduk saling menatap dan menyandarkan kepala pada punggung sofa.


Arvin percaya ada ruang maaf yang bisa diberikan Nara lagi untuknya. Lagipula ini bukanlah salahnya. Semenjak Rivanno menunjukkan foto itu kemarin, yang ada dipikirannya hanya bagaimana harus mengatakan hal yang sejujurnya pada Nara.


Dia tidak peduli dengan gosip atau skandal yang beredar tentangnya di kantor. Malah dia punya ide bagus dan alasan kuat untuk meninggalkan posisinya sementara waktu. Membiarkan semesta bekerja, seperti yang dikehendakinya.


“Aku masih marah sama kamu.” Ucap Nara menatap Arvin.


Arvin tersenyum dan mengecup singkat bibir Nara, dengan segera dia mendorong laki-laki itu menjauh.


“Gak mau. Bekas orang lain.” Kata Nara kesal.


“Bekasnya juga udah hilang sama kamu semalam. Paling semangat pas aku sun.” Goda Arvin.


“Kalau tahu gitu aku gak mau dicium sama kamu.”


“Jangan gitu dong, ayang.” Arvin mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan diseluruh wajah Nara, dan memeluknya. Meskipun jelas Nara menolaknya, menyingkirkan wajah Arvin dan mencubitinya.


“Jijik! Basah!”


“Jangan sok nolak gitu padahal doyan.” Arvin tidak bisa berhenti menggoda istrinya yang sedang kesal itu.

__ADS_1


Melihat reaksi Nara, sepertinya dia tidak benar-benar marah hingga membahayakan rumah tangga mereka. Untunglah, saat ini Nara lebih tenang dan rasional menanggapinya. Mungkin karena Arvin sudah mengatakan hal yang sejujurnya. Sesuai kesepakatan mereka dulu. Memulai hubungan kembali tanpa ada yang ditutupi.


Atau bisa jadi Nara juga semakin bertambah dewasa dan pengertian memandang masalah yang menghadang mereka. Arvin sangat menyukainya. Dia juga harus terus tumbuh dan menjadi laki-laki hebat yang bisa diandalkan oleh Nara dan gadis kecil yang akan hadir diantawa mereka nanti.


“Nanti sore kita piknik yuk.” Kata Arvin tiba-tiba, “Biar kamu gak bad mood terus.” Lanjutnya.


“Piknik apaan?”


“Ya pikinik. Jalan-jalan lihat yang hijau-hijau di hutan kota.”


“Ke GBK?”


Arvin mengangguk. “Ya kalau kamu mau. Ngga juga gak apa-apa. Aku cuma kangen jalan-jalan ke tempat yang kata kamu aneh. Berdua aja.” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Mau kok, siapa bilang gak mau?” Balas Nara yang masih mengerucutkan bibirnya kesal.


“Tapi aku harus keluar sebentar, ada janji jam 11. Nanti jam makan siang, aku pulang.”


Arvin terkeheh, “Ivan.” Jawabnya.


“Tapi dia sama mantan kamu.”


“Kita ketemu di kantor pengacara. Kamu ikut?”


“Gak usah! Lihatnya bikin emosi.”


...****************...


Rivanno sudah menunggu di kantor pengacara kepercayaan ayahnya, Rifaldi Sanusi. Dia duduk di sofa berbahan linen berwana abu-abu itu dengan santai, sambil sesekali menyesap kopi yang terhidang di meja. Obrolan singkat juga terjadi antara dirinya dengan sang pengacara, yang sekarang terus meberedel pertanyaan tentang pemindahan kepemilikan perusahaan Aditama.


Hal yang dia tahu, baru beberapa minggu lalu Arvin mendapatkan hak penuh atas kepemilikan perusahaan itu berdasarkan surat waris milik Candra. Rifaldi tidak menyangka anak laki-laki itu akan menyerahkan perusahaan dengan cepat kepada orang lain. Candra bahkan sudah bertahun-tahun lalu memilih Arvin yang masih sangat hijau sebagai penerusnya. Menyingkirkan nama Tio, adik iparnya yang sangat kompeten di dunia bisnis.

__ADS_1


Arvin datang mengenakan kemeja berwarna lemon chiffon yang dia biarkan kedua kancing atasnya terbuka, dengan kedua lengan baju tergulung, dan celana berwana hitam. Terlihat cukup santai. Dia menyapa Rifaldi dan sepupunya dengan ceria.


Rivanno tidak menduga sepupunya itu terlihat baik-baik saja. Malah datang dengan senyum yang tidak bisa meninggalkan wajah yang menyebalkannya itu. Padahal hari ini dia sudah berakhir, perusahaan akan menjadi miliknya. Selain itu gosip tentang perselingkuhannya dengan mantan kekasih sudah beredar diantara karyawan, hal itu juga pasti sudah sampai pada Nara. Tapi Arvin dengan santai datang dan bahagia.


“So, dokumen mana yang harus ditanda tangan? Lo udah dapat putusan direksi kan soal pemindahan kepemilikan ini?” Kata Arvin seraya duduk di sofa.


“Vin, kamu yakin mau nyerahin semua ini sama Ivan? Ayah kamu dari dulu milih kamu sebagai penerus dan pemimpin perusahaan. Apalagi saya belum dapat kabar dari ibu kamu soal ini.”


“Aku yakin. Ivan lebih bisa bangun perusahaan di ekosistem yang sekarang. Soal ibu tenang aja. Aku yang ngomong kok, Pak.”


“Yaa.. Gimana, Pak. Secara jam terbang aku lebih lama dari Arvin. Meskipun gak kerja langsung diperusahaan Om Candra setelah lulus, aku lebih dulu punya pengalaman kerja. Lebih matang dibandingkan Arvin yang habis lulus malah jadi pengangguran gak jelas. Udah pasti sekarang dia kewalahan tanganin perusahaan sendiri tanpa pengawasan Om Candra.”


Rifaldi hanya memandang kedua saudara sepupu tersebut secara bergantian dengan bingung. Kemudian menghembuskan napas. Pasrah dengan keinginan keduanya. Arvin menyerahkannya dengan sadar dan tanpa paksaan. Tidak ada unsur pidana apapun dalam prosesnya.


“Hmm.. Ivan bakal lebih ahli sih menangani pressure di lingkungan perusahaan dan dia punya kepercayaan publik lebih baik dari aku. I just want to relax.” Kata Arvin dengan tak acuh, “Just wait and see.” Tambahnya lagi penuh penekanan.


“Ya, kalau itu mau kalian. Saya mau kayak gimana lagi.” Ucap Rifaldi menyerahkan map berisi dokumen-dokumen menerangkan tentang pemindahan kepemilikan perusahaan yang harus Arvin dan Rivanno tanda tangani.


Dengan segera Arvin membubuhkan tanda tangannya diatas materai. Menyetujui semua keputusan pemindah tanganan tersebut. Ini pertaruhan besar yang mungkin saja tidak dia menangkan, tapi cara seperti ini pantas dicoba. Dia tidak kehilangan apapun. Harta kekayaan dan jabatan bukanlah prioritasnya.


“Done.” Ucap Arvin menyerahkan dokumen itu pada Rivanno, “Mulai hari ini lo bebas mau ngapain aja diperusahaan bokap gue. Adios!” Lanjutnya dengan ceria.


Arvin meninggalkan ruangan pengacara itu terlebih dahulu. Sebelum akhirnya Rivanno menyususlnya setelah membereskan dokumen yang harus dibawanya dan berpamitan dengan Rifaldi.


Didalam pikirannya masih ada hal yang mengganjal, mengenai perilaku Arvin yang sama sekali tidak menampakan kekecewaan, kemarahan, atau kesedihan tentang penyerahan kekuasaan tersebut.


Rivanno juga sebanarnya sangat kaget ketika kemarin mengancam Arvin dengan isu perselingkuhannya dengan Keysa. Seketika saja Arvin berkata dia akan mundur demi menghindari tekanan akibat gosip tersebut. Hal yang sangat aneh, mengingat betapa keras kepalanya Arvin dan usaha-usahanya hampir setahun ini untuk mengungkapkan kebenaran di perusahaan.


Meskipiun demikian, ini adalah kemenangan. Rivanno tetap menyukainya dan akan merayakannya.


 

__ADS_1


__ADS_2