Halo Arvin!

Halo Arvin!
"Hello, Love!"


__ADS_3

Nara sudah dirawat selama 4 hari di rumah sakit. Selama dalam perawatan Arvin selalu siap siaga menjaga dan membantu Nara yang kondisinya belum membaik. Sekarang Nara malah lebih sering terlihat sakit, dia tidak berhenti merasa mual dan muntah-muntah. Membuat Arvin panik saat menghadapinya. Padahal sebelumnya Arvin tak melihat gejala seperti itu selama kehamilan Nara. Namun dokter mengatakan kondisi tersebut masih normal dan tidak usah dikhawatirkan.


“Bu Nara, sekarang keluhannya apa? Masih ada flek?” Kata seorang perawat yang datang untuk pemeriksaan pagi. Dengan sigap perawat tersebut mengeluarkan alat tensimeter, thermometer, dan oximeter untuk mengecek kondisi Nara.


“Udah ga ada. Saya kapan ya pulangnya?” Nara sudah bosan berada diruangan ini. Sebenarnya di tempat Arvin pun Nara hanya akan berbaring dan menonton TV saja sepanjang hari. Dia seringkali terlalu lelah dan pusing untuk beraktivitas.


“Nanti saya konsultasikan dulu dengan Dokter Yustia ya. Sekarang tekanan darahnya udah normal dan udah ga ada flek. Kemungkinan kalau kondisinya sudah oke bisa segera pulang.” Jawab perawat ramah, kemudian beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Selama beberapa hari ini Arvin tidak pernah membahas lagi masalah tentang percobaan Nara untuk menggugurkan kandungannya. Dia juga tak banyak bicara. Tentu saja Nara senang melihatnya seperti itu. Dia benci kalau Arvin terlalu banyak omong. Nara tidak suka mengobrol dengannya, membuat amarahnya selalu tersulut tiba-tiba.


Bi Marni juga rajin mengunjungi dan menemaninya saat Arvin harus berangkat ke kantor untuk urusan pekerjaan. Andai saja Arvin juga pergi ke kantor di hari sabtu ini, tapi jelas tidak. Kantor libur dan sejak pagi Nara hanya melihat wajah Arvin berseliweran di kamar. Sementara Bi Marni tidak masuk kerja hari ini.


Super menyebalkan!


Perawat yang tadi mengecek Nara masuk kembali ke kamar. Mendorong kursi roda kosong dan tersenyum ramah pada Nara dan Arvin.


“Saya sudah konsultasi dengan Dokter Yustia. Habis ini ada pemeriksaan USG untuk melihat kondisi janinnya setelah pengobatan.”

__ADS_1


Arvin membantu Nara duduk di kursi roda, mendorongnya sepanjang lorong rumah sakit mengikuti perawat yang menyuruhnya memeriksa di ruang praktik Dokter Yustia. Perasaan Arvin sedikit cemas, dengan kondisi Nara yang terlihat kurang sehat karena terus-terusan muntah, dia takut kondisi bayinya ikut memburuk. Masih ada keinginan dihati Arvin agar bayi itu terus tumbuh dan bertahan diperut Nara. Meskipun si ibu sekarang sangat membenci kehadirannya.


Ruangan Dokter Yustia tampak nyaman, bersih, dengan wangi karbol khas rumah sakit yang tercium saat masuk. Disana banyak sekali poster-poster tentang kesehatan ibu hamil dan menyusui terpajang di dinding. Mereka disambut dengan ramah oleh Dokter Yustia, perempuan berusia awal 50-an dengan gaya dan aura yang sangat keibuan. Asistennya membantu Nara berbaring di ranjang pemeriksaan.


Nara merasakan gel dingin dioleskan ke perutnya, kemudian di layar sebesar TV di depannya muncul gambaran hitam putih yang tak Nara ketahui artinya. Dokter Yustia terus menggerakkan alat diperutnya berkali-kali. Memeriksa lebih sekasama.


Dokter menjelaskan mengenai hasil pemeriksaannya, tak ada kerusakan pada janin karena pendarahan kemarin. Kantung janinnya sudah terlihat, usianya 7 minggu, DDJ 110 per menit, ukurannya sebesar 1,27 cm dan masih sebesar buah blueberry. Arvin sangat senang mendengar penjelasan dokter yang mengatakan kondisi bayinya baik-baik saja, dengan semangat Arvin bertanya mengenai perkembangan kehamilan istrinya.


Namun Nara hanya memasang wajah tanpa ekspresi, menatap monitor  bergambar hitam putih tidak jelas itu dengan perasaan yang aneh. Selama ini kehamilannya terasa tidak nyata karena dia juga tidak pernah punya keinginan untuk memeriksakannya. Setelah melihat bulatan kecil hitam dilayar yang sejak tadi dokter terangkan padanya, membuat hatinya tak karuan. Dia benar-benar nyata dan ada ditubuh Nara.


“Mau dengerin detak jantungnya? Usia segini udah mulai terdeteksi dan kedengeran. Biarpun nanti lebih jelas kalau usianya udah diatas 12 minggu.” Ucap Dokter Yustia. Arvin mengiyakan dengan semangat.


Terdengar suara cepat namun beraturan. Darah berdesir dikepala Nara, ketakutan, rasa bersalah, perasaan haru bercampur aduk tak tentu arah. Untuk pertama kalinya Nara mendengar suara detak jantung bayinya. Dia nyata. Dia ada di dalam perutnya. Tentu saja dia hidup. Selama ini Nara yang bodoh dan tak pernah mau peduli dengan apa yang ada dalam dirinya selalu meyakini bahwa disana hanya ada daging penuh kekosongan. Tanpa satupun detakan yang menandakan kehidupannya.


Tangan Nara mencengkram kencang pinggiran besi di ranjangnya. Limbung, dan takut terjatuh. Padahal dia dalam keadaan berbaring sekarang. Perasaan bersalah bertalu-talu menghantam hatinya. Dadanya rasanya sesak. Matanya panas, ingin sekali menangis disana. Tapi sekuat tenaga dia menahannya.


Ahli mengatakan sistem limbik adalah salah satu bagian otak manusia yang paling primitif tempat terciptanya salah satu perasaan yang paling kuat dibumi, cinta. Bagian dari otak pada sistem limbik yang sangat bertanggung jawab adalah hipotalamus, yang akan meningkat aktivitasnya ketika merasakan keberadaan seseorang yang istimewa.

__ADS_1


Saat ini pertama kali dalam hidupnya, Nara bertemu seseorang itu. Istimewa. Meski tak tahu rupa dan bentuknya, apalagi bagaimana bisa menjelaskannya. Hatinya seakan bertaut begitu saja pada bulatan hitam kecil yang terlihat dimonitor. Mungkin saat ini bagian hipotalamusnya sedang dipenuhi dopamin dan oksitosin. Membuat perasaan itu tumbuh merajalela. Seseorang yang menghuni ruang sempit ditubuh Nara, seketika mengambil alih seluruh perhatiannya.


Lewat detakan singkat yang diperdengarkan dokter, seseorang yang tiba-tiba sangat istimewa itu berkata “Halo!” padanya. Namanya Cinta, yang tumbuh kuat di dalam perut Nara.


...****************...


Sore hari Nara sudah diizinkan pulang. Banyak sekali pantangan dan anjuran dokter untuk seminggu kedepan. Nara harus istirahat total di rumah, tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat, merasa stress, dan harus memakan makanan yang bergizi. Arvin sudah mengurus kepulangannya, dia bahkan lebih hapal obat apa saja yang harus diminum Nara nanti.


Sejak pemeriksaan dengan Dokter Yustia, Nara jadi banyak diam. Entah apa yang harusnya dia rasakan, setelah mendengar detak jantung bayi dalam perutnya.


Padahal tadi pagi saat perutnya terasa mual hingga tidak berhenti muntah-muntah, Nara sangat yakin membenci apapun itu yang sedang tumbuh dalam dirinya. Tapi kini perasaan itu hilang, berganti dengan ketakutan dan rasa bersalah yang mendalam. Bagaimana bisa Nara membencinya? Dia hidup, tumbuh, dan tidak bersalah.


Bingung kini menderanya, apakah Nara harus melanjutkan kehamilannya? Perasaannya pada Arvin belum berubah, dia tetap membenci laki-laki itu sepenuh hati. Tapi bayi dalam perutnya tak bersalah, meskipun dia seperti jembatan yang tak kasat mata menghubungkan Arvin padanya.


“Lo gak apa-apa? Kalau masih gak sehat, gue bilang sama dokter biar dirawat lagi.” Kata Arvin yang baru saja masuk ke mobil dan duduk dibalik kemudi. Melihat Nara begitu lemah, terkulai tak berdaya di kursi sampingnya. Arvin khawatir Nara akan tiba-tiba ambruk ketika sampai dirumah.


“Gak apa-apa. Cuma pusing aja. Gue gak mau dirawat lagi.” Jawab Nara lemah, menyandarkan kepalanya sepenuhnya di kursi.

__ADS_1


“Ya udah tidur, biar gak pusing. Nanti gue bangunin kalau udah nyampe.”


Nara segera memejamkan mata. Pertama yang dilihatnya hanya kilatan-kilatan samar, mungkin berasal dari lampu mobil yang mengenai matanya. Lama-lama kesadarannya mulai ditarik menjauh dari kenyataan, menampilkan mimpi-mimpi aneh yang tak jelas bentuknya. Gelap, terang, samar, pucat, tinggi, berwarna-warni. Semua bentuk-bentuk yang membuat hatinya gusar. Riuh kemudian memenuhi telinganya, suara klakson, suara hujan, suara percakapan dan musik dikejauhan. Diantaranya suara kecil terus memanggilnya. Nara menajamkan pendengarannya, semakin lama dan jelas. Suara itu memanggilnya “Ibu.” Kini Nara sangat ingin suara itu tetap tinggal dan terus memanggilnya bahkan saat dia terbangun dari mimpi.


__ADS_2