Halo Arvin!

Halo Arvin!
Rumah Impian


__ADS_3

Hujan mengguyur ketika mereka sedang bersiap meninggalkan penthouse. Gemuruh juga bersahutan tak kalah ramai menandakan rencana piknik yang berakhir gagal total.


Nara memandang sedih kearah luar kamar yang hampir semua berdinding kaca. Awan hitam menggelayut, dan hujan semakin deras turun.


Padahal dia sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan sudah mengenakan baju yang tadi dia pilih. Nara lantas duduk di kursi riasnya. Perasaannya menjadi kelabu kembali.


Arvin yang baru saja selesai mandi masuk ke kamar. Seperti kebiasaannya setelah membersihkan diri, dia hanya mengenakan celana jeans dan bertelanjang dada dengan handuk tersampir di lehernya.


“Yaah hujan. Gak jadi deh.” Ucapnya sambil menggosok rambut dengan handuk.


“Bete! Aaaaah.. Padahal aku pingin banget piknik terus foto-foto kayak yang di Instagram.” Rengek Nara.


Arvin tertawa mendengar rengekan gemas dari istrinya, “Lain kali aja ya. Besok juga masih bisa. Kita berangkat pagi-pagi. Aku kan gak ngantor sekarang, Hmm?”


Arvin berdiri disebelah Nara, membungkuk dan mengecup puncak kepalanya. Tapi Nara masih memasang ekspresi kesal dan mengerucutkan bibirnya. Cemberut.


Hujan turun begitu saja, bukan sesuatu yang bisa Arvin kendalikan. Meskipun dirinya pun sangat ingin pergi, tapi keadaan menghalangi mereka. Melihat Nara kecewa seperti itu, membuat Arvin menjadi sedih.


Dia berjongkok di depan Nara, mendongak seraya menatap mata istrinya yang tampak penuh kekecewaan.


“Gimana kalau kita camping di dalam apartemen?” Ucap Arvin tiba-tiba.


“Hah?”


“Bikin tenda, gelar tikar, terus makan makanan yang tadi kamu bikin.” Lanjut Arvin sambil tersenyum.


“Ih masa bikin tenda di dalam ruangan sih? Lagian emang mau sewa tenda dimana? Hujan gini mau keluarnya juga.” Nara menautkan alisnya keheranan.


“Ya emang kenapa? Seru tahu!” Sergah Arvin, “Aku punya tenda kok. Aku kan anak pencinta alam.” Lanjutnya.

__ADS_1


Arvin mengobrak-abrik tempat penyimpanan di ruangan gitarnya. Salah satu tempat khusus dimana Arvin menyimpan semua peralatan untuk mendukung hobinya. Pajangan gitar, console game, kumpulan lego, stik golf, hingga board untuk surfing.


Dulu Nara merasa heran dengan banyaknya benda-benda aneh tersebut. Tidak bisa membayangkan betapa banyak hobi yang Arvin miliki. Laki-laki ini aneh sekaligus luar biasa. Dibandingkan dirinya yang hanya hobi membaca dan sesekali melukis.


Setelah pencarian cukup lama, Arvin mengeluarkan tenda dome kecil berwarna kuning. Sofa dan meja di ruang tengah, Arvin geser hingga menyentuh dinding. Terdapat ruang kosong ditengah, dimana Arvin mulai menyusun tenda tersebut. Merangkai besi-besi pancang yang tipis dan panjang hingga berdiri sebuah tenda yang terlihat nyaman.


Mereka menggelar kain yang sempat akan dipakai untuk piknik tadi di depan tenda. Menumpuk bantal, mematikan lampu, menyalakam badai emergency, hingga mengenakan jaket dan menurunkan suhu AC sampai ruangan terasa dingin menggigit.


Setelah menghabiskan sandwich yang Nara buat tadi siang, mereka merebahkan diri diantara tumpukan bantal. Memandang langit-langit penthouse yang tinggi, sambil tertawa dengan keanehan mereka sendiri.


Piknik kali ini boleh saja gagal, tapi Nara mendapatkan kegiatan yang lebih seru. Camping di dalam ruangan.


“Aku pingin banget ngajak kamu camping beneran. Lihatin bintang pas malam, mandi di curug, lihat sunrise di puncak.” Ucap Arvin berbaring dan masih menatap langit-langit.


“Dari dulu aku pingin nyobain naik gunung dan camping. Tapi gak pernah kesampaian. Kayaknya seru banget.”


Nara tidak bisa menghentikan tawanya, ini cerita yang paling realistis tentang pendakian gunung. Tidak selamanya tentang rasa senang setelah mencapai puncak, atau hal-hal filosofis lain tentang menemukan jati diri dipendakian.


“Kalau dedek udah gede, kita ajakin camping. Ditempat perkemahan dulu aja buat latihan. Harus banyak kegiatan outdoor, biar jadi cewek tangguh. Iya kan, dek?” Ucap Arvin berbalik dan mengecup singkat perut Nara.


Nara merasa hangat ketika Arvin membicarakan rencana-rencananya dengan anak yang kelak dia lahirkan. Mungkin Nara tidak mengatakannya langsung, tapi anaknya beruntung memiliki ayah seperti Arvin. Dengan jiwa bebas dan kepribadian yang menyenangkan. Dia bisa membayangkan, anaknya akan tumbuh bahagia.


“Kamu pernah mendaki gunung apa aja?”


“Banyak. Kalau di Indonesia paling cuma Gunung Gede Pangrango, Semeru, sama Prau aja. Setelah kuliah lebih banyak hiking ke Blue Mountains, Cradle, Larapita Trail.”


“Hidup kamu kok seru banget ya. Bisa jalan-jalan dan menikmati hidup. Aku iri. Masa mudaku cuma dipake buat belajar, part time, mikirin masa depan biar gak hidup susah dan kekurangan. Aku ternyata lupa menikmati masa mudaku. Jalan-jalan terus berpetualang.”


Arvin baru pertama kali mendengar Nara menceritakan tentang kehidupannya. Dia sedikit tahu tentang itu dari ibunya. Nara yang bekerja keras meraih mimpinya untuk bisa melanjutkan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibandingkan orangtuanya.

__ADS_1


Arvin memeluk Nara, membuatnya tidur saling berhadapan dan menatap mata satu sama lain.


“Sekarang waktunya kamu menikmati hidup juga. Aku bakal ajak kamu jalan-jalan, ke tempat yang menyenangkan dan kamu bakal dapat banyak pengalaman baru. Kamu gak akan hidup susah. Biarpun sekarang aku bukan pemilik perusahaan lagi, aku janji bakalan kerja keras biar kamu tetap hidup nyaman tanpa kekurangan.” Ucap Arvin meyakinkan.


Sekarang Arvin pengangguran. Tidak memiliki pekerjaan. Tapi dia tetap berasal dari keluarga kaya raya. Hidupnya tidak akan jatuh terpuruk karena kehilangan perusahaan. Masih banyak aset dan warisan yang Arvin miliki, peninggalan ayahnya.


Nara teringat kembali bagaimana ketika Reza kehilangan pekerjaannya. Harus diakui, Nara juga sangat takut kala itu. Bagaimana jika Reza tidak bisa mendapatkan pekerjaan kembali? Bagaimana jika Reza tidak memenuhi kebutuhannya? Bagaimana jika Reza membuat hidupnya terpuruk?


Meskipun Nara mengatakan akan bekerja untuk membantunya, perasaan gamang dia rasakan juga. Alih-alih menenangkannya, Reza malah menarik diri dan menjadi penuh keraguan. Padahal yang ingin Nara dengar hanya keyakinan bahwa dia akan berjuang untuknya. Meyakinkan bahwa dia akan terus berada disampingnya, bertanggung jawab, dan memenuhi kehidupannya.


Mungkin inilah yang menjadi alasan Tuhan tidak mempersatukan mereka. Nara tidak mendapatkan cinta dan keyakinan yang dia inginkan dari Reza, melainkan dari Arvin. Sekali lagi Nara diperlihatkan kembali kenapa laki-laki ini yang layak dia miliki.


“Vin, pindah rumah yuk!” Ucap Nara tiba-tiba.


“Hah?”


“Kita bisa beli rumah dipinggiran kota. Biasanya masih ada halaman belakangnya, biar kita bisa camping-nya disana. Terus nanti dedek punya kamar terpisah, aku mau hias pake mural yang aku gambar sendiri. Aku mau tanam sayuran hidroponik di halaman. Aku juga pingin punya akuarium di rumah. Aku dari dulu bermimpi punya rumah yang hangat dan menyenangkan sama keluarga kecilku. Kayaknya seru ya?”


“Ide bagus. Kalau gitu besok kita cari rumah.” Ucap Arvin menyetujui.


Arvin juga ingin memiliki keluarga kecil yang hangat dan rumah tempat pulang yang menyenangkan. Semua gambaran keluarga bahagia yang diidamkannya sejak dulu, yang tidak pernah dia dapatkan dari orangtuanya.


“Tapi sebelum itu, malam ini aku mau nengokin dedek dulu.” Lanjutnya sambil tertawa.


Arvin bangkit dari tidurnya, kemudian menggendong Nara masuk kedalam tenda. Melakukan aktivitas menyenangkan didalam tenda yang hangat hingga tempat tersebut bergoyang. Hanya terlihat siluet tubuh mereka diantara nyala senter dan kegelapan ruangan.


Saling menyatukan cinta serta tubuh mereka. Semakin lekat seiring udara yang menjadi lebih dingin. Diluar hujan masih mengguyur dan petir sesekali terdengar. Namun tenggelam dengan suara aktivitas menyenangkan dari dua orang di dalam tenda.


Memadu kasih.

__ADS_1


__ADS_2