
“Lanjutin sampe kamu puas. Nanti giliran aku.” Kata Arvin sambil tersenyum.
Nara mengabaikan perkataan Arvin. Malah semakin kencang memeluknya dan menenggelamkan ciuman dileher laki-laki itu. Wangi dan kulitnya hangat, membuat otak Nara seakan berhenti bekerja. Dia hanya ingin memenuhi penciumannya dengan aroma sabun, cologne, dan wangi khas yang menguar lembut dari tubuh Arvin.
Semakin dalam Nara merasakan aroma wangi tubuh Arvin, semakin hatinya berdesir. Seluruh tubuhnya bahkan merespon rangsangan tersebut. Jika penelitian mengatakan bahwa laki-laki mengeluarkan feromon yang bisa membuat seorang perempuan tertarik padanya. Ternyata itu benar. Arvin seakan menyebarkan wangi yang menghipnotis dan mendorong Nara melakukan hal diluar kendalinya.
Arvin membalikkan badannya, menghentikan Nara yang semakin menggila menjelajahi lehernya. Nara terlihat bingung dengan yang baru saja dia lakukan.
“Lo wangi banget.” Bisik Nara. Mata beningnya menatap lekat ke arah Arvin. Terlihat polos dan kebingungan.
Arvin tersenyum, “Mau nyium lagi?”
Nara mengangguk. Arvin membuka kaosnya dan melemparkannya sembarangan ke sisi ranjang. Laki-laki itu sekarang bertelanjang dada, menampilkan perut kotak-kotak yang membuat Nara semakin hilang akal.
Meskipun Nara sudah beberapa kali melihatnya, tapi entah kenapa ada perasaan yang berbeda kali ini. Dengan jemarinya, dia menyentuh kumpulan otot tersebut. Membuat laki-laki itu berdeham gugup. Tapi akhirnya dia tersenyum.
Arvin mengambil salah satu bantal kemudian menyusunnya, sebelum menyandarkan dan merebahkan tubuh Nara disana dengan lembut. Anehnya Nara tidak protes. Bibirnya terkunci dan hanya diam saja. Arvin juga bingung dengan perilaku Nara. Tapi tetap melanjutkan dengan hati-hati.
Tenang. Jangan terburu-buru.
Punggung Nara bersandar dengan nyaman dibantal, setengah terduduk. Arvin merenggangkan kedua kaki Nara, menempatkannya di pahanya. Sebelum akhirnya mendekat dan memeluk tubuh mungil istrinya.
Otak Nara tidak bisa bekerja. Semua yang dilakukannya hanya dorongan dari keinginan tak terkendali untuk membalas pelukan Arvin, melingkarkan lengan ke lehernya, menelusuri leher indah dan maskulin Arvin dengan hidung dan bibirnya.
Arvin merasa geli saat Nara menyentuh lehernya, menyapukan hidung disana. Perasaan aneh bermunculan diperutnya, seakan tergelitik dan membuatnya ingin tertawa. Tapi Arvin menahannya. Sentuhan dan pelukan Nara tersebut menyalakan alarm peringatan diseluruh inderanya.
Setelah lama menghirup wangi Arvin dan memenuhi paru-parunya dengan aroma menyenangkan laki-laki itu, Nara berhenti. Sekarang menatap wajah Arvin yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Bahkan Nara sekarang bisa merasakan embusan napas Arvin, yang memburu cepat.
“Aku boleh lanjutin?” Tanya Arvin dengan nada rendah dan bisikan.
Nara mengerutkan dahi. Menimbang sejenak, sebelum menyetujui dan memberi anggukan. Dia melihat Arvin tersenyum sekilas, memiringkan kepalanya, dan mendekat. Mencium lembut bibir Nara.
Semua sentuhan Arvin sudah diingat olehnya sekarang. Lidahnya bergerak dan meliuk nakal dalam mulutnya. Sensasi aneh yang membuatnya hilang kewarasan. Tapi Nara tidak ingin Arvin berhenti.
Kenapa dia seperti ini?
Hati dan pikirannya penuh hingga tak bisa berpikir jernih. Dia hanya ingin Arvin terus menyentuhnya. Rasanya nyaman dan menggelitik. Membuat tubuhnya panas seketika. Nara mempererat lilitannya di leher Arvin, membuat laki-laki itu memperdalam ciumannya. Hanya suara decakan dari kedua bibir mereka yang beradu dan suara TV dilatar belakang.
__ADS_1
Arvin melepaskan bibirnya, menatap Nara yang masih mengalungkan lengan padanya.
“Aku mau lebih dari ini.” Pinta Arvin. Mata coklatnya begitu dalam menatap Nara, menembus pertahanannya.
Nara tidak mengerti kenapa menyetujuinya, mengangguk berulang kali seperti terhipnotis suara dan sentuhan Arvin. Kini kecupannya diarahkan ke leher Nara.
“Uhh..” Erang Nara menahan sensasi tidak biasa ditubuhnya saat Arvin menjelajahi leher jenjangnya.
Bibir Arvin terus bergerilya, menjelajahi dan meninggalkan jejak-jejak dikulit putih Nara. Tidak hanya Nara yang semakin menggila dengan aktivitas menggairahkan ini, Arvin semakin terbuai dan kehilangan kendalinya. Hasratnya seketika memuncak, membuatnya semakin berani.
Kedua tangan Arvin mulai bergerak, mengangkat atasan piyama Nara hingga melewati kepalanya. Kemudian melemparkan sekenanya. Bra biru muda menyambut pandangannya. Tanpa banyak bicara, Arvin segera melepaskannya juga. Menampilkan 2 aset penting yang membuat kewarasan Arvin hilang berlarian. Mengingatkan kembali pada memori yang sama beberapa bulan kebelakang.
Nara tetap sama. Tubuhnya indah, dadanya semakin sintal, dan kulitnya lembut dan putih seperti susu. Hanya saja sekarang perutnya terlihat agak buncit. Tapi Arvin benar-benar menyukainya. Sangat menggairahkan.
Arvin mulai membenamkan wajahnya disalah satu puncak dada indah tersebut. Memainkan dengan lidahnya hingga Nara mengerang dan bergerak dengan gelisah. Sementara puncak yang lain, Arvin cengkram dengan salah satu tangannya.
Nara baru pertama kali merasakan ini. Secara sadar. Sensasi yang luar biasa aneh membuatnya kelimpungan. Arvin tidak berhenti menyapukan sentuhan pada dadanya, hingga Nara tak bisa lagi menahan diri untuk mengerang dan menggeliat. Tangannya mencengkram erat sisi bantal sebelum dia arahkan untuk menjambak rambut Arvin.
Kepalanya pusing, limbung, perasaan aneh bertabrakan di dalam hatinya. Sulit sekali menjadi waras dan menolak dorongan untuk melanjutkan pergulatan ini lebih jauh. Nara menginginkannya. Meskipun ada sebagian dari hatinya terus meronta dan menolak.
“Kamu udah pernah liat kan pas pertama ketemu aku? Tapi sekarang versi yang lebih berbahaya.” Kata Arvin tersenyum saat melihat Nara terlihat kaget ketika Arvin menanggalkan boxernya. Memperlihatkan rudal yang siap memburu dan meledakkan hasratnya malam ini.
Arvin membungkuk, menempatkan tubuhnya diatas Nara yang terbaring pasrah. Salah satu tangannya menopang tubuh, tangan yang lain bergerak ke arah bagian sensitif milik Nara. Menyeruak bagian tersembunyi yang sudah basah karena bergairah. Jemari tengahnya Arvin benamkan disana.
“Ahhh..” Teriak Nara kaget ketika jari Arvin masuk ke tubuhnya. Dia menggeliat tak karuan. Sakit, perih, aneh, dan nikmat.
Nara tidak paham apa yang Arvin lakukan hingga membuat tubuhnya terus bergerak kehilangan kendali. Kemudian berakhir menegang dengan perasaan puas dan bersalah sekaligus. Setelahnya hanya rasa lemas di sekujur tubuh dan peluh bercucuran. Rasa sakit dan perih yang pernah Nara rasakan kini kembali lagi diingatnya.
Arvin mulai bersiap membenamkan diri pada Nara. Menekan bagian tubuhnya itu agar bisa masuk ke pertahanan sang istri. Dia masih berusaha meskipun kesulitan. Tidak heran, Nara belum pernah melakukannya lagi semenjak kejadian itu. Pasti sekarang akan sama sulitnya ketika mereka pertama melakukannya. Mungkin Arvin harus sedikit memaksa.
“Arvin, stop!” Ucap Nara tiba-tiba diantara tangisnya.
Saking sibuknya membenamkan diri pada Nara, Arvin tidak menyadari istrinya itu terus mengeluh dan mengerang kesakitan. Hingga dia sekarang terisak dan gemetar ketakutan.
“Gue gak mau lanjutin.” Tangisnya semakin kencang. Dia menutupi wajah dengan lengannya. Terus terisak meminta Arvin berhenti.
Arvis sudah setengah jalan. Merasa kecewa dan kesal yang luar biasa. Keinginannya sudah berada diujung dan tinggal melepaskannya. Dia ingin membekap mulut Nara dan melanjutkan permainan hingga selesai. Tak peduli pada protes tersebut.
__ADS_1
Tapi itu pemikiran berbahaya. Dia tidak ingin menyakiti Nara. Aktivitas seperti ini harusnya menyenangkan bagi mereka. Pengalaman kedua Nara harusnya tidak terlupakan dan bahagia.
Arvin memilih menyerah, merebahkan diri disamping Nara kemudian memeluknya. Hasratnya jelas belum turun. Dia mencoba meredamnya sekuat tenaga.
“Udah gak apa-apa. Aku gak akan lanjutin.” Ucap Arvin tenang. Meskipun hatinya luar biasa dongkol.
Setelah Nara tenang, Arvin membantunya mengenakan kembali pakaiannya. Mereka berbaring saling berhadapan. Namun mata Nara menutup dengan cepat karena kelelahan.
Arvin terus memperhatikan Nara dan membelai rambutnya. Perasaannya campur aduk, tapi kali ini amarah dan rasa kesal mengganjal di hatinya. Mungkin karena dia tidak bisa melepaskan keinginannya. Dia sudah sangat menantikan momen seperti tadi sejak lama.
Egois memang. Seharusnya kejadian seperti tadi saja pantasnya membuat Arvin senang dan bersyukur. Tiba-tiba Nara berani menyentuhnya dan mereka bisa melakukannya sejauh ini. Tanpa protes dan drama-drama seperti sebelumnya.
“Vin, lo harus beresin yang tadi kan?” Bisik Nara lemah.
“Gak usah.”
“Lo gak bakal jadi emosian kan abis ini?”
Nara teringat kata-kata Bi Marni yang mengatakan laki-laki akan jadi mudah emosi saat tidak bisa menyalurkan hasratnya. Dia tidak ingin Arvin juga menjadi seperti itu. Meskipun Nara tidak mau melakukannya lagi. Ternyata Nara masih belum siap dan takut melakukannya hingga sejauh itu.
“Gak tau.”
“Lo kok jawabnya singkat-singkat? Lo marah sama gue?”
“Ngga.”
“Arvin, gue mau bantuin lo tapi gak ngerti caranya.”
Arvin menghela napas. Memejamkan matanya sejenak. Kemudian mendorong tubuh Nara hingga terlentang. Dia berada diatas tubuh Nara, dan mendaratkan kecupan ke bibirnya. Menyingkap piyama atas hingga tangan Arvin bisa menggapai dan mencengkram salah satu dada Nara.
Meskipun ingin melepaskan diri karena tubuhnya lelah. Tapi Nara tidak bisa, Arvin melakukan itu beberapa lama hingga melepaskannya dan beranjak pergi ke toilet.
Nara menggulung diri diatas kasur. Menangis tanpa suara. Perasaannya campur aduk. Bersalah, malu, dan bingung. Disatu sisi hatinya dia merasa bingung mengapa sampai merelakan dirinya disentuh oleh Arvin seperti tadi. Disisi lain dia sangat peduli pada keinginan laki-laki itu dan mengkhawatirkannya.
Malam ini tak ada yang ada satupun yang tampak benar dari perilakunya.
__ADS_1