Halo Arvin!

Halo Arvin!
Berada di titik berbeda


__ADS_3

Nara terbangun dari tidurnya, merasakan dadanya sangat sakit. Mengingat lagi apa yang didengarnya dimimpi. Alam bawah sadarnya mengisyaratkan sesuatu padanya. Muncul perasaan asing dihatinya saat mendengar ada yang memanggilnya “Ibu”.


Nara menjadi gamang dengan keputusannya sekarang. Apakah harus menerima bayi yang dikandungnya ini? Tapi dia tidak sanggup, membesarkan anak dari orang yang sangat dia benci. Tak ingin ada apapun yang berhubungan dengan Arvin dihidupnya.


Pandangannya masih mengantuk, menatap jalanan yang kini sudah berganti gelap. Lampu-lampu jalan menyala dengan terang. Aneh, padahal tadi saat dia keluar dari rumah sakit hari masih sore dan langit masih terang.


Nara tahu jarak rumah sakit tempatnya di rawat tak jauh dari tempat tinggal Arvin, hanya membutuhkan waktu 10 menit dari sana. Kenapa seakan dia sudah berkendara berjam-jam?


Nara menegakkan badannya yang terkulai bersandar disamping kursi kemudi. Menatap pemandangan diluar yang terasa tak asing untuknya. Bertahun-tahun selama hidupnya Nara melewati jalan ini. Meskipun gelap malam menyembunyikan pemandangan yang sebenarnya disana. Dia sangat hapal diluar kepala.


“Arvin, kenapa jalan kesini?” Tanya Nara panik. Namun Arvin membisu. Tetap fokus mengemudi. “ARVIN!” Teriak Nara.


“Gue mau anterin lo pulang.”


“Ngapain?” Mata Nara membulat karena kaget dengan jawaban Arvin. Kenapa tiba-tiba dia mengantarkannya pulang? “Arvin cepetan berhenti!”


Arvin tidak menggubris perkataan Nara. Tangannya berada dikemudi, menatap jalan lurus di depannya. Kesal dengan kebisuan Arvin, Nara menarik lengan hoodie yang dia kenakan. Mengguncangnya. Meminta Arvin agar berhenti.


Hal tersebut mengganggu Arvin, dia tidak ingin kecelakaan gara-gara Nara terus mencengkram lengannya. Mobil tersebut akhirnya menepi, di dekat trotoar diantara kios-kios yang sudah tutup.


“Ngapain lo nganterin gue ke rumah?”


“Gue anterin lo pulang biar lo bisa tinggal bareng orang tua lo lagi dan baikan sama mereka. Lo gak mau tinggal sama gue, kan?”


Nara terdiam mendengar perkataan Arvin. Bukan seperti ini yang Nara maksud. Meskipun sebenarnya Nara sangat ingin pulang dan bertemu orang tuanya. Tapi mereka juga tidak akan semudah itu menerimanya begitu saja.


Apalagi yang membawanya pulang adalah Arvin. Sudah pasti ayahnya akan murka, menganggap Nara tidak becus mengurus suaminya hingga dipulangkan seperti ini.


“Lo mau baikan lagi sama orang tua lo, kan?” Tanya Arvin lagi.

__ADS_1


“Mereka gak akan nerima gue, Vin. Lo gak tau bapak gue kayak gimana. Gue gak bisa tinggal dirumah orang tua gue. Sekarang aja mereka ga pernah keluar rumah karena malu sama keadaan gue. Apalagi kalau gue tinggal sama mereka.”


“Ya terus lo maunya kayak gimana? Lo yang bilang kan kalau lo gak bisa komunikasi dan ketemu lagi sama mereka? Biar gue yang mohon-mohon biar mereka maafin lo. Ini juga salah gue yang bikin lo kayak gini. Gue yang maju.”


“Lo ngerti gak sih, Vin? Gue gak bisa pulang! Mereka gak mau liat gue.”


“Gue yang bakal bilang sama mereka. Lo denger gak sih?”


“Arvin!” Bentak Nara emosi. “Lo pikir itu bakal gampang? Dengan lo minta maaf dan mohon-mohon doang? Kenapa sih lo bertindak sendiri kayak gini ga ngomong dulu sama gue, padahal ini menyangkut hidup gue.”


Frustrasi karena Arvin tidak pernah paham bagaimana cara hidupnya bekerja. Hanya dengan keberanian saja menghadapi kemurkaan ayahnya adalah percuma. Datang pada mereka dalam keadaan seperti ini adalah bunuh diri. Kedatangan Arvin malah akan membuat hubungan Nara dan keluarganya makin rumit.


“Terus lo sendiri gimana? Lo juga seenaknya mau gugurin kandungan lo padahal itu juga anak gue. Dia emang ada dalam perut lo, Ra. Tapi dia punya gue.” Ucap Arvin penuh amarah, Dia benar-benar tidak bisa lagi berpikir bagaimana cara membangun hubungan diantara mereka.


“Lo mau balikin gue ke rumah orang tua gue karena lo sebenernya gak mau tanggung jawab kan, Vin?” Tuduh Nara.


Kemarahan berkumpul dikepala Arvin mendengar tuduhan tersebut. Darimana dasarnya kesimpulan bodoh yang dipikirkan oleh Nara itu. Justru tujuannya adalah untuk kebaikannya.


“Maksud lo apa bilang kayak gitu?”


“Lo pura-pura jadi pahlawan dengan bilang mau bertanggung jawab padahal sekarang lo mau balikin gue ke rumah orang tua gue. Cuci tangan sama semua perbuatan bejad lo!”


Arvin mencengkram lengan Nara, menatap perempuan itu dengan emosi yang berkobar. “Gue pernah gak ngeluh sama sikap lo ke gue yang kayak anj*ng selama ini? Pernah gak gue gak bantuin lo, gak perhatian sama lo, ga jagain lo? Gue bahkan mau tanggung jawab sejak awal tapi dengan tol*lnya lo nolak gue. Sekarang gue mau anterin lo ke rumah orang tua lo karena lo gak bisa ketemu mereka, kan? Tujuan gue baik, tapi lo gak pernah liat itu karena lo buta sama kebencian lo sama gue.”


Nara meringis. Cengkraman Arvin dilengannya membuatnya kesakitan. Dia mencoba melepaskannya, tapi Arvin terlalu kuat. Ditambah emosinya yang sedang meledak-ledak. Sial! Nara benar-benar mencari mati telah menyulut emosi Arvin seperti sekarang.


“Gue tau permintaan gue brengsek dan ga tau diri banget sama lo. Gue pingin lo lahirin dia, Ra. Gue yang urus dia setelah lahir. Lo mau ngakuin dia atau ngga, tersersah. Lo mau minta kita pisah abis lahiran, gue bakal turutin mau lo. Asal biarin anak itu hidup.” Lanjut Arvin, yang masih geram dengan sikap Nara. Begitu pikir Arvin.


Arvin merasa sangat bersalah dengan permintaan gilanya ini. Tak ada keuntungan apapun untuk Nara jika melanjutkan kehamilannya. Jika Nara bersama dengan keluarganya, mungkin keadaannya akan lebih baik.

__ADS_1


Mungkin dengan berada ditengah keluarganya, Nara akan lebih tenang. Setidaknya itu yang dipikirkan Arvin.Tapi ternyata hal tersebut salah. Iya. Arvin selalu salah. Dia tidak mengerti lagi apa yang benar disetiap tindakannya untuk Nara.


“Lepasin tangan gue.”


Arvin melepaskan cengkramannya, melihat bekas kemerahan melingkar disana. Sial! Padahal Nara baru keluar rumah sakit dan sekarang Arvin malah berbuat kasar padanya.


Kata-kata Nara membuatnya kehilangan kesabarannya. Meski demikian, melihatnya seperti itu membuat Arvin merasa bersalah. Tak seharusnya dia menggunakan kekerasan seperti ini.


Nara bingung, gamang. Dia tidak bisa pulang, tapi dia benci harus tinggal dan bertemu dengan Arvin setiap hari. Perasaannya bertambah rumit ketika tahu bahwa benda di perutnya adalah makhluk hidup yang ingin dia pertahankan.


Arvin tak perlu memintanya untuk melanjutkan kehamilannya. Nara sangat ingin bayi itu tumbuh. Namun ketakutan dan kebenciannya pada Arvin membuat semua hal terlihat menjadi pilihan yang sama buruknya.


“Kita pulang aja ke tempat lo.” Kata Nara membuka suara setelah mereka lama terdiam di dalam mobil.


Semua pertengkaran mereka selalu tanpa penyelesaian, dan nyaris tak mengubah apapun. Selalu berada dititik yang sama sejak awal. Nara membenci Arvin. Arvin yang ingin mempertahankan kehamilan Nara. Tapi mungkin kali berbeda. Nara juga ingin mempertahankan makhluk kecil diperutnya.


“Gue bakal pertahanin kehamilan gue. Abis dia lahir, gue pingin kita cerai.” Lanjut Nara, menetapkan hatinya.


Semuanya adalah pilihan buruk. Menggugurkannya akan beresiko membuatnya menyesal seumur hidup karena membunuh bayi tak bersalah ini. Mempertahankannya juga akan beresiko merusak kewarasan Nara karena harus terus berhubungan dengan Arvin. Kenapa hidup tidak memberi Nara hal-hal yang membahagiakan?


Arvin terperanjat dengan keputusan Nara, tidak menyangka dia mau melanjutkan kehamilannya. Namun perasaannya tiba-tiba merasa lega. Setidaknya untuk saat ini saja, dia merasa punya harapan.


“Oke, kalau itu mau lo. Lo tinggal sama gue sampe lo lahiran. Dan gue gak mau lo ngelakuin hal berbahaya kayak kemarin lagi. ” Balas Arvin.


Nara mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke jalanan. Kini hujan mulai turun di luar. Perlahan semakin intens dan lebat, mengguyur jalan.


Lampu-lampu terlihat bias dikejauhan. Sama seperti masa depan yang Nara tuju setelah ini. Arvin mulai menyalakan mobil kembali. Kini mereka sudah berada dijalan, bergabung dengan mobil-mobil lain. Menembus hujan dan kemacetan.


“Tangan lo masih sakit?”

__ADS_1


“Ya menurut lo?”


“Sorry.”


__ADS_2