Halo Arvin!

Halo Arvin!
Waktu Berdua


__ADS_3

“Lo gak mau balik sekarang aja, Vin? Perusahaan sekarang lagi butuh lo,” ucap Angga dalam sambungan telepon.


“Gue masih ada kontrak sampe tahun depan, Ga. Lagian ini kesempatan bagus biar CV gue makin rame sama pengalaman kerja. Masa isinya Cuma pengalaman kerja di kantor bokap. Kan gak seru.” Arvin berkilah tak ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia.


Selama 3 bulan proses hukum sedang berjalan. Banyak nama ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijatuhi hukuman maksimal 5 tahun penjara dan penggantian ganti rugi sesuai yang ditetapkan oleh pengadilan. Tio dan Rivanno juga sudah tidak sah sebagai penerima aset milik Candra. Meskipun Widia—istri Tio—tidak terlibat, Lena memutuskan untuk tidak berhubungan kembali dengannya.


“Heh! Lo gak perlu pengalaman di CV, posisi lo udah paling tinggi disini, gak akan ada proses screening atau interview lagi kalau lo masuk. Gue cuma sementara ya disini. Udah pusing gue ngurusin ke pengadilan, perusahaan, proyek, apalagi urusan legal ke pengacara soal pemutusan aset Om Tio dan si Ivan.” Angga terus mengomel tak henti-henti, mendengar hal itu hanya membuat Arvin tertawa riang.


“Ambis sedikit lah, Ga. Kan jarang lo dapet kesempatan jadi petinggi perusahaan dan kepala keluarga Aditama.”


“Gak ah, ogah. Gara-gara ngurusin kerjaan lo, gue jadi gak sempat honeymoon sama Sophie, keburu puyeng sama kerjaan. Loyo dah gue di kasur."


Arvin tertawa keras. “Nah itu, Bro. Gue juga disini niatnya sambil honeymoon yang banyak, biar gak pusing mikirin kerjaan. Menikmati waktu berdua sama istri. Sabar. Giliran gue dulu ya, Bro. Entar gue kasih lo jatah libur sebulan deh habis gue balik.”


“Ah ta*i sebulan doang! Lo 2 tahun off, Jing!”


“Suka-suka gue lah. Gue yang punya perusahaannya. Jaga baik-baik kantor ye, Ga.”


“Kalau gak kasian sama lo, udah gue jual nih perusahaan. Hadeeh... Punya adik kok kurang ajar!”


“Sabar ya abangku.”


Angga hanya menghela napas. Mau tidak mau menyetujui keinginan Arvin. “Tapi lo sama Nara di sana baik-baik aja, ‘kan?”


“Hmm.. Kita di sini sehat kok. Sibuk kerja, jalan-jalan, ngejalanin hobi.”


“Lo masih sering mikirin anak lo yang meninggal?”


Arvin terdiam sejenak. “Sering. Gue udah mendingan, mungkin saking sibuknya kerja. Tapi Nara sesekali masih sering nangis kalau keingetan. Makanya sekarang gue suruh dia ikut kelas menggambar di Sydney Community College, biar ada kegiatan.”


“Baguslah kalau gitu. Ibu khawatir banget soalnya kalian jauh. Padahal kita disini bisa nemenin kalian kalau butuh temen.”

__ADS_1


“Kita gak apa-apa. Malah kayaknya dengan pergi berdua seperti sekarang, kita lebih cepat buat recovery. Kita lagi menyusun kembali hidup kita pelan-pelan."


“Ya udah, kalau itu pilihan kalian. Jangan lupa sering-sering hubungi ibu, biar gak makin khawatir.”


...****************...


Musim semi di Sydney susah mencapai puncaknya. Nara sudah terbiasa dengan cuaca serta lingkungan di sini. Dia juga sekarang punya beberapa teman untuk sekadar minum kopi dan berbincang selepas kelas seninya di Sydney Community College.


Arvin menyarankan agar Nara melakukan aktivitas di luar agar tidak bosan. Harus diakui dia memang sangat bosan berada dalam apartemen sepanjang hari. Apalagi sekarang tidak ada Bi Marni untuk diajak berbincang. Maka dari itu Nara menyetujui saat Arvin menyuruhnya mempertimbangkan untuk mengambil short course. Tentu saja subjek yang Nara senangi.


Selain mengambil kelas Drawing and Painting, Nara juga masuk ke kelas Urban Sketching. Sekali seminggu mereka akan berkunjung ke tempat-tempat iconic dan menggambar bersama. Pengalaman yang sangat menyenangkan untuk Nara. Dia jadi cepat hapal tempat ini karena sering bepergian menggambar bersama grupnya.


Arvin sudah menunggunya di mobil setelah Nara menyelesaikan Urban Sketching di sekitar University of Sydney. Nara berlari kecil, menenteng sketchbook dan tas berisi cat air favoritnya. Senyum terkembang dibibirnya saat masuk ke dalam mobil.


“Kamu nungguin lama ya, Vin? Sorry. Tadi aku tadi terlalu asyik ngobrol sama salah satu mahasiswa disana. Aku jadi kepikiran buat kuliah lagi,” ucap Nara tampak senang.


“Ya kalau kamu mau, boleh aja,” jawab Arvin santai.


Arvin tergelak. “Iya, iya. Boleh kok. Habisin aja uangku. Porotin sampai miskin juga gak apa-apa. Aku rela.”


“Serius? Masa sih?”


“Iya lah. Aku kerja kalau bukan buat menyenangkan istri, buat apa lagi coba?”


“Dih mulai deh ngegombalnya.”


“Bukan gombalan kok. Serius. Aku bakal ngasih seluruh dunia buat kamu kalau mau.” Arvin menggenggam tangan Nara dan menciumnya.


“Uweek.” Nara menanggapi gombalan menggelikan Arvin. “Kalau gitu bantuin aku buat ketemu sama Chris Hemsworth. Aku ngefans banget sama dia setelah nonton film Thor,” lanjut Nara ceria.


Senyuman menghilang dari wajah Arvin. Tanpa banyak bicara dia menyalakan mesin mobilnya. Ekspresinya berubah menjadi masam seketika. Meskipun hanya nama artis, Arvin tidak suka ketika Nara mengagumi laki-laki lain selain dirinya.

__ADS_1


“Kalau kamu ngomongin cowok lain di depanku, gak akan aku kasih ampun nanti pas pulang ke apartemen.” Arvin memberi peringatan sambil menyetir mobilnya di jalan.


“Ih kok ancamannya gitu sih? Mas Arvin cemburu ya?” Goda Nara. Dia melepaskan seat belt dan menggeser duduknya. Mengecup bibir Arvin sekilas kemudian terkekeh.


Arvin kaget sampai menjadi oleng, untung saja jalanan sepi dan Arvin dengan sigap mengendalikan kemudi.


“Nara! Kamu mau bikin aku gak konsentrasi nyetir dan nabrak?”


“Sorry.” Kata Nara menyesal. “Aku suka banget sih lihat kamu kaget gitu. Padahal tiap hari aku kasih cium. Kok masih begitu aja reaksinya?”


“Ya karena... Ah! Kalau ini di Indonesia, aku sekarang langsung parkir di mall dan serang kamu di mobil.” Ucap Arvin frustasi, tiba-tiba keinginannya untuk melepaskan pikiran kotor bermunculan.


“Wow seram. Mas Arvin isi kepalanya mesum semua."


“Kalau udah tahu jangan dipancing-pancing kayak tadi dong. Ngerti kan, aku lemah banget kalau disentuh sama kamu!”


“Aku jadi penasaran, gimana rasanya main di mobil.”


“Jangan bercanda ya kamu! Bisa-bisa aku beneran ngelakuin itu sekarang.”


“Aku juga penasaran gimana rasanya main di tenda pas camping di luar ruangan. Pasti lebih seru daripada dulu pas kita camping di apartemen.” Nara mengabaikan peringatan Arvin dan terus menggodanya.


“Kamu lagi ngasih aku ide buat nyerang kamu ya?”


“Coba bayangkan, Vin. Kalau kita ngelakuin itu di tepi pantai yang sepi malam-malam. Mandi bareng kayak di film twilight.” Lanjut Nara menggoda suaminya.


“Nara!” Ucap Arvin memperingatkan kembali.


Nara tertawa mendengar Arvin menggeram kesal. Dia yakin hanya dengan pembicaraan seperti itu sudah membuat pikiran suaminya berlarian kemana-mana. Menggoda Arvin sekarang menjadi salah satu kegiatan favorit Nara, karena dia akan mudah tersulut begitu saja.


Arvin mengebut kendaraannya di jalan, ingin segera sampai di apartemen mereka. Tanpa aba-aba Arvin langsung menyergap Nara setelah tiba di apartemen, memboyongnya menuju sofa dan melancarkan aksi nakalnya.

__ADS_1


Pakaian kini sudah berceceran di lantai tak karuan, sementara kedua manusia itu sibuk saling menyatukan diri, bertukar kecup, dan mengerang dalam setiap gerakan. Hingga satu persatu saling melepaskan perasaan bahagia ke udara, juga calon bayi mereka yang terpaksa tertampung di karet pengaman.


__ADS_2