
"Jangan nakal disini ya, Bby?" Ucap Aryo pada istrinya.
"Iya Daddy."
"Daddy kerja dulu, jangan rewel ya."
"Iya iya, Daddy." Jawab Nayna lagi. Aryo pun tersenyum, pria itu mengecup mesra kening istrinya. Lalu pergi bersama Daniash ke kantor, meninggalkan istrinya itu di kediaman Daniash selama dia bekerja.
"Hati-hati Dad." Aryo mengiyakan dengan anggukan kepala nya, lalu mulai melajukan kendaraan beroda empat itu menjauhi rumah besar kediaman keluarga Kim.
"Yuk, Nay."
"Iya, Ra." Jawab Nayna, keduanya berjalan bersampingan dengan tangan yang saling bertautan.
"Rujakan enak kali ya, Ra?" Tanya Nayna sambil cengengesan.
"Gue biasanya gak suka rujak, tapi denger itu dari Lo, kok kayaknya enak. Yaudah ayo, kita rujakan." Jawab Maura setuju.
Padahal biasanya, Maura tak suka rujak. Tapi saat Nayna yang mengajak, dia malah antusias. Membayangkan rujak buah dengan sambal kacang saja membuat air liur nya seakan ingin menetes saat itu juga.
"Tapi ngerujak apa ya?" Tanya Maura, setaunya di rumah ini hanya ada buah-buahan untuk nya ngemil, bukan untuk rujakan.
"Gak tau."
"Wah, ada tamu ternyata." Ucap Riana sambil menuruni tangga.
"Hehe, iya Ma. Dia Nayna, istri nya om Aryo sekaligus sahabat aku." Jawab Maura.
"Hallo tante."
"Panggil mama aja, sama kayak Maura."
"Eehh iya, Ma."
"Mama, ada buah buat rujakan gak?" Tanya Maura pada ibu mertua nya.
"Rujakan?"
"Iya Ma, Nayna ngidam nih."
"Ohh, kamu sedang hamil juga Nak?" Tanya Riana dengan senyum ramah nya.
"Iya, Ma. Empat minggu kurang." Jawab Nayna membalas senyuman ramah mertua nya Nayna dengan senyuman manis nya.
__ADS_1
"Wah, selamat ya sayang. Jadi pengen makan rujak ya? Di kebun belakang ada jambu air, sebentar mama minta sama Paijo biar di petikin."
"Paijo?" Tanya Maura.
"Iya sayang, tukang kebun baru itu lho."
"Ohh iya, Ma."
Riana pun pergi keluar untuk meminta Paijo mengambilkan buah jambu air di kebun belakang. Sedangkan Nayna dan Maura pergi ke dapur untuk membuat sambel nya.
"Jangan pedes-pedes rujak nya, nanti si Daddy ngamuk, Ra." Ucap Nayna memperingati sahabatnya.
"Okey, cuma lima biji doang. Mana pedes sih? Biasanya juga makan seblak level lima." Jawab Maura sambil tertawa.
"Ya karena sekarang keadaan nya beda, Ra."
"Iya iya, Ibu Nayna." Jawab Maura membuat Nayna terkekeh.
"Baru calon."
"Wkwk, iya juga. Ehh, kita liat Mang Paijo ngambil jambu yuk?" Ajak Maura.
"Dimana gitu?"
"Ayoo.." jawab Nayna, kedua sahabat plus bumil itu keluar dari rumah untuk melihat Paijo yang mengambil jambu.
"Wahh, buah nya lebat banget, Ra. Lo gak suka rujakan ya?" Tanya Nayna sambil menatap takjub ke arah pohon jambu air yang berbuah lebat.
"Gue gak suka rujakan, tapi sekarang mendadak pengen. Mungkin karena sama bumil lain kali ya."
"Bisa jadi juga." Jawab Nayna sambil terkekeh.
"Mang, metik nya agak banyakan. Buat di bawa pulang sebagian." Ucap Maura, biar sahabat menantu nya itu bisa rujakan di rumah nya nanti.
"Siap Bu, saya minta juga buat istri boleh? Lagi ngidam juga." Ucap Paijo sambil cengengesan.
"Boleh, ngambil aja Jo." Jawab Riana memperbolehkan.
"Sayang, sambel nya udah jadi." Tanya Riana pada menantu nya.
"Udah, Ma."
"Kita makan nya disini aja ya, biar enak."
__ADS_1
"Siap, Ma." Jawab Maura, dia masuk ke rumah dan mengambil cobek berisi sambel kacang untuk rujak.
Riana menggelar karpet kecil untuk mereka duduk, sedangkan Nayna memotong-motong jambu air dan ada tambahan satu buah mangga muda yang kebetulan terselip satu buah mangga yang mungkin lupa tak di petik sewaktu panen.
Maura keluar dan mereka pun memulai rujakan, Nayna nampak sangat lahap memakan rujak itu.
"Enak, Nay?" Tanya Maura, dia masih memegang satu potong jambu di tangan nya.
"Enak banget, apalagi jambu nya baru aja di petik, rasanya manis banget seger gitu, Ra."
"Beneran ya enak?"
"Iya enak, kenapa sih?" Tanya Nayna, Maura hanya menggeleng sambil tersenyum.
Maura pun ikut memakan rujak itu dengan perlahan, ternyata rasa rujak nya memang enak. Buah yang baru saja di petik dari pohon nya langsung, memang terasa berbeda, lebih segar dan lebih manis.
Ketiga nya pun memakan rujak dengan lahap, hingga sambel satu cobek pun habis di makan bertiga oleh para wanita. Dua bumil yang sedang masa-masa nya ngidam, sedangkan yang satu lagi ibu paruh baya namun masih suka dengan makanan yang berbahan dasar buah-buahan asam, lalu di cocol dengan sambel gula merah di campur kacang tanah goreng.
Sore harinya, para pria pulang dari kantor. Siapa lagi kalau bukan Daniash dan Aryo. Kedua nya langsung berjalan cepat dengan senyuman yang tersungging di bibir keduanya.
"Baby.." panggil kedua pria itu kompak. Membuat kedua bumil yang sedang ngemil buah itu menoleh bersamaan.
"Lho, baru jam tiga udah pulang?" Tanya Maura sambil berdiri dari duduknya untuk menyambut kepulangan suami tampan nya.
"Gak kuat, kangen sama bumil gemoy Daddy yang cantik ini." Jawab Daniash, tanpa malu memeluk dan menciumi wajah istrinya.
"Hmmm, bolos ya?"
"Hehe.."
"Dih, CEO nya aja tukang bolos gimana bawahan nya?" Ketus Maura, tapi dia tak menolak pelukan hangat suaminya.
"Saya gak ikut-ikutan, Nona. Saya cuma di ajakin pulang sama tuan Dani." Ucap Aryo.
"Hmmm, kalian berdua itu sama aja. Om Aryo juga harusnya ngingetin bapak CEO bucin ini buat pulang tepat waktu."
"Eemm, gak berani saya Nona. Takut bonus gak keluar akhir bulan." Jawab pria itu membuat Maura menggelengkan kepala nya, sedangkan Nayna terkekeh mendengar jawaban suaminya.
Ya, walau bagaimana pun Aryo adalah bawahan Daniash. Kalau dia tak mengikuti keinginan pria itu, bisa-bisa pekerjaan dan gaji nya di tahan oleh pria itu karena kesal mungkin.
.. .....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1