
Daniash langsung memeluk istrinya yang tengah menengadahkan wajahnya dengan punggung bersandar di brankar. Celana nya sudah di buka oleh suster tadi untuk mengecek pembukaan nya.
"Sayang, maafin Daddy telat datang."
"Hmmm, Daddy.." Lirih Maura, tangan nya mengusap lembut kepala suaminya.
"Sakit ya Bby?"
"Banget Dad, sakit nya 100 kali lipat dari nyeri datang bulan." Jawab Maura lirih, namun dia masih bisa tersenyum kecil.
"Maafin Daddy ya Bby."
"Maaf untuk apa, sayang?" Tanya Maura, Daniash menatap istrinya dengan sendu sambil mengusap keringat di kening sang istri.
"Ini semua karena ulah junior Daddy, Bby. Kalau dia gak nyembur di dalam, pasti kamu gak bakal kesakitan gini."
"Gak boleh bicara kayak gitu, Dad. Ini kodrat seorang wanita, ini sudah takdir aku. Jangan menyalahkan diri sendiri, aku tak apa-apa kok." Ucap Maura dengan lembut.
"Sayang.." panggil Daniash, dia panik melihat nafas istrinya terlihat sesak.
"Bby.."
"Sa-kit banget, Dad." Lirih nya, Daniash mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Adek bayi, jangan bikin Mommy kesakitan ya. Kasihan mommy nya, kalau mau keluar, keluar cepet ya?" Pria itu mengecupi perut istrinya, biasa nya ini akan mengurangi rasa sakit istrinya jika sedang datang bulan. Namun perkiraan Daniash salah, Maura malah terlihat semakin kesakitan.
"Aaahhhh, Daddy.." ucap Maura dengan nafas tertahan.
"Sayang, ini Mama bawain air gula merah. Di minum ya.." Ucap Amira, dia langsung datang ke rumah sakit bersama suaminya ketika mendapat telepon dari besan nya kalau putri nya akan segera melahirkan.
"Mama, sakit Ma.."
"Iya sayang, Mama tau. Ini di minum dulu ya?" Maura menurut dan meminum air gula hangat itu dengan sedotan.
"Maa.."
"Dani, panggilin dokter cepat." Ucap Amira, Daniash langsung pergi untuk memanggil dokter.
"Tarik nafas, hembuskan secara perlahan sayang.." Ucap Amira, dia juga pernah dalam posisi ini dulu. Di dampingi ibu mertua nya yang sangat baik dan perhatian, andai saja beliau masih ada mungkin sekarang dia juga yang akan mendampingi cucu nya lahiran.
"Ma, maafin Maura ya kalau selama ini sering bikin Mama kesel sama kelakuan Maura. Maafin semua kesalahan aku ya, Ma." Ucap Maura lirih.
"Tentu saja sayang, Mama memaafkan semua kesalahan kamu, sayang." Jawab Amira sambil mengusap rambut putrinya yang sudah acak-acakan.
Tak lama kemudian, Daniash datang bersama seorang dokter perempuan yang biasa menangani dan memeriksa kehamilan Maura rutin setiap bulan nya.
"Mari, kita cek pembukaan nya lagi." Ucap dokter itu, lalu memakai sarung tangan karet.
"Eehh, mau ngapain itu dok?" Tanya Daniash.
__ADS_1
"Mengecek pembukaan nya, Tuan."
"Itu tangan nya kok di masukin?" Tanya Daniash lagi, dia merasa ngeri sendiri saat melihat seluruh tangan dokter itu masuk ke dalam lubang istrinya.
"Ini sudah prosedur nya, Tuan."
"Nanti longgar dong!"
"Tentu tidak, Tuan." Ucap dokter itu sambil terkekeh. Disaat seperti ini masih sempat-sempatnya melawak.
"Sudah pembukaan sempurna, jadi siapa yang akan mendampingi Nona Maura melahirkan?" Tanya dokter itu.
"Suami nya saja dok, saya permisi." Ucap Amira, tanpa di minta dia keluar dari ruangan yang terasa sangat dingin itu.
"Pakai ini, Tuan." Ucap salah satu perawat dengan mengulurkan sebuah pakaian steril untuk Daniash. Pria itu segera memakai nya, lalu mendekat ke arah brankar dan menggenggam tangan sang istri.
"Semangat istriku sayang, Daddy mencintaimu." Bisik Daniash sambil terus mengecupi kening istrinya, tak peduli dengan asin keringat yang di keluarkan istrinya.
"Aku juga mencintai Daddy." Lirih Maura.
"Apa itu?" Tanya dokter menunjuk gelas berisi air gula.
"Air gula merah, dok."
"Di minum ya? Itu sangat bagus untuk menambah tenaga saat mengeden nanti."
Sedangkan di luar, calon kakek dan nenek itu tengah di landa kecemasan. Amira dan Riana kompak mundar mandir seperti setrikaan, kedua pria paruh baya juga menunggu dengan harap-harap cemas sambil bertopang dagu.
"Kok lama ya?"
"Sabar dong, kan semua nya butuh proses." Ucap Elgar pada Danish.
"Iya juga."
Hampir satu jam kemudian, Daniash keluar dengan wajah kusut nya. Dia langsung memeluk sang Mama lalu menangis di pelukan wanita yang sudah melahirkan nya 32 tahun yang lalu.
"Lho kamu kenapa, sayang?" Tanya Riana sambil mengusap punggung putra nya. Sedangkan Danish dan Elgar langsung berdiri begitu melihat Daniash keluar dari ruangan itu.
"Maafin Dani, Ma. Maafin kalau selama ini Dani sering bikin Mama kesel, bikin Mama marah."
"Iya, mama maafin kok. Tapi kenapa kok nangis?" Tanya Riana lagi, dia melerai pelukan nya, lalu menatap wajah putra nya dan membingkai nya, mengusap air mata yang meluncur bebas dari ujung mata nya.
"Aku lihat Istri aku melahirkan, dia kelihatan sakit banget, Ma. Aku sadar, kalau mama juga pasti kesakitan pas ngelahirin aku, makanya aku minta maaf sama Mama kalau aku ada salah sama Mama."
"Mama pasti maafin kok sayang, sekarang gimana keadaan Maura?" Tanya Riana lagi.
"Dia lagi istirahat setelah berjuang selama satu jam, Ma. Bayi kami juga lahir dengan selamat, sempurna tanpa kurang satu apapun." Jelas Daniash membuat ke empat orang disana akhirnya bisa bernafas lega.
"Syukurlah, mereka sepasang?" Tanya Amira antusias.
__ADS_1
"Iya Ma, sesuai dengan hasil USG." Jawab Daniash dengan senyum ramah nya.
"Syukurlah, dua cucu sekaligus."
"Kau sudah menyiapkan nama untuk mereka, nak?" Tanya Danish.
"Sudah untuk yang perempuan, tapi yang laki-laki belum Pah."
"Kita akan menyiapkan nya nanti, bisakah kita melihat cucu-cucu kami?"
"Nanti setelah keduanya di bersihkan." Jawab Daniash sambil tersenyum kecil.
Semua nya pun terlibat dalam obrolan hangat, hingga Maura sudah di pindahkan ke ruangan perawatan.
"Sayangku.."
"Iya Daddy, kenapa sayangku?" Tanya Maura lirih.
"Ada yang sakit?"
"Tentu sakit, milik ku di jahit dengan benang pancing, Dad. Bayangkan saja, setelah berjuang melahirkan bayi, lalu di jahit hidup-hidup, sakit nya seperti apa." Cerocos Maura yang membuat Daniash tersenyum kecil.
"Maaf ya?"
"Iya gapapa kok, Dad. Mana bayi kita?"
"Sebentar ya, Mom." Jawab Daniash, pria itu pun mengambil kedua anak nya dan membawa nya ke ruangan itu.
"Yang laki-laki lahir lebih dulu dari yang perempuan, jadi ini kakaknya ya."
"Namanya?" Tanya Maura.
"Daviandra Mahendra Wijaya, Daviana Aylana Kim." Jawab Daniash.
"Kenapa yang satu nya Kim, satunya lagi Wijaya Dad?"
"Karena yang satu ikut marga aku, Kim. Yang satu nya lagi ngikut marga kamu, sayang." Jelas Daniash.
"Hmmm baiklah, Mas. Tapi, jangan di beda-bedain ya Mas?"
"Tentu tidak sayang, kedua nya mereka juga anak-anak Daddy."
"Jadi mereka di panggil baby Davi dong?" Tanya Maura, Daniash mengangguk sambil tersenyum.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1