Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 104 - Sup Buatan Nayna


__ADS_3

"Beb.." Pekik seseorang, membuat Maura langsung tersenyum begitu melihat Nayna datang dengan gaya rempong nya, karena dia juga sedang hamil tujuh bulan saat ini. 


"Iya bestie ku." Maura merentangkan tangan nya, Nayna datang dan langsung memeluk sahabatnya. 


"Aku panik banget pas Daddy bilang kamu mau lahiran, terus langsung kesini." Cerocos Nayna, masih memeluk sahabatnya cukup erat. 


"Iya, aku malah sempet-sempetnya mikir kalau aku sakit perut itu gara-gara makan seblak, Nay." 


"Serius? Jadi kamu tahan dulu gitu?"


"Hemm, aku takut mau bilang sama Mama atau sama Daddy, takut di marahin karena keras kepala dan malah makan seblak, hehe."


"Wahh, kalau aku pasti udah langsung nelepon Daddy." Ucap Nayna sambil terkekeh.


"Aku juga pengen nya begitu, tapi aku sadar benar kesalahan aku, Nay. Jadinya takut gitu." 


"Gapapa, yang penting sekarang kamu udah lahiran dengan lancar. Mana keponakan aku?" Tanya Nayna sambil celingukan.


"Lagi di jemur sama nenek-nenek nya." Jawab Maura, karena Nayna datang pagi-pagi nya.


"Mereka beneran cewek sama cowok kan, Ra?"


"Iya, yang cowok nama nya Daviandra Mahendra Wijaya, yang perempuan nama nya Daviana Aylana Kim." Jawab Maura dengan senyum kecilnya.


"Wahh, dari mana kamu nemuin nama sebagus itu?"


"Daddy yang ngasih."


"Ohh, kalo Tuan Daniash yang masih gak heran sih. Tapi kalau kamu, aku kok ragu gitu."


"Heh, kamu jahat banget sama temen sendiri." Ketus Maura merasa tersindir dengan ucapan sahabatnya.


"Hehe, maafin ya becanda doang."


"Iya deh iya, bawa apaan itu?" Tanya Maura ke arah paperbag yang tadi di bawa oleh Nayna, entah apa isinya.


"Itu baju buat baby Davi." 


"Baju?" Tanya Maura dengan kening yang berkerut heran.


"Iya, baju bayi. Aku gak sempet beliin hadiah lagi, soalnya udah di larang keluar sama Daddy. Itu pun sekalian kemaren aku beli perlengkapan bayi buat my baby boy."


"Jadi, bayi mu laki-laki, Nay?" Tanya Maura. Nayna mengangguk dengan cepat.


"Menurut USG sih begitu, semoga aja beneran laki-laki. Soalnya Daddy mau nya anak pertama itu laki-laki, biar bisa jagain adiknya katanya." 


"Aku dapet nya sekaligus dua, sepasang gitu."


"Bagus dong, beb. Gak sabar pengen lihat mereka berdua. Ehh by the way, udah makan belum?" Tanya Nayna.

__ADS_1


"Belum, tadi udah di kasih bubur rumah sakit, tapi gak mau, gak enak banget." 


"Kebetulan aku bawa masakan aku nih." Nayna mengeluarkan wadah bertingkat yang dapat Maura tebak itu berisi nasi dan sayur.


"Masak? Sejak kapan kamu bisa masak, Nay?" Tanya Maura sambil terkekeh. Dia tau benar, kalau sahabat nya ini tak bisa memasak.


"Ya sejak nikah sama Daddy, di rumah gak ada asisten rumah tangga, kalo beli terus terlalu enak di aku nya, jadi aku mulai belajar masak. Nih cobain, kata Daddy sih masakan aku enak." Ucap Nayna, dia memberikan nasi yang sudah di campur dengan sayur sup daging buatan nya.


Maura menatap ragu ke arah makanan yang di berikan oleh Nayna, bentukan nya memang menggiurkan, terlihat sangat enak. Tapi entah bagaimana rasa sebenarnya, karena dia belum berani memakan nya.


"Ayo di makan, Ra. Jangan cuma di liatin, enak kok." Ucap Nayna, Maura pun tersenyum kecil. Tapi begitu melihat senyuman merekah sahabat nya, Maura pun memaksakan diri untuk mencoba masakan Nayna.


Maura menyuapkan makanan itu, satu suap, dua suap hingga makanan di piring itu habis. 


"Gimana, enak kan?"


"Mantul, seger banget kuah nya, Nay. Besok kesini lagi, terus masakin buat aku ya." Ucap Nayna sambil terkekeh.


"Dih, definisi di kasih hati minta jantung." Sinis Nayna, membuat Maura tertawa.


"Kan kita temenan, Nay."


"Temenan sih temenan, tapi gak gitu juga. Sahabat mu ini sedang hamil besar lho."


"Ehh iya juga ya, maaf deh." 


"Eehh, ada Nayna." Ucap Riana, perempuan hamil itu mendekat lalu memeluk ibu mertua sahabatnya.


"Kamu baik, nak?" Kali ini Amira yang bertanya.


"Baik, Ma." Jawab Nayna, lalu beralih memeluk ibu sahabatnya itu.


"Berapa bulan sekarang, nak?"


"Tujuh bulan, Ma." Jawab Nayna sambil mengusap lembut perut buncit nya.


"Wahh, sebentar lagi kamu lahiran juga ya, Nak. Semoga lahir dengan lancar saat waktunya nanti." Ucap Amira sambil mengusap perut buncit sahabat putrinya itu dengan lembut.


"Iya Ma, deg-degan banget udah deket waktu nya."


"Eehh, ponakan aunty mana?" Ucap Nayna, dia berjalan mendekati troli baby Daviandra.


"Ya ampun apa ini? Tampan sekali, astaga.." Puji Nayna, dia begitu kegirangan melihat bayi laki-laki sahabatnya.


Tatapan mata Nayna berbinar ketika mata nya menatap ke arah troli yang satunya lagi. 


"Baby Daviana? Cantik sekali, seperti aunty nya."


"Dihh, siapa yang bikin?" Tanya Maura ketus.

__ADS_1


"Hehe, iya deh iya maaf beb." 


"Kalau di liat-liat, Baby Daviandra itu dominan mirip pada Tuan Daniash ya. Kalau Daviana mirip sama kamu, Ra." Ucap Nayna.


"Apa iya? Siniin dong, aku mau liat." Nayna mendorong sedikit troli bayi itu, Maura duduk bersandar di brankar, lalu mulai memperhatikan kedua bayi nya.


Benar kata Nayna, bayi laki-laki nya lebih mirip suaminya. Sedangkan bayi perempuan nya, lebih mirip dirinya.


Bulu mata lentik dengan kelopak yang indah, hidung mancung seperti perosotan, bibir mungil, sempurna. Itu lah kata yang mengekspresikan baby Daviandra. 


Sedangkan Daviana, tak berbeda jauh dengan Kakak nya, hanya saja bulu mata nya tak selentik milik Daviandra. Namun alis nya lebih tebal dari milik kakak laki-laki nya itu.


"Mereka sempurna.." Gumam Maura sambil tersenyum manis.


"Ya, mereka benar-benar sempurna. Aku iri dengan kedua bayi mu, Ra. Mereka begitu tampan dan cantik, semoga saja bayiku juga setampan putra mu ya." 


"Tentu saja, kamu dan Om Aryo kan sama-sama good looking, jadi pasti anak kalian juga akan terlihat tampan." 


"Iya, tentu saja ya." Ucap Nayna sambil tersenyum kecil, tangan nya mengusap lembut perut buncitnya.


"Awwhhss.." 


"Kenapa, Nay?" Tanya Maura khawatir, begitu pun dengan Amira dan Riana yang langsung mendekati Nayna begitu perempuan itu meringis kesakitan.


"Aaahh tidak-tidak, bayi ku menendang kuat sekali." Nayna cengengesan, membuat ketiga perempuan itu menghela nafas nya lega.


"Mama, aku pengen di masakin sup kayak buatan Nayna tadi ya?"


"Sup apa, sayang?"


"Sup daging, tapi rasa nya agak berbeda. Enak dan kuah nya segar sekali, Ma." 


"Baiklah, nanti Mama minta resep nya sama Nayna ya. Kamu sudah makan?" Tanya Amira.


"Sudah Ma, lihatlah aku makan sepiring besar nasi dan sup daging."


"Syukurlah, sekarang minum obat nya ya." Ucap Riana sambil memberikan sebutir obat dan air minum. 


Maura mengambil obat kecil itu dan meminum nya dengan cepat, meskipun dengan terpaksa karena dia tak suka dengan rasa nya yang sangat pahit.


"Uhhh pahit.."


"Sekarang, boleh makan cemilan." Ucap Riana, dia mengulurkan satu cup salad buah ekstra keju kesukaan Maura. Dari hamil hingga saat ini.


"Nah, aku mendingan makan salad buah ini dari pada obat itu." Celetuk Maura sambil terkekeh.


........


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2