
"Daddy…" Panggil Maura, membuat pria yang sedari tadi menunggu nya di dalam mobil menoleh dan tersenyum saat melihat gadis kesayangan nya datang.
"Sudah selesai kelas nya, cantik?"
"Sudah dong, kalau belum mana mungkin Maura nyamperin Daddy kesini." Jawab Maura sambil cengengesan.
"Kita mau kemana? Check in yuk?" Ajak Daniash dengan senyum nakal nya.
"Isshhh otak Daddy kelewatan mesuum, gak mau ahh. Maura pengen ke toko buku, beli novel."
"Yaudah, Daddy anterin ya."
"Nah gitu dong, makasih Daddy tampanku." Maura menggelayut manja di lengan kekar Daniash.
"Apapun untukmu, sayang." Jawab Daniash sambil mengusap lembut puncak kepala gadisnya.
Pria itu pun mengemudikan mobilnya menjauhi kampus, karena hari ini Maura hanya ada satu kelas. Jadi, dia bisa pergi dengan sang Daddy kemana pun. Toh aman, karena dia sudah bilang akan pulang bersama Nayna.
Sedangkan di kantor, Danish menatap sekretaris putranya dengan tatapan tajam, bak elang yang siap menangkap mangsa nya. Meski sebenarnya takut akan tatapan itu, tapi Aryo tetap berusaha tenang.
"Katakan, dimana Daniash?" Tanya Danish dengan suara datar nya.
"Tuan muda sedang ada urusan di luar kota, tuan besar." Jawab Aryo.
"Jangan berbohong, Aryo!" Tegas Danish, dengan nada tinggi.
"Untuk apa saya berbohong, tuan besar? Bukankah tak ada untungnya untuk saya?"
"Ckkk, di bayar berapa kau oleh putra ku hingga mulutmu tertutup rapat, hanya untuk mengatakan keberadaan nya?"
"Tuan muda Daniash tidak membayar saya untuk hal itu, beliau hanya membayar saya atas pekerjaan saya, tuan besar." Jawab Aryo lagi, setenang mungkin. Padahal dalam hati dia sudah ketar-ketir sendiri, apalagi saat mendengar suara menggelegar tuan besar pemilik perusahaan ini.
"Jadi kau benar-benar mengatakan yang sesungguhnya, Aryo?"
"Iya tuan." Jawab Aryo.
"Kapan Daniash akan pulang?"
"Besok atau lusa, tuan." Jawabnya lagi.
"Cihh, baiklah. Katakan padanya, jika sudah kembali datanglah ke rumah."
"Baik tuan, akan saya sampaikan." Ucap Aryo. Danish berdiri dari duduknya, lalu pergi dari ruangan putra nya dengan membanting pintu kaca cukup kuat, hingga membuat Aryo sedikit terlonjak.
"Aaihh, tuan muda kau membuatku kesulitan. Hampir saja aku mati muda, semoga kau berbaik hati dan memberikan aku bonus bulan ini." Gumam Aryo sambil mengusap dada nya yang berdetak tak karuan. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa takut saat berhadapan dengan Danish.
Sedangkan di sebuah toko buku, Daniash dan Maura sedang memilih buku yang sekiranya cocok untuk gadisnya belajar.
__ADS_1
"Beli yang ini, Bby."
"Enggak, Maura gak suka bisnis. Membosankan, Dad." Jawab Maura, tapi Daniash tak suka di bantah, hingga akhirnya Maura pun terpaksa membelinya.
"Jangan cemberut gitu, kita beli es krim setelah ini. Mau?"
"Mau, yuk sekarang aja." Ajak Maura dengan antusias.
"Beli bukunya udah?"
"Udah kok Dad, ayo.." Maura menarik-narik tangan Daniash, mengajak nya untuk pergi dari toko buku itu. Tentunya setelah membayar.
Selesai dengan pembayaran, kedua nya pun pergi ke stand es krim di pinggir jalan. Meskipun begitu, peminatnya cukup banyak. Hingga harus antri beberapa menit untuk bisa mendapatkan es krim yang Maura inginkan.
"Kamu duduk saja, biar Daddy yang mengantri untukmu."
"Terimakasih Dad.." Maura menurut dan duduk di kursi yang kosong sambil menunggu Daniash membawakan es krim nya.
Namun siapa sangka, ternyata Herra juga ada disana. Wanita itu menyeringai jahat saat melihat gadis yang dia anggap sebagai rivalnya itu tengah duduk sendirian. Herra menyangka, Maura datang sendiri atau bersama teman nya. Karena dia tak melihat sosok Daniash di dekat gadis itu.
"Eheemm.."
Maura mendongak, dia mengalihkan pandangan nya dari ponsel sejenak. Lalu tersenyum saat melihat siapa yang berdehem di dekatnya.
"Ohh, hai Nyonya Kim."
"Tentu, kenapa memang nya?" Balik tanya Maura dengan gaya santainya.
"Nasib ya jadi selingkuhan, pasti Daniash malu untuk mengumbar hubungan kalian secara publik."
"Lalu?"
"Aku hanya kasihan dengan mu, masih muda tapi sudah jadi pelakor." Cibir Herra, namun Maura malah terkekeh.
"Pelakor terhormat seperti saya tentunya lebih baik dari pada jalaang yang tak punya harga diri, Nyonya."
"Cihhh, pelakor terhormat katamu? Naajis!"
"Tapi kelakuan anda lebih naajis, nyonya."
"Memang nya apa yang kau ketahui tentang aku hah, jalaang kecil?"
"Aku tau semuanya, sepak terjang mu dalam dunia entertainment, juga kehidupan pribadi mu, Nyonya Kim." Lirih Maura, namun mampu membuat Herra terhenyak.
"Sejauh apa hubungan mu dengan suamiku hah?" Bentak Herra. Bukan nya takut, Maura justru tergelak saat mendengar teriakan wanita itu.
"Sejauh apa? Nyonya pikir saja sendiri."
__ADS_1
"Katakan!"
"Yaahh, Daddy bilang istrinya tak pernah memberi nya hak sebagai suami, jadi dia meminta nya dariku, Nyonya. Dan apa kau tau? Daddy selalu puas dengan servis ku, apalagi aku masih muda, jadi lebih memuaskan nafssu nya." Ucap Maura lirih, membuat emosi Herra terbakar.
Dia sendiri yang selalu menolak Daniash, tapi kenapa saat mendengar kalau Daniash meminta nya dari gadis di hadapan nya, dia merasa tak terima? Tunggu, apa katanya? Daniash selalu puas dengan servis nya? Aarggh sial, hatinya terasa terbakar panasnya api cemburu.
"Kau…"
"Hmmm, kenapa Nyonya?"
"Jangan lupakan kalau aku istri sah Daniash, jalaang kecil."
"Anda memang istri nya dan saya tau benar akan hal itu, tapi apa anda yakin bisa memiliki hatinya? Saya rasa tidak, karena hati Daddy ada bersama saya." Jawab Maura telak, membuat Herra bungkam seketika. Tatapan nya tajam menyorot ke arah Maura yang masih nampak tenang dan bisa mengendalikan emosi nya, berbeda jauh dengan Herra.
"Kau membuat kesabaran ku habis, jalaang kecil!" Herra mendekat, bersiap untuk menampar Maura.
Tapi dengan cepat, Maura menangkap tangan Herra dan mencengkeram nya, seperti saat di restoran hari ini. Bahkan luka yang di dapatkan Herra karena kuku-kuku panjang Maura belum sepenuhnya sembuh.
"Seperti nya anda tak kapok saat pertemuan terakhir kita hari itu, mau aku buat tangan mu berdarah lagi, hmm?" Tanya Maura, tatapan nya menajam.
Herra meronta, membuat Maura semakin mengencangkan cengkeraman nya di tangan Herra.
"Hmmm, kau tak ada apa-apa nya di bandingkan aku, Nyonya. Anda hanya punya popularitas dan jutaan fans, tapi apa anda yakin setelah mereka tau siapa anda, apa mereka akan tetap menjadi fans anda? Begitu pun dengan saya."
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan saja tangan nya, sayang." Suara tegas nan dingin yang begitu mendominasi terdengar, Daniash datang dengan wajah datar nya. Kedua tangan nya dia masukan ke dalam saku celana bahan nya.
Maura menurut dan melepaskan cengkeraman nya, membuat Herra langsung menarik tangan nya dan melihat luka-luka baru yang di buat gadis kecil di depan nya.
"Lihat apa yang sudah dia lakukan padaku, Mas. Selingkuhan mu sangat arrogant dan tak punya sopan santun!"
"Dia takkan mengusik mu, kalau kau tak mengusiknya lebih dulu, Herra." Jawab Daniash masih dengan suara datar nya.
"Mas, aku ini istrimu. Kenapa kau lebih membela dia dari pada aku?"
"Istri ya? Sejak kapan kau menjadi istriku, hmm? Aku berasa lajang dan tak punya istri, kau bisa bebas berhubungan dengan pria manapun, begitu pun aku!" Jawab Daniash membuat Herra terdiam.
"Mas…."
"Cukup Herra, aku muak melihatmu. Setelah ini, kita harus bicara tentang perpisahan."
"Tapi, mas…." Daniash pergi dengan menggenggam erat tangan gadisnya, tak peduli pada Herra sedikitpun.
Maura menoleh ke belakang, dia tersenyum mengejek, ke arah Herra seolah mengatakan kalau dia yang menang.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻