Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 122 - Maura Salah Paham


__ADS_3

"Mama.." 


"Sayang.." Kedua wanita berstatus anak dan ibu itu berpelukan dengan erat. Kedua nya melepas rindu, sudah cukup lama memang kedua nya tidak bertemu, mungkin tepat nya satu minggu yang lalu. Saat Maura dan Daniash pindahan ke rumah baru. 


"Apa kabar, sayang?"


"Baik, Ma. Tentu saja." Jawab Maura dengan senyum manis nya. 


"Tunggu, kamu kelihatan sedikit berisi dari pada terakhir kali kita bertemu?" Tanya Amira sambil meneliti penampilan putrinya. Dari atas hingga ke bawah tanpa terlewat sedikit pun.


Bahkan, putri nya itu memakai flatshoes. Dia tau benar, kalau putri nya itu sangat anti memakai sepatu seperti itu, ya alasan nya karena dia akan terlihat semakin pendek.


Biasa nya, Maura akan mengenakan sendal dengan hak tahu di bawah nya, atau sepatu dengan hak di dalam nya. Tujuan nya ya supaya terlihat lebih tinggi, tapi tetap saja terlihat pendek, apalagi jika di bandingkan dengan Daniash yang tinggi nya menjulang seperti tiang listrik.


"Jadi, mama ngatain aku gendut begitu?" Tanya Maura sensi, membuat Amira terkekeh.


"Bukan begitu, sayang. Mama cuma bilang kamu agak berisi gitu." 


"Ohh begitu ya, gapapa sih artinya Daddy ngasih aku makan dengan baik." Jawab Maura sambil tersenyum. 


"Ya sudah, ayo masuk." Ajak Amira, sedangkan Elgar hanya terdiam di ambang pintu dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.


"Kamu hamil lagi?" Tanya Elgar saat melihat putri nya duduk di sofa bersama istri nya. 


"Kata siapa, pah?" Maura terlihat seperti keheranan, dari mana papah nya tau kalau dia tengah mengandung lagi?


"Hanya menebak saja." 


"Hehe, iya Pah." Jawab Maura sambil tersenyum, dia mengusap perut nya yang masih datar. Sedangkan Amira, dia terkejut hingga mulut nya menganga.


"Ya, niat nya juga kesini tuh pengen ngasih tau kehamilan Maura, tapi udah ketahuan duluan." Ucap Daniash sambil menggendong kedua baby di tangan nya.


"Sayang, apa benar?"


"Iya, Ma. Maura hamil enam minggu." Jawab Maura sambil tersenyum manis.


"Tapi Anna sama Davi masih kecil, sayang. Bagaimana bisa mereka punya adik di usia yang masih sangat kecil." 


"Mama, baby Anna sama Davi udah satu tahun lebih. Jadi nanti pas adik nya lahir, pasti mereka udah dua tahun. Gapapa dong, biar repot ngurus nya sekalian." Jawab Maura.


"Ya sudah, terserah kamu saja sayang. Tapi ingat, jangan sampai mereka kekurangan kasih sayang." 


"Iya Ma, Maura sama Daddy pasti adil sama anak-anak kami nanti." Jawab Maura. 


"Ohh iya, mama tahu? Maura hamil kembar lagi."


Makin terkejut saja Amira di buat nya, sedangkan Elgar hanya tersenyum kecil. Dia sudah menduga nya, kenapa? Entahlah, tapi hati kecil nya mengatakan hal demikian. Dari awal, dia juga sudah bisa menebak kedatangan kedua nya. Kalau bukan sekedar berkunjung, pasti ada sesuatu yang akan putri nya beritahukan dan ya, kabar kehamilan kembar yang di bawa oleh kedua nya. 


Kabar yang sangat bagus dan membahagiakan, meskipun Elgar kurang setuju dengan hamil jarak dekat. Karena Maura masih sangat muda, tapi tak masalah karena cucu nya sudah hadir, bukan berarti harus di hilangkan bukan? Terima saja dan sambut mereka dengan suka cita. 


Apalagi kehamilan kembar, ini yang kedua kali nya. Jujur saja, sebagai seorang ayah pastinya dia merasa khawatir, tapi semoga saja tidak terjadi apapun apalagi hal yang tak di inginkan. 


"Sayang, kok kembar lagi?"


"Mana aku tau, Ma. Tanyain aja sama Daddy, kenapa sekali nyetak dapet dua sekaligus." Jawab Maura. 


"Astaga, Dani.." Amira melirik menantu nya yang sudah nyengir sambil menggendong baby Anna dan Davi.


"Bolehkah Papa timpuk dia, Ma? Karena sudah merusak putri kita satu-satunya?" Tanya Elgar dengan antusias.


"Terserah papa saja, tapi jangan di timpuk dengan batu. Nanti baby Anna sama Davi gak kenal wajah Daddy nya." Ketus Amira, membuat Daniash segera memberikan kedua buah hati nya kepada pengasuh nya dan segera berlari keluar dari rumah di ikuti oleh Elgar yang mengejar menantu nya di belakang. 


"Astaga, mereka itu.." Maura menggelengkan kepala nya melihat tingkah menantu dan mertua itu yang seolah tidak pernah kehabisan ide untuk membuat keributan.


"Sayang, kamu benar-benar hamil kembar?"

__ADS_1


"Iya Ma, aku sudah memeriksakan mereka ke dokter kandungan ku." Jawab Maura.


"Kamu yakin sayang? Kamu masih muda, baby Anna juga Davi masih kecil."


"Tidak apa-apa, Ma. Daddy juga mendukung."


"Baiklah, kalau suami mu sudah mendukung. Kamu sudah memberitahu mertua mu?" Tanya Amira lagi.


"Belum, kami baru memberitahu Mama sama papa dulu. Rencana nya, nanti setelah dari sini langsung ke rumah mama. Sekalian belanja juga, soalnya udah banyak yang habis." 


"Hmm ya sudah, kamu mulai mengidam?" Tanya Amira sambil mengusap lembut pipi sang putri. 


"Belum, Ma. Waktu itu juga, Daddy yang ngidam duluan. Doyan rujak, gak tau kalau ngidam yang sekarang." 


"Semoga ngidam nya gak aneh-aneh ya, sayang." 


"Iya Ma, masak apa hari ini Ma?" Tanya Maura, dia sedang memangku baby Davi saat ini. Bayi itu memang lebih dekat bersama mama nya, kalau baby Anna lebih dekat dengan Daddy nya. Benar kata orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayah nya, itulah yang terjadi pada baby Anna.


"Hari ini Mama masak gulai daging, mau?"


"Wihh, mau dong Ma." Jawab Maura sambil tersenyum.


"Mau makan sekarang, sayang?"


"Hanin sama Mira juga belum makan kayak nya."


"Yaudah, yuk sekalian kita makan bareng." Ajak Amira. 


"Yuk, makan bareng?" 


"Boleh, Nona." 


"Ayo, kalian harus nyobain masakan Mama aku." Ajak Maura sambil mengajak kedua pengasuh anak-anak nya dengan ramah seperti biasa nya.


Maura pun makan dengan lahap, begitu juga dengan Hanin dan Mira. Benar, masakan Amira memang enak. Meskipun dulu, dia tak bisa memasak sama sekali. Tapi, sejak menikah dengan Elgar, dia memilih untuk belajar dari maid di rumah orang tua nya dulu. 


Dengan begitu, Amira menjadi semangat lagi untuk tetap belajar memasak. Bahkan, pernah satu kali, dia memasak sayur sup yang sangat asin. Begitu Elgar mencoba nya, dia malah tersenyum kecil dan mengatakan kalau masakan nya enak. 


Tapi, saat Amira mencoba nya sendiri. Dia merasakan seperti seluruh lautan berada di dalam mulut nya. Saat itu, Elgar hanya mengatakan kurangi garam nya sedikit. Bahkan, tanpa amarah sedikit pun karena makanan yang di masak nya tak enak sama sekali.


Itulah yang membuat nya merasa lebih semangat untuk belajar memasak dan inilah buah dari kesabaran nya saat itu. Dia bisa memasak, bahkan seenak masakan di restoran. Hebat bukan? Itulah, tiada usaha yang menghianati hasil. 


"Enak kan?"


"Iya, Nona. Ini enak sekali." Jawab Hanin sambil tersenyum.


"Benar, ini sangat enak." Ucap Mira juga. 


"Terimakasih." Amira tersenyum hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit.


"Apa kamu berpikir seperti aku, Hanin?"


"Iya, senyuman Nyonya Amira sangat cantik, persis seperti Nona Maura." Jawab Mira tersenyum kecil. Benar memang, Maura sangat mirip dengan Amira, ibunya.


"Kalian berbisik-bisik apa?" Tanya Maura.


"Aahh, tidak ada Nona." Jawab kedua nya kompak.


"Kalian menggosipkan aku?"


"Tidak Nona, tidak. Kamu tidak berani melakukan hal itu." 


"Haha, santai aja kali. Kalian terlihat ketakutan, padahal aku hanya bercanda." Jawab Maura sambil terkekeh. Dia memang bercanda, tapi Hanin dan Mira terlihat sangat panik. 


Sedangkan di kebun belakang, Daniash dan Elgar tengah terlibat perdebatan yang cukup sengit.

__ADS_1


"Kenapa kau merusak putri ku hah?"


"Maura nya suka, Pah. Dia nya minta terus, kadang aku kewalahan." Jawab Daniash sambil menepuk-nepuk pantaat nya yang baru saja kena tendang oleh papa mertua nya.


Kemarin, dia yang menendang pantaat sekretaris nya. Sekarang giliran dia yang kena tendang oleh papa mertua nya, definisi karma di bayar instan.


"Kamu yang maksa!"


"Ya awalnya memang di paksa, Pah. Tapi kalo udah masuk, Maura nya mendesaah aja."


"Heh!" 


"Beneran, pah."


"Terus kenapa hamil kembar lagi hah? Kau tak berpikir kalau tubuh mungil putri ku akan kesulitan membawa dua janin di rahim nya heh?" Tanya Elgar.


"Mana aku tau bakal nyetak twins lagi, Pah. Tapi, bukankah itu artinya aku punya bibit unggul? Sekali cetak langsung dua." 


"Memang, tapi putri ku yang menderita!"


"Maura nya yang mau nambah anak, aku sudah melarang, tapi dia nya keras kepala, Pah." Elak Daniash, toh dia memang sudah melakukan nya, tapi Maura keras kepala untuk tidak melakukan KB alami lagi. 


"Cihh, alasan!" 


"Sudah cukup pah, apa yang di katakan sama Daddy itu benar. Aku yang keras kepala, aku yang mau punya anak lagi." Ucap Maura, dia melerai perdebatan suami nya dan papah nya.


"Sayang.." 


"Mommy.." Panggil Elgar dan Daniash bersamaan. 


"Sudah ya? Tak usah di perdebatkan, kalau kalian tak menyukai kehamilan ku, aku tak apa. Biar aku mengurus nya sendiri." Jawab Maura membuat Daniash gelagapan.


"Mommy, bukan seperti itu."


"Sayang, bukan seperti maksud papah."


"Tak apa, Pah. Aku cukup tahu, maaf." Maura langsung pergi dari kebun belakang menuju kamar nya dan mengunci dari dalam. 


'Kenapa kehamilan ku membuat perdebatan antara papah dan Daddy? Apa mereka tak senang dengan kehamilan ku?' Batin Maura, dia menyandarkan tubuh nya di balik pintu.


Daniash berlari menyusul ke kamar, dia mengetuk pintu nya dengan tak sabar. 


"Mom, buka pintu nya." 


"Mom.." 


"Mommy, bukain pintu nya. Daddy bisa jelasin, Mom." 


"Kenapa, ada apa sama Maura?" Tanya Amira, dia sendiri khawatir saat melihat Daniash berlari dan mengetuk pintu kamar dengan tak sabar. 


"Maura, Ma." Lirih Daniash.


"Hmmm, kenapa?" Daniash pun mendongak, lalu menjelaskan semua nya dari awal, tanpa terlewat sedikit pun.


"Begitu, Ma. Seperti nya Maura salah paham deh, padahal bukan gak suka. Cuma papah tuh khawatir aja sama dia, kan hamil nya jarak deket gitu, terus kembar." 


"Iya, mama juga khawatir. Biarkan saja dulu, Maura pasti ingin sendiri dulu."


"Tapi, Ma.." 


"Biarkan Maura sendirian dulu, biar dia merasa tenang." 


"Baiklah, Ma." Jawab Daniash lirih, lalu pergi dengan langkah gontai nya.


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2