Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 58 - Memancing Singa Kelaparan


__ADS_3

"Bby, masuk yuk? Angin nya semakin dingin." Ajak Daniash pada Maura, namun seperti nya gadis itu belum ingin masuk ke kamar. Dia masih ingin melihat bulan yang menggantung indah di atas langit yang cerah, tanpa di hiasi awan mendung.


"Gak mau, aku masih pengen lihat bulan itu, Dad." Kekeuh Maura membuat Daniash menghela nafas nya, sifat keras kepala gadisnya kadang kala membuat nya pusing sendiri menghadapi nya.


"Tapi dingin, Bby. Gak baik buat kesehatan kamu sama bayi kita, jangan keras kepala dong. Nurut ya? Lagi pula, tak ada hal yang lebih indah dari pada kamu." 


"Daddy gombal." Ucap Maura sambil menepuk dada bidang Daniash dengan manja.


"Lho kok gombal sih? Kenyataan lho ini, Daddy serius Bby." 


"Iya deh, yaudah kita masuk aja." 


"Nah gitu dong, kamu cantik nya nambah berkali lipat kalo jadi gadis penurut gini deh." Puji Daniash pada Maura.


"Tapi, pengen di gendong."


"Siap tuan putriku." Dengan sigap, Daniash menggendong gadis nya ala koala.


Daniash sedikit kesulitan saat menggeser pintu kaca dan menutup gordeng, tapi Maura tak mau turun dari pangkuan nya. Setelah dekat ke ranjang, Daniash menurunkan gadis nya dengan perlahan, seolah gadis itu adalah kaca yang mudah pecah.


"Selamat tidur, sayang."


"Daddy mau kemana? Daddy tidur disini sama Maura kan?" Tanya Maura.


"Iya dong, Daddy yakin kamu gak bakal tidur nyenyak kalo gak Daddy peluk. Iya kan?" 


"Hehe iya sini dong, dad." Maura merentangkan tangan nya.


"Daddy ganti pakaian dulu ya? Sebentar kok."


"Heem, jangan lama. Maura udah ngantuk banget."


"Iya baby." Daniash pergi ke kamar ganti dan mengganti pakaian nya dengan piyama. Setelahnya, dia berbaring di samping sang gadis lalu memeluknya dengan erat.


"Good night, babe. Have a nice dream." Bisik Daniash sambil mengecup kening Maura dengan lembut.


"Good night too, Daddy. Aku pasti mimpi indah kalau di peluk sama Daddy." 


"Heemm kamu ini, ada-ada saja Bby. Sudah, ayo tidur. Besok kan kita ke rumah sakit buat jengukin dedek bayi."


"Iya Daddy, love you." 


"I love you more, babe." Balas Daniash, lalu keduanya pun memejamkan mata mereka dan larut dalam tidur nyenyak. 


Berbeda situasi dengan di apartemen milik Aryo. Pria itu tengah menatap gadisnya dengan tatapan tajam, entah kenapa beberapa hari ini gadis itu selalu memancing gairaah nya.


Mulai dari selalu memakai pakaian minim, lingerie yang menerawang, bahkan pernah tak mengenakan apapun di tubuhnya. Bahkan saat ini pun, gadis itu tengah berusaha menggoda nya dengan duduk di pangkuan nya tanpa mengenakan sehelai benang pun. 


"Ngapain?"


"Ayolah, Dad." Bujuk Nayna.


"Ayo kemana? Jalan-jalan? Pake baju dulu sana, ngapain gini? Nanti masuk angin lho, Bby." 


"Pengen nyobain di unboxing." Jawab Nayna manja. 


"Sakit lho, Bby." 

__ADS_1


"Aku tau, Maura udah cerita. Tapi dia bilang setelah sakit itu, ada kenikmatan yang tak bisa di jelaskan oleh kata-kata." Jawab Nayna lagi, sambil membelai wajah Aryo dengan jemari lentik nya.


'Nona Maura, anda meracuni pikiran gadis saya. Astaga, kalau sudah begini bagaimana? Gas aja kali ya?' Batin Aryo, sebenarnya dia juga lelah selalu menahan nafssu nya saat di hadapkan dengan gadis ini.


"Jadi?"


"Penasaran, pengen nyobain. Lagian, Daddy kenapa gak bernafsuu sama aku sih? Apa aku kurang montok ya?" Tanya Nayna.


"Gak gitu, Bby." 


"Terus kenapa?" Tanya Nayna lagi, dia menuntut jawaban dari pria di depan nya. Dia penasaran, kenapa Aryo nampak tak bernafssu sama sekali kepadanya.


"Bukan gak bernafssu, sayang. Tapi Daddy tahan, sekuat tenaga. Kamu pikir Daddy gak normal sampe gak punya nafsuu hmmm? Gak kerasa junior Daddy bangun ya?" Tanya Aryo, Nayna meraba ke arah bawah. Benar saja, ada benda yang menggembung dan terasa keras seperti tongkat.


"Jadi, tunggu apa lagi Dad? Gak usah di tahan, yuk main?" Ajak Nayna, tangan nakal nya meremaas junior milik Aryo, membuat pria itu melenguuh pelan. 


"Eemmmhhh, sayang.." 


"Kenapa? Enak kan, Dad?" Tanya Nayna dengan kedipan nakal nya.


"Jangan salahin Daddy, kalau besok kamu gak bisa berjalan ya?"


"Oke, Daddy." Jawab Nayna, terdengar seperti menantang bagi Aryo.


"Baiklah, ayo kita bermain sayangku." Aryo langsung melumaat bibir mungil gadisnya dengan buas seperti biasanya, pria itu juga meninggalkan banyak bekas kemerahan di leher hingga ke dada gadisnya.


Nayna turun dari pangkuan Aryo, lalu menurunkan resleting celana pria itu, sekalian membuka nya hingga ke lutut. 


Kedua mata gadis itu membeliak, seketika rasa takut melanda hatinya. Apakah benda itu bisa masuk ke dalam miliknya? Itu terlalu besar.


"Kenapa berhenti, Bby? Kamu takut atau…"


"Uuhhhh, Bby.." 


"Enak kan? Baru gesekan lho, belum masuk kesini." 


"Kita bermain disini, sayang?"


"Tentu, kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa, tak ingin di kamar saja?"


"Udah gak tahan, Dad. Disini aja yuk?" Ajak Nayna, Aryo hanya menganggukan kepala nya dan membiarkan gadisnya mengambil seluruh kendali.


"Masukan perlahan, sayang. Kalau sakit, berhenti." 


"Heem.." Nayna menggesekan helm junior sang Daddy dengan perlahan, lalu menekan nya hingga berhasil separuhnya, Nayna meringis menahan rasa sakit, perih dan ngilu yang datang bersamaan di area bawahnya.


"Ssshhhh.." 


"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru sayang. Ini kali pertama mu, ingat itu. Jangan berlaku seperti profesional, Bby." 


"Daddy terlalu banyak omong, bantuin napa." Ketus Nayna.


"Bantu apa hmmm?"


"Apa aja Dad, yang bisa merangsaang biar inti ku makin basah." 

__ADS_1


Aryo menangkup kedua bulatan kenyal yang tersaji di depan matanya, lalu mendekatkan mulutnya dan menguluum putting kemerahan di puncak gunung kenyal milik Nayna. 


Gadis itu mendongakan wajahnya, menahan rasa nikmat yang tengah dia rasakan. Meski terasa sakit, tapi rasa nikmat nya sudah dia rasakan. 


"Aaahhhh…" Nayna mendesaah panjang saat dia nekat dengan memasukan junior sang Daddy hingga berhasil masuk sepenuhnya.


"Sakit?" 


"Huumm, sakit, perih, ngilu juga Dad." Jawab Nayna membuat Aryo terkekeh.


"Kata Daddy juga apa, kamu sih penasaran."


"Belum di coba ya belum tau dong, Dad." 


"Jadi, tetep mau di atas atau di bawah aja? Biar Daddy yang pompa?"


"Daddy aja deh, lutut aku lemes banget." Jawab Nayna pelan, Aryo tersenyum kecil lalu dengan cepat membalik posisi, hingga Nayna berada di bawah tubuhnya. 


"Pelan-pelan dulu ya Dad?"


"Tentu, Daddy tau sayang." 


Secara perlahan, Aryo menggerakan pinggang nya maju mundur. Nayna mencengkram kuat pundak Aryo menahan rasa sakit dan perih yang bercampur jadi satu di bawah tubuhnya.


Namun hal itu berlangsung selama beberapa detik saja, setelahnya dia merasakan kenikmatan yang luar biasa.


"Ahhh Daddy, lebih cepath. Aku ingin pipis.." Racau Nayna membuat Aryo mempercepat gerakan nya, hingga beberapa detik kemudian tubuh Nayna mengejang, dia berhasil mendapatkan klimaaks pertama nya.


"H-ahh.. hahhh… Daddy, aku pipis." 


"Itu klimaaks sayang, kamu meledak." Jawab Aryo, masih terus bergerak di atas tubuh polos gadis nya.


"Aaahhh aahhh, Daddy…" 


"Pipis lagi?"


"Huumm.." 


"Curang, kamu udah meledak dua kali lho. Padahal kita main baru berapa menit, yang."


"Enak banget, walaupun awalnya emang sakit." Aryo tersenyum lalu keduanya berciuman mesra, tanpa melepaskan pertautan di bawah sana. 


Bunyi ciplaakan pertemuan antara kulit yang bercampur keringat terdengar merdu memenuhi seluruh ruangan, desaahan nikmat terdengar syahdu, menambah suasana panas yang tercipta di antara keduanya.


"Aaahhh, Daddy mau keluar Bby.." Aryo menggerakan tubuhnya lebih cepat dan beberapa detik kemudian cairan hangat membanjiri inti tubuh Nayna. Aryo ambruk memeluk tubuh sang gadis dengan erat.


"Enak sekali, Bby." 


"Ihhh bocor, Dad." Ucap Nayna saat merasakan paha nya basah karena cairan bekas percintaan mereka baru saja.


"Iya Bby, gapapa. Yang netes, nanti Daddy lap. Yuk lanjut di kamar." Aryo menggendong gadis nya ke kamar, sedangkan Nayna yang sudah lemas karena sudah klimaaks beberapa kali padahal baru satu ronde. 


Gadis itu hanya bisa melingkarkan kaki nya di pinggang Aryo, sambil memeluk pria itu. Bahkan dia bisa merasakan junior milik sang Daddy yang tadi sudah menyemburkan lahar panas nya, kini kembali mengeras di dalam sana.


Dia yakin, dia takkan bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi, ini juga salahnya sendiri karena berani memancing singa yang kelaparan, begini lah akibatnya dia takkan melepaskan mangsa nya sebelum kenyang. Bisa di pastikan, esok hari dia takkan bisa berjalan.


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🤩


hayo lho Nay, mancing-mancing sih🤣🤣


__ADS_2