
Sore harinya, Daniash datang ke rumah sakit dengan wajah super duper lesu nya. Pria itu berjalan gontai memasuki ruang perawatan istrinya. Tapi, seketika rasa lelah nya hilang seketika saat melihat istrinya tengah tertidur, begitu pun kedua buah hati nya yang tertidur lelap juga di box nya.
Hati nya merasa damai ketika melihat ketiga orang yang paling dia cintai itu tertidur damai. Daniash berjalan, lalu mengusap pipi gembul kedua anak nya, Daviandra dan Daviana.
Lalu mendekat ke arah brankar istrinya, mengecup dengan sayang kening wanita yang sudah melahirkan kedua buah hati nya, lalu mengusap lembut kepala nya.
"Enghh, Daddy.." Lirih Maura dengan suara serak khas bangun tidur nya, wanita itu mengucek kedua mata nya yang terasa berat.
"Maaf sudah membuat tidur mu terganggu, sayang."
"Tak apa, Dad. Aku juga sudah tertidur cukup lama seperti nya." Jawab Maura dengan senyuman manis nya.
"Hmm, apa mereka rewel sayang?"
"Tidak, Dad. Ada nenek nya yang selalu siaga dan membiarkan aku istirahat."
"Syukurlah, sayang." Daniash kembali mengusap pelan rambut istrinya.
"Daddy, bawa apa?"
"Kamu pengen apa, sayang?" Balik tanya Daniash, dia memang tak membawa apa-apa hari ini.
"Aku pengen martabak manis rasa coklat keju, Dad. Boleh?"
"Boleh dong, Mom. Tapi Daddy capek, pesen online aja ya?" Maura menganggukan kepala nya setuju, lagi pula dia tak tega menyuruh suaminya yang baru saja pulang kerja.
"Iya, Daddy pesen dulu ya."
"Hmm, iya Daddy."
"Mama kemana?" Tanya Daniash sambil celingukan mencari kedua sosok ibu nya.
"Mereka pulang dulu, nanti malam kesini lagi."
"Mommy.."
"Yes, Daddy. Kenapa?" Tanya Maura.
"Setelah kita pulang ke rumah, Daddy akan menyewa dua baby sitter untuk membantu kamu menjaga dua bayi kita ya?"
"Aku sih terserah Daddy aja." Pasrah Maura, rasanya dia juga takkan sanggup mengurus dua bayi sekaligus. Apalagi ini anak pertama nya, dia belum berpengalaman apapun tentang cara mengurus bayi yang baik dan benar.
"Gitu dong nurut."
"Hmm, aku juga harus fokus ngurus bayi besar ku. Lengah dikit aja, bisa-bisa di gondol kucing genit." Celetuk Maura dengan ekspresi kesal, lengkap juga dengan bibir yang mengerucut lucu, membuat Daniash gemas sendiri.
__ADS_1
"Hahaha, kucing genit tuh kayak gimana sih hmm? Baru denger Daddy ada kucing genit."
"Cihh, pura-pura gak tau." Ketus nya membuat Daniash semakin tergelak saja.
"Emang Daddy gak tau, Mommy."
"Ihhh kesel." Maura bersedekap dada, sungguh dia kesal dengan suaminya.
"Kamu yang goda Daddy, kamu juga yang kesel. Ada-ada aja nih istri cantiknya Daddy."
"Mana martabak nya? Lapar!"
"Sebentar lagi Mom, sabar ya. Jangan ngambekan dulu, nanti cantiknya luntur." Goda Daniash lagi, membuat Maura mencebik lalu menepuk lengan suaminya.
"Dad.."
"Iya Mommy, kenapa?"
"Kapan aku boleh pulang? Bosen disini, Dad." Keluh Maura, dia paling tak suka dengan suasana dan bau rumah sakit. Bisa di bilang, rumah sakit adalah tempat yang paling tak ingin Maura kunjungi.
"Nanti, kita tanya dokter ya Mom? Tapi kalau misalnya belum bisa pulang, Mommy nya sabar dulu ya?"
"Pengen nya sih kabur, tapi takut gak di cariin sama Daddy." Ucap Maura sambil cengengesan.
"Awas aja kalau kamu coba-coba kabur dari Daddy, jangan harap kamu bisa lolos. Bahkan dalam mimpi sekali pun."
"Hmm, baiklah sayang. Seperti janji Daddy padamu hari itu." Ucap Daniash, pria itu benar-benar menepati janji nya dulu, saat dia pertama kali bertemu dengan Maura dan mengetahui alasan wanita itu menjadi sugar baby.
"Terimakasih sudah memberikan apa yang tak aku dapatkan, Dad."
"Sama-sama Mom, kalau saja hari itu kita tidak di pertemukan dengan maksud dan tujuan masing-masing, mungkin kita takkan bertemu dan saling mencintai seperti sekarang, Mom." Ucap Daniash panjang lebar, membuat Maura tersenyum.
Suami nya yang dulu irit bicara, kini jadi banyak omong dan bucin nya keterlaluan, tapi ya inilah hidup. Tak selama nya orang akan bersikap sedemikian rupa, sedingin-dingin nya es kutub pasti akan mencair juga.
Ya begitu juga Daniash, akhirnya dia takluk di bawah pesona seorang gadis muda bernama Maura Putri Wijaya. Dirinya yang dulu tak suka di repotkan dengan tingkah manja ala remaja, malah menyukai semua yang berhubungan dengan gadis itu.
Dan ya, inilah yang terjadi.
"Sudah pulang, Dan?" Sapa Elgar, membuat Maura memutar matanya jengah. Kalau ada suami dan papa nya, pasti akan terjadi perdebatan yang membuat nya darah tinggi.
"Kalau sudah disini ya pasti udah kali, pake nanya. Unfaedah banget pertanyaan nya!" Jawab Daniash ketus.
"Seperti nya kamu tuh gak di ajari basa basi ya."
"Biar apaan gitu? Kayak sayur aja ada kata basi. Dimana-mana, sebelum basa-basi ya mendahulukan realita, Pah."
__ADS_1
"Dihh, dasar.."
"Dasar apa?"
"Dasar Kali." Jawab Elgar ketus. Maura menghembuskan nafas nya dengan perlahan, menahan emosi nya agar tak meledak saat mendengar perdebatan yang akan segera di mulai.
"Dan, kerjaan kamu di kantor masih kurang gak?" Tanya Elgar.
"Bukan kurang lagi, Pah. Numpuk, bahkan beberapa ada yang gak sempet di kerjain saking kurang nya." Jawab Daniash. Sudah tau menantu nya ini seorang CEO, masih saja di tanya kurang kerjaan atau enggak.
"Hmm, kirain kurang kerjaan."
"Papah tuh yang kurang kerjaan, makanya julidin aku terus."
"Apaan, siapa yang julid? Kagak yaa, kerjaan papah banyak, numpuk kayak cucian kotor." Jawab Elgar tak mau kalah.
"Sebelum baby Davi bangun, sebaiknya kalian keluar deh!" Tegas Maura, dia jengah mendengar perdebatan unfaedah antara suami dan papah nya itu.
Kompak, keduanya pun langsung terdiam. Bahkan Daniash langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Gini kan enak, adem ayem. Kalian berdua tuh, kalo ketemu kenapa selalu berantem sih? Heran deh."
"Dia yang mulai." Celetuk Elgar.
"Eehh, enak aja. Papah yang mulai kok, yang."
"Nah nah, mulai deh."
Tak lama kemudian, terdengar rengekan kecil dari salah satu box bayi tempat baby Daviana tertidur. Daniash dengan cepat mengecek popok bayi perempuan nya itu, dan ternyata dugaan nya benar, popok nya basah.
"Kenapa, Dad?"
"Daviana ngompol, Mom. Popok nya basah ini."
"Yaudah, ambil ganti nya di tas." Ucap Maura, Daniash menurut dan langsung mengambil popok ganti.
"Kamu bisa ganti popok nya, Mom?" Tanya Daniash.
"Bisa, tadi aku belajar sebelum Mama pulang." Jawab Maura. Perempuan itu bangkit dari rebahan nya, dan berjalan dengan perlahan karena inti miliknya masih terasa sangat ngilu.
Daniash dengan detail memperhatikan istrinya menggantikan popok bayi dengan cekatan. Perkembangan yang sangat bagus bagi seorang ibu muda.
"Daddy, ambilin bedak bayi dong." Daniash me sambil nya dan memberikan nya pada sang istri.
Setelah mengelap nya dengan tissu basah, Maura memberikan sedikit bedak agar tidak iritasi. Setelah selesai di ganti popok nya, bayi cantik nan mungil itu kembali tertidur dengan lelap.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻