Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 108 - Tingkah Menyebalkan Daniash


__ADS_3

"Kakak ipar.." Teriak Dara, sesaat setelah turun dari mobil, wanita itu langsung menghambur memeluk Maura dengan erat.


"Jangan erat-erat meluknya, entar istri kakak meletus." Ucap Daniash sambil berusaha melerai pelukan Dara pada istrinya.


"Isshh, minggir tangan nya. Aku tuh kangen sama kakak ipar." 


"Sama kakak?" Tanya Daniash, dia ngarep kalau adik nya juga merindukan nya juga, bukan hanya pada Maura saja.


"Kagak." Jawab Dara membuat Daniash mendengus.


"Sudah-sudah, Dara kan baru datang udah di ajak ribut aja." Ucap Riana melerai keributan antara Dara dan Daniash. Memang kedua nya jika bertemu jarang akur, ya sebelas dua belas lah seperti Elgar dan Daniash, kedua nya tak pernah akur. Tapi tetap saling menyayangi satu sama lain.


"Hmm, ayo kakak ipar." Ajak Dara pada kakak ipar nya, dia menarik tangan Maura masuk ke dalam rumah.


"Lho, mereka siapa?"


"Nany yang tugas nya jagain baby twins." Jawab Maura sambil tersenyum.


"Ohh, baguslah. Dengan begitu kakak ipar gak akan terlalu kecapean ngurusin baby twins." 


"Ya, itu pun usulan kakak mu, Dar." 


"Itu bagus, berarti kakak aku sayang banget sama kakak ipar. Dia gak mau kakak ipar kecapean, makanya ngusulin kek gitu." 


"Iya juga sih, tapi gak ngasih mereka berdua juga kakak tetep kecapean, Dar." Keluh Maura.


"Kenapa kak?"


"Kakak mu manja nya melebihi baby twins, kakak kewalahan kalau dia sudah mode manja gitu." Jawab Maura.


"Eehh, apaan Mommy tuh. Daddy gak ada tuh kek gitu." 


"Serius? Bener nih? Gak mau ngaku atau gak aku kasih peluk?" Tanya Maura membuat Daniash langsung nemplok di punggung istrinya.


"Lihat kan kelakuan Abang datar mu ini, Dar?"


"Dihh, kok jadi begini ya. Perasaan dulu kakak tuh datar kayak tembok, kok sekarang meleyot gini sih?"


"Gak tau tuh, dulu aja sok jual mahal." Celetuk Maura membuat Dara terkekeh geli. 


"Ya gitu, harimau juga kalau udah ketemu pawang yang pas bisa berubah jadi kucing, sayang." 


"Kucing mana yang nyebelin kayak Daddy? Perasaan gak ada deh." Sinis Maura membuat suami nya mendengus, tapi tak lama kemudian pria itu malah menduselkan wajah nya di leher Maura. 


"Daddy ih, minggir sana. Ganggu aja, aku mau ngobrol sama Dara."


"Enggak mau, Daddy kangen sama kamu. Ke kamar yuk?" Ajak Daniash, membuat Maura refleks memukul lengan suaminya cukup kuat.


"Aaahhsss, Mommy!" Rengek Daniash.


"Sanaan ihh, gak ada malu-malu nya di depan adik sama adik ipar nya." Maura merasa risih dengan tingkah suaminya yang manja nya kelewatan, bahkan tak peduli dengan tatapan heran dari suami adiknya. 


"Astaga.." Maura menepuk dahi nya, dia cukup kesal dengan suami nya ini.


"Mom.."


"Apaan?" Ketus Maura.


"Kok gitu sih?"

__ADS_1


"Lepasin atau kamu aku pukul?" 


"Mommy kok galak sih?"


"Aku capek ngadepin tingkah manja kamu, Dad. Lepasin dulu bentar, nanti lanjut di kamar. Oke?" 


"Hmmm, yaudah deh kalo gitu." Akhirnya, Daniash melepaskan pelukan nya pada sang istri. 


"Sayang, jangan deket-deket kak Dani ya? Aku khawatir nanti kamu ketularan manja nya, nanti aku kewalahan juga kayak kakak ipar."


"Mana ada penyakit manja gini nular, kamu tuh ada-ada aja ya!" Ketus Daniash sambil pergi dari ruang tamu dengan wajah kesal nya.


Maura menggelengkan kepala nya, suami nya kelewatan manja sekarang. Manja nya sudah di tahap mengkhawatirkan, sampai-sampai kalau malam Maura tak bisa bergerak karena Daniash tak melepaskan pelukan nya sedetik pun. 


"Sejak kapan kak Dani jadi begitu sih?" Tanya Dara.


"Sejak kakak hamil baby twins, tapi dulu tingkah nya tak separah ini, Dar. Nah, setelah kakak lahiran, barulah tingkah manja nya semakin parah seperti yang kamu lihat tadi." 


"Kelewat sayang sampe segitu nya." Gumam Dara sambil menggelengkan kepala nya pelan.


"Manja nya melebihi baby twins."


"Hmm, sampai segitu nya. Padahal dulu sama mbak Herra gak kayak gitu."


"Hah, apa?"


"Tidak, kak. Bukan apa-apa." Jawab Dara dengan cepat, keburu kakak nya mendengar ucapan nya tadi. 


"Kalian pasti capek kan, ayo istirahat dulu." 


"Enggak deh, Dara mau ngobrol sama kakak." Jawab Dara, tapi saat melihat Nicholas, adik ipar nya membuat Maura sedikit tak enak.


"Yaudah deh."


"Ayo Mas.." ajak Dara pada suaminya, kedua nya pun pergi ke kamar untuk beristirahat. 


"Pusing, sebaiknya aku makan salad saja." Gumam Maura, dia pergi ke dapur dan membawa tiga mangkuk salad buah. Satu untuknya, dan yang dua untuk kedua pengasuh baby twins.


"Kalian sudah makan?" Tanya Maura pada kedua nya.


"Sudah, Nona."


"Syukurlah, ayo ngemil bareng. Mumpung baby twins nya lagi tidur nyenyak." Maura memberikan mangkuk berisi salad itu pada Hanin dan Mira.


"Terimakasih, Nona."


"Sama-sama." Jawab Maura dengan senyum manis nya, ketiga perempuan itu pun memakan salad buah dengan perlahan sambil mengobrol seputar perkembangan baby twins.


"Bagaimana perkembangan kedua nya?"


"Bagus Nona, baby Daviandra menyusu dengan lahap, tidur nya juga sangat nyenyak." Jawab Hanin. Dia yang bertugas mengasuh baby Daviandra.


"Baby Daviana juga demikian, Nona."


"Baguslah kalau begitu, besok mereka harus di imunisasi pertama. Mungkin akan lebih rewel dari biasa nya." Ucap Maura.


"Baik Nona."


"Kalian berdua ikut dengan ku, sekalian jalan-jalan ya kan." Maura terkekeh sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Tentu, Nona."


"Salad buah nya enak kan?"


"Enak sekali, Nona. Apakah Nona yang membuatnya?" Tanya Mira.


"Tidak, aku selalu di buatkan oleh mama. Dia yang selalu membuat stok salad untuk cemilan setiap hari nya." 


"Ohh, begitu ya? Nona sangat beruntung karena punya mertua sebaik nyonya Riana." 


"Hmmm, ya begitulah. Aku sangat bersyukur karena punya mertua sebaik mama Riana dan papa Danish. Tapi suamiku? Aahh sudahlah." 


"Hei, aku dengar Mom." Ucap Daniash yang baru saja masuk hanya dengan kolor selutut saja, tanpa atasan sama sekali. Membuat perut kotak-kotak dan dada bidang pria itu terlihat nyata. 


Maura melirik ke arah Hanin dan Mira, untung nya kedua nya langsung menutup mata begitu melihat pria itu masuk.


"Ngapain kayak gitu hmm? Masuk kamar!" Ucap Maura tegas, Daniash menggaruk tengkuk nya lalu menurut. 


Wajah Maura berubah memerah padam menahan rasa kesal. Kesal karena apa? Kesal karena suami nya mengumbar tubuh nya, harusnya itu kan hanya boleh di lihat oleh nya saja.


"Mom.."


"Apa? Ngapain gak pake baju hah?" Tanya Maura, tatapan nya tajam membuat Daniash mundur. 


"Emang gak boleh?"


"Aku tanya, kalau aku telanjaang seperti itu apa Daddy marah?" Balik tanya Maura, masih dengan tatapan setajam silet.


"Ya gak boleh, itu milik Daddy. Gak boleh ada yang liat selain Daddy!" 


"Itu tau, bukankah itu berlaku juga buat Daddy hmm?" 


"Hehe, maaf Mom. Soalnya gerah tadi, habis olahraga."


"Bilang aja mau tebar pesona!" Ketus Maura.


"Enggak kok Mom, sumpah."


"Gak usah bawa sumpah segala, genit!"


"Ya ampun Mom, Daddy gak ada niatan buat tebar pesona."


"Terus, ngapain gak pake baju?"


Daniash terdiam, dia juga bingung harus menjawab seperti apa. Tadinya, dia ingin menggoda istrinya, tapi ternyata istrinya malah marah besar. Kalau begini dia takkan bisa tidur nyenyak nanti malam seperti nya.


"Mom.."


"Dahlah, males."


"Kok gitu sih, Mom?" Tanya Daniash merengek.


"Minggir sana, aku mau mandi."


"Mom, jangan marah dong. Tadi Daddy cuma becanda doang, sumpah." Ucap Daniash, dia berusaha menahan istrinya.


Hayo lho Daniash, kalau sudah begini mau gimana? Makanya gak usah iseng.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2