
Setelah selesai makan malam, Maura mengobrol santai bersama mama dan papah nya. Tentu nya ada Daniash juga disana, karena pria itu tak pernah mau berjauhan dengan istrinya, apalagi saat ini Maura sedang hamil. Bertambah manja saja pria itu, mungkin bawaan orok kali ya.
Daniash merangkul istri nya dari samping di pangkuan nya ada baby Anna yang sedang bermanja juga pada Daddy nya. Sedangkan baby Davi berada di pangkuan nenek nya. Ya, baby Davi lebih nyaman bersama perempuan, siapapun itu.
"Di pikir-pikir, baby Anna sama Davi beda ya."
"Jelas beda dong, Mom. Anna kan perempuan, Davi kan laki-laki, ya jelas beda." Jawab Daniash pada istrinya, pria itu terkekeh mendengar ucapan sang istri yang terdengar ambigu.
"Maksud aku tuh, baby Anna lebih nyaman sama laki-laki, kalau baby Davi nyaman nya sama perempuan. Gitu Daddy." Jelas Maura.
"Hmmm, Davi kan calon buaya darat seperti bapak nya." Celetuk Elgar membuat Daniash mendelik sebal, sakit di pantaat nya karena tendangan maut papa mertua nya tadi masih terasa, eehh sekarang sudah mulai mencari gara-gara lagi.
"Papah, gak boleh bicara gitu dong. Davi harus jadi pria yang baik nanti, gak boleh mengikuti jejak seperti bapaknya."
"Mommy, Daddy gak kayak gitu." Rengek Daniash.
"Dihh, udah tua masih manja. Malu sama umur." Cibir Elgar membuat Daniash mendengus.
"Mom.."
"Apa? Toh iya kan?"
"Enggak, mana ada Daddy kayak gitu."
"Iya-iya pak suami."
"Iya apa nya, Mom?"
"Mommy percaya sama Daddy." Jawab Maura sambil tersenyum.
"Sudah Daddy duga sih, hehe."
"Narsis." Ejek Elgar, lagi-lagi membuat menantu nya itu mendengus sebal.
"Besok, Maura mau pulang aja Ma."
"Lho kok pulang? Nginep aja disini, biar rumah nya rame." Ucap Amira, jujur saja sebenarnya dia ingin melarang putri nya pergi dari rumah, karena dia seringkali merasa kesepian saat berjauhan dengan Maura, putri nya satu-satunya.
"Maura mau ke rumah mama Riana besok, ya sekedar ngasih tau aja. Semoga gak ada drama lagi kayak tadi sih."
__ADS_1
"Hmmm, ya sudah. Nanti, biar Mama aja yang sering main ke rumah kamu, boleh? Pengen main sama cucu-cucu mama yang lucu ini."
"Tentu saja boleh dong, Ma. Datang saja, kapan pun." Jawab Maura, perempuan cantik itu tersenyum manis ke arah mama nya.
"Tapi kalau Mama datang nya sama Papa, kabarin dulu ya? Biar Maura usir Daddy dulu, biar gak bikin darah tinggi lihat tingkah mereka berdua."
"Siap sayang, mama juga suka pusing denger perdebatan mereka berdua. Apa-apa di debatin, masalah kecil aja bisa jadi gede." Ucap Amira, membuat suami nya mendelik ke arah nya. Benaran, ghibah di depan orang nya langsung, biar greget.
"Iya, makanya suruh pergi satu, biar gak bikin tensi darah naik, Ma."
"Siap, sayang."
"Kalian tuh ngomongin orang, tapi di depan orang nya langsung." Ucap Elgar sambil menyedekapkan tangan nya di dada.
"Ya dari pada di belakang kan?"
"Hmm iya juga sih." Elgar mendadak cengo, membuat Daniash tertawa melihat ekspresi wajah papa mertua nya.
"Kenapa, Dad? Ada yang lucu kah?"
"Wajah papah mu tuh, kayak.." Belum Daniash menyelesaikan ucapan nya, dia sudah mendapat pelototan dari Elgar, membuat nya urung melanjutkan perkataan nya.
"Kayak apa, Dad?"
"Syukur deh kalo gitu, kalau enggak papa kutuk kamu jadi pria yang lebih muda."
"Wihh, mending aku durhaka sekalian."
"Daddy.."
"Hehe, iya Mom maaf." Jawab Daniash sambil tersenyum kecil, tentu nya bukan Daniash nama nya kalau tidak takut pada istrinya.
"Ngantuk.."
"Yaudah, kalian tidur sana. Biar Davi sama Anna, tidur sama Mama. Mumpung kalian disini kan, jadi Mama mau puas-puasin dulu sama cucu-cucu mama."
"Iya, Ma." Jawab Maura.
Baby Anna merengek ingin ikut pada Daddy nya, tapi Elgar dengan sigap langsung menggendong nya dan membawa gadis kecil itu ke kamar untuk tidur.
__ADS_1
"Yuk.." ajak Daniash sambil merangkul mesra istrinya. Kedua Nany nya juga tidur di kamar tamu yang berada di dekat kamar Amira.
"Iya Daddy." Jawab Maura, kedua nya pun berjalan pelan meniti tangga menuju ke kamar.
Daniash dan Maura pun tidur, seperti biasa saling memeluk satu sama lain.
Pagi harinya, Daniash dan Maura pun bersiap untuk pergi ke rumah orang tua pria itu. Meski dengan berat hati, akhirnya Amira melepaskan kepergian putri, menantu juga cucu-cucu nya untuk pergi.
"Hati-hati di jalan ya, sayang."
"Iya Mama."
"Sering-sering main kesini ya?" Ucap Amira sambil memeluk putri nya.
"Iya, pasti Ma." Jawab Maura, dia tersenyum menatap sang Mama yang terlihat sangat berat untuk mengizinkan nya pergi.
"Mom, sudah? Yuk berangkat." Ajak Daniash.
"Iya, sudah kok Dad." Maura pun melerai pelukan nya bersama sang Mama.
"Maura pergi dulu ya."
"Iya sayang, hati-hati di jalan." Maura menganggukan kepala nya, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah ada Daniash dan dua nanny juga kedua buah hati mereka.
Daniash pun melajukan kendaraan roda empat itu menjauhi rumah besar milik keluarga Wijaya. Amira melambaikan tangan nya, hingga mobil itu hilang di belokan jalan raya.
"Sudah, Ma. Besok kan bisa ketemu lagi, mereka cuma mau main."
"Iya, Pah. Cuma mama ngerasa kesepian aja di rumah tanpa Maura sama cucu-cucu kita." Jawab Amira.
"Sabar ya, atau kita buat adik buat Maura?" Goda Elgar membuat Amira menepuk lengan suami nya cukup keras.
"Enggak ya, aku dah tua sekarang."
"Haha, kamu tetap cantik seperti dulu sayang."
"Gombal, ngomong aja mau jatah gitu."
"Hehe, iya. Soalnya semalem gak jadi minta jatah, karena ada Davi sama Anna." Jawab Elgar sambil cengengesan, sedangkan Amira hanya memutar mata nya dengan jengah.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻