Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 66 - Ide Konyol Riana


__ADS_3

"Yee, selamat bestie.." Ucap Nayna sambil memeluk sahabat nya.


"Makasih ya, kapan kamu nyusul juga?" Tanya Maura.


"Aku sih terserah Daddy aja, gak mau maksa kalau dia nya belum mau." Jawab Nayna sambil tersenyum.


"Iya, semangat ya. Semoga cepat nyusul, ya auntie." 


"Siap, doain aja ya beb." 


Sedangkan Herra, tadi sudah di seret keluar oleh anak buah Daniash, karena dia khawatir kalau wanita itu akan mengacau di acara pernikahan nya dan Daniash tak mau sampai hal itu terjadi. 


Jangankan menyambut kedatangan nya, baru saja wanita itu menginjakan kaki nya di gedung tempat nya melangsungkan pernikahan, Anak buah Daniash dengan sigap langsung membawa nya keluar, lebih tepatnya menyeret karena wanita itu bersikukuh tak ingin pergi.


Daniash sangat menjaga mood wanita yang kini menyandang sebagai istrinya. Maura Putri Wijaya, sosok wanita sempurna yang berhasil dia taklukan. 


"Selamat atas pernikahan nya, Tuan."


"Terimakasih, Aryo. Kapan kau akan menyusul hmm? Usia mu sudah matang untuk berkeluarga, jangan di gantung terlalu lama, wanita itu butuh kepastian." Nasehat Daniash membuat Aryo terdiam sejenak, lalu tersenyum pada atasan nya itu.


"Secepatnya tuan, ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan lebih dulu sebelum mempersunting calon saya."


"Nayna?"


"Siapa lagi memang nya, Tuan?" Jawab Aryo berbisik, karena gadis itu juga berada di atas pelaminan sedang berbincang dengan Maura.


"Ya baiklah, good luck."


"Terimakasih tuan, kalau begitu saya turun dulu." 


"Tapi jangan pulang dulu, sebelum acara nya selesai, Ar." 


"Tidak tuan, saya hanya permisi untuk makan sebentar." 


"Makanlah yang banyak, mumpung Mama sewa catering mahal." Celetuk Daniash membuat Aryo terkekeh pelan. Lalu mengajak Nayna turun dari pelaminan, keduanya berjalan bersisian ke arah perasmanan. 


"Daddy, pegel banget." Keluh Maura sambil memegangi kaki nya.

__ADS_1


"Duduk aja, Bby. Buka sendal nya ya?" 


"Tapi, nanti aku nya jadi pendek dong Dad." Rengek Maura membuat Daniash tertawa.


"Masih memikirkan hal itu Bby? Tak masalah kamu mau pendek atau tinggi, sayang. Sekarang kan kamu istri Daddy." 


"Hehe, iya juga sih." Daniash menggelengkan kepala nya, lalu berlutut untuk membukakan high heels yang di pakai sang istri.


"Kenapa gak bilang kalau sendal nya gak nyaman, Bby?"


"Memang nya kenapa, Dad?" Tanya Maura polos.


"Masih nanya kenapa hmm? Ini kaki kamu sampe lecet gini, apa gak kerasa perih Bby?" Tanya Daniash sambil melihat kaki Maura yang memerah, lecet hingga mengeluarkan darah.


"Maura gak rasain apa-apa kok, Dad." 


"Hmmm kamu ini, Bby." Daniash melempar sepatu dengan taburan permata itu ke sembarang arah, tak peduli dengan harga nya yang fantastis, bagi nya masalah uang tak ada apa-apa nya di bandingkan dengan kenyamanan istrinya.


"Daddy, kok di lempar sih. Mahal lho itu," 


"Dad, pengen es kuwut deh."


"Es kuwut dimana sih, Bby? Masa Daddy harus nyari sih, kita kan lagi nikah." 


"Disana ihh." Tunjuk Maura ke arah perasmanan yang penuh dengan tamu yang mengantri untuk sekedar menyicip makanan ala orang kaya itu.


"Ohh, ada disana ya. Sebentar, Bby." Daniash turun dari pelaminan dan mengambilkan es itu untuk sang istri. 


"Ini sayangku, di minum." 


"Makasih Daddy, suami tampanku." 


"Iya sama-sama, istri cantik ku." Maura tersenyum kecil, lalu meminum es itu. 


"Enak?"


"Seger, Daddy mau?" 

__ADS_1


"Enggak Bby, kamu saja." Tolak Daniash, dia tak suka minuman yang terlalu manis, karena baginya melihat Maura tersenyum saja sudah mencukupi kadar gula di tubuhnya. Orang bucin selalu benar ya.


Sore harinya, Daniash meminta izin untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan acara resepsi nanti malam. Dia tak tega melihat keadaan istrinya yang terlihat sudah sangat lesu, seperti nya dia kelelahan karena menerima tamu tadi.


Pria itu menggendong istrinya dari ballroom ke kamar, setelah di kamar dia langsung meletakan istrinya di atas ranjang dengan perlahan.


"Capek ya Bby?"


"Heem, Dad. Aku capek banget, mau tidur dulu boleh? Masih ada tiga jam lagi, lumayan." 


"Iya, Daddy juga mau tidur nemenin kamu Bby." 


"Oke, Dad. Aku udah gak kuat ngantuk, pengen tidur." 


"Iya, tidurlah Bby." Maura pun mengangguk, lalu menurut dan mulai memejamkan mata nya yang terasa sangat berat. Maura langsung tertidur lelap setelah menghapus riasan wajahnya.


Begitu pun Daniash, kedua mempelai itu terlalu kelelahan hingga dalam sekejap mata saja mereka langsung tertidur nyenyak. Belum lagi nanti di acara resepsi, karena keluarga Wijaya dan Kim sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, jadi akan lebih banyak tamu yang datang nanti malam. 


Jadi, keduanya harus benar-benar beristirahat lebih dulu sebelum menghadapi banyak tamu nantinya. 


"Daniash kemana, Pa?" Tanya Riana. Karena saat putranya berpamitan, dia sedang berada di kamar mandi tadi. 


"Ke kamar, mereka kelelahan seperti nya, apalagi Maura." 


"Heemm, apalagi dia sedang hamil. Pasti lebih mudah kelelahan, Pa. Apa sebaiknya kita kurangi tamu yang datang?" 


"Tak mungkin, Ma. Karena kita sudah mengundang mereka untuk datang, jadi tak mungkin kita membatalkan nya di hari H, apalagi mereka orang-orang penting." Ucap Danish.


"Lalu bagaimana? Kita tak mungkin membiarkan menantu kita kelelahan, dia sedang hamil sekarang." 


"Lihat saja nanti ya, Ma. Jangan khawatir, papa pasti akan melakukan yang terbaik tanpa merugikan menantu kita." 


"Baiklah, terserah papa aja." Pasrah Riana, dia mempercayakan masalah ini para suaminya. Lagipun saran nya tadi terdengar cukup gila, membatalkan undangan di hari H, pasti membuat mereka menanggung malu, apalagi yang di undang bukan dari kalangan orang-orang biasa.


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2