
"Selamat siang, tuan.." ucap asisten Elgar, membuat pria yang sedang melamun sambil melihat pemandangan kota dari jendela besar itu berbalik dan menatap asisten nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ada apa, Raka?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?" Tanya Elgar datar, dia kembali mendudukan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya.
"Tuan Danish, tuan."
"Hmmm, persilahkan dia masuk." Jawab Elgar, masih dengan raut wajah datarnya.
"Baik tuan." Raka pun pergi, dia adalah asisten Elgar yang sudah bekerja selama belasan tahun bersama nya.
Tak lama kemudian, Raka mempersilahkan seorang pria paruh baya dengan perawakan tinggi dan tegap, wajahnya terlihat tak asing, namun Elgar tak mengingat dia pernah bertemu dimana.
"Silahkan duduk tuan." Raka menarik kursi di seberang Elgar, membuat Danish tersenyum dan menepuk pelan pundak Raka.
"Saya permisi dulu," keduanya kompak mengangguk sebagai jawaban. Raka menutup pintu nya dengan perlahan dan memilih kembali ke ruangan nya, namun dia heran karena belum pernah melihat pria paruh baya itu sebelum nya.
"Apa dia klien tuan Elgar ya? Perasaan gak pernah ketemu deh, tapi kok gak asing." Gumam Raka sambil berjalan.
Di ruangan yang luas, udara dari AC terasa sangat dingin, namun berbeda dengan tatapan kedua pria yang sama-sama berstatus ayah itu, tatapan mereka tajam dengan api yang berkobar dari tatapan mereka.
"Maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Elgar akhirnya, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Saya Danish, mungkin kau tak asing dengan namaku."
"Lalu, maksud dan tujuan mu datang kemari untuk apa? Tak mungkin rasanya jika untuk masalah pekerjaan bukan?" Tanya Elgar.
"Aku kemari bukan sebagai klien, tapi sebagai orang tua."
"Maksud anda? Tolong jangan bertele-tele."
"Saya ayah dari Daniash, pria yang mencintai putri anda, Maura Putri." Jawab Danish, membuat rahang pria itu mengetat dengan kedua tangan terkepal di atas meja.
"Pantas, aku tak asing dengan nama dan wajahmu, tuan." Elgar menyeringai kecil, sedangkan Danish masih menampakan wajah tenang nya.
"Ya, tentu saja."
"Apa kau tau sebejaat apa perbuatan putra mu pada putriku, tuan?"
"Tentu saya tau, itulah alasan kenapa saya datang kemari, hari ini." Ucap Danish, dia menatap lawan bicara nya dengan serius.
"Ckkk, aku tak peduli. Dia yang memilih pergi, artinya dia melupakan peranku sebagai ayah."
"Hahaha, tak aku sangka ternyata Tuan Elgar Wijaya bisa sekeras kepala ini. Maura pergi karena anda mengusirnya kan? Aku melihat kedua pipi nya lebam, karena tindakan mu yang terburu-buru."
"Apa peduli mu hah? Dia putriku, aku memberinya sedikit sedikit pelajaran."
"Peduli ku? Tentu saja aku peduli, karena dia adalah calon menantu ku." Jawab Danish.
"Bicara tentang pelajaran, pelajaran di dapatkan memang dari orang tua, tapi bukan dengan cara kekerasan seperti ini, tamparan seorang ayah memang bisa di maklumi, tapi saya rasa anda terlalu egois hingga tak bisa menyadari kesalahan yang anda buat sendiri." Ucap Danish, setenang mungkin. Berbeda dengan Elgar yang sudah terpancing.
__ADS_1
"Aku tak sudi berbesan dengan mu!"
"Apa kamu kira aku sudi berbesan dengan pria egois seperti mu? Tidak, kalau saja putra ku tak membuat bayi terlebih dulu di rahim putrimu." Sindir Danish, membuat Elgar mendelik kesal.
"Cihh, itulah kesalahan putramu. Dia terlalu brengseek untuk putriku, bahkan dia menghamili putriku disaat dia masih berstatus suami wanita lain!" Balas Elgar.
"Putraku memang bersalah, karena itulah dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatan nya dengan menikahi Maura, putrimu."
"Tidak perlu, aku bisa mengurus putri dan cucu ku dengan baik." Ucap Elgar, membuat Danish geleng-geleng kepala mendengar jawaban pria itu.
"Lalu, apa putrimu akan bahagia? Aku rasa tidak, karena dia dan anak-anak nya membutuhkan sosok ayah dan suami, bukan cuma sosok kakek dan nenek."
"Sebaiknya, turunkan egoismu sedikit saja dan lihatlah, putrimu akan menderita jika kebahagiaan nya kau renggut. Aku mengalami nya sendiri, aku bersikap egois sama seperti mu dan akhirnya aku menyesal."
"So, sebelum kau menyesal seperti aku, lebih baik kau pikirkan semua nya baik-baik. Ingatlah, kebahagiaan anak-anak lebih penting dari pada mengutamakan sikap egois, tuan Elgar." Ucap Danish panjang lebar.
"Maura ada di rumahku, jika kau sudah memikirkan semua nya baik-baik, datanglah dan jemput dia secara baik-baik, karena hormon ibu hamil akan menyulitkan nya, terlebih saat ini dia sedang mengalami morning sickness dan ingin selalu bersama Daniash."
Pria paruh baya itu menatap Elgar yang terdiam, namun tatapan tajam nya masih tertuju ke arahnya.
"Saya rasa ucapan saya sudah cukup, saya permisi. Dan tolong, pikirkan lagi baik-baik. Ini demi kebahagiaan anak-anak kita, masalah status putra saya, saat ini dia sedang di pengadilan, untuk menghadiri sidang perceraian nya, itu sudah sangat membuktikan kalau putra saya serius dengan putri anda bukan? Saya permisi, selamat siang."
Danish menarik handel pintu dan membuka nya, lalu keluar dari ruangan itu dengan hati yang sedikit lega. Meskipun perbincangan nya terkesan alot karena Elgar yang keras kepala, namun akhirnya dia terdiam setelah banyak perkataan yang dia ucapkan.
'Semoga saja kau bisa bertindak bijaksana, El.'
Sedangkan di pengadilan, Daniash akhirnya di pertemukan kembali dengan wanita yang telah mengecewakan nya, Herra datang dengan wajah yang nampak segar.
Beberapa kali, Herra terlihat mencuri pandang ke arahnya, namun Daniash tak peduli sama sekali, hatinya seakan mati untuk Herra, dan hidup hanya untuk Maura seorang.
"Dengan ini, kami menyatakan mulai hari ini keduanya bukan lagi pasangan suami istri."
Tok.. tok.. tok..
Suara palu yang di ketuk tiga kali oleh hakim, pertanda mereka benar-benar telah selesai. Herra menatap Daniash dengan hati yang bergetar, namun lagi-lagi pria itu terlihat sangat acuh.
Setelah di rasa cukup, Daniash langsung pergi dari ruang persidangan, membuat Herra langsung berlari mengejar mantan suaminya.
"Mas, tunggu!"
Daniash menulikan telinga nya, dia berpura-pura tak mendengar suara wanita itu. Dia tak ingin membuat hatinya lebih sakit lagi, saat ini yang ada dalam pikiran nya hanya ingin segera sampai di rumah dan menemui Maura beserta calon anak-anak mereka.
"Daniash, tunggu dulu."
Akhirnya, Daniash kalah. Dia berhenti dan berbalik ke arah mantan istrinya.
"Ada apa?"
"Kau benar-benar mewujudkan keinginan mu."
"Jelas, siapa yang tahan berumah tangga dengan wanita seperti kau? Aku rasa tak ada." Jawab Daniash ketus.
"Gadis itu benar-benar sudah banyak mempengaruhi mu, ya?"
__ADS_1
"Cihhh, jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan mu sendiri. Aku muak melihat wajahmu, Herra. Aku harap, setelah ini kau takkan pernah menampakkan wajah mu lagi di depanku!" Tegas Daniash.
"Tapi.."
"Kita sudah resmi bercerai, selamat menikmati masa-masa penyesalan mu dengan pria yang salah." Setelah mengatakan itu, Daniash pergi dengan langkah lebar dan tegapnya, meninggalkan gedung pengadilan.
Herra menatap punggung Daniash dengan sendu, lalu berbalik dan menatap Mark yang menatap nya dengan tajam. Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tangan Herra dengan kasar dan memasukan nya ke dalam mobil miliknya.
Mark berubah, tak ada lagi Mark yang selalu memperlakukan nya dengan lembut, kini hanya ada Mark yang pemarah dan suka bertindak kasar. Sering kali, Herra di pukul hingga lebam-lebam di sekujur tubuhnya. Ya itulah karma, karma atas perbuatan nya pada Daniash kini secara tidak langsung di balas oleh Mark.
Di mobil, Daniash mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, rasa ingin bertemu dengan gadis cantiknya membuat dirinya tak sabar.
Sedangkan di rumah, Maura baru saja terbangun. Dia menatap kamar yang nampak sangat asing, membuat nya ketakutan.
"Daddy.. Dad.. Daddy dimana?" Panggil Maura, nada suaranya terdengar ketakutan. Tentu saja dia merasa takut berada di tempat yang terasa asing sendirian.
"Sudah bangun, sayang?" Seorang wanita paruh baya namun wajahnya masih terlihat sangat cantik di usia nya yang mungkin sudah menginjak usia kepala lima.
"B-bibi siapa ya?" Tanya Maura terbata, mendengar pertanyaan gadis itu, membuat Riana tersenyum.
"Lapar? Mama sudah masak, kata Daniash kamu suka sup buntut kan? Ini, mama masakin khusus buat kamu sama cucu Mama." Ucap Riana lembut, membuat Maura melotot. Jadi, sosok wanita di depan nya adalah ibu dari pria yang dia cintai?
"Kenapa terkejut? Iya, mama adalah mama nya Daniash. Sekarang, dia sedang menghadiri sidang di pengadilan, jadi sementara waktu, kamu sama mama dulu ya?"
"Maafin Maura, Ma. Maura gak tau, kalau mama itu mama nya Daddy."
"Tak apa sayang, makan dulu ya? Sudah hampir lewat waktu makan siang, nanti Daniash marah sama mama. Mama siapin ya?" Maura menganggukan kepala nya, dengan senyum manis nya, Riana mulai menyuapi Maura.
Benar saja, gadis itu makan dengan sangat lahap, hingga pipi nya menggembung berisi nasi.
"Enak sayang?"
"Enak, Ma. Maura suka, makasih udah masakin makanan kesukaan Maura."
"Sama-sama, sayang. Gak mual?" Tanya Riana dengan perhatian.
"Udah enggak terlalu, Ma. Kalo sama Daddy, Maura gak mual Ma. Aneh kan ya?"
"Aneh apa nya sayang? Itu hal yang biasa, dulu Mama pas hamil juga mau nya deket-deket terus sama papa nya Daniash." Ucap Riana.
"Beneran, Ma?"
"Iya, seriusan. Malahan papa yang muntah-muntah setiap pagi, mama mah anteng-anteng aja."
"Wahh, kata orang kalo suaminya yang ngidam, tanda nya suaminya sangat mencintai istrinya, iyakah Ma?" Tanya Maura.
"Bisa iya, bisa juga tidak sayang. Memang nya kenapa?"
"Daddy gak ngidam, apa itu artinya Daddy gak cinta sama Maura?" Tanya Maura lirih.
"Sayang, itu cuma mitos aja gak tentu kenyataan. Jangan di pikirin ya, lebih baik sekarang kamu makan lagi ya? Di habisin makan nya, sebentar lagi mungkin Daniash juga pulang."
Gadis itu kembali menurut, dia kembali makan dengan lahap, meski sedikit meringis saat membuka mulutnya karena terasa sakit akibat tamparan yang membekas di wajahnya.
__ADS_1
........
🌻🌻🌻🌻🌻