Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 77 - Hari Terburuk Nayna


__ADS_3

Seminggu berlalu, selama itu pula keadaan Maura semakin membaik. Mood nya lebih bersahabat, hari ini kandungan nya tepat menginjak usia 5 bulan. Tapi perut nya terlihat seperti wanita hamil 7 bulan, karena Maura hamil twins.


Daniash semakin hari semakin siaga kalau-kalau istrinya menginginkan sesuatu, atau mengeluhkan sesuatu. Sebisa mungkin, dia akan menjadi ayah dan suami siaga yang selalu ada kapanpun saat di butuhkan.


Pagi ini, wanita hamil itu sudah berjalan-jalan mengelilingi mansion. Walaupun hanya mengelilingi mansion, di jamin membuat keringat bercucuran karena luas nya mansion itu. 


"Sayang, sudah cukup jalan-jalan nya. Kemarilah." Ucap Riana. Maura langsung mendekat dan duduk di samping ibu mertua nya.


"Aduh, ini mansion luas banget ya." Keluh nya sambil meminum susu buatan Riana. Selama 5 bulan kehamilan nya, Maura selalu rutin meminum susu kehamilan sesuai usia kandungan nya. 


Meskipun sering merasa mual dan enek, tapi demi kesehatan dan pertumbuhan dua buah hatinya, Maura rela meminum susu setiap paginya. Dia juga rajin berolahraga, ya meski hanya jalan-jalan santai atau senam ibu hamil bersama ibu-ibu komplek tentunya di dampingi oleh ibu mertua nya kemana-mana.


"Ini bukan Mama yang mau, sayang. Tapi papa mu." 


"Bikin mansion seluas ini plus perabotan nya habis berapa ya, Ma?" Tanya Maura, tiba-tiba saja dia penasaran dengan biaya pembangunan mansion megah ini.


"Mama gak tau, sayang. Kamu terka-terka aja sendiri ya." Riana tersenyum kecil melihat wajah penasaran menantu nya.


"Daddy belum bangun, Ma?"


"Seperti nya belum, dia belum turun dari kamar." Jawab Riana. Putra nya itu memang belum keluar dari kamar nya, mentang-mentang hari minggu, jadi dia bangun siang. 


"Ya udah, aku bangunin Daddy dulu sekalian mandi."


"Iya sayang, jangan lama ya. Setelah selesai kamu turun lagi, kita sarapan." 


"Oke, Ma." Maura mencuri satu kecupan di pipi mama mertua nya, sedekat itu hubungan kedua nya memang. Kalau orang awam yang melihat, pasti akan menyangka kalau Maura adalah putri Riana, bukan menantu dan mertua.


'Pantas saja putra ku menyukai nya, dia memang sangat menggemaskan sekali.' Batin Riana, dia menggelengkan kepala nya lalu membereskan meja teras yang sedikit berantakan.


Maura berjalan meniti anak tangga satu persatu untuk ke kamar, wanita hamil itu membuka pintu dan melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat.


"Dia terlihat seperti malaikat saat tertidur." Gumam Maura sambil meneliti wajah tampan sang suami. Alis nya tebal, bulu mata nya lentik, hidung mancung dengan bibir yang sedikit tebal, sempurna.


Belum lagi tatapan tajam yang mampu membuat lawan bicara nya kicep jika kedua mata yang tertutup itu tengah terbuka. Bahkan Daniash bisa mengintimidasi seseorang lewat tatapan nya.


"Daddy, bangun sayang.." Ucap Maura lembut sambil mengusap pipi suami nya.


"Heemm, lima menit lagi Bby." 


"Mandi bareng yuk?" Ajak Maura, membuat kedua mata Daniash langsung terbuka sepenuhnya. Nyatanya, mengajak pria itu mandi bersama di pagi hari adalah cara yang paling efektif untuk membuat pria itu langsung terbangun dan mau meninggalkan kehangatan kasur dan selimutnya.


"Ayoo Bby." 


"Giliran di ajak mandi bareng aja, respon nya cepet." Sindir Maura sambil terkikik geli.


"Hehe, kapan lagi kan bisa nyabunin kamu." 

__ADS_1


"Nyabunin plus berbuat mesuum, iya kan?" Tanya Maura sambil mencubit manja lengan suaminya.


"Itu tau." 


"Tapi, tadi malam kan Daddy habis main. Masa sekarang mau main lagi?" Tanya Maura, pasalnya semalam mereka baru saja melakukan hubungan suami istri.


"Gak ada salahnya, Bby. Daddy kecanduan dengan lubang hangat milikmu, boleh ya?"


"Emang pada dasarnya Daddy tuh doyan lubang, yaudah ayo tapi bentar aja ya? Aku gak mau kecapean, nanti sore ada jadwal senam sama ibu-ibu." 


"Hmm, oke Bby." Jawab Daniash, pria itu tersenyum nakal, lalu dengan secepat kilat langsung menggendong istrinya ke kamar mandi. 


Kalian pasti taulah ya apa yang mereka lakukan di dalam sana selain mandi? Pasti ada bumbu-bumbu kemesumaan yang terjadi disana, mengingat Daniash sangat mesuum pada istrinya. Jadi, kita skip saja dulu karena akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan hal yang sudah di mulai.


Sedangkan di rumah sakit, semakin hari kondisi ibu Nayna semakin memburuk. Dalam jangka waktu satu minggu, tubuhnya menjadi kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. 


Hal itu jelas saja membuat Nayna semakin merasa terpuruk, untung saja selama itu Aryo selalu ada bersama nya, memberikan nya semangat dengan kata-kata nya.


"Bby.." 


"Hmm, iya Daddy?" 


"Kamu tidak lelah? Satu minggu ini kamu kurang beristirahat." Ucap Aryo dengan hati-hati, dia takut menyinggung perasaan gadisnya, toh saat ini dia sedang berada di titik terendah, tak menutup kemungkinan dia bisa marah hanya dengan pertanyaan sesimpel itu.


"Tidak, Dad. Aku ingin terus sama Ibu." 


"Baiklah, Daddy keluar sebentar beli makan. Kamu mau makan apa?" 


"Daddy beliin dulu ya, Bby." 


"Jangan lupa jeruk limo nya, Dad. Biar seger." 


"Oke sayang." Aryo tersenyum, lalu mengacak rambut sang gadis dengan gemas.


Setelah itu, Aryo keluar dari ruangan rawat ibu nya Nayna, meninggalkan gadis nya sendirian di dalam ruangan itu. 


Hanya berselang beberapa menit sejak Aryo pergi, Nayna melihat seperti ada yang salah dengan cara ibu nya bernafas. Hingga puncaknya, kedua mata nya terbuka namun alat kesehatan di samping nya berbunyi semua, Nayna panik dan langsung keluar memanggil dokter.


"Dok, tolong periksa ibu saya." 


"Ada apa Nona?"


"Saya tak tau, dokter lihat saja." Jawab Nayna, dia bukan dokter jadi tak tau kondisi apa yang di alami ibu nya saat ini.


"Baik, sebentar Nona." Dokter itu mengambil tas nya lalu berjalan mendahului Nayna di dampingi dua orang perawat.


Dokter itu sampai ke ruangan, kondisi nya masih sama saat Nayna meninggalkan ruangan ibu nya, alat-alat kesehatan masih berbunyi nyaring.

__ADS_1


"Maaf Nona, silahkan keluar lebih dulu. Biarkan kami menangani ini." 


"T-tapi sus.." Nayna menatap perawat yang juga menatap nya dengan khawatir.


"Baiklah, tolong ibu saya dok, sus." Nayna pun keluar dari ruangan dan memilih menunggu di kursi tunggu yang ada di lorong rumah sakit.


"Ibu, ibu kenapa? Jangan tinggalin Nayna, Bu." Ucap nya lirih, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jujur saja, dia merasa sangat putus asa saat ini, terlebih dia menghadapi nya sendirian karena Aryo tengah di luar membeli makan.


"Daddy, cepatlah kembali. Aku tak bisa menghadapi semua ini sendirian, aku takut." 


Di luar rumah sakit, Aryo yang sudah selesai membeli makanan untuk makan siang terkejut saat melihat gadis nya di ruang tunggu.


"Bby, kok disini sayang?"


"Daddy.." Nayna mendongak, lalu tanpa basa basi langsung memeluk pria itu, menumpahkan tangis yang sedari tadi dia tahan.


"Lho kok nangis? Kamu kenapa Bby, ada apa sayang?"


"Ibu, Dad.."


"Ibu kenapa?" Tanya Aryo, Nayna pun menjelaskan semua nya dari awal, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. 


"Tenang ya sayang, ibu pasti baik-baik saja." 


"Bagaimana aku bisa tenang sekarang, Dad?" 


"Jangan begini, sayang." Aryo memeluk gadis nya, mengusap punggung nya guna menenangkan nya.


Ceklek..


Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok dokter laki-laki yang tadi masuk bersama dua orang perawat. Wajah nya nampak sendu, apalagi saat bertatapan dengan Nayna. Melihat hal itu, Aryo punya firasat tak baik tentang hal ini.


"Maaf Nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ibu anda tak bisa di selamatkan." 


Jederr.. 


Terasa seperti petir menyambar di siang hari, Nayna tak menyangka hal terburuk akan terjadi hari ini. Dia limbung, tak sanggup menahan tubuh nya sendiri, dia jatuh tak sadarkan diri di pelukan Aryo.


"Bby, baby bangun sayang.." 


"Dia pasti sangat shock, Tuan. Mari kita bawa ke ruang perawatan saja, agar bisa beristirahat." Aryo setuju, dia menggendong tubuh sang gadis ke kamar perawatan yang letaknya tak jauh dari ruang ibu nya di rawat selama ini.


"Maaf tuan, apa kami bisa mengurus semua nya sesuai prosedur?"


"Ya lakukanlah dengan layak, masalah administrasi biar aku yang melunasi nya nanti." 


"Baik tuan." Dokter itu mengangguk dan pergi setelah menginfus punggung tangan Nayna.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2