Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 53 - Kebahagiaanku Adalah Maura


__ADS_3

Daniash menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah, pria itu membunyikan klakson beberapa kali, dan penjaga rumah itu tergopoh-gopoh membukakan gerbang yang tinggi menjulang itu. 


Rumah bak istana itu nampak sangat terang, ya inilah kediaman orang tua Daniash. Danish dan Riana tinggal di rumah megah ini, hanya berdua. 


"Selamat malam tuan muda." 


"Hmmm.." Daniash hanya menjawab nya dengan deheman dan wajah datar nya. Pria itu membuka pintu mobil nya, beruntung nya Maura memakai seatbelt, kalau tidak, sudah pasti tubuhnya akan jatuh saat pintu nya di buka. 


Dengan lembut, Daniash menggendong sang gadis, membawa nya ke dalam rumah besar itu. 


Saat pintu utama terbuka, Daniash di suguhi tatapan tak bersahabat dari kedua orang tua nya, lebih tepatnya sang ayah. Karena Riana, hanya terkejut saja saat melihat putranya menggendong seorang gadis. 


Tanpa memperdulikan ekspresi sang papa, Daniash membawa gadisnya ke kamar. Riana yang penasaran, memilih mengikuti putra nya ke kamar di lantai dua, dimana kamar Daniash semasa muda berada. Tepatnya, sebelum dia menikah dengan Herra. 


Riana membukakan pintu kamar itu, dan ikut masuk ke dalam nya. Putranya terlihat sangat khawatir melihat gadis yang tergolek lemah tak berdaya, wajah nya di penuhi lebam-lebam. 


"Boy.." Lirih Riana, namun Daniash sama sekali tak menoleh. Dia fokus menatap wajah Maura yang membiru, sudah Daniash duga kalau ini bekas tamparan. 


Tangan kekar pria itu mengusap wajah Maura, hingga tak terasa dia menjatuhkan air mata nya. Kenapa dia sangat lemah? Padahal, dirinya di bangun sekuat baja. Tapi kenapa melihat gadis nya terluka, justru membuat air mata nya luruh?


"Siapa dia, boy?" Tanya Riana, Daniash mendongak dengan wajah bersimbah air mata nya. 


Pria itu langsung memeluk perut ibu nya, lalu menangis sejadinya disana. Riana terkejut, baru kali ini dia melihat Daniash menangis. Putra nya yang biasa terlihat tegar, tapi kini terlihat sangat rapuh. Ada apa gerangan?


Riana paham, mungkin putranya belum siap bercerita. Dia mengusap kepala belakang sang putra dengan lembut, memberikan nya sedikit ketenangan. 


"Ma.."


"Yes, boy. Kenapa hmmm?"


"Berjanjilah, apapun yang terjadi mama takkan menyalahkan Maura." Lirih Daniash. 


"Ada apa sebenarnya? Cerita sama Mama." 


"Dani tau, Dani salah. Tapi, ini sudah terjadi dan cucu mama sudah tumbuh di rahim Maura, Dani mohon jangan menyalahkan nya atas kesalahan Dani, Ma." 


"Maksud mu?" Tanya Riana dengan kedua mata membulat.


"Dia kekasih Dani, Ma. Saat ini, dia sedang hamil 13 minggu dan apa mama tau? Maura hamil kembar." 

__ADS_1


"Gadis ini hamil, boy?" Tanya Riana, Daniash mengangguk perlahan. 


"Bagaimana bisa kamu bertindak seceroboh ini? Kau dan Herra belum resmi bercerai, Nak." 


"Besok Dani sidang, Ma. Setelah itu kami resmi bercerai." Riana menggelengkan kepala nya, ini terlalu mengejutkan baginya. 


"Mama pusing, mama keluar dulu." Riana memilih pergi dari kamar putra nya, meninggalkan Daniash bersama gadis kecil yang dia bawa. 


"Sayang, kamu belum bangun juga? Bangunlah, sayang." 


Daniash menggenggam erat kedua tangan Maura yang terasa dingin, andai saja dia tak mengikuti hawa nafssu nya, mungkin semua ini takkan terjadi dan gadisnya takkan mendapat tamparan yang begitu menyakitkan dari ayahnya.


"Maafkan Daddy, sayang.." 


Di bawah, Riana kembali duduk di samping sang suami. 


"Kenapa Ma? Sakit kepala kan liat kelakuan anak mu itu? Belum resmi pisah, udah buntingin anak gadis orang." Celetuk Danish membuat Riana mendelik.


"Enak aja anak aku, anak kamu juga kali. Inget, kita buat nya berdua. Mana bisa aku hamil tanpa bantuan kamu, Mas." Sewot Riana.


"Haha, iya iya sayang. Jadi, sedang apa dia di kamar?"


"Pasti di tampar bapaknya, Elgar kan arrogant. Mana mantan mafia, ya jelas lah kena timpuk." 


"Hah, maksud papa?"


"Iya, Maura itu putri semata wayang nya Elgar Wijaya, mantan ketua mafia klan red rose." Jawab Danish. Masih terlihat santai saat mengatakan hal itu, berbeda dengan Riana yang sudah merinding disko saat mendengar kata mafia.


"J-adi kita bakal besanan sama mantan mafia, Mas?"


"Itu juga kalo Elgar nya setuju, kalo Amira sih pasti setuju, soalnya dia kan lembut banget." Ucap Danish, membuat Riana keheranan. Dari mana suami nya tau informasi sedetail itu?


"Ngomong-ngomong, Mas tau semua ini darimana?"


"Dari detektif lah, masa aku sendiri yang cari tahu? Kan gak mungkin, aku orang sibuk." Jawab Danish membuat Riana mencebik sebal.


"Ohh, kirain Mas sendiri yang mata-matain. Soalnya kan kamu nganggur, dari perusahaan udah pensiun kan." Sindir Riana membuat Danish menatap istrinya dengan tatapan gemas. 


"Capek, aku sudah tua sayang. Ngapain repot-repot, punya uang mending nyewa jasa detektif."

__ADS_1


"Iya deh, si paling kaya." 


"Suami kamu, hehe." Danish mengecup singkat pipi sang istri. 


"Kok kamu bisa gercep gitu sih, Mas?"


"Dari awal aku sudah curiga, Sayang. Terutama pada Herra. Jadi, sejak pesta anniversary besan kita, seminggu kemudian aku menyewa jasa detektif untuk menyelidiki putra kita, dan hasilnya di luar dugaan." 


"Mas kira, anak kita yang berhianat tapi nyatanya malah sebaliknya." Danish menghela nafas nya.


"Iya Mas, tapi perbuatan putra kita juga tak bisa di benarkan." 


"Tentu saja iya, biarkan dia mempertanggung jawabkan perbuatan nya, kita hanya perlu mendukung nya." 


"Mas, apa mas tau kalau calon cucu kita kembar?" Tanya Riana.


"Kembar? Yang bener, Ma." 


"Seriusan, Maura hamil 13 minggu. Tapi perutnya memang buncit sih, tadi mama lihat kan." 


"Hmmm ya, kita harus mendampingi nya. Pasti sangat menyakitkan di saat hamil begini malah di usir dari rumah." 


"Iya Mas, aku gak tega liat wajah nya lebam-lebam gitu bekas tamparan." Lirih Riana.


"Sebaiknya, kamu kompres Ma. Kasian dia, bagaimana pun juga dia calon menantu kita sekarang." 


"Calon menantu? Artinya papa merestui hubungan Daniash sama Maura?" Tanya Riana.


"Tak ada alasan untuk tak memberi restu, apalagi sudah ada cucu kita di rahim nya. Anak mu pintar juga, bikin bayi dulu baru minta restu jadi kita tak berkutik." 


"Anak nakal itu memang pintar, sama seperti ayahnya. Dia begitu, karena meniru kelakuan bapaknya." Sindir Riana membuat Danish terkekeh. 


Riana bangkit dari sofa dan mengambil air hangat juga sapu tangan, lalu membawa nya ke kamar Daniash. 


Dengan perlahan, dia membuka pintu kamar itu. Seketika itu juga, hatinya berdenyut nyeri, namun bibir nya tersenyum melihat Daniash tertidur sambil duduk, tangan nya menggenggam tangan gadisnya, terlihat sangat erat sekali.


'Kamu sudah menemukan cinta mu, Nak. Kebahagiaan mu ada pada nya, mama bahagia karena kamu sudah menemukan kebahagiaan mu itu.'


...,...

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2