Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 99 - Malu-maluin


__ADS_3

"Kandungan Nona masuk bulan ke enam minggu ini." Ucap seorang dokter perempuan yang sudah biasa memeriksa kehamilan Maura.


"Bagaimana perkembangan anak-anak saya, dok?"


"Baik, sangat baik. Mereka berkembang sesuai usia nya, lihatlah. Yang ini laki-laki, yang satunya lagi perempuan." Ucap dokter itu sambil menunjukkan gambar abstrak di layar berwarna hitam putih.


"Wahh, yang perempuan kayaknya malu ya? Dia sembunyi, gak mau lihatin wajahnya." Dokter itu terkekeh pelan, begitu juga Maura dan Daniash.


"Dia pemalu dok, seperti papa nya."


"Dih, pemalu katanya? Daddy mah malu-maluin, bukan pemalu." Ketus Maura membuat Daniash tertawa.


"Jadi, kapan saya bisa USG yang 4D dok?" Tanya Maura.


"Harusnya saat ini juga sudah bisa, tapi kebetulan alat nya sedang rusak. Jadi paling di pertemuan berikutnya, Nona."


"Baiklah kalau gitu, dok." Jawab Maura.


"Pemerikasaan nya sudah selesai, Nona." Daniash membantu istrinya untuk bangkit dari rebahan nya.


"Saya hanya akan meresepkan vitamin saja, karena kesehatan nona Maura sangat bagus."


"Baik, dok."


"Masih suka ngemil buah?" Tanya Dokter itu, tersenyum ramah.


"Masih dok, sekarang ngemil nya buah impor Jepang." Bukan Maura yang menjawab, tapi Daniash.


"Wahh, buah premium ya."


"Iya, dok."


"Lanjutkan ya, agar vitamin dan kebutuhan serat nya terpenuhi."


"Baik dok, saya sih gak keberatan kalau di suruh ngemil buah." Ucap Maura.


"Iyalah gak keberatan, toh dia nya suka." Celetuk Daniash. Dokter itu terkekeh, pasangan ini selalu saja membuat tawa di setiap pertemuan saat pemeriksaan kandungan nya.


"Ini resep vitamin nya, silahkan di tebus di bagian farmasi ya, Nona."


"Terimakasih dok." Jawab Maura, pasangan itu pun pergi. Tak lama kemudian, pasangan Aryo dan Nayna masuk ke dalam ruangan dokter kandungan itu.


"Selamat pagi, Nona." Sapa dokter itu ramah dengan senyuman manis nya.


"Pagi, dok."


"Ada keluhan apa, Nona?" Tanya nya, masih dengan senyum ramah nya.


"Tak ada keluhan apapun, dok. Hanya ingin mengetahui usia kandungan saja." Jawab Nayna sambil cengengesan.


"Ohh, baiklah. Silahkan berbaring disana, Nona." Aryo pun membantu istrinya untuk berbaring di brankar pemeriksaan.


Dokter itu berjalan mendekat, dan mengoleskan gel yang membuat Nayna terkejut karena sensasi dingin dari gel itu.


"Dingin ya?"

__ADS_1


"Hehe, iya dok. Kaget aja." Jawab Nayna sambil tersenyum canggung.


Nayna menggenggam tangan suami nya dengan erat, jujur saja dia merasa gugup saat ini. Padahal dulu, dia yang mendampingi Maura melakukan pemeriksaan pertama nya. Dia yang menguatkan sahabatnya, namun saat ini dia juga merasakan kegugupan luar biasa. Mungkin seperti inilah yang di rasakan oleh Maura saat itu.


"Gak usah gugup, santai dan rileks saja, Nona."


"Maklum dok, baru pertama kali."


"Iya, tak apa-apa Nona." Dokter itu tersenyum sambil mulai menggerakan benda kecil yang terhubung ke layar yang cukup besar.


Di layar, mulai terlihat ada dua bulatan. Yang satu agak besar dan yang satu nya lagi lebih kecil ukuran nya. Dokter pun mulai menjelaskan, bahwa dua bulatan itu merupakan bentuk dari rahim dan janin yang sedang berada dalam kandungan perempuan cantik itu.


"Kandungan Nona berusia 15 minggu atau 4 bulan kurang satu minggu." Ucap dokter itu sambil mengelap sisa-sisa gel di perut Nayna dengan tissu.


"4 bulan? Berarti, sebelum kita menikah dong?" Celetuk Aryo membuat Nayna refleks memukul lengan suaminya. Dia merasa sangat malu kalau orang lain tau dia hamil di luar nikah.


"Aawwhhss, sakit Bby.."


"Omongan Daddy tuh bikin kesel."


"Ya maaf, Bby."


"Hihi, tak apa-apa Nona santai saja." Ucap dokter itu melerai sebelum terjadi perdebatan sengit antara pasangan suami istri muda ini.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan dok?"


"Tentu menjaga kandungan Nona dengan baik." Jawab Dokter itu sambil tersenyum.


"Hmm, maksudnya apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan gitu, dok."


"Ohh, yang penting jangan kelelahan, makan-makanan sehat dan bergizi juga seimbang. Terutama buah, sayur, daging dan susu, itu sangat bagus untuk perkembangan janin." Ucap dokter itu.


"Iya, Nona."


"Baik, dok."


"Dok, apa boleh melakukan hubungan intiim?" Tanya Aryo membuat wajah Nayna memerah karena malu. Bisa-bisanya suami nya ini menanyakan hal semacam itu.


Dokter itu tersenyum lalu menggelengkan kepala nya perlahan, ada banyak jenis pasien yang dia tangani hari ini. Mulai dari yang nyeleneh sampai yang terlalu serius seperti ini.


"Boleh, tapi sebaiknya jangan terlalu sering. Di batasi, seminggu dua atau tiga kali tak masalah. Dengan catatan, saat ibu hamil merasa nyaman. Kalau ibu hamil merasakan sakit, sebaiknya tidak di lanjutkan."


"Satu lagi, harus pelan-pelan. Tidak boleh di tekan terlalu dalam, apalagi dalam durasi yang panjang."Jelas dokter itu membuat Aryo manggut-manggut.


"Baik dokter."


"Juga, saya sarankan agar jangan di keluarkan di dalam. Karena cairan pria bisa merangsaang kontraksi."


"Kalau gak di dalam, gak enak dong, dok." Keluh Aryo, membuat Nayna kembali menanggung malu karena ulah suaminya.


"Astaga Daddy, iihhh.."


"Maaf, itu resiko Tuan. Saya tidak ikut campur kalau masalah itu." Dokter itu tersenyum geli melihat reaksi yang di tunjukan oleh suami pasien nya ini.


"Hmmm, ya sudah dok."

__ADS_1


"Ada lagi pertanyaan?"


"Tidak ada, dok." Jawab Nayna dengan cepat, dia khawatir suaminya malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol yang akan membuatnya malu lagi.


"Baik, ini saya resepkan vitamin dan pil penambah darah. Harus di minum sampai habis ya, Nona."


"Baik Dok."


"Silahkan tebus di bagian farmasi."


"Iya dok, terimakasih."


"Sama-sama." Nayna dan Aryo pun pergi dari ruangan dokter itu.


"Daddy ngapain sih pake nanya-nanya gituan? Kan malu!" Ketus Nayna.


"Ya kan gak ada salahnya nanya, Bby. Toh lagian dia dokter. Pasti udah sering yang nanya kayak gini, bukan cuma Daddy doang yang nanya kek gitu."


"Tetep aja malu, Dad."


"Iya iya, maaf sayangku."


"Tebus nih."


"Oke, Bby." Jawab Aryo, lalu dia mengantri di bagian farmasi untuk menebus vitamin dari resep dokter tadi.


Setelah selesai menebus vitamin, keduanya pun pergi dari area itu ke luar dari rumah sakit. Di parkiran, Maura dan Daniash sudah menunggu kedatangan pasangan itu.


"Udah selesai?" Tanya Maura, wanita itu sedang anteng memakan buah jeruk. Dimana pun, pasti ngemil buah.


"Udah, maaf ya bikin kalian nunggu."


"Gapapa, santai aja. Yuk kita pulang, nanti aja istirahat nya di rumah." Ajak Maura pada Nayna, dia menarik pelan tangan sahabatnya ke dalam mobil.


"Mau gak? Jeruk nya manis asem, seger deh."


"Boleh dong."


"Ambil." Jawab Maura sambil menunjukan kresek berisi buah jeruk yang suami nya beli dari tukang buah di seberang jalan. Tadi, sambil menunggu Nayna dan Aryo keluar dari ruangan pemeriksaan, Maura merengek ingin ngemil buah. Karena biasanya jam segini, dia memang sedang ngemil buah.


"Enak kan?"


"Iya nih, seger banget."


"Berapa bulan hamil nya?" Tanya Maura.


"4 bulan kurang satu Minggu, beb."


"Wahh cuma beda dua bulan aja sama aku, aku 6 bulan Minggu ini."


"Nanti anak-anak kita biar bestiean juga kayak kita, Ra."


"Wihh ide bagus tuh, Nay." Ucap Maura setuju, di bangku belakang terdengar heboh oleh dua bumil yang bercanda ria sambil memakan jeruk.


Sedangkan di depan, terlihat damai dan sepi. Tak ada pembicaraan apapun dari Daniash atau Aryo, keduanya kompak diam-diaman.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2