
"Daddy.." Rengek Maura saat Daniash tak kunjung menyusul ke ruang tamu. Dia berjalan dengan menghentak-hentak kaki nya, lalu memeluk sang Daddy dari belakang.
"Kenapa cantik nya Daddy?"
"Kok lama?" Tanya nya dengan manja.
"Daddy lagi ngupas buah, terus di potong-potong, biar kamu gampang makan nya, sayang. Kamu kenapa? Manja banget deh."
"Gak tau, bawaan bayi deh. Pengen nya deket-deket terus sama Daddy."
"Kamu ini, adek bayi nya yang pengen deket-deket sama ayah nya, apa ibu nya yang manja hmm?" Daniash mencolek hidung mancung Maura, saking gemas nya.
"Hehe, dua-duanya Dad. Harus puas-puasin manja-manjaan nya, nanti sore kan aku harus pulang, Daddy."
"Iya, andai saja status Daddy sudah resmi, mungkin Daddy akan ikut ke rumah bersama mu." Daniash menangkup wajah gadisnya, lalu mengecup kening nya dengan mesra.
"Gapapa Dad, selesaikan dulu urusan Daddy, setelah itu baru kita pikirkan ke depan nya."
"Baiklah, sayang. Tolong bersabarlah sedikit lagi ya? Daddy pasti akan menepati janji Daddy sama kamu." Maura mengangguk lalu memeluk Daniash dengan erat.
"Maura tunggu ya, Dad."
"Tentu, Daddy takkan membiarkan kamu menunggu terlalu lama." Gadis itu kembali menganggukan kepala nya dalam dekapan hangat sang Daddy, mengecup puncak kepala nya beberapa kali.
"Ini buahnya sudah Daddy kupas, udah di potong juga. Mau makan sekarang?"
"Huum, dad."
"Ya sudah, ayo ke ruang tamu."
"Gendong." Ibu hamil itu merentangkan kedua tangan nya, membuat Daniash menggelengkan kepala nya, lalu terkekeh.
"Daddy bawa piring buah nya gimana, kalo harus gendong kamu?"
"Daddy.."
"Astaga, bumil yang satu ini sangat menggemaskan sekali." Akhirnya Daniash pasrah, dia menggendong bumil itu ala koala, meski sedikit kesulitan karena harus membawa piring berisi potongan buah, plus menggendong gadis cantiknya.
"Suapin.." Rengek Maura lagi, Daniash cukup kewalahan meladeni kemanjaan sang gadis hari ini.
Bahkan setelah di ruang tamu, Maura tak mau turun juga dari pangkuan nya. Dia tetap memeluk leher nya dengan erat, tapi di sisi lain dia juga senang karena gadis nya begitu manja. Tapi, dia juga harus extra sabar menghadapi sikap manja nya.
"Mau melon.."
"Dad.."
"Iya, mulut penuh jangan ngomong. Air buah nya kena Daddy, hujan lokal kamu tuh."
"Alahh, biasanya juga tukeran ludah." Cetus Maura.
"Itu kan beda lagi, Bby."
"Sama aja, dad."
"Jadi pengen deh." Daniash menatap nakal gadisnya.
"Pengen apa? Gak ada."
"Bibir atas aja deh, kalo gak boleh yang bawah." Bujuk Daniash.
"Hmmm yaudah iya." Daniash langsung melumaat bibir mungil gadisnya dengan buas, tak peduli dengan gadis itu yang terlihat kesulitan menyamai permainan pria nya.
__ADS_1
Akhirnya, Maura kesal dan menggigit bibir Daniash. Membuat pria itu langsung melepaskan tautan bibirnya.
"Baby, kok di gigit sih?" Gantian, kali ini pria itu yang merengek manja sambil memegangi bibir nya.
"Bisa gak cium nya pelan-pelan? Daddy tuh kayak lagi makan lahap banget deh, nyebelin."
"Bibir kamu manis, Bby."
"Diem, aku cubit nih." Ketus Maura sambil melirik kesal ke arah sang Daddy.
"Kamu kalo lagi kesel gini, makin cantik deh. Jadi gemes, pengen Daddy terkam."
"Main terkam aja, katanya mau ke kantor? Maura pengen di pijet spa, pegel-pegel banget ini badan."
"Ohh Daddy lupa, Daddy siap-siap dulu ya Bby." Maura turun dari pangkuan Daniash dan duduk sendiri di sofa, sambil ngemil buah yang sudah Daniash sediakan.
"Gitu tuh kalo udah tua, pikun." Cibir Maura, namun masih bisa terdengar oleh Daniash.
"Daddy gak tua, cuma dewasa aja."
"Iya-iya, Daddy belum tua cuma matang aja."
"Emang nya Daddy buah gitu? Pake matang segala."
"Aaahhh terserah Daddy aja." Daniash terkekeh, senang sekali menggoda gadisnya. Tapi merepotkan kalau sudah merengek atau dalam mode merajuk.
Setengah jam kemudian, Daniash sudah pergi ke kantor beberapa menit yang lalu, sedangkan Maura sedang menikmati pijatan lembut di tubuhnya yang kelelahan.
"Nona, apa sekalian manicure?"
"Tentu, aku mau pakai kutek juga sekalian."
"Selesai Nona."
"Wahh, badan aku terasa lebih rileks. Terimakasih ya."
"Sama-sama, nona." Maura mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari sana.
"Ini buat kalian."
"Tak perlu, nona. Tuan Daniash sudah membayar semua nya."
"Tak apa, anggap ini tips untuk kalian." Ucap Maura. Akhirnya, mau tak mau mereka menerima uang yang di ulurkan oleh Maura.
"Terimakasih, Nona. Kalau begitu, kami permisi dulu. Tuan Daniash juga sudah dalam perjalanan pulang."
"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan nya ya, lain kali aku panggil kalian lagi."
"Siap Nona, kami tunggu kabar dari Nona." Jawab mereka, lalu pergi dari apartemen itu setelah menyelesaikan tugas mereka.
Hanya beberapa menit berselang setelah kepergian kedua orang dari spa, Daniash datang dengan menenteng tas berisi laptop.
"Dad.."
"Iya baby, gimana? Enakan badan nya?" Tanya Daniash sambil merangkul pundak gadisnya.
"Iya Dad, lebih enakan sih. Pijatan mereka enak banget deh,"
"Iya sayang, gak sia-sia Daddy bayar mahal kalo gitu." Jawab Daniash sambil mengusap puncak kepala Maura.
"Wangi gak?"
__ADS_1
"Iya, wangi. Pake apa? Aroma nya beda."
"Ada deh, Daddy kepo."
"Kebiasaan deh, suka bikin penasaran ya kamu." Daniash mengunyel-unyel pipi sang gadis lalu mengecup nya.
Seperti biasanya, jika berdekatan dengan gadisnya, bukan Daniash namanya kalau gak nyosor. Tanpa aba-aba, dia mencium bibir Maura lagi, tak kapok meskipun tadi sudah kena gigit sekalipun.
Maura membalas ciuman itu, dia mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh sang Daddy. Kedua nya berciuman mesra, saling melumaat satu sama lain, bertaut lidaah hingga menimbulkan suara decapan nikmat.
Hingga ciuman itu semakin panas, bahkan tangan Daniash sudah nakal meraba-rabaa dada sang gadis, meremaas nya dengan gemas. Namun, disaat keduanya mulai terbawa nafssu, bunyi ponsel membuat fokus terganggu.
Maura melepas paksa ciuman Daddy nya, lalu berlari mengambil ponsel yang tergeletak di meja nakas.
"Hallo, kenapa Nay?"
'Gawat Ra, bokap Lo ke rumah gue. Kayaknya dia mulai curiga deh sama Lo.' Ucap Nayna, dari suaranya terdengar sangat khawatir.
"Maksud Lo? Papa ke rumah Lo gitu? Ke apartemen?"
'Ke rumah anjir, Lo tau sendiri gue sama nyokap gak akur, ya dia bilang kalo gue sama Lo gak pernah kesitu udah lama, anjir!' cerocos Nayna, membuat jantung Maura seperti berhenti berdetak.
"Jadi gue harus gimana, Nay?"
'Pake nanya, balik lah anjir. Ngamar Mulu, balik cepetan sebelum papa Lo ngamuk.'
"Oke, gue balik sekarang, Nay."
'Gue jemput atau Lo balik sendiri?' tanya Nayna.
"Balik sendiri aja, naik grab. Thanks info nya, Nay."
'Oke, see you.' Panggilan pun selesai, Maura langsung memasukan ponsel dan beberapa barang nya ke dalam tas dengan cepat.
"Kenapa Bby?" Tanya Daniash.
"Aku harus segera pulang, Dad."
"Kok pulang, kita kan belum…"
"Darurat dad, kita bisa melakukan nya lain kali. Aku pulang ya, Dad." Maura mengecup singkat pipi kanan sang Daddy, lalu pergi dari apartemen Daniash dengan terburu-buru.
Daniash berlari menyusul gadisnya, dia nekat menyusul nya dengan mobil miliknya, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan keselamatan nya sendiri, yang ada di pikiran nya hanya Maura.
Gadis itu masuk ke dalam rumah, setelah beberapa kali menghela nafas nya, mencoba setenang mungkin.
"Dari mana? Duduk!" Tegas Elgar, sorot mata nya menajam menatap putrinya dari atas sampai ke bawah.
"Kenapa Pa?"
"Katakan, ini milikmu kan?"
Prakk..
Elgar melempar sebuah benda yang membuat jantung Maura seolah berhenti berdetak saat itu juga, wajahnya memucat karena pasokan oksigen nya berkurang.
"I-itu.."
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1