
"Daddy, mau kelapa muda dong."
"Kelapa muda dimana, Bby?" Tanya Daniash, tiba-tiba saja bangun tidur istrinya langsung meminta kelapa muda.
"Gak tau, tapi aku pengen." Gantian, kini istrinya yang mengidam.
"Yaudah, kita nyari sambil jalan-jalan mau?"
"Mau dong, Dad. Sekalian beli jajanan ya?"
"Iya sayang, ayo mandi dulu. Setelah itu kita berangkat." Ajak Daniash, Maura pun mengangguk dan keduanya pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
"Ihhh Daddy, jangan nakal dong."
"Nakal apanya, Bby? Cuma megang doang." Jawab Daniash membela diri, padahal tangan nya memang nakal tak bisa di kondisikan. Dia meraba-raba tubuh istrinya, dan malah memainkan putting susu sang istri.
"Itu tangan nya jangan gitu, ayo cepetan mandi nya." Ketus Maura.
"Iya-iya, galak banget sih. Padahal biasa nya juga suka di remees."
"Suka sih suka, tapi tau tempat dan waktu juga dong. Aku lagi pengen kelapa muda!"
"Iya sayangku, Daddy minta maaf ya?"
"Au ah gelap." Jawab Maura, dia meraih bathrobe dan memakai nya, lalu keluar lebih dulu dari suaminya.
"Merajuk lah tuh, padahal cuma di pegang doang, tapi udah marah." Rutuk Daniash. Salahkan saja tangan nya yang bergerak tak tau tempat, tapi tangan juga kan bergerak sesuai keinginan yang punya tubuh? Aahh benar-benar ya Daniash ini, mesuum nya gak tau tempat.
"Daddy, cepetan!" Teriak istrinya dari luar, membuat Daniash buru-buru keluar dari kamar mandi sebelum istrinya benar-benar mengamuk.
"Iya sebentar, sayang."
Daniash tersenyum begitu melihat istrinya sudah selesai berpakaian, dia menatap nya dengan tatapan penuh kekesalan, bibir mengerucut dan tangan yang bersedekap dada. Lucu sekali, membuat nya gemas.
Pengen nya sih mengunyel-unyel pipi cabi nya, tapi mengingat mood bumil itu sedang buruk, dari pada menambah masalah mendingan dia segera berpakaian dan pergi mencari kelapa muda.
"Ayo sayang, Daddy sudah selesai." Ajak Daniash dengan senyum merekah nya.
"Enggak mau, udah gak mood."
"Hah?" Tanya Daniash dengan wajah cengo nya. Dia tak mengerti akan ucapan istri nya.
Bukan nya menjawab, Maura malah memalingkan wajah nya.
"Bby.."
"Apa?" Tanya nya ketus.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Daniash sambil berjalan mendekat.
"Jangan mendekat, aku sebel sama Daddy!"
"Lho kenapa, Bby? Daddy ada buat salah apa?"
"Pertama, Daddy nakal. Kedua, Daddy lama di kamar mandi, padahal tau aku pengen kelapa muda!" Jelas Maura setengah merengek.
"Maaf sayang, biasa nya kamu gak rewel begini."
"Aku? Rewel? Daddy bilang aku rewel?"
"Eehh enggak Bby, maafin Daddy Bby. Kamu pengen kelapa muda sama jajanan kan? Ayoo kita beli, sambil jalan-jalan."
"Gak, udah gak mau kelapa muda."
"Terus baby mau nya apa hmm?" Tanya Daniash, dia begitu sabar menghadapi istri nya yang sedang rewel ini.
"Mau ke Jepang."
"Lho ngapain sih, Bby?"
__ADS_1
"Nonton konser treasure."
"Astaga Bby, Daddy gak suka lho."
"Bodo amat, aku suka." Jawab Maura.
"Sayang, kamu gak boleh egois. Kamu lagi hamil lho, bahaya kalo naik pesawat."
"Itu cuma akal-akalan Daddy biar aku gak ketemu sama Haruto!"
"Daddy serius lho, tanyain aja sama mama kamu."
"Isshhh Daddy nyebelin, nanti malam Daddy tidur di kamar lain!"
"Lho-lho kok gitu sih Bby? Gak bisa gitu dong. Daddy mana bisa tidur gak peluk kamu sama adek bayi."
"Itu masalah Daddy!" Ketus Maura, lalu pergi keluar dari kamar dengan membanting pintu cukup keras. Hingga membuat Daniash terkejut. Baru kali ini dia melihat kekesalan istrinya itu.
"Astaga, kenapa mood nya sangat mudah berubah? Ya ampun, ini semua gara-gara kau!" Daniash menyalahkan tangan nya yang bergerak tak tau tempat.
"Aaargghh, terus aku harus bagaimana? Tak mungkin aku tidur sendirian kan, tidak tidak. Aku tak bisa tidur tanpa memeluk istriku." Daniash menggelengkan kepala nya, dia tak bisa membayangkan bagaimana malam nya nanti tanpa Maura.
"Bby.." Daniash berlari menyusul istrinya, namun sialnya ternyata Maura sedang bersama papa nya. Bisa-bisa dia di ledekin habis-habisan kalau ketahuan sedang marahan.
"Aasshh, bahaya." Gumam Daniash, dia memilih kembali masuk ke kamar dengan lesu. Padahal penampilan nya sudah rapi, karena akan mengajak istrinya jalan-jalan sambil mencari kelapa muda.
"Sayang, kenapa wajah nya di tekuk gitu?" Tanya Elgar.
"Sebel sama Daddy."
"Kenapa?" Tanya Elgar keheranan, pasalnya tadi mereka berdua baik-baik saja kan?
"Aku kan pengen kelapa muda sama jajanan gitu, tapi Daddy nya lama banget padahal cuma mandi doang."
"Hemm, jadi kalian marahan?"
"Iya, pa. Sebel banget sama Daddy tuh."
"Serius, Pa? Dimana?"
"Di belakang kan ada pohon kelapa, sayang."
"Eehh iya, ambilin dong."
"Siap." Jawab Elgar bersiap bangkit dari duduknya.
"Inget, papa gak bisa manjat pohon." Celetuk Amira dari belakang, membuat Elgar menghentikan langkahnya.
"Baru ingat hehe, papa gak bisa manjat pohon nya."
"Yaahh, jadi?"
"Panggil suami mu, biar kami berdua mencari cara nya."
"Males, panggilin sama Mama aja deh."
"Sayang, gak boleh gitu." Peringat Amira, membuat Maura mendengus, lalu melangkah gontai ke kamar nya untuk memanggil suaminya.
Maura membuka pintu, dia melihat kamar yang tadinya rapih kini berantakan seperti kapal pecah.
"Daddy, apa-apaan ini hah?"
"Eehh, Bby.." Daniash tersenyum canggung.
'Apes, makin marah aja nih bini gue.' Batin Daniash, pria itu memaksakan senyum nya sambil menggaruk tengkuk nya yang padahal tak terasa gatal sama sekali.
"Di panggil papa tuh."
"Ngapain?" Tanya Daniash dengan kening yang mengernyit heran.
__ADS_1
"Gak tau." Jawab Maura singkat.
"Iya Bby."
"Tapi, ini maksud nya berantakan kamar buat apa hmm?"
"Hehe.."
"Haha hehe, setelah selesai tugas sama papa, beresin lagi."
"Iya iya istri cantik ku." Jawab Daniash, lalu mencuri kecupan di pipi kanan sang istri. Dengan cepat dia keluar dari kamar sebelum istrinya mengeluarkan suara nya.
Maura mendelikan mata nya dengan sebal, lalu mengikuti suami nya keluar kamar.
"Iya pa, kenapa manggil Dani?" Tanya Daniash.
"Bisa manjat pohon gak?"
"Enggak tuh, emang mau ngapain?" Tanya Daniash lagi. Elgar mendengus, sesama laki-laki tapi tak ada yang bisa memanjat pohon.
"Ngambil kelapa muda."
"Ohh, kan bisa pake galah, Pah."
"Cihh, memanjat pohon saja tak bisa. Kau hanya bisa memanjat istri mu ya?"
"Ya kalo manjat istri kan gak susah, tinggal tindih doang." Jawab Daniash sambil cengengesan.
"Malah berantem, cepetan tuh keburu Maura nya bad mood lagi." Ucap Amira. Kedua pria itu pun pergi ke kebun belakang, mereka mendongak menatap buah kelapa yang berbuah sangat lebat.
"Gimana ngambil nya, Pah? Tinggi banget."
"Pake tangga kali ya?"
"Di coba aja dulu." Elgar pun mengangguk lalu mengambil tangga dari samping rumah.
"Lu yang manjat sono."
"Kok aku sih, Pah?"
"Istri mu yang ngidam, bukan istriku!" Jawab Elgar sarkas.
"Eehh iya juga ya." Dengan terpaksa, akhirnya Daniash mulai menaiki satu persatu anak tangga.
Tapi tiba-tiba..
Duuutttt….
"Heh, lu kentut ya? Gak sopan Lo sama mertua!"
"E-eehh, maafin Pah. Gak sengaja."
"Gue jatohin Lo ya, kurang ajar jadi menantu!" Elgar menggoyang-goyangkan tangga yang masih Daniash pijak.
"Papah.. Papah, jangan Pah. Ampun, aku gak sengaja ngentutin papa." Teriak Daniash ketakutan.
Teriakan Daniash membuat Amira dan Maura penasaran, kira-kira nya kegaduhan apa yang di buat antara mertua dan menantu itu kali ini.
Saat melihat keduanya, Amira dan Maura kompak menggelengkan kepala mereka. Elgar dan Daniash itu seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur satu sama lain.
Ada-ada saja tingkah mereka berdua yang membuat kedua wanita itu harus ekstra sabar.
"Huaaa, baby…" teriak Daniash sebelum akhirnya dia terjatuh. Elgar membuka sendal nya dan menepuk pantaat menantu nya dengan sendal itu.
"Aduhh, sakit Pah. Ampun, kagak sengaja juga."
"Kagak sengaja juga tetep bau, sialan."
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1