Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 98 - Periksa Kandungan


__ADS_3

Aryo mengaduk teh hangat di dalam cangkir, lalu membawa nya ke dalam kamar. Saat ini, Nayna masih belum sadarkan diri juga. Mendengar kabar kalau istrinya tengah berbadan dua, membuat hati Aryo berbunga. 


"Dad.." Lirih Nayna saat melihat suaminya masuk ke kamar sambil membawa secangkir teh hangat di tangan nya.


"Iya, sudah bangun? Apa ada yang sakit, sayang?" Tanya Aryo, dia berjalan mendekat lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Hanya pusing saja, Dad." Jawab Nayna lirih.


"Hmm, ini di minum dulu teh nya. Biar enakan." Nayna menurut, dia menyeruput perlahan teh hangat itu. 


"Aku kenapa, Dad?"


"Kamu pingsan tadi, sayang." Jawab Aryo, membuat Nayna mengangguk. Dia ingat kalau tadi mengeluh pusing, setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. 


"Kenapa Daddy senyam-senyum gitu sih? Kayak lagi bahagia banget, ada apa Dad?" Tanya Nayna, dia heran melihat suaminya yang sedari tadi terus tersenyum misterius, entah ada apa.


"Daddy memang lagi bahagia, Bby."


"Kenapa?" Tanya Nayna.


"Kamu gak ngeuh, sayang?"


"Apa? Jangan bertele-tele, Dad."


"Kamu hamil, Bby." Jawab Aryo membuat kedua mata Aryo membeliak.


"Ha-mil? Apa iya?" 


"Iya, tadi kata dokter sih begitu. Tapi, untuk memastikan nya lagi sebaiknya kamu test aja pakai ini." Aryo mengulurkan sebuah testpack pada istrinya.


"Nanti pagi saja, Dad. Sekarang aku merasa lemas sekali." 


"Katanya benda ini memang lebih akurat saat di gunakan pagi hari, Bby." Jawab Aryo, Nayna mengangguk. Dia tau kegunaan benda itu, bahkan dia yang mengarahkan Maura saat dia kebingungan untuk memakai benda pipih kecil itu.


"Mau makan?"


"Biasa nya ada tukang bakso lewat kan jam segini, Dad?" Tanya Nayna.


"Iya, kamu mau?" Tawar Aryo, perempuan itu mengangguk.


"Ya sudah, sebentar ya. Daddy beliin dulu." Ucap Aryo sambil mengusap lembut perut istrinya terlebih dulu sebelum pergi keluar dari kamar.


"Kamu benar hadir, sayang? Lihatlah Daddy mu, dia sangat bahagia dengan kehadiran mu. Berarti mimpi semalam itu benar?" Gumam Nayna. 


Semalam, dia bermimpi ada seseorang yang memberikan seorang bayi laki-laki, lalu sore ini dia menerima fakta bahwa dirinya sedang mengandung. 


Meskipun dia belum yakin karena belum melihat hasil test nya sendiri, tapi vonis dokter tak mungkin salah kan? Lagipula, sudah dua bulan dia tak mendapatkan tamu bulanan nya.


"Kenapa aku gak ngeuh ya kalau aku sudah lama tidak menstruasi?" Gumam Nayna lagi. Dia terlalu bahagia bersama Aryo, hingga melupakan hal-hal semacam itu. 


"Ini baby, dua porsi bakso dengan satu sendok sambal."


"Terimakasih, Daddy." Jawab Nayna sambil tersenyum manis.


"Sama-sama istriku, sayang."


"Daddy gak beli?" 


"Beli dong, Daddy juga laper belum makan malam." 


"Maaf ya, aku gak masak Dad."


"Gapapa sayang, memang nya Daddy memaksa mu memasak? Tidak kok, kita bisa beli." 


"Terimakasih, Dad. Aku akan belajar memasak nanti."


"Iya sayangku." Jawab Aryo, dia mengacak pelan rambut istri nya.


"Tapi ingat, jangan kecapean ya Bby. Apalagi kehamilan kamu masih cukup rentan."


"Apa sih Dad, kan belum tentu aku beneran hamil."

__ADS_1


"Masa vonis dokter itu salah sih, Bby? Kalau iya salah, sertifikat kelulusan nya patut di pertanyakan." Ucap Aryo membuat Nayna terkekeh.


"Kamu ini ada aja sih, Dad." 


"Besok di test aja, Bby. Terus kita periksa kandungan ke dokter."


"Daddy kan kerja besok, kasian tuan Daniash kalau Daddy libur lagi." Ucap Nayna.


"Tapi kamu lebih penting, sayang."


"Aku mau periksa sama Maura aja barengan, Dad. Dia juga pasti mau periksa kandungan rutin kan?"


"Sebentar, Daddy tanyakan dulu ya Bby." 


"Iya, kalau Maura beneran besok periksa, aku sama dia aja barengan." 


"Iya sayang." Aryo mengetikan pesan pada sang tuan, menanyakan kapan Nona muda itu akan periksa rutin kandungan nya.


Tak butuh waktu lama, Daniash langsung membalas dan mengatakan besok. Aryo pun langsung mengutarakan niatnya untuk mengajak nona muda nya itu periksa barengan bersama istrinya, Daniash langsung mengiyakan.


"Gimana, Dad?"


"Iya, besok Nona Maura juga periksa." 


"Oke, kalau gitu besok kita ke rumah tuan Daniash aja pagi-pagi sambil Daddy berangkat kerja."


"Daddy mau nganter kamu periksa ke dokter kandungan." Jawab Aryo.


"Kan Daddy kerja, udah lama libur nanti gak gajian." 


"Tuan Daniash juga mengantar istrinya ke dokter, jadi besok kita periksa dulu setelah selesai, kamu sama Nona Maura pulang. Daddy sama Tuan Daniash ke kantor, Bby."


"Ohh gitu ya, oke deh."


"Iya sayang, ayo lanjutin makan nya."


"Heemm, Dad bakso nya enak."


"Hehe, Daddy peka banget deh."


"Kan biasanya kamu tuh kalo seporsi suka nambah, jadi Daddy inisiatif pesen nya dua porsi biar kamu kenyang makan nya." 


"Baguslah, setelah ini aku mau tidur. Boleh ya?" Tanya Nayna.


"Hmmm, iya sayang. Istirahat aja dulu." 


Nayna mengangguk, dan kembali memakan bakso nya dengan lahap. Setelah habis, barulah dia ngemil buah pepaya. Karena hanya buah itu yang ada di rumah, itu pun hasil panen di kebun belakang rumah. 


Setelah hampir satu jam, barulah keduanya bersiap untuk beristirahat. Aryo memeluk perut rata istrinya, sesekali mengusap nya dengan penuh kasih sayang. Membuat hati perempuan mana sih yang tidak meleleh dengan tingkah manis laki-laki yang satu ini? 


Bahkan setelah kedua mata nya terpejam pun, tangan nya tetap mengusap lembut perut rata itu. 


"Semoga saja aku memang hamil." Gumam Nayna, sebelum akhirnya dia pun tertidur menyusul suaminya ke alam mimpi.


Pagi harinya, Aryo sudah heboh sendiri setelah melihat dua garis merah di testpack bekas istrinya. Dia menangis, lalu berjingkrak-jingkrak tak karuan saat mengetahui istri cantiknya benar-benar hamil sekarang. 


Nayna tergelak melihat tingkah suaminya yang sangat absurd, kemana Aryo yang dingin dan datar? Kini tak ada lagi, yang ada hanya Aryo yang pecicilan dan sering bertingkah konyol hanya untuk membuat nya tersenyum.


"Yeeee, aku bakal jadi Daddy beneran." Pria itu kembali bersorak, membuat Nayna semakin tergelak kencang.


"Daddy ihhh, malu tau."


"Malu sama siapa, Bby? Kan gak ada orang."


"Sama adek bayi, gak malu?"


"Ehhh, iya ya. Tutupin perut nya Bby, biar dia gak bisa ngintip." Ucap Aryo sambil menyelimuti istrinya, katanya biar adek bayi tidak ngintip tingkah konyol papa nya.


"Sana mandi, katanya mau kerja sekalian mau nganter aku periksa kandungan. Sekarang udah jelas kan kalau aku hamil."


"Iya, sayangku." Aryo pun mengecup singkat kening istrinya, lalu tanpa aba-aba dia langsung mengangkat istrinya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aaaa Daddy!" Pekik Nayna karena suaminya menggendong nya secara tiba-tiba.


"Kita mandi bareng, bertiga."


"Isshhh, Daddy. Aku malas mandi, dingin."


"Ada Daddy yang hangatin, sayang." Jawab Aryo. 


Kedua nya pun mandi bersama, tanpa bumbu-bumbu desaah atau yang lain, hanya mandi saja karena mereka buru-buru. 


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, kedua nya pun pergi dari rumah itu dan pergi dengan motor. Aryo memang tak mempunyai mobil, selama ini dia selalu memakai mobil milik Daniash. 


Meski sebenarnya, dia bukan tak mampu membeli hanya sebuah mobil, dari yang tips saja pasti sudah bisa membeli satu mobil cukup mewah, tapi Nayna menolak dan meminta suaminya untuk menabung saja untuk masa depan.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Aryo saat melihat tuan nya berdiri di ambang pintu rumah besarnya.


"Masih pakai motor membawa istrimu? Dia sedang hamil kan, Ar?"


"Iya Tuan, kami berencana memeriksa nya agar tau berapa usia kandungan nya." Jawab Aryo.


"Ckkk, membiarkan istrimu kepanasan, keanginan? Beli lah mobil, Ar." 


"Saya sudah mempertimbangkan untuk membeli mobil, tuan."


"Baguslah, sebentar. Istriku masih bersiap-siap." Kedua nya pun duduk di teras sambil menunggu Maura keluar dari kamarnya.


"Daddy, ayoo.." 


"Ra.." panggil Nayna saat melihat sahabat nya keluar dari rumah.


"Lho, Nayna.." Seperti biasa, kedua nya pun berpelukan. 


"Kamu ikut kesini?"


"Iya, sekalian mau ikut periksa kandungan juga."


"Lho, kamu hamil?" Tanya Maura dengan kening yang berkerut.


"Iya, hehe."


"Wahh selamat bestie, udah berapa bulan?"


"Itulah yang ingin aku tahu, aku baru testpack aja tadi pagi dan ternyata garis dua, Ra."


"Wahh, selamat. Penasaran lho, ayoo kita pergi." Ajak Maura sambil menggandeng tangan sahabatnya.


"Bby, kamu di depan."


"Dad, aku ingin banyak bercerita sama Nayna. Aku dduduk di belakang sama Nayna ya, boleh? Pliss, kali ini saja."


"Baiklah, kau yang menyetir, Ar." 


"Baik tuan." Aryo pun menerima kunci dari tuan nya, lalu kedua pasangan itu pun pergi menjauhi rumah besar itu. Tadinya, Maura akan pergi memeriksakan kandungan nya bersama Riana, ibu mertuanya. 


Tapi saat Daniash mendengar kalau Nayna juga akan pergi ke rumah sakit juga, pria itu memutuskan untuk pergi bersama istrinya saja. 


"Nanti, setelah selesai periksa kamu main di rumah aku ya? Rumah ibu mertua aku sih." 


"Emang boleh?" Tanya Nayna.


"Dad, boleh kan kalau Nayna main di rumah kita sampai Om Aryo pulang kerja?" Tanya Maura pada suaminya.


"Boleh, tentu saja boleh, sayang."


"Tuh, boleh Nay. Nanti kita bercerita banyak hal seputar kehamilan ya?"


"Siap, Ra." Jawab Nayna sambil tersenyum. Sepanjang perjalanan, keduanya terus tertawa, sudah lama keduanya tidak bersama-sama seperti ini. Lebih tepatnya semenjak Maura hamil, Daniash sangat posesif menjaga bumil nakal nya.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2