
"Mira, Hanin, saya mau ke perusahaan Daddy dulu ya. Kalian baik-baik di rumah, saya gak lama kok." Ucap Maura pada kedua pengasuh buah hati nya.
"Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Hanin.
"Iya, aku baik bahkan sangat baik. Memang nya kenapa, Hanin?"
"Tidak Nona, tapi wajah Nona nampak sedikit pucat." Jawab Hanin lirih.
"Hmm, aku tidak apa-apa kok. Kalian jaga anak-anak ya, jangan di biarin terlalu nakal. Mau nitip apa?" Tawar Maura, memang setiap dia bepergian, pasti selalu menawari kedua nanny nya, barangkali ada yang ingin mereka makan tapi di rumah tak tersedia.
"Maaf Nona, tapi saya ingin martabak manis." Lirih Mira.
"Kalau Hanin?"
"Donat, Nona."
"Ya sudah, nanti saya belikan ya."
"Terimakasih Nona, anda baik sekali." Jawab kedua nya kompak.
"Jangan memuji ku seperti itu, nanti aku nya terbang." Celetuk Maura membuat kedua nanny itu terkekeh pelan.
"Aku pergi dulu ya, kalian hati-hati di rumah."
"Baik, Nona." Jawab kedua nya kompak. Maura pun pergi bersama supir pribadi yang sudah siap sedari tadi. Meskipun Maura bisa mengemudi dan juga sudah punya SIM, tapi setelah menikah kemampuan nya itu tak pernah di gunakan lagi, karena Daniash yang sangat-sangat melarang istrinya mengemudi sendirian.
"Pak, ke perusahaan Daddy ya."
"Baik, Nyonya." Jawab pria paruh baya yang menjadi supir keluarga Daniash beberapa tahun lalu, hanya saja sekarang pria itu ikut pada Daniash di rumah yang baru.
Maura tersenyum sepanjang perjalanan, dia merasa senang karena hari ini dia akan memberikan sebuah kejutan yang suami nya takkan menyangka kalau hari ini akan datang secepat ini.
"Sudah sampai, Nyonya."
"Iya, terimakasih pak." Jawab Maura dengan sopan. Dia pun keluar dari mobil tanpa menunggu di buka kan oleh sang supir, meskipun Maura adalah majikan disini, tapi dia tetap punya rasa hormat pada orang yang usia nya lebih tua dari nya.
"Tunggu ya, Pak."
"Baik, Nyonya." Jawab pria paruh baya itu sambil menunduk hormat.
"Aaisshh, sudah aku bilang jangan membungkuk seperti itu di depan ku."
"Saya lupa, Nyonya."
"Hmm, kalau begitu aku masuk dulu ya."
"Iya, Nyonya." Jawab nya, Maura pun tersenyum kecil lalu pergi dari area parkir. Wanita cantik itu berjalan perlahan, dan lagi-lagi mendapat sambutan hormat, membuat nya tersenyum canggung.
Jujur saja, dia merasa tak nyaman. Tapi dia tak bisa mencegah karyawan melakukan hal semacam ini, karena dia adalah istri dari CEO di perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Pagi kembali, kak. Daddy nya ada?" Tanya Maura dengan ramah pada resepsionis yang sedang berjaga di depan.
"Beliau sedang berada di ruangan meeting, Nyonya."
"Ohh begitu ya, kalau begitu saya kesana dulu ya, Kak."
"Baik, Nyonya." Jawab sang resepsionis itu dengan senyum ramah nya.
Maura berjalan dengan perlahan, dia sudah menyiapkan sesuatu untuk dia tunjukan pada sang suami. Wanita itu tersenyum penuh semangat, menebar senyum manis dan energi fositif.
Maura membuka pintu dengan perlahan, dia melihat suami nya tengah fokus dengan meeting nya, beberapa kali dia nampak menguap dan menggaruk tengkuk nya. Seperti nya pria itu mulai bosan dengan meeting bersama para petinggi perusahaan ini.
Maura merogoh ponsel dari tas nya, lalu mengirim pesan ke arah suami tampan nya.
__ADS_1
'Meliriklah ke arah pintu, Dad.' Isi pesan yang di kirim oleh Maura pada suami nya. Terlihat, ponsel Daniash yang berada di atas meja bergetar, pria itu mengambil nya dengan malas. Lalu membuka pesan dan seketika itu juga kedua mata nya membulat, lalu menatap ke arah pintu
Maura melambaikan tangan nya, lalu menunjukan benda pipih kecil dengan dua garis merah yang terpampang dengan jelas. Lalu membuka sebuah kertas bertuliskan 'Daddy, I'm here!'.
Refleks, Daniash menggebrak meja hingga membuat tatapan semua orang tertuju pada sang CEO yang kini menghilang dari kursi nya.
"Lho, kemana tuan Daniash?" Tanya mereka, tapi Aryo yang mengetahui kemana pria itu pergi langsung menggantikan posisi Daniash untuk memimpin meeting yang cukup penting ini.
"Beliau ada urusan, biar saya yang menggantikan meeting nya. Silahkan lanjutkan."
"Baik." Mereka pun kembali beradu argument, menyuarakan saran-saran mereka untuk kemajuan perusahaan.
Sedangkan di ruangan nya, Daniash tengah memeluk erat istrinya. Begitu pun dengan Maura yang membalas pelukan sang suami tak kalah erat nya.
"Mom, kamu benaran hamil?"
"Yes, Daddy." Jawab Maura dengan senyum manis nya.
"Kapan, mom? Kapan kamu mengetahui nya?"
"Sebenarnya aku sudah merasa ada yang berbeda dari tubuh ku sekitar semingguan yang lalu, iseng aku mencoba untuk mengetest nya sendiri. Ternyata, hasilnya garis dua." Jelas Maura.
"Kemarin, aku ingin memberitahukan nya pada Daddy, tapi aku ragu dan mengundur nya. Aku juga ingin bicara, tapi Daddy nya sudah tidur."
"Maaf Mom, Daddy benar-benar kelelahan semalam." Ucap Daniash lirih, dia menyesal karena tak bisa mendengarkan istrinya bicara. Ini semua gara-gara Aryo yang membuat nya kesal setengah mati.
"Gapapa kok, Dad." Jawab Maura sambil mengusap rahang tegas sang suami dengan mesra.
"Jadi, berapa usia nya Mom?"
"Baru enam minggu, Dad." Jawab Maura, dia juga sudah memeriksa kan diri kemarin lusa demi memastikan apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak, karena bisa saja hasil testpack itu salah kan?
Daniash berlutut, menduselkan wajah nya di perut sang istri, mengecupi nya bertubi-tubi, membuat Maura terkekeh pelan sambil mengusap kepala belakang suami nya.
"Apa Daddy tau? Aku hamil kembar lagi, Dad."
"Hah?" Daniash benar-benar terkejut mendengar perkataan istrinya. Kembar? Astaga, kenapa bisa?
"Kenapa bisa, Mom?" Tanya Daniash dengan wajah bodoh nya.
"Ya mana aku tahu, Daddy. Aku gak promil bayi kembar kok, tapi ya seperti nya Tuhan berbaik hati sama kita dengan memberikan kita bayi kembar lagi." Jawab Maura dengan senyum manis yang terkembang di bibir mungil nya.
"Ya ampun, Mommy. Terimakasih, Daddy sangat bahagia." Daniash langsung memeluk istri nya kembali, melayangkan kecupan-kecupan mesra di kening dan puncak kepala sang istri.
"Terimakasih karena sudah memberikan kabar terbaik pada Daddy hari ini."
"Sama-sama, Daddy."
Daniash menundukkan kepala nya, lalu meraih dagu Maura dan mencium bibir mungil kemerahan sang istri dengan mesra dan penuh kehangatan. Maura memeluk erat pinggang suami nya, dia juga membalas setiap lumaatan yang di berikan oleh Daniash. Kedua nya melampiaskan kebahagiaan mereka dengan berciuman mesra.
Setelah beberapa menit, akhirnya Daniash menyudahi ciuman nya, dia mengusap bibir Maura yang basah karena perbuatan nya.
"Aku semakin mencintaimu, istriku." Bisik Daniash tepat di telinga sang istri.
"Aku juga, suamiku." Kedua nya saling melempar senyuman, lalu kembali berpelukan. Aahh sebahagia ini memang, tadi nya Daniash tak bersemangat menjalani hari nya, rasa malas terasa mendominasi nya. Tapi sekarang, setelah mengetahui kehamilan sang istri, dia merasa hidup nya kembali lebih bersemangat seperti dulu, apalagi istrinya tengah mengandung bayi kembar untuk yang kedua kali nya.
"Kita ke rumah Mama besok ya, Mom?"
"Iya Dad."
"Aahhh Daddy sangat bahagia, sayang." Ucap Daniash, pria itu menggendong istri nya ala bridal style, lalu memutar nya dengan cepat, membuat Maura tertawa kegirangan. Wanita itu juga mengalungkan kedua tangan nya dengan erat di leher sang suami.
"Daddy cukup, aku pusing."
"Maafin Daddy, Mommy."
__ADS_1
"Iya gapapa kok, Dad." Jawab Maura, pria itu menurunkan istri nya.
"Ayo kita pulang." Ajak Daniash.
"Pulang? Tapi, ini belum waktu nya Daddy. Lagi pula, aku kesini bersama Mang Sardi." Jawab Maura, supir pribadi yang tadi mengantarkan Maura kesini akrab di sapa Mang Sardi.
"Gapapa, sayang."
"Enggak, kamu harus bertanggung jawab sama pekerjaan kamu. Jangan nyerahin semua nya sama Om Aryo, kasian dia Dad."
"Hmm, jadi kamu mau nya gimana?" Tanya Daniash.
"Traktir semua karyawan disini ya, terus kita makan sama-sama di kantin perusahaan."
"Semua karyawan? Yang bener aja, Mom. Karyawan di perusahaan ini ada ratusan."
"Ya gapapa, itung-itung syukuran atas kehamilan aku. Lagian, mentraktir karyawan Daddy gak bakal bikin Daddy bangkrut kan uang Daddy banyak." Celoteh Maura, membuat Daniash gemas dan mengecup singkat bibir sang istri.
"Iya iya, bumil yang satu ini cerewet sekali. Tapi, Daddy tetap cinta."
"Dihh, bucin." Ledek Maura sambil terkekeh.
"Gapapa di katain bucin, karena memang fakta nya begitu." Jawab Daniash sambil menduselkan wajah nya di leher sang istri. Mengendus aroma yang menenangkan dari tubuh istrinya.
Saat waktu makan siang tiba, Daniash benar-benar melakukan permintaan istri nya. Semua karyawan di traktir, mereka bebas ingin makan apapun yang ada di kantin tanpa terkecuali dan berapa banyak nya pun di bebaskan.
"Maaf tuan dan Nona, tapi ini semua dalam rangka merayakan apa ya?" Tanya Aryo, dia mana tahu kalau sahabat istri nya itu tengah mengandung lagi.
"Istriku hamil, Ar." Jawab Daniash dengan senyuman manis nya, menunjukkan kalau dia tengah berbahagia saat ini.
"Benarkah? Wahh, selamat untuk tuan dan Nona. Semoga sehat selalu dan di lancarkan saat hari persalinan nya nanti."
"Terimakasih Om." Jawab Maura.
"Sudah berapa minggu, Nona?"
"Enam minggu, Om." Jawab nya dengan senyum yang terkembang.
"Wahh, selamat ya."
"Terimakasih banyak, Om."
'Duhh, semoga aku gak kena batu nya lagi seperti waktu itu. Semoga saja Nona Maura ngidam nya gak aneh-aneh, kalau sampai hal itu terjadi, pasti aku yang jadi sasaran nya.' Batin Aryo.
Dia masih ingat benar saat Daniash mengidam ingin rujak. Sudah mah nyari nya susah, dia nya di ledekin ibu-ibu, di bilang belok lah. Kan gak lucu, padahal dia pria normal. Buktinya, dia punya satu anak dan juga istri.
"Membatin apa kau, Ar?" Tanya Daniash membuat Aryo terlonjak kaget. Sejak kapan tuan nya itu menjadi tau isi hati orang lain? Apa dia les menjadi cenayang?
"Heh, malah bengong!"
"Maaf tuan, gak membatin apa-apa kok."
"Ckkk, pasti kau menggerutu dalam hati. Aku tau itu."
"Hehe." Aryo hanya nyengir membuat Daniash memutar mata nya jengah.
"Awas saja ya kau!"
"Nah mulai nih, astaga. Padahal kalian tuh biasa nya akur, sekarang kok jadi kek gini sih." Maura menggelengkan kepala nya. Kenapa kedua pria itu menjadi sedikit tidak akur, padahal mereka biasa nya terlihat sangat dekat, bahkan awalnya Maura mengira kalau Daniash dan Aryo itu adik kakak, saking dekat nya hubungan mereka.
Tapi sekarang malah kebalikan nya, entahlah, hati manusia memang tak ada yang tau. Bisa berubah dalam hitungan detik.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1