Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 62 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Baby.." Panggil Daniash sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar gadisnya.


"Daddy, sudah datang ya. Sebentar, Dad." 


"Bolehkah Daddy masuk, sayang?" Tanya Daniash.


"Tentu, kenapa harus izin? Biasanya Daddy masuk seenaknya ke kamar kan?" Jawab Maura dari dalam dengan sedikit menyindir sang Daddy yang seringkali seenaknya keluar masuk ke kamarnya.


Daniash membuka pintu kamar, dia membulatkan mata nya saat melihat keadaan kamar gadisnya yang berantakan seperti kapal pecah.


"Baby, kenapa berantakan sekali?" Tanya nya, pria itu terbiasa dengan kebersihan dan kerapihan, tangan nya terasa gatal ingin membereskan kekacauan yang di buat gadisnya, entah untuk apa.


"Aku bulat sekarang, jadi cukup kesulitan mencari pakaian yang bagus." Ucap Maura sambil mematut diri di depan cermin.


"Baby, kamu tetap cantik di mata Daddy, sayang." Daniash mendekat ke arah sang gadis, lalu memeluk gadis itu dari belakang, mengusap perut buncit nya dengan lembut.


"Maura gak pede, dengan perut buncit ini, Dad."


"Gak baik bicara seperti itu, Bby. Dia anak kita, dia bukti kasih sayang kita, jangan pernah meragukan nya." 


"Tapi Dad…"


"Tidak apa-apa sayang, kamu cantik apa adanya dan satu lagi, cinta Daddy padamu takkan pernah berkurang, justru akan bertambah semakin besar dengan hadirnya buah hati kita ini, sayang." Ucap Daniash lembut.


"Benarkah?"


"Tentu saja, Bby."


"Jadi, menurut Daddy aku harus pakai baju mana?"


"Ini juga bagus, sayang." Daniash menatap gadis nya dari atas sampai ke bawah, menurut nya penampilan gadis nya sudah sangat sempurna. Cantik luar dalam. 


"Yang bener?"


"Iya baby, memang nya apa yang kamu pakai nampak tak bagus hmmm? Semua barang yang kamu pakai selalu sempurna." 


"Ohh baiklah kalau begitu, Dad. Maura pakai ini saja." Jawab Maura tersenyum girang. 


"Jadi, kamu membuat kamar ini berantakan seperti ini hanya untuk mencari pakaian yang pas?"


"Iya Dad, hehe." Gadis itu cengengesan, membuat Daniash menggelengkan kepala nya. 


"Ya sudah, duduklah biar Daddy yang beresin." 


"Gapapa dad, biar Maura aja nanti."


"Gak usah, Bby. Kamu lagi hamil, jangan kecapean." Tegas Daniash, membuat Maura terdiam dan memilih menurut saja, toh apa yang di lakukan Daniash itu untuk kebaikan nya juga.


"Jangan pakai sendal hak tinggi, sepatu saja." 


"Iya Dad." 


Daniash membawa gantungan baju dan menggantung pakaian yang berserakan itu satu persatu, hingga selesai dan semuanya rapih seperti semula. 


"Ayo sayang, kita pergi." Ajak Daniash, Maura mengangguk dan menggandeng tangan pria itu dengan mesra.


"Sudah mau pergi?" Tanya Amira pada Daniash dan Maura.


"Iya Ma, Maura pergi dulu sama Daddy ya?"


"Iya sayang, hati-hati ya. Jangan terlambat pulang nya, nanti papa marah."


"Gak mungkin marah Ma, kan Maura pergi nya sama Daddy, calon suami Maura." 


"Heemm ya sudah, terserah kamu saja." Amira tersenyum kecil melihat Maura yang terlihat sangat nyaman jika bersama Daniash.


"Papa pesen martabak manis." Celetuk Elgar yang baru keluar dari kamar nya dengan rambut setengah basah nya.


"Siap papa mertua." Jawab Daniash membuat Elgar mencebik sebal.


"Heemm.."


"By the way, rambut papa basah, habis keramas ya?" Goda Daniash membuat Elgar kesal.


"Buruan pergi sana, sebelum saya berubah pikiran." 


"Eehh iya iya, kalo sudah tua memang sensitif ya." Goda Daniash lagi membuat Elgar mendelik, dia bersiap membuka sendal nya dan melempar ke arah Daniash, tapi untung saja Daniash dan Maura sudah pergi dari sana.


Elgar mendudukan tubuhnya, menyandarkan punggung nya, dia menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Mas masih tak menyangka akan punya menantu setua Daniash, usia nya setengah usia ku, sayang." 


"Gapapa Mas, kalau putri kita bahagia dengan nya, kita bisa apa? Sudah, tak apa-apa, usia hanyalah angka." Ucap Amira sambil mengusap lengan suami nya.


"Huffftt, iya sayang. Tolong buatkan Mas kopi ya."


"Iya Mas." Amira menurut dan membuatkan kopi untuk suaminya. 


Di butik, Maura terlihat sangat antusias saat melihat koleksi gaun mewah yang sengaja Daniash pesan khusus untuk hari istimewa nya dengan Maura.


"Daddy, ini cantik sekali." Ucap Maura sambil menyentuh gaun berwarna biru, gaun ala cinderella yang menjadi keinginan nya.


"Tentu, akan lebih cantik saat kamu memakai nya." 


"Maura mau ini, Dad." 


"Boleh sayang, kamu ingin mencoba nya lebih dulu?" Tanya Daniash, Maura mengangguk cepat. Dia sangat bersemangat untuk mencoba gaun impian nya.


"Miss, tolong bantu calon istri saya mencoba gaun ini." 


"Baik tuan, mari Nona." 


"Hati-hati, dia sedang hamil." 


"Saya tau, tuan." Jawab nya sambil tersenyum ramah. Maura mengekor di belakang pemilik butik itu ke ruang ganti. Karena Daniash adalah pelanggan VVIP, jadi dia ingin pemilik butik langsung yang melayani nya.


Daniash duduk di sofa yang di sediakan, sambil memainkan ponsel nya, mengecek beberapa email masuk dari sekretaris nya.


Tak butuh waktu lama, Maura keluar dengan mengenakan gaun itu.


"Daddy.." panggil nya lirih. Daniash mendongak, kedua matanya langsung terpana melihat penampilan sang gadis. Gaun nya menyatu sempurna di tubuh berisi Maura, membuat nya terlihat seperti cinderella sungguhan, cinderella dari negeri dongeng anak-anak. 


"Bagaimana penampilan ku, Dad?" Tanya Maura malu-malu, di tatap seintens itu memang siapa yang tak malu? Daniash selalu menatap nya seperti itu, kapanpun.


"Perfect, aku ambil gaun yang ini, Miss." 


"Wahh, terimakasih tuan." 


"Aku ingin jas yang sesuai dengan gaun ini, ada yang sudah ready?"


"Tentu tuan." 


"Biarkan aku mencoba nya." Jawab Daniash. Pemilik butik itu pergi sebentar, dan tak lama kemudian kembali dengan setelan jas rapih berwarna biru navy yang di rancang seperti ala-ala kerajaan. 


"Bagaimana Bby? Cocok dengan Daddy?"


"Sangat, dad." Jawab Maura singkat dan jelas. 


"Baiklah, kita ambil ini lengkap dengan mahkota dan accesoris lain nya." 


"Baik tuan."


"Pembayaran nya akan di lakukan anak buah saya, besok. Jadi gaun nya kirim ke rumah saya besok." 


"Baik tuan Daniash, saya mengerti." 


"Ya, segitu saja." 


Setelah kembali berganti pakaian, kedua nya pun pergi dari butik itu untuk ke percetakan undangan. 


Setelah dari tempat percetakan undangan, barulah mereka makan siang di restoran favorit Maura. 


"Makan yang banyak, sayang."


"Makanan disini selalu enak, Dad. Maura suka banget, bikin lahap makan." 


"Kamu mau restoran ini, sayang? Kalau kamu mau, Daddy bisa belikan restoran ini untukmu." 


"Apaan sih, Dad. Enggaklah, jangan matiin usaha orang lain. Mending kita jadi pelanggan tetap aja disini, dad." 


"Ya sudah, kalo gitu ayo makan lagi." 


"Siap dad." Gadis itu kembali makan dengan lahap, membuat Daniash tersenyum manis melihat Maura makan dengan lahap. 


"Wahh, aku bertemu mantan suami dan calon istri baru nya." Celetuk seseorang, membuat Daniash dan Maura menoleh. 


Daniash menatap jengah pada seseorang yang datang dengan menggandeng seorang pria, bukan pria yang waktu itu, berbeda lagi.


"Salam kenal, jadi ini mantan suami calon istriku ya?"


"Hmmm.." Daniash hanya berdehem sebagai jawaban.

__ADS_1


"Boleh kita duduk disini? Itung-itung sebagai reunian."


"Reunian para mantan, atau para calon?" Tanya Maura santai, ujung bibir nya belepotan karena saus steak.


"Ajari calon istrimu untuk lebih bersih, Dani. Lihat, bibirnya belepotan begitu, jorok sekali." Sindir Herra pada Maura.


"Hanya bibir belepotan bukan berarti calon istriku tak bersih, Herra." Jawab Daniash, dia mengelap sudut bibir Maura dengan ibu jari nya, lalu memasukan nya ke dalam mulutnya tanpa rasa jijik sedikitpun.


"Silahkan duduk, tuan dan nyonya yang terhormat." Maura mepet ke arah Daniash, dia tak mau berada terlalu dekat dengan mantan istri suaminya.


Kedua nya duduk berdekatan, Daniash langsung bergeser, dia juga tak mau berdekatan dengan mantan istrinya, rasanya terlalu muak untuk melihat wajah Herra, kalau bisa menawar, dia tak mau melihat wajah wanita itu seumur hidupnya, tapi sialnya mereka malah di pertemukan kembali hari ini.


"Bagaimana kabar mu, Mas?"


"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bahkan berat badan ku akhir-akhir bertambah, karena pikiran ku bebas dari mu." Jawab Daniash sambil menggenggam tangan Maura.


"Daddy, jangan pegang tangan aku dong, susah makan nya nih." Rengek Maura. 


"Iya sayang, maaf ya." Daniash mengusap lembut rambut gadisnya, memamerkan kemesraan di depan mantan istri nya itu.


Herra menatap sinis ke arah Maura, namun Maura tak peduli dan tetap makan dengan lahap. Nafssu makan nya tak terganggu sama sekali dengan kedatangan Herra dan kekasih baru nya itu.


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Daniash.


"Ohh ayolah, hubungan kami tak seserius itu. Kami hanya bersenang-senang." Jawab Herra sambil terkekeh.


"Heemm, bersenang-senang dengan menyebar penyakit ya?" 


"Penyakit apa sih?"


"Penyakit kelamiin, kau kan sering berganti pasangan." Sindir Daniash membuat wajah Herra memucat.


"Daddy, jangan memojokkan Tante Herra, kasian dia. Lihat wajah nya pucat pasi, kayak mayat hidup." 


"Fakta nya kan begitu, Bby." Jawab Daniash tanpa ekspresi apapun, alias datar.


Herra mengepalkan tangan nya di bawah meja, dia merasa kesal, marah dan kecewa sekaligus. Dia marah melihat kebahagiaan Daniash dan Maura.


"Datang." Ucap Daniash sambil mendorong sebuah kertas ke arah Herra dan kekasihnya.


"A-apa ini, Mas?" 


"Undangan, kau tak bisa membaca?" 


"Katanya model, tapi kok buta huruf." Celetuk Maura, tanpa menoleh, tanpa menatap lawan bicara nya, dia fokus dengan makanan di piring nya.


"Jaga kata-kata mu, kau anak orang kaya tapi tak bermoral, seperti tak berpendidikan!" Bentak Herra.


"Berani sekali kau membentak calon istriku, memang nya siapa kau hah? Aku saja tak pernah meninggikan suara ku padanya, lalu apa hak mu hah?" 


"Cihhh, kau terlalu mencintai wanita ini hingga kau menutup mata dengan kebenaran!" Balas Herra tak mau kalah.


"Dad, sudahlah. Tak perlu melawan nya, buang-buang tenaga saja, itu tak penting dan aku baik-baik saja." 


"Daddy malas Bby, ayo kita pergi." 


"Maura masih makan, Dad." 


"Dasar rakus!"


"Wajar saja aku rakus, aku makan bukan untukku sendiri, tapi untuk bertiga." Jawab Maura dengan tenang.


"Bertiga, maksudmu?"


"Anak kami, aku sedang hamil anak kembar." Jawab Maura sambil berdiri, menunjukkan perut buncit nya pada Herra.


"Aku sudah selesai, Dad. Kita pulang ya, aku capek pengen bobo." Manja Maura pada Daniash.


"Baiklah sayangku." Daniash pun pergi setelah membayar makanan calon istrinya dengan black card miliknya.


"Kenapa kau tak bilang kalau mantan suami mu tuan Daniash, hah?"


"Memang nya kenapa?"


"Gua minder anjir, gak mampu gua bersanding sama sekelas Daniash Anggara Kim. Gua minta putus dah."


"Eehhh, hei mau kemana?" 


"Aaargghh sial, setelah di tinggalkan Mark aku malah di tinggalkan pacar baru, sialan!"


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2